Showing posts with label S.Pd.. Show all posts
Showing posts with label S.Pd.. Show all posts

Kabupaten Nabire, Papua : Pagar Sekolah Sangat Dibutuhkan


Dari sisi geografis, wilayah Kabupaten Nabire di Papua terbagi dalam 4 kategori wilayah. Pertama, wilayah kota, kedua wilayah pinggiran, ketiga wilayah terpencil, dan keempat wilayah sangat terpencil, dengan total distrik sebanyak 15 distrik. Menurut Primus Butu, S.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Papua, terdapat 118 sekolah dasar, baik negeri maupun swasta, yang tersebar dalam ke-15 distrik tersebut, tak terkecuali di wilayah yang sangat terpencil. Hanya saja, banyak kendala yang dihadapi oleh sekolah yang berada di wilayah sangat terpencil, antara lain masalah kekurangan guru. “Untuk menjangkau wilayah di sana, kita hanya bisa berjalan kaki atau dengan menggunakan helikopter, dimana satu kali penerbangan biayanya sekitar 47 juta rupiah,” katanya.

Di wilayah yang sangat terpencil, fokus pembelajaran terutama adalah menulis, membaca, dan berhitung. Ketika siswa menginjak kelas IV dan sudah dapat menguasai calistung, maka biasanya siswa tersebut akan dibawa ke kota untuk bersekolah di sekolah yang lebih lengkap. “Biasanya diantar kepala sekolah atau orangtua, berjalan kaki lima hari lima malam. Di kota, anak tersebut akan dititipkan di sanak saudara,” kata Primus.  

Karena akses yang cukup sulit dan menyusahkan di daerah terpencil, oleh karena itu menurut Primus, salah satu prioritas pembangunan seharusnya adalah membangun landasan pesawat terbang. Namun sayangnya, nampaknya pembangunan landasan pesawat terbang ini bukan menjadi prioritas bagi dinas perhubungan. Padahal jika akses lancar, maka pendidikan pun akan lancar.

Untuk memenuhi kekurangan guru terutama yang ada di pelosok-pelosok, Pemerintah daerah telah mengangkat sebanyak 220 guru kontrak dengan menggunakan dana otonomi khusus. Diharapkan dengan adanya guru kontrak tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan di Nabire.

Kendala lain yang dihadapi di Nabire adalah banyaknya sekolah yang terlibat dalam perselisihan masalah tanah maupun batas wilayah sekolah dengan penduduk setempat. “Waktu Zaman Presiden Soeharto, banyak dibangun SD Inpres dan masyarakat diam. Sekarang, anak-anak mereka banyak menuntut kepada sekolah, minta supaya tanahnya kembali. Kadang-kadang mereka pun mempersoalkan batas wilayah sekolah. Oleh karena itu, pembangunan pagar sekolah itu sangat penting untuk melindungi sekolah,” kata Primus. Dengan adanya pagar sekolah, diharapkan masyarakat dapat melihat dengan jelas batas wilayah sekolah. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

Kabupaten Kaimana, Papua Barat : Bangun Sekolah Dua Tingkat


Menurut Luther Rumpumbo, S.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kaimana, Papua barat, ada sekitar 84 sekolah dasar yang tersebar di wilayah Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Namun demikian, salah satu kendala pendidikan yang masih kerap dihadapi di wilayah Kabupaten Kaimana adalah kurangnya tenaga guru, terutama di wilayah-wilayah terpencil atau susah dijangkau. Oleh karena itu, salah satu misi Bupati Kaimana adalah meningkatkan sumber daya manusia.

Demi mencetak sumber daya manusia, terutama guru yang diharapkan mengajar di sekolah-sekolah yang masih membutuhkan banyak tenaga guru, Pemerintah Kabupaten Kaimana tak segan untuk menyekolahkan para putera daerah di sekolah-sekolah keguruan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kaimana pun menjalin kerjasama dengan beberapa universitas, antara lain Universitas Hassanudin Makassar, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendididikan Indonesia di Bandung, dan Universitas Cenderawasih di Jayapura. “Biasanya dalam satu tahun kami menyekolahkan sekitar 40 orang. Tahun ini kami menyekolahkan 45 orang. Mereka adalah para putera daerah tamatan SMA. Setelah lulus, mereka kembali ke daerah dan mengabdi di Kaimana,” jelas Luther.

Menurut Luther, pendidikan di Kaimana pun gratis, mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Untuk itu, pemerintah kabupaten pun mengucurkan dana BOS Daerah untuk sekolah-sekolah dan juga dana dari otonomi khusus untuk menyukseskan program-program pendidikan. Bahkan kini Pemerintah daerah pun membangun sebuah sekolah unggulan untuk anak-anak Kaimana. “Sekolahnya cukup megah, terdiri dari dua lantai. Kami diberi bantuan oleh Pemerintah Pusat sebesar 2,5 milyar, tapi dari Pemerintah Daerah juga membantu hingga sekitar 20 milyar,” kata Luther.


Luther juga mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Kaimana sangat memperhatikan kondisi fisik sekolah. Oleh karena itu, pembangunan/rehabilitasi sekolah di Kaimana menjadi prioritas utama. “Sekolah-sekolah yang kami bangun cukup megah, terutama di dalam kota. Rata-rata dua lantai. Saya pikir,sarana prasarana sekolah itu harus baik dan menyenangkan bagi siswa karena itu dapat menjadi motivasi sekaligus kebanggaan bagi siswa. Jadi, meski lahannya luas, tetap kita bangun dua lantai,” kata Luther. Ia berharap pendidikan di Kaimana semakin baik dan maju. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

SMK PP Negeri 1 Tegalampel : Menggodok Entrepreneur Pertanian Unggulan


Tape atau tapai telah lama dikenal sebagai produk makanan yang menjadi ikon Bondowoso, kabupaten yang terletak di Jawa Timur. Ketela pohon, yang menjadi bahan baku pembuatan tape merupakan komoditi andalan di Bondowoso.

Namun demikian, tape kini tak lagi dikemas dalam produk sederhana yang biasa dimasukkan ke dalam kotak dari anyaman bambu atau kotak karton semata. Generasi muda telah melakukan berbagai inovasi dalam mengolah tapi supaya terlihat semakin menarik. Salah satunya yang dilakukan oleh generasi di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Bondowoso. Tape ataupun ketela pohon menjadi salah satu produk andalan mereka yang menjadi unit produksi usaha, dibentuk dan dikemas secara cantik dan menarik menjadi jus tape dengan merek JUPE (singkatan dari jus tape).

Menurut Anik Sudiartini, S.Pd., M.Pd., kepala SMK PP Negeri 1 Tegalampel, pihaknya telah menerima banyak pesanan produk JUPE, terutama menjelang lebaran. Bahkan permintaan tersebut pun datang hingga dari Malaysia. Sayangnya, kendala yang masih dihadapi SMK PP Negeri 1 Tegalampel  adalah masih belum mampu memproduksi dalam jumlah besar.

Soal kualitas, produk SMK PP Negeri 1 Tegalampel boleh diacungi jempol. Telah banyak testimoni mengenai JUPE, yang mengatakan bahwa JUPE yang diproduksi oleh SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki rasa yang enak, segar, dan sehat, karena tidak menggunakan bahan-bahan berbahaya. Selain JUPE, ada pula produk andalan lainnya, yakni MINROSE. Minuman dalam kemasan ini terbuat dari bunga rosella yang terkenal memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Tak hanya dibuat produk minuman kemasan, rosella pun diolah menjadi manisan yang enak rasanya. Ada pula produk keripik singkong coklat dan singkong kopi, sebuah inovasi rasa yang juga menjadi primadona, dan berbagai produk lainnnya.


Semua produk tersebut diolah sendiri oleh para siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel bersama para guru dan tenaga kependidikan, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Nama produk yang digunakan adalah Agro Purnama. Hampir di setiap event pameran di mana pun, SMK PP Negeri 1 Tegalampel selalu turut ambil bagian untuk memamerkan produk-produk andalannya, sekaligus memperkenalkan SMK PP Negeri 1 Tegalampel di mata khalayak publik sebagai SMK berbasis pertanian yang siap mencetak generasi bangsa yang berkompeten di bidang pertanian.

