Showing posts with label M.Pd.. Show all posts
Showing posts with label M.Pd.. Show all posts

SMK PP Negeri 1 Tegalampel : Menggodok Entrepreneur Pertanian Unggulan


Tape atau tapai telah lama dikenal sebagai produk makanan yang menjadi ikon Bondowoso, kabupaten yang terletak di Jawa Timur. Ketela pohon, yang menjadi bahan baku pembuatan tape merupakan komoditi andalan di Bondowoso.

Namun demikian, tape kini tak lagi dikemas dalam produk sederhana yang biasa dimasukkan ke dalam kotak dari anyaman bambu atau kotak karton semata. Generasi muda telah melakukan berbagai inovasi dalam mengolah tapi supaya terlihat semakin menarik. Salah satunya yang dilakukan oleh generasi di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Bondowoso. Tape ataupun ketela pohon menjadi salah satu produk andalan mereka yang menjadi unit produksi usaha, dibentuk dan dikemas secara cantik dan menarik menjadi jus tape dengan merek JUPE (singkatan dari jus tape).

Menurut Anik Sudiartini, S.Pd., M.Pd., kepala SMK PP Negeri 1 Tegalampel, pihaknya telah menerima banyak pesanan produk JUPE, terutama menjelang lebaran. Bahkan permintaan tersebut pun datang hingga dari Malaysia. Sayangnya, kendala yang masih dihadapi SMK PP Negeri 1 Tegalampel  adalah masih belum mampu memproduksi dalam jumlah besar.

Soal kualitas, produk SMK PP Negeri 1 Tegalampel boleh diacungi jempol. Telah banyak testimoni mengenai JUPE, yang mengatakan bahwa JUPE yang diproduksi oleh SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki rasa yang enak, segar, dan sehat, karena tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya. Selain JUPE, ada pula produk andalan lainnya, yakni MINROSE. Minuman dalam kemasan ini terbuat dari bunga rosella yang terkenal memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Tak hanya dibuat produk minuman kemasan, rosella pun diolah menjadi manisan yang enak rasanya. Ada pula produk keripik singkong coklat dan singkong kopi, sebuah inovasi rasa yang juga menjadi primadona, dan berbagai produk lainnnya.


Semua produk tersebut diolah sendiri oleh para siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel bersama para guru dan tenaga kependidikan, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Nama produk yang digunakan adalah Agro Purnama. Hampir di setiap event pameran di mana pun, SMK PP Negeri 1 Tegalampel selalu turut ambil bagian untuk memamerkan produk-produk andalannya, sekaligus memperkenalkan SMK PP Negeri 1 Tegalampel di mata khalayak publik sebagai SMK berbasis pertanian yang siap mencetak generasi bangsa yang berkompeten di bidang pertanian.

Tak heran jika SMK PP Negeri 1 Tegalampel kini telah banyak dikenal. Di kawasan Bondowoso sendiri, SMK PP Negeri 1 Tegalampel tergolong SMK yang cukup difavoritkan masyarakat. Citra yang telah dikenal masyakat Bondowoso adalah bahwa SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah banyak melahirkan generasi-generasi yang sukses di masyarakat, baik itu sebagai entrepreneur hingga menjadi figur masyarakat. Sayap SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun telah dikembangkan hingga Thailand, Malaysia, dan banyak negara tetangga lainnya.

Bukan pekerjaan mudah membesarkan sekolah hingga seperti sekarang. Anik, yang baru menjabat di SMK PP Negeri 1 Tegalampel sejak tahun 2013 mengaku telah melakukan banyak pekerjaan besar sejak mengelola SMK PP Negeri 1 Tegalampel. “Dulu tidak seperti ini. Saya melakukan perombakan besar, terutama dari segi sarana prasarana, sekaligus membentuk karakter bagi warga sekolahnya,” ujar Anik.

SMK Pertanian Favorit di Bondowoso
SMK Pertanian Pembangunan (PP) Negeri 1 Tegalampel (dahulu SPMA) didirikan pada tanggal 05 Pebruari 1968 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dan mendapat status “Terdaftar” melalui keputusan Direktorat Pendidikan Dirjen Pertanian – Deptan RI, Nomor 30 / swt /68, tanggal 10 Desember 1968.

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Deptan RI “No. 117 / Kep / DL. 210 / 10 / 2002, tanggal 21 Oktober 2002, SPP Daerah Bondowoso berubah status dari “Terdaftar” menjadi “Disamakan” (Akreditasi A), dan tanggal 1 April 2003, Bupati Bondowoso meresmikan SPP Daerah Bondowoso menjadi SPP Negeri Bondowoso.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bondowoso Nomor : 188.45/674/430.42/2010, tanggal 24 September 2010 , tentang perubahan Nomenklatur SPP, maka SPP Negeri Bondowoso yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura menjadi SMK SPP Negeri 1 Tegalampel dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Kabupaten Bondowoso.
Berdasarkan Peraturan Bupati Bondowoso Nomor : 27 Tahun 2013, tanggal 17 Juli 2013, tentang Pembentukan Nomenklatur SDN, SMPN, SMAN dan SMKN di lingkungan Pemerintah kabupaten Bondowoso, maka SMK SPP Negeri 1 Tegalampel berubah menjadi SMK PP Negeri 1 Tegalampel.
Saat ini, SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki dua kompetensi keahlian, antara lain Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) yang memiliki rombel sebanyak 18, dan Kompetensi Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP), yang baru dibuka pada tahun ajaran 2016/2017, sehingga baru memiliki satu rombel.  Untuk kelas 10 dan kelas 11, kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum 2013. Sedangkan untuk kelas 12 masih menggunakan Kurikulum KTSP.


Risky Yulian Putri, siswi kelas 10 Jurusan ATPH mengaku merasa senang bangga dapat menjadi bagian dari SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Ia berharap suatu saat dapat menjadi orang yang sukses, membanggakan kedua orangtuanya dan mengharumkan nama almamaternya.

“Awalnya saya tidak tertarik masuk ke sini, tapi orangtua menyarankan masuk ke SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Saya pun mencari informasi tentang SMK PP Negeri 1 Tegalampel, dan baru tahu kalau ternyata banyak lulusan sini yang sukses, makanya saya kemudian jadi tertarik,” kata siswi yang senang dengan pelajaran Biologi ini.

Selama menjadi siswa di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Risky yang masih kelas 10 pun telah meraih beberapa prestasi, di antaranya pernah tergabung dalam tim yang menjadi juara I Lomba Yel-yel Tingkat Provinsi dalam Gebyar Pembenihan, Juara I PPGD Putri dalam rangka Safari Husada, dan juara III Lomba Yel-yel Tingkat Kabupaten dalam rangka Jambore Kader Remaja Nusantara.

Berbeda dengan Rizky, Akbar Sutan Atmaja, siswa kelas 10 Jurusan ATPH memang telah mendambakan untuk menjadi bagian dari SMK PP Negeri 1 Tegalampel bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMP. Ia bercita-cita ingin menjadi pengusaha, meski ayahnya adalah seorang guru yang juga mengajar di SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Namun demikian, setelah lulus nanti, siswa kelahiran 17 maret 2001 yang pernah mendapat ranking 1 di kelasnya ini masih berencana untuk melanjutkan pendidikan di STTP Malang.

Selama menjadi siswa di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Akbar tak hanya berkonsentrasi pada pelajaran yang ada di sekolah, namun ia juga menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, antara lain Pramuka, English Club, dan Kelompok Tani Pembibitan. Ia pun terlibat dalam kepengurusan OSIS. Di sekolah yang mulai sejak pukul 07.00 wib – 14.45 wib ini memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang bisa dipilih siswa, antara lain Pramuka, Palang Merah Remaja, Olah Raga (Sepakbola, Volley, Bulutangkis, Tenis Meja, Basket), Kesenian Islam, Remus, Band, Drum Band, Karya Ilmiah Remaja, Pecinta Alam, Komunitas Kimia, English Club, dan Panjat Dinding.

Disiplin dan Selalu Maju
Berdiri di atas lahan seluas 7,5 ha, SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah dilengkapi dengan sarana prasarana yang cukup memadai. Lahan praktek untuk pembelajaran seluas 60.000m2, dilengkapi pula dengan ruang workshop (bengkel latih), ruang Pasca Panen, green house, smart green house, laboratorium Mekanisasi Pertanian, laboratorium Fisika dan Biologi, laboratorium Kimia dan Tanah, laboratorium Kultur Jaringan, ruang multimedia, ruang pamer, ruang Teaching Factory, dan beberapa kebun koleksi. Anik mengatakan bahwa untuk mengelola dan merawat seluruh aset sekolah, sekolah mengerahkan seluruh warga sekolah. Disiplin yang tinggi sangat diperlukan. Dengan demikian, citra sekolah pun selalu terjaga, bahkan semakin baik.

Dengan 74 tenaga pendidik maupun kependidikan, SMK PP Negeri 1 Tegalampel berupaya dan berkomitmen untuk terus mengawal warga sekolah, terutama para siswa, untuk tak hanya kompeten dari sisi keilmuan, namun juga memiliki karakter yang kuat, akhlak yang mulia. Oleh karena itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun membangun budaya sekolah untuk melatih dan memperkuat karakter siswa. Misalnya, budaya Jumat Bersih, di mana pada hari Jumat pukul 07.00 wib sebelum memulai pelajaran, seluruh warga sekolah tanpa terkecuali bahu membahu untuk membersihkan sekolah.

Siswa maupun guru pun tidak diperkenankan untuk terlambat masuk sekolah. Di beberapa titik tersedia semacam pos yang dijaga oleh guru piket maupun tenaga kependidikan untuk memantau para siswa. Dengan jumlah siswa sebanyak 683 anak pada tahun ajaran 2016/2017, Anik optimis dapat mengarahkan para siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik asalkan dapat menegakkan kedisiplinan dan komitmen pada pendidikan.

Nanik Kusumawati, S.Pd., guru yang mengajar Biologi sekaligus menjadi Kepala Prodi TPHP mengatakan bahwa sejauh ini aturan kedisiplinan maupun tuntutan di SMK PP Negeri 1 Tegalampel tak terasa terlalu memberatkan, malah justru dirasa amat membantu untuk peningkatan diri – baik itu bagi siswa maupun para guru. “Sebagai guru di sini, kami tak hanya sekadar mengajar, namun juga dituntut untuk memiliki lebih banyak kompetensi, misalnya melalui kegiatan produksi maupun wirausaha sekolah. Itulah bedanya dengan SMA. Meski begitu saya tidak merasa terbebani,” kata Nanik, yang sebelumnya pernah mengajar di SMA.

Sebagai guru, ia pun dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, terutama dalam mengelola pembelajaran siswa. Dewasa ini, menurutnya, guru tak boleh hanya sekadar melaksanakan pembelajaran secara klasikal, namun juga harus membuat media-media pembelajaran yang menarik antusiasme siswa untuk belajar. “Saya pernah membuat media pembelajaran untuk tema model DNA yang terbuat dari sedotan. Anak-anak yang membuat, saya hanya memandu. Ternyata anak-anak sanga t senang dan mereka lebih mudah memahaminya,” kisahnya.