Tak heran jika SMK PP Negeri 1 Tegalampel kini telah banyak dikenal. Di kawasan Bondowoso sendiri, SMK PP Negeri 1 Tegalampel tergolong SMK yang cukup difavoritkan masyarakat. Citra yang telah dikenal masyakat Bondowoso adalah bahwa SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah banyak melahirkan generasi-generasi yang sukses di masyarakat, baik itu sebagai entrepreneur hingga menjadi figur masyarakat. Sayap SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun telah dikembangkan hingga Thailand, Malaysia, dan banyak negara tetangga lainnya.

Bukan pekerjaan mudah membesarkan sekolah hingga seperti sekarang. Anik, yang baru menjabat di SMK PP Negeri 1 Tegalampel sejak tahun 2013 mengaku telah melakukan banyak pekerjaan besar sejak mengelola SMK PP Negeri 1 Tegalampel. “Dulu tidak seperti ini. Saya melakukan perombakan besar, terutama dari segi sarana prasarana, sekaligus membentuk karakter bagi warga sekolahnya,” ujar Anik.

SMK Pertanian Favorit di Bondowoso
SMK Pertanian Pembangunan (PP) Negeri 1 Tegalampel (dahulu SPMA) didirikan pada tanggal 05 Pebruari 1968 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dan mendapat status “Terdaftar” melalui keputusan Direktorat Pendidikan Dirjen Pertanian – Deptan RI, Nomor 30 / swt /68, tanggal 10 Desember 1968.

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Deptan RI “No. 117 / Kep / DL. 210 / 10 / 2002, tanggal 21 Oktober 2002, SPP Daerah Bondowoso berubah status dari “Terdaftar” menjadi “Disamakan” (Akreditasi A), dan tanggal 1 April 2003, Bupati Bondowoso meresmikan SPP Daerah Bondowoso menjadi SPP Negeri Bondowoso.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bondowoso Nomor : 188.45/674/430.42/2010, tanggal 24 September 2010 , tentang perubahan Nomenklatur SPP, maka SPP Negeri Bondowoso yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura menjadi SMK SPP Negeri 1 Tegalampel dan merupakan Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Kabupaten Bondowoso.
Berdasarkan Peraturan Bupati Bondowoso Nomor : 27 Tahun 2013, tanggal 17 Juli 2013, tentang Pembentukan Nomenklatur SDN, SMPN, SMAN dan SMKN di lingkungan Pemerintah kabupaten Bondowoso, maka SMK SPP Negeri 1 Tegalampel berubah menjadi SMK PP Negeri 1 Tegalampel.
Saat ini, SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki dua kompetensi keahlian, antara lain Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) yang memiliki rombel sebanyak 18, dan Kompetensi Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP), yang baru dibuka pada tahun ajaran 2016/2017, sehingga baru memiliki satu rombel.  Untuk kelas 10 dan kelas 11, kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum 2013. Sedangkan untuk kelas 12 masih menggunakan Kurikulum KTSP.


Risky Yulian Putri, siswi kelas 10 Jurusan ATPH mengaku merasa senang bangga dapat menjadi bagian dari SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Ia berharap suatu saat dapat menjadi orang yang sukses, membanggakan kedua orangtuanya dan mengharumkan nama almamaternya.

“Awalnya saya tidak tertarik masuk ke sini, tapi orangtua menyarankan masuk ke SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Saya pun mencari informasi tentang SMK PP Negeri 1 Tegalampel, dan baru tahu kalau ternyata banyak lulusan sini yang sukses, makanya saya kemudian jadi tertarik,” kata siswi yang senang dengan pelajaran Biologi ini.

Selama menjadi siswa di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Risky yang masih kelas 10 pun telah meraih beberapa prestasi, di antaranya pernah tergabung dalam tim yang menjadi juara I Lomba Yel-yel Tingkat Provinsi dalam Gebyar Pembenihan, Juara I PPGD Putri dalam rangka Safari Husada, dan juara III Lomba Yel-yel Tingkat Kabupaten dalam rangka Jambore Kader Remaja Nusantara.

Berbeda dengan Rizky, Akbar Sutan Atmaja, siswa kelas 10 Jurusan ATPH memang telah mendambakan untuk menjadi bagian dari SMK PP Negeri 1 Tegalampel bahkan sejak ia masih duduk di bangku SMP. Ia bercita-cita ingin menjadi pengusaha, meski ayahnya adalah seorang guru yang juga mengajar di SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Namun demikian, setelah lulus nanti, siswa kelahiran 17 maret 2001 yang pernah mendapat ranking 1 di kelasnya ini masih berencana untuk melanjutkan pendidikan di STTP Malang.

Selama menjadi siswa di SMK PP Negeri 1 Tegalampel, Akbar tak hanya berkonsentrasi pada pelajaran yang ada di sekolah, namun ia juga menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan ekstrakurikuler, antara lain Pramuka, English Club, dan Kelompok Tani Pembibitan. Ia pun terlibat dalam kepengurusan OSIS. Di sekolah yang mulai sejak pukul 07.00 wib – 14.45 wib ini memiliki berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang bisa dipilih siswa, antara lain Pramuka, Palang Merah Remaja, Olah Raga (Sepakbola, Volley, Bulutangkis, Tenis Meja, Basket), Kesenian Islam, Remus, Band, Drum Band, Karya Ilmiah Remaja, Pecinta Alam, Komunitas Kimia, English Club, dan Panjat Dinding.

Disiplin dan Selalu Maju
Berdiri di atas lahan seluas 7,5 ha, SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah dilengkapi dengan sarana prasarana yang cukup memadai. Lahan praktek untuk pembelajaran seluas 60.000m2, dilengkapi pula dengan ruang workshop (bengkel latih), ruang Pasca Panen, green house, smart green house, laboratorium Mekanisasi Pertanian, laboratorium Fisika dan Biologi, laboratorium Kimia dan Tanah, laboratorium Kultur Jaringan, ruang multimedia, ruang pamer, ruang Teaching Factory, dan beberapa kebun koleksi. Anik mengatakan bahwa untuk mengelola dan merawat seluruh aset sekolah, sekolah mengerahkan seluruh warga sekolah. Disiplin yang tinggi sangat diperlukan. Dengan demikian, citra sekolah pun selalu terjaga, bahkan semakin baik.

Dengan 74 tenaga pendidik maupun kependidikan, SMK PP Negeri 1 Tegalampel berupaya dan berkomitmen untuk terus mengawal warga sekolah, terutama para siswa, untuk tak hanya kompeten dari sisi keilmuan, namun juga memiliki karakter yang kuat, akhlak yang mulia. Oleh karena itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun membangun budaya sekolah untuk melatih dan memperkuat karakter siswa. Misalnya, budaya Jumat Bersih, di mana pada hari Jumat pukul 07.00 wib sebelum memulai pelajaran, seluruh warga sekolah tanpa terkecuali bahu membahu untuk membersihkan sekolah.

Siswa maupun guru pun tidak diperkenankan untuk terlambat masuk sekolah. Di beberapa titik tersedia semacam pos yang dijaga oleh guru piket maupun tenaga kependidikan untuk memantau para siswa. Dengan jumlah siswa sebanyak 683 anak pada tahun ajaran 2016/2017, Anik optimis dapat mengarahkan para siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik asalkan dapat menegakkan kedisiplinan dan komitmen pada pendidikan.

Nanik Kusumawati, S.Pd., guru yang mengajar Biologi sekaligus menjadi Kepala Prodi TPHP mengatakan bahwa sejauh ini aturan kedisiplinan maupun tuntutan di SMK PP Negeri 1 Tegalampel tak terasa terlalu memberatkan, malah justru dirasa amat membantu untuk peningkatan diri – baik itu bagi siswa maupun para guru. “Sebagai guru di sini, kami tak hanya sekadar mengajar, namun juga dituntut untuk memiliki lebih banyak kompetensi, misalnya melalui kegiatan produksi maupun wirausaha sekolah. Itulah bedanya dengan SMA. Meski begitu saya tidak merasa terbebani,” kata Nanik, yang sebelumnya pernah mengajar di SMA.

Sebagai guru, ia pun dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, terutama dalam mengelola pembelajaran siswa. Dewasa ini, menurutnya, guru tak boleh hanya sekadar melaksanakan pembelajaran secara klasikal, namun juga harus membuat media-media pembelajaran yang menarik antusiasme siswa untuk belajar. “Saya pernah membuat media pembelajaran untuk tema model DNA yang terbuat dari sedotan. Anak-anak yang membuat, saya hanya memandu. Ternyata anak-anak sanga t senang dan mereka lebih mudah memahaminya,” kisahnya.

Sekolah Gratis dan Wirausaha
Salah satu daya tarik SMK PP Negeri 1 Tegalampel hingga banyak dilirik masyarakat adalah komitmennya sebagai sekolah gratis. Sebagian besar siswa, menurut Anik berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, sehingga pendidikan yang murah, apalagi gratis, menjadi magnet sekaligus solusi bagi mereka.

Di samping itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun berkomitmen untuk memberi bekal kepada para siswanya kemampuan dan keterampilan berwirausaha. Diharapkan setelah lulus nanti, siswa tak sekadar tergantung pada ketersediaan lowongan pekerjaan di dunia usaha/industri, namun dapat menciptakan peluang sendiri atau bahkan ke tinggi lagi dapat menciptakan pekerjaan bagi yang lainnya.

Anik menyadari bahwa bidang pertanian, terutama budidaya, memiliki peluang yang sangat besar untuk menghasilkan nilai ekonomis. Oleh karena itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun mengoptimalkan unit-unit produksi melalui berbagai produk olahan hingga budidaya.

Untuk tanaman budidaya unggulan, ada berbagai macam yang diandalkan oleh SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Tahun 2017, SMK PP Negeri 1 Tegalampel sedang mencoba untuk mengandalkan Okra jenis unggul. Tahun sebelumnya, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pernah mengunggulkan budidaya brokoli, ketela pohon raja, hingga bawang berlian.

Menurut Anik, salah satu faktor yang membuat SMK PP Negeri 1 Tegalampel senantiasa bersemangat dan termotivasi untuk terus mengembangkan budidaya menjadi unit produksi yang potensial adalah adanya dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso. Bahkan dalam beberapa kali panen, Bupati Bondowoso kerap ikut serta dalam pesta panen tersebut.

Untuk mengasah dan menanamkan jiwa wirausaha (entrepreneur) pada siswa agar lebih siap dengan bekal keterampilan pengolahan, pembentukan motivasi wirausaha, bahkan perluasan jaringan pemasaran serta segala bentuk inovasi produk pertanian dilakukan di satu Program yaitu Techno Park.

Techno Park di SMK PP Negeri 1 Tegalampel memiliki sejumlah divisi yang bertujuan memfasilitasi siswa dan untuk menjawab kebutuhan pasar (masyarakat) baik itu dari hasil pasca panen, produk olahan dan lain-lain. Dimana setiap divisi dalam program-programnya senantiasa melibatkan siswa disamping guru pendamping yang siap membimbing.

Divisi dalam Techno Park ini meliputi :
1.         DIVISI BUDIDAYA TANAMAN
          Menanam dan menghasilkan Budidaya Tanaman seperti : Brokoli, Seledri, Tomat, Semangka, Terong, Padi Hibrida Segara Anak, Sawi Daging, Cabe, Melon, Bunga Rosella, Bayam Merah, Kangkung,Okra dan lain sebagainya
2.         DIVISI PUPUK ORGANIK
          Memanfaatkan limbah-limbah yang dihasilkan selama proses panen menjadi bahan yang lebih bernilai. Produk yang sudah dihasilkan adalah : Pupuk Kompos,  POC (Pupuk Organik Cair).
3.         DIVISI KULTUR JARINGAN
          Memperbanyaktanaman dan dilakukan di laboratorium Kultur jaringan. Karena proses ini bisa berlanjut tanpa batas,  dan bisa memproduksi berbagai tanaman dari waktu ke waktu. Dengan kultur jaringan, sejumlah besar tanaman dapat diproduksi dalam waktu singkat dibandingkan dengan metode tradisional menanam benih, stek atau cangkok. Pada laboratorium Kultur Jaringan ini dihasilkan tanaman anggrek.
4.         PRODUK OLAHAN
          Mengolah hasil panen menjadi aneka produk olahan yang sehat dan bernilai gizi tinggi.Beberapa diantara produk olahannya sudah memiliki PIRT dari Dinas Kesehatan. Produk yang sudah dihasilkan adalah : Jupe,Minrose,Aneka manisan,Stick Wortel, Stick Sayur, Sutra Telo, Stick Rosella, Keping Telo, Belut Sayur, Kacang Gunis, Sumpia Sayur, Worban Molen, Sangkerut, Pengpatdakong,  Nugget Sayur, Rolade Tadakong, Jihu Sayur, Grahu, Aneka Puding (Telo Ungu, Rosella, Buah Naga, Nangka), Minuman Sirsat, Minuman Rosella, Sirup Rosella, Kripik Belimbing, Kripik Pepaya,kripik kangkung.

Dalam komunitas kimia, SMK PPN 1 Tegalampel pun menghasilkan produk-produk unggulan yang berasal dari hasil 3R (Reduce, Reuse dan Recycle). Kegiatan 3R tersebut merupakan budaya yang diunggulkan SMK PPN 1 Tegalampel terutama dalam hal Recycle, yaitu tindakan membuat suatu barang baru dari bahan lama (sampah) dengan jalan mengubah kandungan kimia dan fisik barang. Jadi recycle yang dilakukan berupa pengelolaan sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Produk hasil recycle ini berupa pembuatan kerajinan bungan, tempat tisu, assesoris, kaligrafi, tas, dan kerajinan lain dengan memanfaatkan sampah yang ada di sekitar sekolah.

Berbagai produk olahan maupun hasil budidaya SMK PP Negeri 1 Tegalampel selalu dipasarkan di berbagai kesempatan karena ini pun melatih siswa untuk berwirausaha. Sejauh ini berbagai pesanan telah banyak mengalir, terutama ketika menjelang lebaran. Para siswa dan guru bahkan siap lembur dengan sukacita untuk menyelesaikan produksi. Selain itu, produk dan hasil budidaya SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun dipasarkan setiap Minggu pada ajang Car Free Day di Kota Bondowoso.

Selain itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun mengembangkan potensi agrowisata di sekolah. Sejauh ini, SMK PP Negeri 1 Tegalampel telah memasarkan beberapa paket agrowisata ke masyarakat yang disambut amat baik, terutama di kalangan institusi pendidikan, seperti TK/PAUD, SD, dan sebagainya. Dalam kegiatan agrowisata, sekolah melibatkan siswa untuk menjadi pemandu wisata bagi para tamu. Dalam paket agrowisata ini, para tamu dapat mencoba berbagai kegiatan pertanian seperti menanam, memanen, beternak, dan juga mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat, sekaligus produk-produk yang sehat dan murah. Untuk menunjang promosi agrowisata SMK PP Negeri 1 Tegalampel, sekolah bahkan menyediakan bus sekolah yang dapat dipergunakan untuk mengantar-jemput para tamu.

Melatih Siswa melalui Prakerin
Untuk menggali dan mengasah pengalaman siswa dalam berpraktek menerapkan ilmu yang telah dipelajari di sekolah, siswa mendapat kesempatan untuk melaksanakan praktek kerja industri (prakerin), yang biasanya diselenggarakan saat siswa berada di kelas 11 semester 4. Guru menentukan ke mana siswa akan dikirim untuk melaksanakan prakerin selama 3 bulan.

Hingga saat ini, sekolah telah menjalin hubungan kerjasama dengan lebih dari 50 perusahaan agribisnis sebagai mitra kerja prakerin. Adapun lokasi Mitra Kerja dan Stake Holders tersebar di Kabupaten Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Malang, Sidoarjo dan Bali.

Salah satu mitra sekolah dalam kerjasama Prakerin adalah Buharto, seorang petani asal Bondowoso yang gencar memberikan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan mengenai kelengkapan/penyediaan barang dalam usaha pertanian organik. Ia telah bekerja sama dengan SMK PP Negeri 1 Tegalampel sejak tahun 2013, saat pamor dan namanya melejit berkat diganjar penghargaan sebagai Petani Teladan Kreatif dan Inovatif tingkat Nasional dari Presiden (waktu itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Ia pun pernah meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2014, penghargaan Adikarya Pangan Nusantara pada tahun 2015, dan juga mendapat penghargaan sebagai penyuluh swadaya dari Kementerian Pertanian. Berkat namanya yang melejit, Anik sebagai kepala sekolah pun lekas melirik Buharto untuk menjalin mitra.

Menurut Buharto, para siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel yang melaksanakan prakerin di tempat usahanya selalu menunjukkan hasil yang memuaskan – jika dibanding para siswa dari sekolah lainnya yang juga melaksanakan prakerin di tempat usahanya, yakni di P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya) Bintang Tani Sejahtera, di Desa Karangmelok, Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Di lahan seluas 4.000 m2, Buharto mendirikan laboratorium pertanian yang terintegrasi, mulai dari pertanian, peternakan, dan perikanan.

“Siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel sudah terlatih dan mendapatkan bekal materi yang cukup dari sekolah, sehingga mereka mudah diarahkan. Namun demikian, yang terpenting di sini adalah bagaimana kemampuan siswa dalam membaur dengan lingkungan ataupun masyarakat.  Sepintar apapun anak, jika tidak bisa berbaur dengan masyarakat, ya percuma,” katanya.

Selama prakerin, siswa difasilitasi tempat tinggal oleh Buharto, sehingga selama 3 bulan, siswa dapat optimal menjalankan praktek kerjanya. Buharto pun tak segan untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa siswa mendapatkan ilmu yang mumpuni selepas prakerin usai. “Saya memberi semua ilmu saya pada anak-anak prakerin. Setelah satu bulan pertama, kemudian mereka dapat memilih bagian mana yang disenangi, maka itulah yang akan didalami dan banyak dikerjakannya,” jelasnya.

Sebagai sosok yang telah menjadi figur praktisi berpengalaman di bidang pertanian, Buharto kerap menerima tamu dari berbagai penjuru, baik di Indonesia, hingga dari luar negeri.  Buharto pun kerap melibatkan siswa prakerin untuk membimbing atau memberikan penjelasan kepada para tamu yang mengadakan studi banding atau magang singkat di P4S Bintang Tani Sejahtera. “Saya hanya sebagai moderator saja ketika ada pertanyaan,” tambahnya. Dengan demikian, skill dan kemampuan para siswa prakerin semakin mumpuni, terutama sebagai penyuluh.

Saat ini, Buharto sedang giat menggalakkan pertanian organik sebagai salah satu alternatif budidaya yang memiliki nilai ekonomis menjanjikan, sekaligus ramah lingkungan. “Prospek organik ke depan cukup bagus, terutama dari sisi ekonomis, akan menguntungkan petani karena biaya produktivitas akan turun. Ketahanan tanaman terhadap hama juga lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi obat-obatan pembasmi hama, karena kadangkala pemakaian kimia yang berlebihan justru tidak baik. Dengan adanya organik, kita membangun ekosistem yang ada di lingkungan kita, berbasis pada kearifan lokal,” terangnya.

“Tantangan yang kami hadapi terutama adalah merubah pola pikir masyarakat. Namun seharusnya kendala ini dapat diantisipasi dengan memberikan pendidikan. Oleh karena itu, peran institusi pendidikan demi mendidik masyarakat untuk memiliki pola pikir yang lebih modern sangat penting. Dalam hal ini, misalnya peran SMK PP Negeri 1 Tegalampel,” tambahnya lagi. Oleh karena itu, Buharto sangat antusias mendukung program kerja, visi maupun misi SMK PP Negeri 1 Tegalampel. Tak heran jika dalam membimbing siswa prakerin pun ia cukup maksimal.

Evin Novitasari, siswi kelas 12 jurusan ATPH pun memiliki pengalaman tersendiri dalam melaksanakan prakerin. Siswi yang pernah berprestasi sebagai juara II tingkat Nasional dalam Gelar Inovasi dan Teknologi kategori Karya Ilmiah ini melaksanakan prakerinnya di Balai Penyuluhan di Senduro, Lumajang, selama 3 bulan. Ia mengaku memperoleh banyak ilmu baru yang sangat bermanfaat setelah melaksanakan prakerin. “Di sana kami belajar tentang pisang, tanaman yang  belum kami pelajari di sekolah,” kenangnya.

Setelah lulus sekolah, Evin, demikian ia akrab disapa, berharap dapat melanjutkan studinya di STTP Malang, kemudian mendapatkan pekerjaan di perusahaan industri pertanian. Harapan Evin adalah ingin mengangkat derajat dan perekonomian keluarganya, serta menjadi generasi yang berdaya saing tinggi, memajukan bangsa Indonesia.

Banyak menjadi Wirausahawan
Sejauh ini, banyak siswa SMK PP Negeri 1 Tegalampel yang telah direkrut saat mereka masih duduk di bangku sekolah khususnya kelas XII, sehingga saat mereka benar-benar lulus dan mengantongi ijazah, sudah ada pekerjaan yang menunggu. Namun demikian, tidak sedikit pula yang sudah menjadi seorang wirausahawan muda yang sukses karena mengaplikasikan ilmu yang didapat saat di bangku sekolah.

Menurut Jamila, S.P., guru yang juga sekaligus menjadi Kepala Program Keahlian ATPH, bahkan banyak siswa yang telah mencoba untuk berwirausaha sendiri saat mereka masih duduk di bangku sekolah. “Meski sebagian besar latar belakang siswa berasal dari keluarga petani, tetapi hanya petani tradisional atau buruh tani saja, sehingga ketika mereka mendapatkan ilmu baru dari sekolah, mereka menjadi antusias dalam belajar. Mereka juga mempraktekkannya di rumah masing-masing, dan bahkan mampu menghasilkan uang dari hasil praktek mereka. Kami memang selalu menekankan bahwa hanya dengan lahan 1 m x 80 cm, mereka bisa menghasilkan uang melalui budidaya. Itulah yang banyak dicoba oleh sebagian besar siswa di sini,” jelas guru yang mengajar sejak tahun 2011 ini.

Untuk lebih mendorong siswa ber-enterpreneur, menurut Anik, sekolah juga tak segan untuk memberikan stimulus pada siswa, bahkan kepada para alumni yang berminat untuk berwirausaha. “Kami bahkan tak segan untuk memberikan bantuan kepada mereka. Bantuan tersebut bisa berupa pinjaman modal, pembimbingan, hingga menghubungkan networking,” kata wanita yang pernah diganjar sebagai Juara I Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi pada tahun 2016 ini.

Sebagai kepala sekolah, Anik bahkan telah mencetuskan program ‘Laboratorium Berpasangan’ sebagai salah satu upaya untuk lebih menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa. Dalam Laboratorium Berpasangan ini, peran sekolah dan DU/DI atau stake holder lebih dioptimalkan.

Dengan berbagai terobosan yang telah dilakukan SMK PP Negeri 1 Tegalampel, tak heran jika sekolah yang beralamat di Jalan Gunung Purnama, Desa     Tanggulangin, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini pun kerap mendulang prestasi. Tak hanya prestasi di tingkat lokal saja, namun bahkan hingga di tingkat nasional. Antara lain siswa bernama Siti Nur Arita meraih Juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Tahun 2016 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, guru bernama Jamilah, SP. Dan Lina Purwati, S.Si, M.Pd. meraih Juara II Lomba Pengembangan Karya Tulis untuk Tenaga Pendidik Tingkat Nasional Tahun 2016 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, siswa bernama Ika Januar Anggraeni dan Evin Novitasari meraih Juara II Lomba Karya Inovatif Siswa SMK PP Se-Indonesia Tahun 2015 yang diadakan oleh Kementrian Pertanian, siswa bernama Abdul Halim, Ika Januar Anggraeni, dan Evin Novitasari meraih Juara I Lomba Kewirausahaan Gelar Inovasi Teknologi (GIT) Se-Indonesia Tahun 2015 yang diadakan Kementrian Pertanian, Guru bernama Ir. Boedi Harijanto meraih Juara II Lomba Guru Pertanian Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015 yang diadakan oleh Kementerian Pertanian, dan masih banyak prestasi lainnya. Bahkan Anik Sudiartini pun meraih Juara I Kepala Sekolah Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi Tahun 2016 lalu.

Di samping itu, SMK PP Negeri 1 Tegalampel pun telah menjalin kerja sama dengan Thailand untuk program pertukaran siswa maupun guru. Tak hanya Thailand, sekolah juga telah menjalin hubungan yang potensial dengan beberapa negara lain, misalnya Malaysia, Singapura, Jepang, hingga China.

Dengan berbagai prestasi, pencapaian, maupun bukti-bukti keberhasilan yang dirasakan oleh para alumni, diharapkan SMK PP Negeri 1 Tegalampel menjadi sekolah yang senantiasa dipercaya masyarakat sebagai institusi yang kompeten untuk mengawal generasi muda menjadikan Indonesia sebagai negara yang jaya, maju, dan makmur. ***




Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMK Negeri 1 Alas : Andalkan Unit Produksi


Jika hendak menengok Pulau Bungin, sebuah pulau kecil yang dikenal sebagai pulau terpadat di dunia, ada banyak hal yang bisa dinikmati, tak hanya sekadar pemandangan perkampungan padat penduduk saja. Sebuah restoran apung siap sedia menyajikan produk-produk hasil laut seperti ikan segar dengan harga yang sangat terjangkau. Di samping itu, wisatawan pun dapat mencoba aktivitas snorkeling. Hanya dengan 20 ribu rupiah, kita sudah mendapatkan fasilitas set perlengkapan snorkeling, pemandu, dan waktu hingga satu jam lamanya untuk memanjakan mata di keindahan bawah laut.