Sekolah Gratis dan Wirausaha
Salah satu daya tarik SMK PP Negeri 1 Tegalampel hingga banyak dilirik masyarakat adalah komitmennya sebagai sekolah gratis. Sebagian besar siswa, menurut Anik berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, sehingga pendidikan yang murah, apalagi gratis, menjadi magnet sekaligus solusi bagi mereka.

Di samping itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun berkomitmen untuk memberi bekal kepada para siswanya kemampuan dan keterampilan berwirausaha. Diharapkan setelah lulus nanti, siswa tak sekadar tergantung pada ketersediaan lowongan pekerjaan di dunia usaha/industri, namun dapat menciptakan peluang sendiri atau bahkan ke tinggi lagi dapat menciptakan pekerjaan bagi yang lainnya.

Anik menyadari bahwa bidang pertanian, terutama budidaya, memiliki peluang yang sangat besar untuk menghasilkan nilai ekonomis. Oleh karena itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun mengoptimalkan unit-unit produksi melalui berbagai produk olahan hingga budidaya.

Untuk tanaman budidaya unggulan, ada berbagai macam yang diandalkan oleh SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Tahun 2017, SMK PP Negeri 1 Tegalampel sedang mencoba untuk mengandalkan Okra jenis unggul. Tahun sebelumnya, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pernah mengunggulkan budidaya brokoli, ketela pohon raja, hingga bawang berlian.

Menurut Anik, salah satu faktor yang membuat SMK PP Negeri 1 Tegalampel senantiasa bersemangat dan termotivasi untuk terus mengembangkan budidaya menjadi unit produksi yang potensial adalah adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso. Bahkan dalam beberapa kali panen, Bupati Bondowoso kerap ikut serta dalam pesta panen tersebut.

Untuk mengasah dan menanamkan jiwa wirausaha (entrepreneur) pada siswa agar lebih siap dengan bekal keterampilan pengolahan, pembentukan motivasi wirausaha, bahkan perluasan jaringan pemasaran serta segala bentuk inovasi produk pertanian dilakukan di satu Program yaitu Techno Park.

Techno Park di SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki sejumlah divisi yang bertujuan memfasilitasi siswa dan untuk menjawab kebutuhan pasar (masyarakat) baik itu dari hasil pasca panen, produk olahan dan lain-lain. Dimana setiap divisi dalam program-programnya senantiasa melibatkan siswa disamping guru pendamping yang siap membimbing.

Divisi dalam Techno Park ini meliputi :
1.         DIVISI BUDIDAYA TANAMAN
          Menanam dan menghasilkan Budidaya Tanaman seperti : Brokoli, Seledri, Tomat, Semangka, Terong, Padi Hibrida Segara Anak, Sawi Daging, Cabe, Melon, Bunga Rosella, Bayam Merah, Kangkung,Okra dan lain sebagainya
2.         DIVISI PUPUK ORGANIK
          Memanfaatkan limbah-limbah yang dihasilkan selama proses panen menjadi bahan yang lebih bernilai. Produk yang sudah dihasilkan adalah : Pupuk Kompos,  POC (Pupuk Organik Cair).
3.         DIVISI KULTUR JARINGAN
          Memperbanyaktanaman dan dilakukan di laboratorium Kultur jaringan. Karena proses ini bisa berlanjut tanpa batas,  dan bisa memproduksi berbagai tanaman dari waktu ke waktu. Dengan kultur jaringan, sejumlah besar tanaman dapat diproduksi dalam waktu singkat dibandingkan dengan metode tradisional menanam benih, stek atau cangkok. Pada laboratorium Kultur Jaringan ini dihasilkan tanaman anggrek.
4.         PRODUK OLAHAN
          Mengolah hasil panen menjadi aneka produk olahan yang sehat dan bernilai gizi tinggi.Beberapa diantara produk olahannya sudah memiliki PIRT dari Dinas Kesehatan. Produk yang sudah dihasilkan adalah : Jupe,Minrose,Aneka manisan,Stick Wortel, Stick Sayur, Sutra Telo, Stick Rosella, Keping Telo, Belut Sayur, Kacang Gunis, Sumpia Sayur, Worban Molen, Sangkerut, Pengpatdakong,  Nugget Sayur, Rolade Tadakong, Jihu Sayur, Grahu, Aneka Puding (Telo Ungu, Rosella, Buah Naga, Nangka), Minuman Sirsat, Minuman Rosella, Sirup Rosella, Kripik Belimbing, Kripik Pepaya,kripik kangkung.

Dalam komunitas kimia, SMK PPN 1 Tegalampel pun menghasilkan produk-produk unggulan yang berasal dari hasil 3R (Reduce, Reuse dan Recycle). Kegiatan 3R tersebut merupakan budaya yang diunggulkan SMK PPN 1 Tegalampel terutama dalam hal Recycle, yaitu tindakan membuat suatu barang baru dari bahan lama (sampah) dengan jalan mengubah kandungan kimia dan fisik barang. Jadi recycle yang dilakukan berupa pengelolaan sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Produk hasil recycle ini berupa pembuatan kerajinan bungan, tempat tisu, assesoris, kaligrafi, tas, dan kerajinan lain dengan memanfaatkan sampah yang ada di sekitar sekolah.

Berbagai produk olahan maupun hasil budidaya SMK PP Negeri 1 Tegalampel selalu dipasarkan di berbagai kesempatan karena ini pun melatih siswa untuk berwirausaha. Sejauh ini berbagai pesanan telah banyak mengalir, terutama ketika menjelang lebaran. Para siswa dan guru bahkan siap lembur dengan sukacita untuk menyelesaikan produksi. Selain itu, produk dan hasil budidaya SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun dipasarkan setiap Minggu pada ajang Car Free Day di Kota Bondowoso.

Selain itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun mengembangkan potensi agrowisata di sekolah. Sejauh ini, SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah memasarkan beberapa paket agrowisata ke masyarakat yang disambut amat baik, terutama di kalangan institusi pendidikan, seperti TK/PAUD, SD, dan sebagainya. Dalam kegiatan agrowisata, sekolah melibatkan siswa untuk menjadi pemandu wisata bagi para tamu. Dalam paket agrowisata ini, para tamu dapat mencoba berbagai kegiatan pertanian seperti menanam, memanen, beternak, dan juga mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat, sekaligus produk-produk yang sehat dan murah. Untuk menunjang promosi agrowisata SMK PP Negeri 1 Tegalampel, sekolah bahkan menyediakan bus sekolah yang dapat dipergunakan untuk mengantar-jemput para tamu.

Melatih Siswa melalui Prakerin
Untuk menggali dan mengasah pengalaman siswa dalam berpraktek menerapkan ilmu yang telah dipelajari di sekolah, siswa mendapat kesempatan untuk melaksanakan praktek kerja industri (prakerin), yang biasanya diselenggarakan saat siswa berada di kelas 11 semester 4. Guru menentukan ke mana siswa akan dikirim untuk melaksanakan prakerin selama 3 bulan.

Hingga saat ini, sekolah telah menjalin hubungan kerjasama dengan lebih dari 50 perusahaan agribisnis sebagai mitra kerja prakerin. Adapun lokasi Mitra Kerja dan Stake Holders tersebar di Kabupaten Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Malang, Sidoarjo dan Bali.

Salah satu mitra sekolah dalam kerjasama Prakerin adalah Buharto, seorang petani asal Bondowoso yang gencar memberikan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan mengenai kelengkapan/penyediaan barang dalam usaha pertanian organik. Ia telah bekerja sama dengan SMK PP Negeri 1 Tegalampel sejak tahun 2013, saat pamor dan namanya melejit berkat diganjar penghargaan sebagai Petani Teladan Kreatif dan Inovatif tingkat Nasional dari Presiden (waktu itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Ia pun pernah meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2014, penghargaan Adikarya Pangan Nusantara pada tahun 2015, dan juga mendapat penghargaan sebagai penyuluh swadaya dari Kementerian Pertanian. Berkat namanya yang melejit, Anik sebagai kepala sekolah pun lekas melirik Buharto untuk menjalin mitra.

Menurut Buharto, para siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel yang melaksanakan prakerin di tempat usahanya selalu menunjukkan hasil yang memuaskan – jika dibanding para siswa dari sekolah lainnya yang juga melaksanakan prakerin di tempat usahanya, yakni di P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya) Bintang Tani Sejahtera, di Desa Karangmelok, Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Di lahan seluas 4.000 m2, Buharto mendirikan laboratorium pertanian yang terintegrasi, mulai dari pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel sudah terlatih dan mendapatkan bekal materi yang cukup dari sekolah, sehingga mereka mudah diarahkan. Namun demikian, yang terpenting di sini adalah bagaimana kemampuan siswa dalam membaur dengan lingkungan ataupun masyarakat.  Sepintar apapun anak, jika tidak bisa berbaur dengan masyarakat, ya percuma,” katanya.

Selama prakerin, siswa difasilitasi tempat tinggal oleh Buharto, sehingga selama 3 bulan, siswa dapat optimal menjalankan praktek kerjanya. Buharto pun tak segan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa siswa mendapatkan ilmu yang mumpuni selepas prakerin usai. “Saya memberi semua ilmu saya pada anak-anak prakerin. Setelah satu bulan pertama, kemudian mereka dapat memilih bagian mana yang disenangi, maka itulah yang akan didalami dan banyak dikerjakannya,” jelasnya.

Sebagai sosok yang telah menjadi figur praktisi berpengalaman di bidang pertanian, Buharto kerap menerima tamu dari berbagai penjuru, baik di Indonesia, hingga dari luar negeri.  Buharto pun kerap melibatkan siswa prakerin untuk membimbing atau memberikan penjelasan kepada para tamu yang mengadakan studi banding atau magang singkat di P4S Bintang Tani Sejahtera. “Saya hanya sebagai moderator saja ketika ada pertanyaan,” tambahnya. Dengan demikian, skill dan kemampuan para siswa prakerin semakin mumpuni, terutama sebagai penyuluh.

Saat ini, Buharto sedang giat menggalakkan pertanian organik sebagai salah satu alternatif budidaya yang memiliki nilai ekonomis menjanjikan, sekaligus ramah lingkungan. “Prospek organik ke depan cukup bagus, terutama dari sisi ekonomis, akan menguntungkan petani karena biaya produktivitas akan turun. Ketahanan tanaman terhadap hama juga lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi obat-obatan pembasmi hama, karena kadangkala pemakaian kimia yang berlebihan justru tidak baik. Dengan adanya organik, kita membangun ekosistem yang ada di lingkungan kita, berbasis pada kearifan lokal,” terangnya.

“Tantangan yang kami hadapi terutama adalah merubah pola pikir masyarakat. Namun seharusnya kendala ini dapat diantisipasi dengan memberikan pendidikan. Oleh karena itu, peran institusi pendidikan demi mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir yang lebih modern sangat penting. Dalam hal ini, misalnya peran SMK PP Negeri 1 Tegalampel,” tambahnya lagi. Oleh karena itu, Buharto sangat antusias mendukung program kerja, visi maupun misi SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Tak heran jika dalam membimbing siswa prakerin pun ia cukup maksimal.