Proyek baru ini membuat senang Sukiman dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Kelompok Bungin Mandiri, yakni kelompok pemberdayaan masyarakat Pulau Bungin melalui produktivitas pemberdayaan hasil laut dan pelestarian kekayaan laut. Meski demikian, Kelompok Bungin Mandiri, yang dirintis sejak tahun 2014 dan kini telah memiliki 25 anggota ini tak bekerja sendiri. Tim dari SMK Negeri 1 Alas bahu membahu merintis dan memberdayakan potensi kekayaan laut di Pulau Bungin sehingga menjadi sumber pendapatan masyarakat Pulau Bungin.

“Kami mengusahakan pembibitan ikan hingga panen, kemudian kami jual, baik di luar maupun di restoran apung milik kami. Ada ikan ikan bawal bintang, ikan kerapu cantang, kerapu cantik, kerapu tikus, lobster, dan berbagai jenis ikan lainnya. Kami juga berupaya untuk memperbaiki terumbu karang untuk menyelamatkan keberadaan ikan-ikan serta memajukan pariwisata di sini, terlebih karena Pulau Bungin telah dikenal dengan wisata adat dan budayanya,” Sukiman menjelaskan.


Proyek yang optimistis ini terasa lebih nyata untuk segera terwujud dan berkembang pesat berkat adanya peran serta dari tim SMK Negeri 1 Alas. Bahkan Sukiman mengatakan bahwa tempat usaha Kelompok Bungin Mandiri pun secara berkala selalu menerima para taruna (sebutan siswa SMK Negeri 1 Alas) untuk praktek atau pra magang. “Para taruna yang umumnya adalah kelas 1 dan 2 dapat belajar mengenali jenis-jenis ikan yang ada di sini. Kami juga mendampingi mereka dalam praktek berenang,” ujar Sukiman lagi. Bahkan ia juga mengatakan bahwa usaha Kelompok Bungin Mandiri tak segan untuk merekrut lulusan SMK Negeri 1 Alas sebagai staff di restoran apung maupun untuk lini wisatanya.

Hubungan kerjasama yang harmonis antara Kelompok Bungin Mandiri dengan SMK Negeri 1 Alas ini pun membuahkan perkembangan yang cukup pesat bagi kelangsungan Kelompok Bungin Mandiri khususnya, dan masyarakat Pulau Bungin pada umumnya. Surjanah, S.E, ANT III., wakil kepala SMK Negeri 1 Alas Bidang Sarana dan Prasarana mengatakan bahwa sejak tahun 2007, tim SMK Negeri 1 Alas pun cukup intens memberikan pendampingan dan pembinaan kepada Kelompok Bungin Mandiri, misalnya dalam penyiapan keramba ikan, bibit, ataupun pakan. Bahkan tim SMK Negeri 1 Alas pun berupaya untuk menghubungkan Kelompok Bungin Mandiri dengan dinas-dinas terkait sehingga pemberdayaan ini semakin dipermudah dan mendapatkan sokongan yang tepat,” katanya.

Bentuk kerjasama antara Kelompok Bungin Mandiri dengan SMK Negeri 1 Alas merupakan bukti betapa kiprah SMK nyata-nyata membawa manfaat dan keuntungan bagi masyarakat maupun bagi lingkup pendidikan itu sendiri. Simbiosis mutualisme macam inilah yang semakin dipupuk dan dikembangkan oleh SMK Negeri 1 Alas, seperti yang disampaikan oleh Gunawan, S.Pd., kepala SMK Negeri 1 Alas. Ia juga telah memiliki program kerja mengoptimalkan unit produksi atau sektor bisnis SMK sebagai peluang dan potensi besar untuk mendukung pendidikan.

SMK Negeri 1 Alas merupakan sebuah sekolah menengah kejuruan yang berfokus pada kemaritiman, dalam hal ini adalah pelayaran dan perikanan. Sekolah yang terletak di Jalan Raya Alas – Sumbawa, Labuhan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini awalnya dikenal sebagai SMK Perikanan dan Kelautan. Tahun 2005, terbitlah nomenklatur perubahan nama menjadi SMK Negeri 1 Alas.

Berdiri tahun 2003, perjalanan perkembangan SMK Negeri 1 Alas pun penuh corak warna. Namun sekolah yang dipimpin oleh Gunawan, S.Pd. sejak tahun 2014 ini kini semakin mantap mengembangkan sayapnya, kokoh pada tujuan melahirkan sumber daya manusia kompeten dalam mengelola potensi kemaritiman di Indonesia. Saat ini, SMK Negeri 1 Alas menyediakan 8 kompetensi keahlian, antara lain Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI), Nautika Kapal Niaga (NKN), Teknik Kapal Penangkap Ikan (TKPI), Budidaya Perikanan (BP), Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Multimedia (MM), dan Teknik Komunikasi dan Jaringan (TKJ).

Jumlah total siswa atau taruna-taruni di SMK Negeri 1 Alas adalah 1.070 siswa. Jumlah siswa yang paling besar menurut Gunawan ada di Jurusan Perikanan dan Pelayaran, yang mencapai hingga 700 siswa. Sedangkan sisanya ada di jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Multimedia (MM), dan Teknik Komunikasi dan Jaringan (TKJ).

Banyak Dikirim ke Luar Negeri
Hingga saat ini, kompetensi keahlian yang memiliki peminat paling banyak menurut Gunawan adalah Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Agribisnis Perikanan, terutama pada dua tahun terakhir, jumlah siswa meningkat hingga lebih dari 100 persen. Yang menjadi daya pikat kompetensi keahlian ini adalah adanya peluang bagi para siswa atau taruna untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri. Bagi masyarakat Sumbawa yang juga memiliki kultur perantau, peluang ini tentu merupakan kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan. Tak heran jika untuk kedua kompetensi keahlian ini, nyaris sebagian besar tarunanya mendapat dukungan dari para orangtua.

Seperti halnya yang dirasakan I Gusti Ngurah Agung Gede Arya Udiyana, siswa kelas XII Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan. Sejak masih duduk di bangku SMP, Agung, demikian ia akrab disapa, bahkan telah memaku impiannya untuk suatu saat dapat bekerja di Jepang. Oleh karena itu, ia harus mencari jalan yang dapat mengantarkannya mewujudkan impiannya lebih dekat. Dengan berbagai informasi yang ia dapat, akhirnya ia mengetahui bahwa salah satu cara yang dapat mewujudkan impiannya adalah dengan bersekolah di SMK Negeri 1 Alas. Saat ia diterima, ia merasa sangat bersyukur, terlebih kedua orangtuanya pun amat mendukungnya.


“Sekolah ini punya hubungan kerja dengan Jepang, maka itu saya sangat tertarik masuk ke sini. Orangtua juga sangat mendukung. Saya sangat berharap pada saat tes seleksi ke Jepang nanti saya bisa lulus. Salah satu upaya saya antara lain giat belajar bahasa Jepang dan latihan fisik, misalnya angkat barbel,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara ini.

SMK Negeri 1 Alas memang telah menjalin kerjasama yang cukup erat dengan perusahaan maun agen yang mampu mengantarkan para lulusan bekerja di luar negeri. Misalnya dengan PT. Pudji Utami, PT Semesta Indonesia, PT. Harapan Anda, dan lain sebagainya. Menurut Gunawan, kerjasama ini bahkan telah berlangsung sejak tahun 2006. Para lulusan SMK Negeri 1 Alas telah banyak yang dikirim ke Jepang, Korea, Taiwan, Singapura, Malaysia, dan banyak lagi negara lainnya.

Biasanya, para agen tenaga kerja langsung datang ke sekolah untuk menyeleksi para lulusan taruna. Umumnya, para lulusan tersebut dipekerjakan di kapal-kapal penangkap ikan, kapal-kapal pesiar, kapal-kapal niaga, bahkan adapula sebuah pabrik elektronik di Malaysia yang ingin merekrut para lulusan SMK Negeri 1 Alas meski secara keilmuan berbeda. Mereka memandang para lulusan SMK Negeri 1 Alas memiliki nilai plus tersendiri, yakni karakter yang baik dan kedisiplinan yang tinggi. Kompetensi keahlian dapat diajarkan dengan cepat, yang penting calon tenaga kerja ini memiliki karakter yang bagus. Pendapatan yang diperoleh para lulusan ini pun cukup menggiurkan, bahkan mampu membantu mengangkat perekonomian keluarga di tanah asal.