Evin Novitasari, siswi kelas 12 jurusan ATPH pun memiliki pengalaman tersendiri dalam melaksanakan prakerin. Siswi yang pernah berprestasi sebagai juara II tingkat Nasional dalam Gelar Inovasi dan Teknologi kategori Karya Ilmiah ini melaksanakan prakerinnya di Balai Penyuluhan di Senduro, Lumajang, selama 3 bulan. Ia mengaku memperoleh banyak ilmu baru yang sangat bermanfaat setelah melaksanakan prakerin. “Di sana kami belajar tentang pisang, tanaman yang  belum kami pelajari di sekolah,” kenangnya.

Setelah lulus sekolah, Evin, demikian ia akrab disapa, berharap dapat melanjutkan studinya di STTP Malang, kemudian mendapatkan pekerjaan di perusahaan industri pertanian. Harapan Evin adalah ingin mengangkat derajat dan perekonomian keluarganya, serta menjadi generasi yang berdaya saing tinggi, memajukan bangsa Indonesia.

Banyak menjadi Wirausahawan
Sejauh ini, banyak siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel yang telah direkrut saat mereka masih duduk di bangku sekolah khususnya kelas XII, sehingga saat mereka benar-benar lulus dan mengantongi ijazah, sudah ada pekerjaan yang menunggu. Namun demikian, tidak sedikit pula yang sudah menjadi seorang wirausahawan muda yang sukses karena mengaplikasikan ilmu yang didapat saat di bangku sekolah.

Menurut Jamila, S.P., guru yang juga sekaligus menjadi Kepala Program Keahlian ATPH, bahkan banyak siswa yang telah mencoba untuk berwirausaha sendiri saat mereka masih duduk di bangku sekolah. “Meski sebagian besar latar belakang siswa berasal dari keluarga petani, tetapi hanya petani tradisional atau buruh tani saja, sehingga ketika mereka mendapatkan ilmu baru dari sekolah, mereka menjadi antusias dalam belajar. Mereka juga mempraktekkannya di rumah masing-masing, dan bahkan mampu menghasilkan uang dari hasil praktek mereka. Kami memang selalu menekankan bahwa hanya dengan lahan 1 m x 80 cm, mereka bisa menghasilkan uang melalui budidaya. Itulah yang banyak dicoba oleh sebagian besar siswa di sini,” jelas guru yang mengajar sejak tahun 2011 ini.

Untuk lebih mendorong siswa ber-enterpreneur, menurut Anik, sekolah juga tak segan untuk memberikan stimulus pada siswa, bahkan kepada para alumni yang berminat untuk berwirausaha. “Kami bahkan tak segan untuk memberikan bantuan kepada mereka. Bantuan tersebut bisa berupa pinjaman modal, pembimbingan, hingga menghubungkan networking,” kata wanita yang pernah diganjar sebagai Juara I Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi pada tahun 2016 ini.

Sebagai kepala sekolah, Anik bahkan telah mencetuskan program ‘Laboratorium Berpasangan’ sebagai salah satu upaya untuk lebih menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa. Dalam Laboratorium Berpasangan ini, peran sekolah dan DU/DI atau stake holder lebih dioptimalkan.

Dengan berbagai terobosan yang telah dilakukan SMK PP Negeri 1 Tegalampel, tak heran jika sekolah yang beralamat di Jalan Gunung Purnama, Desa     Tanggulangin, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini pun kerap mendulang prestasi. Tak hanya prestasi di tingkat lokal saja, namun bahkan hingga di tingkat nasional. Antara lain siswa bernama Siti Nur Arita meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Tahun 2016 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, guru bernama Jamilah, SP. Dan Lina Purwati, S.Si, M.Pd. meraih Juara II Lomba Pengembangan Karya Tulis untuk Tenaga Pendidik Tingkat Nasional Tahun 2016 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, siswa bernama Ika Januar Anggraeni dan Evin Novitasari meraih Juara II Lomba Karya Inovatif Siswa SMK PP Se-Indonesia Tahun 2015 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, siswa bernama Abdul Halim, Ika Januar Anggraeni, dan Evin Novitasari meraih Juara I Lomba Kewirausahaan Gelar Inovasi Teknologi (GIT) Se-Indonesia Tahun 2015 yang diadakan Kementrian Pertanian, Guru bernama Ir. Boedi Harijanto meraih Juara II Lomba Guru Pertanian Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015 yang diadakan oleh Kementerian Pertanian, dan masih banyak prestasi lainnya. Bahkan Anik Sudiartini pun meraih Juara I Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi Tahun 2016 lalu.

Di samping itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun telah menjalin kerja sama dengan Thailand untuk program pertukaran siswa maupun guru. Tak hanya Thailand, sekolah juga telah menjalin hubungan yang potensial dengan beberapa negara lain, misalnya Malaysia, Singapura, Jepang, hingga China.

Dengan berbagai prestasi, pencapaian, maupun bukti-bukti keberhasilan yang dirasakan oleh para alumni, diharapkan SMK PP Negeri 1 Tegalampel menjadi sekolah yang senantiasa dipercaya masyarakat sebagai institusi yang kompeten untuk mengawal generasi muda menjadikan Indonesia sebagai negara yang jaya, maju, dan makmur. ***




Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMK Negeri 1 Tuban : Laris di Dunia Industri


Saat menginjakkan kaki ke SMK Negeri 1 Tuban, suasana yang pertama kali tertangkap adalah rindang dan sejuk. Pepohonan banyak tertanam, dan tiap-tiap sudut dimanfaatkan sebagai lahan untuk keindahan. Terdapat kolam ikan dengan berbagai jenis ikan, dan yang paling unik dari sekolah ini, bahkan terdapat pula sangkar-sangkar hewan yang jarang dijumpai, mulai dari aneka burung, kelelawar, musang, dan lain-lain -- mirip seperti di kebun bintang. Menurut Drs. Basuki, M.Pd., kepala SMK Negeri 1 Tuban, segala apa yang ada di sekolah, termasuk kolam ikan dan kebun binatang mini adalah sarana pembelajaran bagi siswa, tak sekadar soal keindahan.

Berdiri sejak tahun 1965, SMK Negeri 1 Tuban dulunya bernama STM Negeri Tuban. Sekolah ini merupakan sekolah menengah kejuruan berbasis teknik yang memiliki 10 bidang kompetensi keahlian, antara lain Teknik Konstruksi Batu Beton, Teknik Gambar bangunan, Teknik Otomasi industri, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Multimedia, Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan, Kimia Industri, dan Kimia Analis. Pada tahun ajaran 2015/2016, jumlah total siswa mencapai 1.296 siswa, yang terbagi dalam 42 rombongan belajar. Jumlah siswa baru di tahun ajaran 2015/2016 sebanyak 448 siswa, padahal yang mendaftar sebanyak 4.317 siswa.

Sekolah yang beralamat di Jalan Mastrip No. 2, Tuban, Jawa Timur ini memang merupakan sekolah menengah kejuruan terfavorit, terutama di kota Tuban. Hal ini dikarenakan citra dan prestasi SMK Negeri 1 Tuban telah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Banyak pula alumni SMK Negeri 1 Tuban yang telah menjadi sosok yang sangat sukses di dunia kerja, sehingga hal ini pun menjadi inspirasi bagi masyarakat. Peminat tertinggi ada di Jurusan Teknik Pemesinan, kemudian Teknik Instalasi Listrik.

Sistem penerimaan siswa baru di SMK Negeri Tuban cukup unik. Siswa yang mendaftar diperbolehkan untuk memilih tiga jurusan. Nantinya, sekolah akan menyaring ke manakah siswa tersebut akan ditempatkan, berdasarkan nilai nun, tes dari sekolah, dan hasil wawancara. Sistem demikian bertujuan untuk menghindari siswa yang masuk ke jurusan yang salah atau tidak sesuai dengan minat maupun kemampuannya.

Tingkatkan Pelayanan dan Fasilitas Sekolah
Hal yang menjadi fokus inovasi SMK Negeri 1 Tuban adalah tentang manajemen sekolah. Menurut Basuki, kepala SMK Negeri 1 Tuban yang sudah menjabat sejak tahun 2012, dengan melakukan penataan manajemen yang bermutu dalam segala aspek proses pengadministrasian dan pengajaran, sekolah akan berjalan seperti yang diharapkan. Pelaksanaan manajemen mutu di SMK Negeri 1 Tuban berdasarkan ISO 9001:2008, di samping implementasi FMIS dan EMIS, serta manajemen lain berbasis IT.

Dari sisi fasilitas, sekolah yang memiliki luas 40.870 m2 ini tergolong cukup memadai. Sekolah pun dilengkapi dengan akses wifi gratis untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengakses beragam informasi yang dibutuhkan di internet. Sekolah pun tidak melarang siswa membawa laptop pribadi asalkan untuk tujuan baik, membantu proses pembelajaran. Dengan adanya fasilitas ini, menurut Basuki, siswa menjadi betah di sekolah. Acapkali mereka bahkan belum ingin pulang ke rumah meskipun jam sekolah telah usai, karena mereka ingin berlama-lama memanfaatkan fasilitas wifi gratis di sekolah.


Dengan fasilitas yang memadai dan suasana sekolah yang menyenangkan, siswa dapat selalu termotivasi untuk belajar dengan baik. Bahkan tak jarang para guru pun memanfaatkan berbagai fasilitas dan suasana pembejaran dengan cara-cara kreatif mereka. Misalnya, seperti yang dilakukan Drs. Sudarto, guru Bahasa Indonesia yang mengajar di SMK Negeri 1 Tuban sejak tahun 1996. “ketika saya mengajar sastra atau membaca puisi, kadang saya ajak anak-anak belajar di taman atau di bawah pohon. Juga ketika mereka belajar pidato, maka saya ajak mereka belajar di luar, karena jika belajar di luar itu tantangannya adalah dilihat orang banyak, dan ini merupakan pembelajaran yang bagus untuk melatih mental keberanian dan kepercayaan diri mereka,” katanya.

SMK Negeri 1 Tuban pun telah akrab menggunakan teknologi informasi dalam pembelajaran. Sistem ujian sudah menggunakan UNBK, komputer untuk praktek pun sudah memadai. “Bahkan ujian nasional perbaikan tingkat kabupaten dan UKG pun dilaksanakan di sini,” kata Basuki.

Teknik Pemesinan yang Favorit
Di antara 10 kompetensi keahlian di SMK Negeri 1 Tuban, Teknik Pemesinan merupakan yang paling banyak diminati masyarakat. Reputasinya sudah cukup kuat. Keterserapan lulusan ini di dunia kerja atau industri cukup baik, bahkan pada umumnya tak sampai menunggu lebih dari tiga bulan setelah lulus, siswa telah mendapat pekerjaan. Di samping itu, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa Teknik Pemesinan adalah jurusan paling mudah jika harus berwirausaha mandiri dengan bekal kompetensi yang diperoleh di sekolah.

Sejak SMK Negeri 1 Tuban menjadi sekolah rujukan, kompetensi keahlian Teknik Pemesinan menjadi pilihan untuk lebih dikembangkan. Revitalisasi peralatan menjadi fokus pengembangan, diikuti dengan pembenahan manajemen bengkel sebagai layanan TUK (Tempat Uji Kompetensi). Kompetensi instruktur pun dikembangkan agar guru mendapat sertifikat asesor lebih banyak. Sekolah juga meningkatkan dan memperluas hubungan kerjasama dengan industri untuk meningkatkan keterserapan lulusan. Selain itu, sekolah juga menjalin kerjasama dengan sekolah lainnya, utamanya yang menjadi binaan agar bersama-sama meningkatkan layanan pendidikan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di SMK Negeri 1 Tuban.

Kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik menempati urutan kedua sebagai jurusan terfavorit di SMK Negeri 1 Tuban. Jika jumlah pendaftar diprosentasi, maka Teknik Instalasi Tenaga Listrik ini menyedot hingga 18 persen dari jumlah pendaftar. Hal ini dikarenakan hanya SMK Negeri 1 Tuban, satu-satunya sekolah yang memiliki kompetensi keahlian ini. Faktor lainnya adalah karena keterserapan lulusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik ke dunia industri cukup tinggi, terlebih perkembangan dunia industri di Kabupaten Tuban dan sekitarnya sedang marak-maraknya, dan rata-rata membutuhkan tenaga terampil jurusan listrik. Faktor ketiga karena ketersediaan daya dukung pembelajaran di SMK Negeri 1 Tuban cukup lengkap, serta institusi pasangan yang mendukung kegiatan prakerin pun sangat banyak.

Pengembangan kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 1 Tuban antara lain meliputi berbagai aspek, di antaranya pengembangan manajemen bengkel agar menjadi TUK (tempat uji kompetensi) yang berlisensi BNSP, peremajaan alat praktik sebagai upaya memberikan layanan maksimal pada siswa untuk mendapat keterampilan sesuai dengan kebutuhan du/di, peningkatan kompetensi instruktur melalui jalur diklat dan workshop maupun In House Training sebagai upaya menjamin kualitas lulusan, dan mengembangkan sumber belajar berbasis multimedia.

Riko Adin Pratama, siswa kelas XII Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik mengaku merasa bangga menjadi siswa di SMK Negeri 1 Tuban, yang notabene adalah sekolah favorit di Kabupaten Tuban. Menurutnya, para siswa di SMK Negeri 1 Tuban sangat mudah untuk diajak maju dan bekerja sama. “Guru-gurunya juga sangat ramah, dan kepala sekolahnya sangat bagus dalam memimpin dan mengatur kegiatan,” katanya. Riko berpikir bahwa dengan bersekolah di Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, ia akan memiliki peluag kerja yang lebih besar di masa depan.

Jurusan lain yang juga menjadi favorit adalah Kompetensi Keahlian Multimedia maupun Teknik Komputer Jaringan. Peminat untuk kompetensi keahlian ini cukup besar, padahal pagu sekolah untuk jurusan ini cukup terbatas. Banyak hal yang Dari sisi fasilitas sekolah seperti perlengkapan komputer, sekolah telah menyediakannya. Namun demikian, banyak pula siswa yang memilih untuk membawa laptop sendiri dari rumah. Ini menunjukkan keantusiasan mereka pada bidang kompetensi ini, dimana mereka merasa perlu belajar lebih banyak dan mengembangkan diri tak hanya di lingkup sekolah saja.

Roberto Pandelluhan, S.Kom., guru di Jurusan Multimedia mengatakan sebagian besar siswa lulusan Multimedia bekerja di bidang broadcasting maupun berwirausaha. “Banyak pula yang meneruskan ke jenjang S-1 dengan kompetensi keahlian yang sam,” katanya.

Menjelang prakerin, para siswa biasanya magang di beberapa kantor atau instansi, dimana adakalanya mereka ditugaskan untuk membuat iklan perusahaan atau instansi tersebut. Ada pula yang prakerin di perusahaan Evercoss di Jakarta selama 6 bulan. Usai prakerin, siswa akan mendapat sertifikat, dimana sertifikat ini sangat berharga sekali sebagai referensi kerja mereka. 

Membina SMK Rintisan
Sejak tahun 2007, SMK Negeri 1 Tuban telah diminta untuk membina beberapa pondok pesantren di wilayah Tuban dan sekitarnya yang hendak mendirikan SMK. Ada sekitar empat pondok pesantren yang berada di bawah binaan SMK Negeri 1 Tuban, antara lain Ponpes Wali Sembilan, Ponpes Al Mustawa, Ponpes Bani Banna, dan Ponpes Mambail Putus. Dengan menjadi binaan SMK Negeri 1 Tuban, maka otomatis SMK yang dibangun di wilayah pondok tersebut pun menggunakan nama SMK Negeri 1 Tuban. “Kita membantu mengelola manajemennya, hingga menyiapkan guru-guru dari sini yang belum dapat diperoleh Pondok, terutama untuk guru produktifnya. Bahkan kalau pondok belum memiliki alat dan ruang praktek, kita persilakan praktek di sini,” kata Basuki.

Seiring waktu, Pondok Pesantren pun dapat berdiri sendiri secara mandiri setelah mendapat banyak pembinaan dari SMK Negeri 1 Tuban. Dengan kemampuannya untuk mandiri, maka SMK Negeri 1 Tuban pun mempersilakan SMK-SMK pondok tersebut untuk berdiri mandiri, lepas dari SMK Negeri 1 Tuban. Namun Basuki mengatakan bahwa jikalau SMK-SMK binaan tersebut memerlukan bantuan sewaktu-waktu, SMK Negeri 1 Tuban selalu siap sedia membantu.

Salah satu SMK pondok pesantren yang telah siap mandiri adalah SMK Kehutanan yang dikelola oleh Pondok Pesantren Wali Sembilan, Tuban, dengan Ahmad Kholil, S.Pd.i sebagai kepala sekolahnya. “Saat kami masih menginduk pada SMK Negeri 1 Tuban, jurusan yang kami miliki hanya Agribisnis Kultur Jaringan Tanaman, yang berbasis pada pertanian. Namun seiring perkembangan jaman, kami mengubah diri menjadi SMK berbasis kehutanan, karena selain lokasi kami berada di hutan, kami juga telah mengadakan kerjasama dengan Dinas Kehutanan maupun Perhutani,” jelas Kholil.


Saat ini, SMK Kehutanan Wali Sembilan ini memiliki dua kompetensi keahlian, yakni Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan, serta Pemetaan dan Pengukuran Hutan. Sebagai sekolah menengah kejuruan yang telah siap mandiri, SMK Kehutanan Wali Sembilan pun telah memiliki beberapa guru produktif yang benar-benar sesuai dengan kompetensinya, berkat kerjasama dengan Kementerian Kehutanan di bawah Pusdiklat Bogor. Total gurunya saat ini berjumlah 25 orang. Karena sekolah ini berada dalam pengelolaan pondok pesantren, maka sebagian besar siswanya pun adalah para santri pondok pesantren, meski ada pula sebagian kecil dari masyarakat umum. Jumlas siswanya saat ini sebanyak 230 anak, dengan jumlah total rombongan belajar sebanyak 5 rombel.  Para siswa yang lulus segera disalurkan untuk menjadi tenaga kerja di unit-unit Kementerian Kehutanan, antara lain sebagai penyuluh kehutanan atau bertugas di hutan lindung, mulai dari wilayah Sabang hingga Merauke.

Karakter yang Utama
Di SMK Negeri 1 Tuban, hal paling utama yang ditanamkan pada siswa adalah penguatan karakter siswa. Dengan karakter yang baik, Basuki optimis bahwa kompetensi dan keterampilan pun akan mengikuti. Untuk membina karakter siswa, sekolah telah membuat budaya karakter yang diterapkan oleh seluruh warga sekolah. Siswa dibuat untuk merasa nyaman, aman, dan termotivasi dengan tujuannya bersekolah. “Saat siswa tiba di sekolah, dia sudah harus mulai belajar karakter. Guru harus menyambut anak di bagian depan sekolah, diberi sapaan dan senyuman. Oleh karena itu, kami ada jadwal piketnya. Dengan demikian, siswa akan merasa diterima dengan baik. Siswa bisa belajar dengan baik kalau suasananya nyaman,” tutur Basuki. 

Pembelajaran berikutnya adalah ketika berada di tempat parkir sekolah. Di sini, siswa dituntut untuk memarkir sepedanya dengan baik dan rapi, karena jika tidak demikian, maka hal itu akan merugikan teman-temannya yang lain karena tidak mendapatkan tempat parkir. “Tempat parkir kami terbatas, namun kami sudah hitung untuk dapat memuat semua kendaraan yang parkir asal diparkir dengan benar. Kalau siswa memarkir sepedanya dengan rapi, maka pasti semua kendaraan dapat terparkir dengan baik,” jelas Basuki.

Saat pembelajaran di dalam kelas pun siswa telah melaksanakan anjuran program kegiatan sebelum pembelajaran dimulai, misalnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib nasional maupun budaya membaca sebelum memulai pelajaran.

Salah satu budaya positif yang unik di SMK Negeri 1 Tuban adalah guru yang mendoakan siswa-siswanya. Basuki menyadari bahwa jika guru mendoakan siswanya, maka akan terbangun perasaan yang lebih tulus dan ikhlas dalam mengajar. Siswa pun menjadi segan dan semakin menyayangi gurunya. Ikatan inilah yang hendak dibangun Basuki demi menyukseskan pembelajaran. “Setiap Senin sebelum mengajar, bapak ibu guru saya kumpulkan semua setelah upacara, untuk mendoakan siswa-siswanya,” katanya. Bahkan adakalanya Basuki memutar lagu ‘Tas Merah’ untuk diperdengarkan seantero sekolah saat jam istirahat sekolah. Tujuannya, melalui lagu tersebut, ia berharap dapat membetik perasaan siswa untuk mencintai guru-gurunya, demikian pula sang guru, supaya termotivasi untuk selalu memberikan yang terbaik bagi siswa-siswanya.

Jumlah tenaga pendidik di SMK Negeri 1 Tuban saat ini sebanyak 108 orang, yang terdiri dari 68 guru berstatus PNS, dan 40 guru berstatus guru tidak tetap. Sebagian besar guru telah bersertifikasi S1. Menurut Basuki, hampir 100 persen guru telah mendapatkan kesempatan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilannya untuk mendukung keberhasilan pembelajaran. Di samping workshop ataupun diklat Kurikulum 2013, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dilakukan melalui jalur In House Training dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Entrepreneurship melalui Karya
Untuk menunjang minat dan bakat siswa, sekolah telah menyediakan 24 kegiatan ekstrakurikuler yang bisa diikuti oleh siswa; mulai dari kegiatan seni, olahraga, keagamaan, dan lain sebagainya. Bahkan sekolah pun memiliki set perlengkapan gamelan, dan para siswa yang memainkan gamelan tersebut kerap diundang ke berbagai acara hingga tingkat Kabupaten. Sekolah juga memiliki beberapa set mesin jahit dan perlengkapannya, terutama untuk mengakomodir minat bakat para siswi. Di SMK Negeri 1 Tuban, siswa wajib memilih dua kegiatan, yakni kegiatan Pramuka yang merupakan ektrakurikuler wajib, dan satu kegiatan pilihan yang menjadi minat bakatnya. “Kami menyadari bahwa kadangkala jurusan siswa tidak selalu menentukan masa depan siswa, karena adakalanya siswa/alumni mendapatkankesempatan di bidang yang berbeda dengan apa yang telah dipelajarinya di sekolah. Oleh karena itu, kami berupaya untuk memberikan bekal sebanyak-banyaknya kepada siswa,” katanya.