Biasanya mereka menandatangani kontrak dengan masa kerja antara 1 – 3 tahun. Setelah kontrak selesai, banyak dari mereka yang memilih pulang ke kampung halaman kemudian membuka usaha baru. Ada pula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk meraih sertifikat pelayaran yang lebih tinggi lagi. Dengan sertifikat yang lebih tinggi, mereka nantinya juga akan mendapatkan pekerjaan dan posisi yang lebih tinggi lagi, yang tentunya menawarkan penghasilan yang jauh lebih tinggi.

Di bidang pelayaran dan perikanan, tingkatan karir memang merupakan urusan yang cukup rumit dan memerlukan perjuangan panjang. Bagi yang tak puas dengan hanya sekadar menjadi ABK (anak buah kapal), maka untuk menjadi perwira kapal atau nahkoda harus menempuh beberapa sertifikat yang telah ditentukan oleh Kementerian Perhubungan (untuk pelayaran) atau Kementerian Perikanan dan Kelautan (untuk perikanan). Semakin tinggi tingkatannya, semakin sulit pula persyaratan yang diperlukan.

Bagi para taruna di SMK, khususnya di SMK Negeri 1 Alas, mereka hanya mendapatkan sertifikat BST maupun Buku Pelaut yang ditempuh saat mereka duduk di bangku kelas XI. Untuk meraih sertifikat BST pun tidaklah mudah, pun tidaklah murah. Budi Susilo, S.Pd., guru di jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan mengatakan bahwa sejauh ini para taruna SMK Negeri 1 Alas benar-benar harus berjuang keras untuk memperoleh sertifikat-sertifikat dikarenakan persyaratan yang cukup sulit ditembus. “Sejauh ini, untuk mendapatkan sertifikat BST saja kami harus pergi ke Bali terlebih dahulu, dan itu tentu memakan banyak biaya dan energi. Saya sangat berharap Dinas Perikanan dan Kelautan dapat memfasilitasi atau mempermudah akses untuk meraih sertifikat-sertifikat tersebut, misalnya dengan mengadakan tes sertifikat di provinsi, sehingga itu memudahkan kami yang berada di Provinsi NTB,”kata Budi.

Budi juga mengeluhkan bahwa acapkali kebijakan antara Kemdikbud dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan tidak sejalan atau tak saling mendukung sehingga hal itu menyulitkan para taruna di SMK Kemaritiman. “Misalnya, kadangkala Dinas Kelautan mengadakan pelatihan teknologi pembuatan jaring. Sayangnya, sekolah tidak dilibatkan, padahal seharusnya mereka menyadari bahwa pengetahuan itu amat diperlukan bagi para taruna karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang nantinya akan diserahi tanggung jawab mengelola potensi kemaritiman di Indonesia,” ungkapnya.

Meski demikian, berbagai tantangan tersebut tak menyurutkan semangat SMK Negeri 1 Alas untuk terus mencetak generasi yang akan berperan penting dalam menjaga potensi kemaritiman di Indonesia. Nyatanya, setiap tahun sekolah berhasil mencetak lulusan yang benar-benar memiliki nilai jual yang tinggi. Para lulusan SMK Negeri 1 Alas yang menjadi perwira di kapal pun cukup banyak. Keberhasilan-keberhasilan inilah yang membuat nama SMK Negeri 1 Alas menjadi harum di mata masyarakat.

Namun demikian, kesuksesan sebuah sekolah dicapai atas kerjasama banyak pihak dan berbagai unsur. Dalam hal SMK Negeri 1 Alas, kesuksesan sekolah merupakan hasil kerja keras tim yang solid, antara lain kepala sekolah, guru, pihak dunia industri, maupun komite sekolah.

Menjadi Mediator bagi Sekolah
Peran komite sekolah tentu sangat penting, terutama untuk menjembatani sekolah dengan pihak wali murid. Sulaeman, S.Pd., ketua komite SMK Negeri 1 Alas mengatakan bahwa pekerjaan komite sekolah tak bisa dianggap ringan karena komite harus benar-benar dapat menjadi jembatan untuk mengakomodir kebijakan sekolah maupun kehendak para wali murid. Misalnya dalam soal biaya atau anggaran sekolah, komite harus benar-benar menjadi mediator yang baik, sehingga apa yang dibutuhkan oleh sekolah jangan sampai menjadi beban berat  bagi para wali murid. Sulaeman juga mengatakan bahwa anggaran komite sekolah di SMK Negeri 1 Alas masih sangat diperlukan mengingat kebutuhan sekolah yang acapkali tak bisa dipenuhi hanya dengan mengandalkan anggaran dari sekolah, misalnya gaji untuk para guru/tenaga pendidik honorer. Padahal di SMK Negeri 1 Alas, jumlah tenaga honorer jauh lebih banyak daripada yang telah diangkat menjadi pegawai negeri. Keberadaan guru honorer ini pun dirasa amat penting dan sangat membantu mewujudkan pembelajaran yang sempurna.

“Kami harus mencari jalan tengah bagaimana caranya supaya anggaran komite tidak memberatkan wali murid namun juga tidak menghambat kinerja sekolah dalam mewujudkan pembelajaran yang ideal. Sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik. Kami selalu mengkomunikasikan pada wali murid secara transparan apa saja kebutuhan sekolah untuk menghindari asumsi masyarakat mengenai pungli,” jelas Sulaeman.

Selain itu, komite sekolah juga berkontribusi untuk membantu sekolah mencari jalan alternatif untuk mendapatkan berbagai kemudahan atau fasilitas yang menunjang sekolah. “Kami membantu sekolah, misalnya dengan melobi instansi atau dewan legislatif dan sejauh ini kami telah banyak berhasil. Maka itu, SMK Negeri 1 Alas banyak memperoleh bantuan sarana prasarana maupun berbagai fasilitas,” kata Sulaeman lagi.

Guru Harus Kompeten dan Disiplin
Selain komite, guru juga merupakan ujung tombak keberhasilan sekolah dalam mencetak generasi-generasi yang kompeten dan berkarakter. Sejauh ini, hal pertama yang dilakukan Gunawan adalah berupaya untuk menyamakan persepsi, visi maupun misi sekolah kepada para guru. Kualitas guru pun tak sekadar ditinjau dari penguasaan dan pengembangan kompetensinya, namun juga tentang integritasnya sebagai seorang pendidik. Tak hanya para taruna, guru pun juga harus disiplin dan taat pada aturan sekolah.  

Di SMK Negeri 1 Alas, terdapat 150 orang tenaga pendidik dan kependidikan. Jumlah guru yang berstatus PNS hanya 42 orang, sedangkan tenaga honorer di sekolah sebanyak 108 orang. Para guru di SMK Negeri 1 Alas dituntut untuk selalu termotivasi meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, sekolah tak segan untuk memberikan kesempatan bagi para guru untuk belajar, misalnya melalui pelatihan-pelatihan, baik yang diadakan oleh dinas ataupun pelatihan dengan melibatkan pihak dunia industri, misalnya dalam hal pemagangan guru. Oleh karena itu, guru pun harus memiliki hubungan yang baik dengan dunia industri. Sekolah pun tak segan untuk memberikan reward atau apresiasi bagi para guru yang berprestasi atau memiliki integritas yang bagus.

Khairul Amal, S.Pd., pengawas SMK mengatakan bahwa  perlakuan antara guru PNS dengan guru honorer harus berbeda. “Untuk PNS, mereka dapat diperlakukan sesuai juknis/juklak, aturan yang berlaku. Sedangkan untuk honorer, sekolah harus menyadari bahwa mereka memiliki ruang gerak terbatas, oleh karena itu sekolah harus memiliki strategi bagaimana caranya supaya para guru honorer tetap mendapatkan hak yang sepantasnya. Namun sejauh ini saya lihat SMK Negeri 1 Alas memiliki manajemen yang baik. Saya juga telah melihat banyak sekali pembenahan yang dilakukan, terutama mengenai kondisi lingkungan yang kini telah jauh berbeda, menjadi jauh lebih baik. Tak heran jika SMK Negeri 1 Alas ini kini menjadi sekolah favorit, terutama di Kecamatan Alas,” kata Khairul. 