Di samping itu, sekolah pun membina dan mengembangkan sisi entrepreneurship siswa melalui berbagai kegiatan praktek dan unit produksi. “Siswa lulusan SMK juga diupayakan untuk menjadi pengusaha meski dalam lingkup kecil. Misalnya, siswa dari Jurusan Kimia Industri itu diajari untuk memproduksi sabun, tempe, jahe instan, dan lain-lain. Tapi jika hal itu tidak dibarengi oleh motivasi entrepreneur dan pelatihan-pelatihan pendukung semisal pelatihan packing, maka tidak akan laku jual. Oleh karena itu, kami fasilitasi semuanya,”jelas Basuki. Ada pula produk ciptaan SMK Negeri 1 Tuban yang menjadi kebanggaan, misalnya traktor yang ramah lingkungan, mesin pipil jagung, Surya Cell, dan lain sebagainya. Menurut keterangan dari BKK, jumlah siswa yang memilih menjadi entrepreneur setelah lulus SMK sebanyak 4,4 persen pada tahun 2015.

Dengan memberikan fasilitas yang sebaik-baiknya dan mendukung minat bakat mereka, siswa justru semakin termotivasi untuk juga berprestasi di minat-minat yang disukainya. Terbukti, SMK Negeri 1 Tuban pun telah menelorkan banyak prestasi, misalnya dalam berbagai kejuaraan di ajang O2SN, lomba KIR Tingkat Nasional, maupun kejuaraan-kejuaraan lainnya. Dalam kejuaraan LKS pun SMK Negeri 1 Tuban kerap memborong juara bahkan hingga tingkat nasional. SMK Negeri 1 Tuban juga telah meraih penghargaan sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri.

Latif Wahyudi adalah salah satu siswa yang berhasil mengharumkan nama sekolah melalui prestasi Lomba KIR Tingkat Nasional. Siswa kelas XI Jurusan Kimia Industri ini berhasil meraih juara I tingkat Nasional berkat produk temuannya yang diberi nama Brikat, sebuah produk yang memanfaatkan kulit buah siwalan, buah yang banyak ditemui di daerah Tuban. “Kebetulan kami mengirim dua produk, dan kami menjadi SMK satu-satunya yang mengirimkan dua produk. Alhamdulillah produk kita yang kedua, yang diberi nama Absorben, juga mendapat prestasi, yakni juara harapan satu,” kisahnya.

Permintaan Du/di yang cukup Tinggi
Salah satu pendukung kesuksesan sekolah menengah kejuruan adalah bagaimana sekolah membina hubungan dengan dunia usaha/industri. Sejauh ini SMK Negeri 1 Tuban telah membina kerjasama dengan pihak industri/usaha. Ada sekitar 130 pihak du/di yang telah bekerjasama dengan SMK Negeri 1 Tuban, baik di tingkat lokal, nasional, hingga internasional. Bentuk kerjasama tersebut tak hanya mengenai tempat untuk prakerin saja, namun kerjasama juga dalam bentuk rekruitmen pegawai, guru tamu, dan lain sebagainya. SMK Negeri 1 Tuban memiliki tim BKK yang cukup aktif dan solid dalam membina hubungan dengan pihak du/di.

Menurut Basuki, salah satu strategi untuk menjaring du/di atau mendapatkan kepercayaan adalah dengan terlebih dahulu memperbaiki mutu sekolah. Sekolah dengan mutu yang baik akan menjadi alat promosi yang sangat ampuh di dunia industri. Perbaikan mutu sekolah tersebut tentunya meliputi perbaikan fisik sekolah maupun peningkatan kompetensi siswa.

Salah satu industri yang bekerja sama dalam hal perekrutan pegawai adalah PT UIP (Unit Induk Proyek), sebuah perusahaan kontraktor kelistrikan. Baru-baru ini, PT UIP menawarkan peluang kerja bagi alumni SMK Negeri 1 Tuban dengan posisi sebagai tenaga terampil. Sehubungan dengan adanya proyek besar PT. UIP memng sedang membutuhkan banyak tenaga kerja, antara lain tenaga terampil sebanyak 800 orang, supervisor sedikitnya 200 personil, dan tenaga kasar sejumlah 1200 tenaga. Bagi peserta yang lolos akan dididik  terlebih dahulu di home base perusahaan yang berlokasi di Semarang Jawa Tengah. Sedangkan penempatan kerja setelah selesai pelaksanaan diklat lebih difokuskan pada pekerjaan pemasangan jaringan kabel, pemasangan tower listrik dan pembangunan pondasi Bore Pile yang sebagian besar berada di kawasan Sumatera. Seluruh proses rekruitmen dilaksanakan di SMKN 1 Tuban mulai dari Tes Tulis, Psikotest, Uji Ketahanan fisik dan lainnya.

Beberapa perusahaan lain yang rutin membutuhkan karyawan dari lulusan SMK Negeri 1 Tuban antara lain PT. Denso Group, Dealer Honda, ADITEAM, PLTU Tanjung Awar-awar Tuban, PT Exxon Mobile Power, dan lain sebagainya. Bahkan, biasanya para siswa tersebut telah dipinang oleh perusahaan sebelum mereka lulus sekolah karena perusahaan sangat puas dengan kinerja siswa pada saat melaksanakan prakerin. Kegiatan prakerin di SMK Negeri 1 Tuban dilaksanakan pada saat siswa duduk di bangku kelas XI. Proses prakerin dilaksanakan antara 3 – 6 bulan, tergantung dari kesepakatan MoU perusahaan dengan sekolah.

Di samping itu, sekolah juga mengadakan kegiatan Job Fair di SMK Negeri 1 Tuban. BKK sekolah bertugas menjaring dan mendaftar industri-industri yang berminat mengikuti Job Fair.  Adakalanya dalam kegiatan Job Fair, industri ingin merekrut siswa dalam jumlah besar, misalnya hingga 200 orang. Oleh karena itu, sekolah pun dapat berkolaborasi dengan sekolah lain yang menjadi rekanan SMK Negeri 1 Tuban demi mencukupi kebutuhan tenaga kerja yang diperlukan industri.  

Salah satu hal yang menjadi kendala SMK Negeri 1 Tuban yang sekaligus banyak dikeluhkan industri adalah, adakalanya siswa memilih pekerjaan lain – padahal ia sudah diterima di perusahaan. Hal inilah yang kemudian dapat membuat perusahaan mem-blacklist SMK Negeri 1 Tuban untuk beberapa saat. Untuk mengantisipasi kekecewaan industri, kadangkala industri dan sekolah bekerjasama untuk membuat surat pernyataan yang ditandatangi oleh orangtua siswa untuk mengikat siswa.

Basuki sendiri mengatakan bahwa sekolah tidak berniat untuk membatasi siswa. Siswa diperkenankan untuk mendaftar di berbagai perusahaan yang dia inginkan. “Masalahnya, kadang pengumuman dari satu perusahaan itu cukup lama, sehingga ini membuat anak melamar ke perusahaan lainnya. Ketika ternyata anak diterima, dia sudah memilih bekerja di tempat lain,” katanya.

Meski demikian baik BKK maupun tim guru BK pun senantiasa memberikan pengertian dan pembekalan kepada para siswa mengenai orientasi masa depan, apakah akan terjun ke dunia kerja, melanjutkan ke jenjang kuliah, atau memilih pilihan lainnya. Yang jelas, sekolah berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pilihan dan kemudahan bagi siswa mengenai masa depan mereka.

Selain kerjasama rekruitmen pegawai, hubungan kerjasama sekolah dan industri juga berupa pengadaan guru tamu dari industri. Ajang ini merupakan ajang yang bagus untuk pembelajaran siswa maupun guru supaya selalu selaras dengan perkembangan yang ada di dunia industri. Kegiatan guru tamu ini dijadwalkan rutin oleh sekolah. Tak hanya dari satu industri saja, namun dari berbagai industri ataupun instansi, semisal dari Dinas Perekonomian dan Pariwisata.

Tak hanya dengan industri, sekolah juga menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi atau universitas. “Misalnya dari LP3I, mereka pernah menawarkan pelatihan kepada kami, mungkin sekalian sambil promosi juga,”kata Basuki. Sekolah pun penah menerima para mahasiswa dari Universitas Negeri Malang untuk proyek mengajar di SMK Negeri 1 Tuban. Proyek ini dinilai sangat bagus, terutama untuk menyiasati kekurangan guru produktif di SMK.

Selain dari universitas, sekolah juga menerima seorang sukarelawan guru dari Amerika untuk mengajar Bahasa Inggris di SMK Negeri 1 Tuban. Guru sukarelawan ini telah menandangani kontrak mengajar selama dua tahun. Bagi SMK Negeri 1 Tuban, keberadaan native speaker sangat membantu para siswa, terutama dalam menguasai bahasa Inggris. Guru sukarelawan tersebut pun dapat belajar bahasa Indonesia dan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.

SMK Negeri 1 Tuban juga telah menjalin kerjasama dengan perusahaan raksasa bidang telematika khususnya Device (perangkat), networkimg dan aplikasi yaitu Evercross melalui program DNA Initiative. DNA INITIATIVE adalah kerjasama yang diinisiasi oleh PT Aries Indo Global (Prinsipal Perangkat Mobile EVERCOSS) dan PT Mervotura Rekantara (MERUVIAN), sebuah perusahaan nasional, pengembang platform MERUVIAN. Kerjasama ini meliputi pelaksanaan prakerin bagi siswa Jurusan Multimedia dan Teknik Komputer Jaringan di perusahaan EVERCROSS Service center di Jakarta. Selama pelaksanaan prakerin, siswa diberi fasilitas  mesh, uang makan dan uang saku jika mereka setuju dan orangtua tidak keberatan maka waktu pelaksanaan prakerin diperpanjang menjadi 6 bulan.

Berkat adanya kerjasama yang baik dan harmonis dari berbagai pihak industri, sekolah pun banyak mendapat keuntungan bahkan hingga bantuan, misalnya melalui program CSR perusahaan. Sebagai contoh, sekolah mendapatkan bantuan ruang praktek dari Pertamina.

Sebagai sekolah rujukan, SMK Negeri 1 Tuban memiliki komitmen untuk terus mengembangkan diri dan menyesuaikan diri sesuai dengan majunya zaman. Hubungan dengan para stakeholder pun menjadi fokus prioritas untuk terus ditingkatkan. SMK Negeri 1 Tuban berharap dapat selalu menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan di Indonesia. ***




Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMK Negeri 4 Banjarmasin : Pertukaran Siswa dan Guru Hingga ke Luar Negeri


Di wilayah yang tenar dengan wisata pasar terapung, sebuah sekolah tampak mentereng dengan berbagai prestasi dan kiprahnya di dunia pendidikan menengah kejuruan. Sebut saja SMK Negeri 4 Banjarmasin, kini semakin berkibar, terutama semenjak didaulat menjadi sekolah rujukan sejak tahun 2015 lalu.

SMK Negeri 4 Banjarmasin merupakan sekolah menengah kejuruan yang menyiapkan para generasi muda di tingkat pendidikan menengah, terutama untuk menyiapkan generasi siap kerja, melalui tujuh program keahlian, antara lain Jurusan Tata Boga, Jurusan Tata Busana, Jurusan Tata Kecantikan, Jurusan Hotel Akomodasi, Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dan Jurusan Seni Musik Nonklasik.

Sekolah yang terletak di Jl. Brigjen H. Hasan Basri No. 7 Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini berdiri sejak tahun 1957. Dulunya, nama sekolah ini adalah SMKK Negeri Banjarmasin, letaknya pun berada di Jalan Mulawarman, Kota Banjarmasin.

Di usianya yang telah mencapai 59 tahun, sekolah ini bertekad untuk semakin meningkatkan dan menjaga kualitas untuk tetap menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, misi yang dilaksanakan antara lain membiasakan nilai-nilai imtaq, budaya dan karakter bangsa dalam seluruh kegiatan sekolah, mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal dan berwawasan global, meningkatkan kemitraan dengan du/di dan guru tamu berstandar nasional maupun internasional, mengembangkan business center sebagai sarana pembelajaran, membudayakan akses dan share sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi, serta membudayakan pelestarian lingkungan hidup, pencegahan kerusakan lingkungan dan pencegahan pencemaran.

Bertahan Unggul
SMK Negeri 4 Banjarmasin saat ini dipimpin oleh Drs. Syafruddin Noor, M.Pd., yang baru menjabat selama tujuh bulan. Sebelumnya, ia mengajar di SMK Negeri 4 Banjarmasin sebagai guru Bahasa Indonesia sekaligus kepala perpustakaan. Kini, sejak didapuk mengepalai SMK Negeri 4 Banjarmasin, Syafruddin Noor merasa siap untuk menjalankan visi dan misi SMK Negeri 4 Banjarmasin dengan berbagai strategi yang telah dirancang dan disepakati bersama.

Ia mengatakan, salah satu kiat untuk menjaga kualitas prima sekolah adalah dengan terus berkomitmen mencetak para lulusan yang terampil dan siap kerja. Oleh karena itu, fasilitas sekolah harus selalu menunjang visi dan misi sekolah. Misalnya, kebutuhan peralatan praktek siswa harus selalu terpenuhi.

Sisi perwajahan sekolah pun menjadi unsur penting untuk meningkatkan citra sekolah. Oleh karena itu, terutama setelah mendapat dana sekolah rujukan dari Pemerintah, SMK Negeri 4 Banjarmasin berbenah diri, terutama merehabilitasi perwajahan bagian depan sekolah sebagai satu hal yang dilakukan pertama kali. Dengan gaya arsitektur minimalis, wajah SMK Negeri 4 Banjarmasin kini tampil semakin megah dengan modern.

Guru Magang
Unsur lain yang menunjang kualitas sekolah adalah kualitas guru-gurunya. Saat ini, jumlah guru yang mengajar di SMK Negeri 4 Banjarmasin sebanyak 116 orang, dengan 58 guru PNS, dan sisanya adalah guru honorer. Menurut Syafruddin, tak terlalu sulit menghimpun dan menahkodai sekian banyak guru untuk berjalan bersama-sama beriringan membangun visi dan misi sekolah. Terlebih karena iklim kekeluargaan cukup kental di antara para guru, meski profesionalisme tetap dijaga dan dijunjung tinggi.

Kualitas guru selalu menjadi prioritas utama di SMK Negeri 4 Banjarmasin. Oleh karena itu, sekolah senantiasa mendukung program peningkatan kompetensi guru dengan memberikan kesempatan bagi para guru, misalnya untuk mengikuti kegiatan bimbingan teknis (bimtek), baik itu yang diadakan oleh Pusat ataupun Provinsi. Kesempatan-kesempatan ini selalu ada setiap tahun bagi semua guru SMK Negeri 4 Banjarmasin. Guru pun dimotivasi untuk aktif dalam MGMP.

Motivasi lainnya dari sekolah adalah memberikan apresiasi kepada guru-guru yang meraih keberhasilan, baik itu dalam kompetisi maupun dalam pembinaan siswa-siswanya. Salah satu bentuk apresiasi tersebut antara lain mengikutsertakan guru sekaligus siswa berprestasi untuk studi banding ke luar sekolah. Beberapa sekolah telah dikunjungi tim dari SMK Negeri 4 Banjarmasin, baik itu yang diluar Provinsi Kalimantan Selatan, luar pulau, bahkan ke luar negeri.


Namun demikian, satu kendala yang masih dirasakan sampai saat ini adalah minimnya guru produktif yang berstatus PNS, terutama guru normatif/adaptif, Hotel Akomodasi, UPW, RPL, dan Seni Musik Nonklasik. Untuk menyiasatinya, SMK Negeri 4 Banjarmasin pun merekrut guru-guru honorer/tidak tetap, biasanya adalah mereka yang sebelumnya memiliki pengalaman kerja di dunia industri ataupun lulusan universitas dengan bidang tertentu.

Kiat lainnya untuk mengatasi keterbatasan guru adalah dengan memanfaatkan guru tamu yang berasal dari dunia usaha/industri. Ini pun merupakan strategi unggulan sekolah, terutama untuk menjaga kualitas sekolah, supaya perkembangan keilmuannya selalu beriringan dengan perkembangan dunia industri. Sekolah cukup rutin mengundang guru tamu, setidaknya sekali dalam satu minggu, terutama guru-guru tamu yang berasal dari du/di sekitarnya. Guru tamu tersebut mengajar di kelas sesuai dengan bidang keahliannya. Namun ada pula guru tamu istimewa, dimana sekolah harus membuat proposal untuk mendatangkannya. Salah satu guru tamu yang pernah diundang ke sekolah antara lain pihak dari PT. Boga Sari untuk memberikan pengarahan dan pelatihan, terutama pada para guru jurusan Tata Boga, bagaimana cara membuat roti yang enak.

Strategi lain dalam rangka meningkatkan kualitas guru adalah melalui program guru magang. Dalam program ini, para guru di SMK Negeri 4 Banjarmasin memiliki kesempatan untuk magang di dunia usaha/industri. Mereka dapat mencari tempat untuk magang secara mandiri dengan mengajukan proposal ke sekolah ataupun ke tempat magang yang hendak dituju. Selain itu, guru juga diberi kesempatan untuk mengikuti workshop ataupun seminar demi meningkatkan bidang keahlian dan kompetensinya. Adakalanya workshop tersebut diselenggarakan oleh pihak du/di, adakalanya oleh instansi terkait atau dinas pendidikan.

Hj. Sri Noor Ilyana, S.Pd., guru jurusan Tata Boga yang telah mengajar di SMK Negeri 4 Banjarmasin selama 13 tahun pernah mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar dan workshop tata boga dan tata hidang di Hotel Tunjungan, Surabaya selama 3 bulan. Ia merasa senang mendapatkan kesempatan itu, karena menurutnya, guru memang perlu diberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk terus meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya.

Sebagai guru yang telah berpengalaman, Sri Noor Ilyana tak sekadar mementingkan kompetensi dan keahlian saja yang harus dimiliki oleh siswa, namun juga karakter yang kuat. Pembelajaran di sekolah hendaknya pun diiringi dengan pendidikan karakter. Guru harus senantiasa mendidik dan membimbing siswa-siswanya untuk membiasakan diri memiliki karakter dan akhlak mulia. “Saya senang mendekati anak dengan cara kekeluargaan daripada dengan cara kaku. Saya senang berkeliling sekolah, memeriksa dan memonitor anak-anak di pagi hari, apa saja yang mereka lakukan. Di samping itu, saya juga selalu terbuka pada penilaian. Saya tekankan pada anak bahwa sikap mereka pun masuk dalam penilaian. Syukurlah sejauh ini anak-anak sudah cukup paham ketika diberi pengertian tersebut,” katanya.

Sementara itu, Sulistianto, S.Pd., guru jurusan Hotel Akomodasi yang telah mengajar di SMK Negeri 4 Banjarmasin sejak tahun 1992 ini memiliki kiat tersendiri dalam mengatasi berbagai masalah siswa. Ia menyadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan menyerap ilmu yang berbeda-beda. Oleh karenanya, salah satu jurus andalan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan metode belajar bersama teman sejawat. Siswa yang memiliki kemampuan lebih baik diharapkan dapat membimbing dan membantu siswa yang memiliki kemampuan lebih rendah.

Sejauh ini, menurutnya, kendala yang paling sering dihadapi adalah masalah penguasaan bahasa Inggris. Padahal, menurut guru yang mengajar mata pelajaran Front Office ini mengatakan bahwa seyogyanya penguasaan Bahasa Inggris adalah prasyarat utama bagi siswa du Jurusan Hotel Akomodasi. “Pembelajaran Front Office antara lain meliputi resepsionis, reservation, telpon operator, kasir, kantor depan, porter. Oleh karena berhadapan langsung dengan tamu, standar minimal harus bisa menggunakan Bahasa Inggris. Dalam pembelajaran, latihan percakapan dulu yang kami utamakan. Pertama dengan teks, pelan pelan tanpa teks. Itu untuk persiapan uji kompetensi juga. Sekarang terus menerus kita praktekkan itu,” ujar guru yang sebelumnya pernah bekerja di hotel ini.

Untuk pembelajaran bahasa asing, SMK Negeri 4 Banjarmasin memfasilitasi pembelajaran bahasa Jepang dan Bahasa Jerman, selain Bahasa Inggris. Di samping itu, saat ini SMK Negeri 4 Banjarmasin juga menerima seorang sukarelawan guru tamu native speaker dari Korea Selatan berkat kerjasama bilateral antara Korea Selatan dan Indonesia. Guru tamu ini mengajar selama 30 jam pelajaran, dengan dua jam pelajaran setiap pertemuan. Namun demikian, tak semua jurusan mendapat pelajaran Bahasa Korea, melainkan hanya beberapa jurusan saja, misalnya untuk saat ini hanya jurusan Hotel Akomodasi dan Usaha Perjalanan Wisata. Kontrak kerja guru tamu ini berlangsung selama dua tahun, dan SMK Negeri 4 Banjarmasin hanya perlu menyediakan fasilitas tempat tinggal bagi guru tamu tersebut. Sejauh ini, SMK Negeri 4 Banjarmasin menempatkan guru atau tamu asing di Edotel untuk lebih memudahkan pengawasan dan keamanan.

Solid dengan Du/di
Salah satu kunci sukses bagi sekolah menengah kejuruan adalah bagaimana sekolah tersebut mampu menjalin lebih banyak relasi dan hubungan dengan dunia usaha/industri (du/di). Demikian pula SMK Negeri 4 Banjarmasin, pun memiliki strategi tertentu dalam upaya menjaring para dunia usaha/industri untuk peningkatan kualitas sekolah.

Dalam rangka mempromosikan atau mengenalkan profil sekolah ke du/di, salah satu strategi sekolah yakni dengan mengundang para dunia usaha/industri ke sekolah. Momen ini digunakan untuk mempresentasikan sekolah, antara lain jurusan-jurusan apa saja yang ada di sekolah berikut masing-masing potensinya, keuntungan apa saja yang bisa diciptakan melalui kerjasama antara sekolah dan du/di, serta bentuk-bentuk kerjasama seperti apa yang bisa dimanfaatkan. Tak berhenti sampai di situ, tim sekolah pun harus menyiapkan follow up, yakni dengan mengunjungi du/di tersebut untuk memperkuat hubungan dan memantapkan pelaksanaan MoU kerjasama. Masa MoU antara pihak sekolah dengan pihak du/di biasanya berlaku selama 2 tahun, dan untuk selanjutnya akan disinkronkan kembali.