Di SMK Negeri 1 Alas, guru pun diharapkan memiliki kedisiplinan yang tinggi, karena bagaimanapun guru adalah teladan bagi para siswanya. Dalam hal kedisiplinan, Gunawan telah menerapkan beberapa strategi. Misalnya, dalam hal kedatangan atau absensi guru, ia memberlakukan absensi wajah. Dengan demikian, diharapkan guru dapat selalu tepat waktu dalam menunaikan kewajibannya. Selain itu Gunawan juga memberikan kepercayaan dan wewenang bagi masing-masing ketua prodi untuk mengelola jurusannya masing-masing, termasuk dalam hal bertanggung jawab terhadap kedisiplinan guru-gurunya. Ketua prodi juga diharapkan dapat mengembangkan jurusannya masing-masing, misalnya melalui unit produksi ataupun inovasi pembelajaran.

Sekolah Paling Luas
Tak hanya membina kinerja para pendidik maupun tenaga kependidikannya, Gunawan juga melakukan banyak pembenahan maupun pengembangan dalam hal fasilitas, sarana dan prasarana sekolah. Terutama dalam hal sarana fisik sekolah, sejauh ini telah banyak kemajuan yang dapat dilihat di SMK Negeri 1 Alas. Sekolah yang memiliki 35 rombongan belajar ini telah berhasil mengadakan berbagai peralatan maupun fasilitas yang menunjang pembelajaran siswa, misalnya pengadaan kapal tangkap untuk jurusan nautika, hingga sebelas kolam ikan yang ada di bagian depan sekolah untuk menunjang unit produksi. Sekolah juga menyediakan asrama sekolah bagi siswa yang bertempat tinggal jauh dari sekolah.

Apalagi SMK Negeri 1 Alas memiliki potensi yang cukup besar untuk terus dikembangkan. Sekolah yang juga dikelilingi perbukitan ini memiliki luas hingga 24 hektar, sehingga masih memiliki peluang untuk menambah berbagai fasilitas, sarana dan prasarana lainnya. Bahkan Gunawan memimpikan bahwa di depan sekolah tersebut dapat dibangun sebuah pelabuhan kapal kecil sehingga lebih memudahkan para taruna untuk praktek belajar.

Selain itu, sekolah juga banyak mendapatkan berbagai fasilitas maupun peralatan praktek dari pihak dunia industri maupun para stakeholder lainnya. Hal ini dikarenakan sejauh ini SMK Negeri 1 Alas cukup intens dalam berupaya menjalin kerjasama maupun hubungan baik dengan pihak dunia industri. Jalinan kerjasama tersebut tak hanya berupa kerjasama dalam penempatan siswa prakerin, namun juga dalam hal rekruitmen, guru tamu, bahkan hingga bantuan CSR.

Salah satu pihak du/di yang juga cukup intens dalam hal ini adalah PT Perama Center, sebuah perusahaan pariwisata yang berpusat di Bali. Perusahaan ini bahkan telah memberikan dua unit bus sekolah dan satu unit mesin teknik otomotif yang juga bisa digunakan sebagai mesin teknik kapal sebagai bentuk apresiasi kepada hasil kualitas dan kiprah SMK Negeri 1 Alas. Menurut Gunawan, keberadaan bus ini dirasa sangat meringankan mobilitas sekolah, terutama saat mengantar para taruna untuk melaksanakan kegiatan prakerin di tempat usaha para du/di yang telah sepakat dalam jalinan kerja sama.

Dikarenakan banyaknya jumlah taruna-taruni di SMK Negeri 1 Alas, baik kepala sekolah, guru, maupun tim BKK pun harus giat bahu membahu untuk mencari dan membuka peluang kerjasama dengan para pihak du/di. “Kami mencari du/di yang peduli dengan dunia pendidikan, dengan harapan mereka pun dapat memberikan pembinaan yang terstruktur kepada para taruna-taruni,” kata Budi Susilo, guru NKPI.

Meski demikian, sekolah juga harus memahami, tenaga seperti apakah yang diharapkan oleh pihak du/di. Seperti halnya di PT. Perama Center, mereka berharap para taruna memiliki multi talenta, tak sekadar ilmu yang diambil dan dipelajarinya di sekolah. “Perama mengharapkan anak-anak yang multitalenta, artinya taruna tersebut harus bisa menguasai banyak kompetensi, misalnya menjalankan kapal,  menjaga ruang mesin, mencuci kapal, menjadi koki di dapur, dan sebagainya,” kata Budi.

Di samping itu, karakter juga menjadi bagian penting yang kerap menjadi pertimbangan utama bagi pihak du/di. Oleh karena itu, sekolah pun memiliki program budaya karakter di sekolah untuk membentuk, membiasakan dan menanam karakter kuat pada diri para taruna-taruni SMK Negeri 1 Alas.

Jasmani Militer
Beberapa budaya sekolah yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Alas antara lain upacara bendera yang wajib diikuti semua warga sekolah pada hari Senin pagi. Jam pembelajaran di SMK Negeri 1 Alas dilaksanakan sejak pukul 07.00 wita hingga selambat-lambatnya pukul 14.30 wita, dari hari Senin hingga hari Sabtu. Pada hari Selasa hingga hari Sabtu diadakan apel pagi bagi seluruh siswa. Sedangkan pada hari Jumat pagi dilaksanakan kegiatan imtak (iman dan takwa), yakni kegiatan yang bersifat keagamaan, misalnya mengaji bersama ataupun mendengarkan tausiyah bersama-sama. 

Khusus untuk para taruna-taruni kelas X dan kelas XI diwajibkan mengikuti Jasmani Militer (Jasmil), yang biasanya dilaksanakan pada sore hari usai jam pelajaran. Dalam pembinaan dan pembimbingan Jasmil, sekolah bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat. Kegiatan Jasmil meliputi aktivitas-aktivitas yang melatih fisik dan kedisiplinan. Melalui Jasmil, diharapkan kedisiplinan dan ketahanan fisik para taruna semakin bertambah, karena bagaimanapun, dalam dunia pelayaran dan kemaritiman, fisik dan mental yang kuat amat diperlukan dan menjadi pertimbangan utama para du/di dalam rekruitmen.

Prakerin Diantar Bus Sekolah
Kegiatan prakerin di SMK Negeri 1 Alas dilaksanakan menjelang taruna duduk di bangku kelas XII selama kurun waktu 4 – 6 bulan, tergantung kesepakatan antara sekolah dengan pihak du/di. Tim guru akan menentukan ke mana para taruna ditempatakan selama proses prakerin berlangsung melalui berbagai pertimbangan. Sekolah pun memberi ruang bagi para wali murid maupun siswa dalam hal menentukan tempat prakerin. Menurut Satriawan, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, sebagian besar tempat prakerin taruna ada di Bali, Lombok, Pelabuhan Pototano - Sumbawa, dan wilayah-wilayah sekitarnya. “Sebelum berangkat menjalankan prakerin, para taruna diberikan pembekalan terlebih dahulu oleh para guru, kemudian diantar secara estafet oleh guru dengan menggunakan bus sekolah,” kata Satriawan.

Sukma Caesar Pratama, taruna kelas XII dari Jurusan Nautika Kapal Niaga adalah salah satu taruna yang telah berpengalaman melaksanakan prakerin selama 3 bulan di Pelabuhan Pototano. Ia ditempatkan di sebuah kapal dan harus mengikuti peraturan yang ditetapkan untuk seluruh awal kapal. “Di sana saya memperoleh banyak ilmu dan pengalaman baru. Pekerjaan yang dilakukan siswa prakerin di kapal antara lain menjangka peta, mengetahui kedalaman laut dan jarak, menghitung bahan bakar, mengemudi, lempar tali, cara menyandar, cara bongkar muat, dan lain sebagainya. Saya senang sekali, terlebih dengan ilmu-ilmu baru yang saya jumpai. Namun adakalanya ketika saya penasaran dengan beberapa hal, tidak serta merta mendapatkan bimbingan karena menurut mereka tingkatan saya belum waktunya. Namun ini justru melecutkan motivasi saya untuk melanjutkan studi lebih tinggi lagi di akademi pelayaran,” kata Caesar, demikian ia akrab disapa.