Sejauh ini, macam-macam bentuk kerjasama yang dijalin antara pihak sekolah dengan pihak du/di antara lain kerjasama dalam pelaksanaan praktek kerja industri (prakerin), kerjasama rekruitmen, kerjasama pelaksanaan guru magang, asesor dalam uji kompetensi siswa, maupun sinkronisasi kurikulum. Menurut data, telah ada sekitar 160 du/di yang telah sepakat untuk bekerja sama dengan SMK Negeri 4 Banjarmasin, tak hanya di/di dari Banjarmasin dan sekitarnya saja, bahkan ada juga yang berada di Yogyakarta, Bandung, dan lain sebagainya.

Rahmat Hidayat, Manager Hotel Roditha, Banjarmasin, salah satu du/di yang telah menjalin kerjasama dengan SMK Negeri 4 Banjarmasin mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya merasa amat puas dengan skill dan kompetensi para siswa SMK Negeri 4 Banjarmasin yang telah melaksanakan prakerin di Hotel Roditha. Namun demikian, para siswa yang menjalankan prakerin di Hotel Roditha pun harus tetap diberikan pembinaan dan pengarahan mengenai tata kerja di Hotel berikut peraturan-peraturan yang harus ditaati. “Anak-anak SMK ini memang sudah punya dasar. Tapi ketika mereka terjun ke hotel, ilmu yang didapat nantinya akan lebih luas lagi. Sebelum prakerin, kita bina dan kita beri pengarahan terlebih dahulu, kita beri buku panduan, baru kemudian kita berikan kesempatan, misalnya di bagian Making Bed; itupun harus didampingi oleh seniornya. Kalau dia sudah terlatih, baru kita beri kesempatan di bagian lain, misalnya di bagian Checking Out. Di House Keeping saja kami memiliki kurang lebih lima bagian, dan kami memberi kesempatan anak-anak untuk mencoba semuanya.  Kemudian, tiap dua minggu sekali akan ada evaluasi dari kita, untuk melihat sejauh mana mereka mengetahui tentang hotel,” jelas pria yang sudah berkarir di bidang perhotelan selama 17 tahun ini.  Selain kerjasama dalam pelaksanaan prakerin, Rahmat juga mengatakan bahwa pihaknya pun didaulat untuk menjadi asesor saat uji kompetensi siswa.

Sekolah pun pernah mengadakan kerjasama dengan hotel Hotel Indonesia, Jakarta dalam hal Hotel Management Syste (HMS), yakni sebuah program komputer yang bertujuan membantu manajemen hotel dalam kegiatan hotel baik kegiatan sehari-hari maupun laporan-laporan yang diperlukan hotel, misalnya kegiatan menerima tamu (check in), mendata tagihan tamu (guest folio), atau pembayaran tamu (guest payment). Dengan adanya sistem ini, diharapkan para tamu mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Hasil lain yang dicapai dengan pemakaian sistem manajemen adalah efisiensi dalam operasional sehari-hari hotel. Dengan dikenalkannya anak-anak terhadap Hotel Management System, diharapkan mereka akan lebih familiar ketika nantinya terjun ke dunia profesional perhotelan. “Dulu kami sempat pakai dengan bekerja sama dengan HI Jakarta. Tapi sekarang sudah tidak pakai lagi dikarenakan HMS ini cukup mahal. Tapi kita berencana ke depan untuk memilikinya, karena HMS ini sangat penting bagi pembelajaran praktek anak-anak,” terang Sulistianto, guru Hotel Akomodasi.

Ditawari Kerja Sebelum Lulus
Praktek Kerja Industri atau prakerin dilaksanakan menjelang siswa duduk di bangku kelas XI, sesuai dengan ketetapan pada kurikulum. Masa pelaksanaan prakerin siswa SMK Negeri 4 Banjarmasin biasanya dilaksanakan selama 4 bulan. Sejauh ini, SMK Negeri 4 Banjarmasin telah bekerja sama dengan berbagai pihak dari dunia usaha/industri melalui MoU mengenai tempat prakerin siswa. Misalnya, untuk Jurusan Hotel Akomodasi, telah ada sekitar 25 hotel di Banjarmasin yang kesemuanya minimal bintang tiga, supaya siswa benar-benar dapat melaksanakan dan mempraktekkan ilmu yang telah dipelajarinya di sekolah sesuai prosedur. “Kalau hotel di bawah bintang 2, biasanya tugas-tugas perhotelan tidak dipilah-pilah atau diklasifikasikan secara profesional. Misalnya, kadangkala resepsionis juga merangkap kasir, pemesanan, dan sebagainya. Tapi di hotel bintang 3 ke atas, semua bidang kerja tersebut diklasifikasikan dengan baik, ditangani oleh masing-masing tenaga kerja. Dengan demikian, anak yang prakerin tidak bingung dengan apa yang akan dilakukannya,” kata Sulistianto.


Biasanya, tim guru lah yang akan menentukan tempat siswa melaksanakan prakerin, sesuai dengan kesepakatan orangtua siswa. Salah satu kriteria yang menjadi pertimbangan penentuan lokasi prakerin adalah jarak tempat prakerin dan tempat tinggal siswa. Semakin dekat, semakin baik, karena umumnya dunia usaha/industri memiliki jadwal dan peraturan yang sangat ketat, dan para siswa prakerin diwajibkan untuk mengikuti Standard Operasional Perusahaan.

Umumnya, perusahaan, semisal hotel, sangat ketat dalam penerapan aturan kerja, sehingga jika ada siswa yang melanggar maksimal tiga kali, maka siswa tersebut tidak akan diizinkan kembali melaksanakan prakerin di perusahaan tersebut. Otomatis sekolah akan menyalurkan siswa tersebut ke tempat lain dengan standard yang lebih rendah. Misalnya, untuk siswa jurusan Hotel Akomodasi yang melakukan pelanggaran dan dikeluarkan dari perusahaan tempatnya melakukan prakerinnya, maka ia akan ditempatkan di hotel di bawah bintang tiga.  

Sejauh ini, SMK Negeri 4 Banjarmasin telah mendapat banyak kepercayaan dari dunia usaha/industri dikarenakan kualitas siswa maupun lulusannya terbukti jauh lebih baik daripada siswa-siswa dari SMK pariwisata lainnya. Tak heran jika banyak dunia usaha/industri yang mengharapkan dapat memperoleh tenaga kerja dari SMK Negeri 4 Banjarmasin. Bahkan menurut keterangan yang diberikan siswa maupun guru, banyak sekali anak-anak prakerin yang setelah usai melaksanakan prakerin, mereka ditawari untuk bekerja di tempatnya melaksanakan prakerin tersebut.

Jika tidak demikian, kadangkala siswa pun mendapat tawaran untuk bekerja secara part time atau harian, saat pihak du/di sedang membutuhkan tenaga kerja tambahan secara insidental. Misalnya, kadangkala beberapa hotel membutuhkan tenaga kerja tambahan hanya ketika mereka sedang mengadakan event tertentu atau ketika tamu yang menginap cukup banyak. Oleh karena itu, mereka mengandalkan para siswa dari SMK, dan khususnya siswa dari SMK Negeri 4 Banjarmasin lah yang paling laris mendapatkan tawaran tersebut. Sistem kerja yang seperti ini dirasa cukup menguntungkan baik bagi pihak hotel maupun siswa itu sendiri. Hotel mendapatkan efisiensi pengeluaran tenaga kerja sekaligus terbantu dalam operasional kerja, sedangkan siswa pun merasa tak terikat dalam jangka waktu lama dengan pihak hotel, namun juga memperoleh pengalaman yang cukup berharga sebagai referensi dirinya kelak. 

Monika, siswi kelas XII Jurusan Usaha Perjalanan Wisata merasa senang dengan adanya kesempatan magang prakerin karena ia mendapat banyak pengalaman dan pelajaran baru. Perempuan yang bercita-cita menjadi pramugari ini pernah melaksanakan prakerin di Bandara Syamsuddin Noor. Selama empat bulan masa prakerin, ia mendapat kesempatan untuk merasakan beberapa bagian pekerjaan, mulai dari ticketing, check in, hingga kedatangan. Hanya saja, ia harus patuh pada aturan jam kerja yang tidak biasa baginya, dimana untuk shift pagi ia sudah harus standby di Bandara pada pukul 05.00 pagi.

Sedangkan Alicia Karisma, siswi yang saat ini duduk di kelas XII Jurusan Tata Boga menceritakan pengalamannya melaksanakan kegiatan prakerin di Rumah Sakit Umum Daerah Ulin, Banjarmasin. Di sana, ia ditugaskan untuk mengantarkan makanan pada pasien dan juga membantu memasak. Berkat pengalamannya menjalankan prakerin, kini Alicia jadi lebih banyak tahu mengenai kadar makanan untuk sakit tertentu.

Lain halnya dengan Susiana Febriyanti M., siswa kelas XII Jurusan Usaha Perjalanan Wisata, ia memiliki pengalaman prakerin bahkan hingga luar pulau, tepatnya di Yogyakarta. Selama empat bulan, siswa yang jago Bahasa Inggris ini menjalankan prakerin di Candi Prambanan selama dua bulan dan travel agency selama dua bulan. Ia benar-benar mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, karena berkat prakerin, ia berkesempatan untuk menjadi guide bagi turis internasional.

Business Center dan Technopark
Unit produksi di SMK Negeri 4 Banjarmasin cukup berkembang, terlebih karena sekolah memiliki Business Center dan Technopark, yang terbuka untuk umum. Melalui Business Center, produk-produk siswa dapat dikenalkan dan dipasarkan pada khalayak umum, sekaligus sebagai sarana belajar bagi siswa. Tak melulu menyajikan produk, bahkan acapkali Business Center pun memiliki program jasa atau pelatihan yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum.

Salah satu unit produksi milik SMK Negeri 4 Banjarmasin yang cukup berkembang adalah Edotel. Hotel edukasi ini adalah unit produksi yang dikelola oleh Jurusan Hotel Akomodasi. Edotel telah berdiri sejak 12 tahun lalu. Awalnya, hotel ini dikelola oleh pihak ketiga, namun saat ini sudah murni dikelola oleh sekolah. Meski terletak di dalam lingkungan sekolah, namun lokasi Edotel ini cukup strategis. Berseberangan dengan kampus sebuah universitas membuat Edotel selalu laris manis, terutama pada musim wisuda. Dengan total 20 kamar, ada 3 tipe kamar yang disediakan, yakni suit room dengan tarif 500 ribu, deluxe room dengan tarif 350 ribu, dan standard room dengan tarif 175 ribu. Harapan ke depan, Edotel dapat lebih berkembang setara hotel berbintang. Untuk operasionalnya, tak hanya siswa yang dilibatkan, ada pula alumni yang memberikan kontribusi tenaganya supaya jam operasional Edotel selalu siap sedia 24 jam, seperti layaknya hotel-hotel pada umumnya.

Demikian pula dengan Jurusan Tata Boga pun memiliki unit produksi unggulan yang bergerak di bidang catering, baik itu masakan utama maupun kue kering ataupun roti, yang acapkali juga dijual di lingkungan sekolah. Terutama menjelang lebaran, pesanan kue kering atau makanan lainnya cukup banyak, baik dari lingkungan sekolah atau dari masyarakat umum. Sementara Jurusan Seni Musik Nonklasik pun tak mau kalah dalam hal pengembangan sisi wirausaha, misalnya kerap mengisi acara-acara hiburan, baik di dalam maupun di luar sekolah. Begitu pula dengan Jurusan Tata Kecantikan dengan salonnya, Jurusan Usaha Perjalanan Wisata dengan jasa ticketing-nya, maupun Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak dengan jasa desainnya. Sedangkan untuk Jurusan Tata Busana, setiap tahun ajaran baru, para siswa pun dilibatkan untuk pengadaan seragam siswa baru.

Pengembangan unit produksi ini pun bertujuan untuk melatih sisi kewirausahaan siswa, karena bagaimanapun, peluang kerja tak hanya berada di dunia industri dengan bekerja di perusahaan saja, melainkan juga dapat dapat berwirausaha mandiri. Dengan bekal skill, kompetensi, maupun pengalaman, diharapkan sekolah mampu mencetak wirausahawan yang handal, sesuai dengan salah satu misi sekolah.

Pertukaran Siswa/Guru dan Beasiswa ke Luar Negeri
Salah satu program andalan SMK Negeri 4 Banjarmasin adalah program pertukaran siswa dan guru. Saat ini, SMK Negeri 4 Banjarmasin menjalin kerjasama dengan negara Thailand melalui MoU yang telah disepakati. Ada beberapa sekolah di Thailand yang mengikuti program ini, antara lain Nakhon Si Thammarat College, Uttaradit Vocational College, dan SIAMTECH College. Pihak Thailand pun memberi peluang dan kesempatan untuk magang di dunia industri yang ada di Thailand.

Sejauh ini, Program Partnership yang dimulai sejak tahun 2014 ini berjalan dengan baik dan terus berlanjut setiap tahun demi peningkatan Kualitas guru dan siswa dalam menghadapi MEA. Melalui program ini, siswa dan guru SMK Negeri 4 Banjarmasin berkesempatan untuk magang dan belajar di sekolah-sekolah di Thailand. Begitu pula sebaliknya, para guru dan siswa di Thailand pun berkesempatan magang dan belajar di SMK Negeri 4 Banjarmasin.

Selain itu, sekolah juga mengadakan kerjasama untuk program beasiswa dengan berbagai universitas ataupun college. Salah satunya adalah dengan universitas yang ada di China melalui program SEAMOLEC. Telah ada beberapa lulusan SMK Negeri 4 Banjarmasin yang memanfaatkan program beasiswa tersebut. Adapula kerjasama dengan pihak dari Philipina, Korea, Jepang, dan lain sebagainya. Ada pula program kerjasama beasiswa dengan universitas yang ada di Batam, Universitas Sahid Jakarta, dan lain sebagainya.

Hj. Fahmilian Hayati, S.Pd., salah satu orangtua siswa yang mendapatkan beasiswa universitas di China mengatakan bahwa ia merasa amat senang sekaligus bangga anaknya berhasil memperoleh beasiswa universitas di China. Atas keberhasilan ini, kepercayaannya terhadap SMK Negeri 4 Banjarmasin pun bertambah. Tak pelak anak keduanya pun mengikuti jejak kakaknya, bersekolah di SMK Negeri 4 Banjarmasin, dan saat ini sedang duduk di bangku kelas XI. “Sejak awal, saya lebih senang memilih SMK, karena di sini anak diberi bekal tambahan skill dan kompetensi selain pelajaran akademik. Kalau memang si anak mau langsung kerja atau meneruskan kuliah, saya tak terlalu memaksakan kehendak, terserah anaknya saja. Namun saya selalu sarankan pada anak, kalau bisa mereka bekerja sambil kuliah,” katanya.

Dalam penguasaan materi akademik, Fahmilian pun mengaku tak terlalu memaksa siswa memperoleh tambahan pelajaran di luar sekolah, melainkan mempercayakan sekolah untuk mendidik anaknya. “Saya percaya sekolah di sini pun tak kalah dengan SMA. Sekolah telah memiliki program dan strategi tersendiri untuk membantu siswa lebih mendalami materi, terutama saat persiapan Ujian Nasional (UN). Di sini, siswa kelas XII pun mendapat jam pelajaran tambahan, dan hasil UN siswa SMKN 4 Banjarmasin sejauh ini tak pernah mengecewakan,” jelasnya lagi.

Tim Penegak Disiplin
Bagi SMK Negeri 4 Banjarmasin, pendidikan yang komprehensif tak hanya menyiapkan siswa untuk menguasai materi akademik atau memberikan penguasaan skill dan kompetensi keahlian saja, melainkan juga mendidik siswa untuk memiliki karakter yang kuat dan akhlak yang mulia. Penanaman karakter di sekolah termanifestasi melalui budaya sekolah SMK Negeri 4 Banjarmasin.

Salah satu unsur penting dalam budaya sekolah adalah nilai kedisiplinan. Oleh karena itu, sekolah telah menyusun konsep peraturan dan kedisiplinan bagi semua warga sekolah. Diharapkan, kedisiplinan dan budaya-budaya sekolah ini dapat membentuk dan memperkuat karakter siswa. Kedisiplinan yang diterapkan di sekolah yang dimulai pada pukul 07.30 wita ini cukup ketat. Ada Tim Penegak Disiplin yang terdiri dari enam orang guru,yang ditunjuk pada rapat bersama setiap tahun ajaran baru. Tugas tim ini antara lain mencatat poin kedisiplinan siswa maupun guru. Semakin banyak pelanggaran, semakin banyak poin yang didapatkan. “Kalau poinnya banyak, kita panggil orangtuanya, kemudian kita beri peringatan, sampai jika kita tidak bisa lagi menangani maka kita pulangkan ke orangtuanya,” kata Syafruddin.  

Aturan kedisiplinan di sekolah tak sekadar mengenai ketepatan waktu masuk dan pulang sekolah saja, bahkan sekolah pun menerapkan peraturan tentang membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Hanya siswa yang telah berusia 17 tahun yang boleh membawa motor sendiri ke sekolah. Usia masih di bawah 17 tahun, maka orangtua dianjurkan mengantar jemput anak atau menggunakan jasa angkutan umum. Kebijakan ini pun untuk mengatur supaya lahan parkir di sekolah yang hanya memiliki luas sekitar 1,5 ha ini memadai. Dalam menerapkan aturan ini, sekolah pun bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menyosialisasikan pentingnya memperhatikan aturan berkendara yang baik.

Dari sisi penanaman karakter yang religius, sekolah pun memiliki budaya membaca Alquran yang dilakukan setiap pagi, setelah sebelumnya menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Ada pula kegiatan Shalat Dhuha berjamaah secara serentak seluruh warga sekolah yang dilaksanakan setiap satu kali dalam seminggu. Tak sekadar melalui pembiasaan budaya sekolah, sekolah pun mengadakan kegiatan ESQ yang diikuti baik oleh siswa maupun guru.

Dalam hal wawasan lingkungan dan kebersihan, SMK Negeri 4 Banjarmasin pun patut menjadi tauladan dan inspirasi. Gerakan penghijauan selalu digalakkan, demikian pula pengelolaan sampah. Pantas jika SMK Negeri 4 Banjarmasin pun dijuluki sebagai Green School. Para siswa dibiasakan untuk bahu membahu membersihkan kelas masing-masing sebelum mereka pulang sekolah, sehingga mereka akan menempati kelas yang bersih dan nyaman keesokan harinya. SMK Negeri 4 Banjarmasin pun telah berhasil meraih penghargaan sebagai juara I sekolah Adiwiyata Mandiri Tingkat Provinsi dan membina beberapa sekolah Adiwiyata di Kabupaten Banjarmasin, mulai dari SD, SMP, hingga SMA .

Mengenai prestasi, SMK Negeri 4 Banjarmasin tak lagi diragukan. Sebagai SMK favorit di Banjarmasin, SMK Negeri 4 Banjarmasin telah membuktikan kiprah dan kualitasnya melalui banyak sekali prestasi yang telah diraih, tak hanya tingkat Provinsi ataupun Nasional saja, melainkan bahkan hingga ke tingkat internasional/Asean. Beberapa prestasi yang membanggakan itu antara lain pernah meraih Juara I (Medali Emas) Asean Skill bidang lomba Ladies Dress Making pada tahun 2014, pernah meraih Juara III (Medali Perunggu) Asian Skill di Hanoi, Vietnam bidang Cooking pada tahun 2014, meraih Juara I LKS Tingkat Nasional Bidang Lomba Ladies Dress Making tahun pada tahun 2015, juara I LKS tingkat provinsi untuk Jurusan Tata Boga, Tata Busana, dan RPL pada tahun 2015, dan meraih Juara I Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2015 dengan jumlah 25 sekolah aliansi atau sekolah binaan (di semua jenjang).

Sekolah Aliansi
Dengan berbagai prestasi dan keunggulan SMK Negeri 4 Banjarmasin, tak pelak sekolah ini pun layak ditetapkan sebagai sekolah SMK rujukan sejak tahun 2015. Keberhasilan ini pun otomatis mengundang sekolah lain ingin mengikuti jejak SMK Negeri 4 Banjarmasin. Oleh karena itu, SMK Negeri 4 Banjarmasin pun membentuk Sekolah  Aliansi sebagai wadah untuk membina kerjasama demi membangun perubahan yang lebih baik. Program ini telah dilaksanakan sejak tiga tahun lalu dan telah menggandeng dua SMK lainnya. “Pembinaan dan kerjasama pada sekolah-sekolah aliansi ini telah menjadi komitmen kami. Di sini, kami pun melakukan kerjasama, baik dari sisi teknis keterampilan maupun berbagi strategi untuk menjadi sekolah  rujukan,” jelas Syafruddin Noor.

H. Yunisman, S.P., M.M., pengawas SMK di Banjarmasin mengatakan  bahwa program ini merupakan pemecahan yang sangat bagus demi memeratakan perkembangan dan kemajuan pendidikan di sekolah, utamanya di Kota Banjarmasin. Ia pun mengatakan bahwa keunggulan SMK Negeri 4 Banjarmasin telah dikenal sejak dulu. Sebagai pengawas yang membina 7 SMK di Kota Banjarmasin, ia pun berharap kiat dan strategi SMK Negeri 4 Banjarmasin dalam meraih berbagai keberhasilan dapat ditularkan ke sekolah-sekolah lainnya, utamanya yang menjadi sekolah binaannya. “Memang ada beberapa sekolah yang tidak sanggup mengikuti, oleh karena itu kami sesuaikan pembinaan tersebut dengan kemampuan masing-masing sekolah,” katanya. Ia berharap ke depan semakin banyak SMK di Banjarmasin memberikan hasil maksimal terciptanya generasi siap kerja yang handal.

Sebagai sekolah unggulan tak lantas membuat SMK Negeri 4 Banjarmasin terbuai dengan nama besar dan pujian atas prestasi. Yang terpenting adalah terus menyiapkan diri untuk selalu menjadi yang terbaik, utamanya menyiapkan generasi siap kerja yang siap pula menghadapi  persaingan di era MEA. Komitmen kuat dan kerja keras senantiasa menjadi gerak nafas SMK Negeri 4 Banjarmasin. ***



Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)