Anak tunggal ini sangat memimpikan cita-citanya berkarir di dunia pelayaran. Namun begitu, ia pun sadar bahwa meniti karir di dunia pelayaran itu sangat tidaklah mudah. Berbagai sertifikat berkelas internasional harus didapatkan terlebih dahulu, bahkan hanya untuk melanjutkan pendidikan. “Saya ingin lanjut ke akademi pelayaran, tapi syaratnya harus mengambil ijazah sertifikat dulu dan juga bekerja di kapal. Itu sudah dipersiapkan semua, kita juga bisa menyicil sembari bekerja di kapal,” katanya.

Munawir, salah satu staff yang bertugas di Pelabuhan Pototano, Sumbawa mengatakan bahwa sejauh ini ia melihat bahwa kinerja para taruna yang melakukan praktek magang atau prakerin di kapal niaga yang ada di Pelabuhan Pototano cukup bagus. Ia bahkan juga ikut merasa bangga melihat banyak lulusan SMK Negeri 1 Alas yang telah berhasil meniti karir di bidang pelayaran dan bekerja di kapal.
Namun demikian, sebelum para taruna melaksanakan kegiatan prakerin di kelas XII, mereka sebelumnya pun diprogramkan untuk mengikuti kegiatan pra-magang yang berlangsung saat taruna duduk di bangku kelas X maupun kelas XI. Kegiatan pramagang ini dilaksanakan di beberapa wilayah di Sumbawa dalam kurun waktu 2 – 4 minggu. Lokasi kegiatan pramagang para taruna kelas X dan XI antara lain di kawasan pantai dan kampung nelayan Labuan Ijuk, kawasan pantai dan kampung nelayan Labuan Jambu, dan kawasan pantai dan kampung nelayan Labuan Jontal. Untuk para taruna jurusan Agribisnis Perikanan, lokasi kegiatan pramagang dilaksanakan di kolam depan sekolah atau di desa Marente, Alas Barat.

Berbaur dengan Masyarakat Nelayan
Para taruna yang magang di Labuan Ijuk, Labuan Jambu, dan Labuan Jontal, adalah mereka yang berada di Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan atau Nautika Kapal Niaga. Sekolah pun telah memiliki sebuah perahu bagang sebagai sarana fasilitas para taruna untuk praktek berlayar dan mencari ikan. Misalnya di Labuan Ijuk, para  taruna pramagang juga diharapkan mengabdi di desa nelayan dengan cara banyak menggali ilmu dari para nelayan setempat, berbaur dengan masyarakat nelayan setempat, dan ikut berperan serta dalam berbagai kegiatan masyarakat nelayan.

Asmaun, Kepala Dusun Atas Desa Labuan Ijuk mengatakan bahwa masyarakat di Desa Labuan Ijuk pun amat antusias dan sangat menerima keberadaan para taruna yang praktek pramagang di sana. “Mereka membantu masyarakat di sini, misalnya menangkap ikan di bagang. Kami juga sangat bangga pada mereka karena bagaimanapun mereka adalah generasi penerus,” katanya. Para taruna juga menurut Asmaun sangat taat serta dapat melebur dengan masyarakat Desa Labuan Ijuk.

Misalnya, terdapat tradisi di Desa Labuan Ijuk bahwa setiap hari Jumat diadakan kerja bakti para warga. Para taruna SMK Negeri 1 Alas pun tak segan untuk turun tangan membantu dalam kegiatan kerja bakti Jumat tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika bahkan para taruna tersebut kerap dianggap sebagai anak sendiri oleh warga desa. Hubungan kekeluargaan yang erat benar-benar terjalin, karena menurut Asmaun, tak jarang para taruna tersebut tetap datang berkunjung atau membantu mereka meskipun kegiatan pramagang telah usai.

Pendapat yang sama juga diungkapkan Arifin, pengepul ikan di Desa Labuan Ijuk yang telah menjalankan usahanya sejak tahun 1980an. Menurutnya, para taruna SMK Negeri 1 Alas sama sekali bukanlah beban bagi warga Labuan Ijuk, namun justru banyak membantu dan meringankan pekerjaan para nelayan. “Satu bulan saja anak-anak di sini, mereka sudah pintar dan mampu melaksanakan praktek secara mandiri, meski kami tetap mendampingi mereka. Tampaknya mereka sangat antusias dan termotivasi dalam bidang ini. Kami pun senang karena mereka banyak membantu. Tak jarang jika kami mendapat banyak keuntungan, kami akan memberi mereka sekadar uang saku meski mereka sebenarnya ikhlas dan tak mengharapkan imbalan,” kata Arifin.

Unggulkan Unit Produksi Budidaya Ikan
Sedangkan untuk para taruna-taruni jurusan Agribisnis Perikanan akan melakukan praktek atau pramagang melalui pembudidayaan ikan di kolam milik sekolah yang terletak di bagian depan sekolah dan di desa Marente. Ada sebelas kolam yang terletak di bagian depan sekolah, diisi dengan ikan lele, ikan nila, ikan bawal, dan lain sebagainya. Tak cukup dengan kolam yang dimiliki, sekolah juga menyewa beberapa kolam dari masyarakat. Menurut Gunawan, sekolah sedang giat menggalakkan unit produksi budidaya ikan maupun udang, yang bahkan menjadi unit produksi andalan bagi SMK Negeri 1 Alas.

Budidaya ikan sekaligus pembibitannya ini dinilai memiliki prospek yang sangat bagus dan menguntungkan mengingat permintaan yang cukup tinggi. Misalnya, PT Newmont pernah meminta pasokan sebanyak 1 ton ikan per minggu. Sayangnya, waktu itu sekolah belum bisa memenuhinya. Oleh karena itu, Gunawan berharap unit produksi budidaya ikan ini semakin dikembangkan sehingga dapat memenuhi pasar, dan hasil keuntungannya pun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah secara mandiri.

Salah satu strategi yang digunakan sekolah untuk mengantisipasi banyaknya permintaan ikan adalah dengan menggandeng para wali murid untuk berperan serta menjalankan usaha budidaya ikan. Menurut Agung, S.Pi., guru jurusan Agribisnis Perikanan, budidaya ikan tidaklah sesulit yang dibayangkan. Masyarakat tak harus memiliki kolam permanen, akan tetapi juga dapat memanfaatkan kolam dari terpal.

Para taruna-taruni dari Jurusan Agribisnis Perikanan sendiri merasa sangat bersemangat jika mereka turun ke lapangan untuk praktek pembudidayaan ikan. Menurut Agung, mereka bahkan tak keberatan meskipun harus menginap di sekolah semalam suntuk saat tiba waktunya pemijahan ikan. “Pemeliharaan ikan ini harus betul betul intens supaya menghasilkan,” kata Agung.

Di antara total jumlah taruna-taruni di SMK Negeri 1 Alas, jumlah taruna-taruni Jurusan Agribisnis Perikanan tergolong paling banyak di antara lainnya, yakni total 309 taruna-taruni, yang sebagian besar adalah perempuan. “Dalam dua tahun terakhir ini peminatnya meningkat pesat. Tahun ini ada 4 kelas untuk Agribisnis Perikanan,” kata guru yang telah mengabdi di SMKN 1 Alas sejak tahun 2003 ini.  Menurutnya, salah satu yang menjadi daya tarik jurusan Agribisnis Perikanan hingga banyak diminati adalah banyaknya peluang bagi para lulusan untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri, seperti yang sejauh ini telah berhasil dibuktikan oleh SMK Negeri 1 Alas.

Tak Pernah Promosi
Di tahun ajaran 2015/2016, jumlah siswa SMK Negeri 1 Alas telah mencapai lebih dari 1000 siswa, dan ini adalah capaian yang luar biasa bagi sekolah menengah kejuruan di bidang kemaritiman. Kendati demikian, Gunawan mengaku bahwa sekolah tak pernah melakukan promosi untuk menjaring siswa atau taruna baru, misalnya dengan cara membuat spanduk/billboard/flyer atau dengan mengadakan sosialisasi pengenalan di sekolah-sekolah menengah pertama. Satu-satunya promosi yang membuat nama SMK Negeri 1 Alas tenar adalah keberhasilan para alumni. Dengan banyaknya alumni SMK Negeri 1 Alas yang telah bekerja baik itu di dalam dan di luar negeri yang kemudian membantu perekonomian keluarga, masyarakat menjadi lebih menaruh kepercayaan lebih besar kepada SMK Negeri 1 Alas. Siswa baru berbondong-bondong mendaftar di SMK Negeri 1 Alas karena mereka juga mendambakan kesuksesan seperti alumni-alumni sebelumnya.

Salah satu contoh alumni yang berhasil adalah Brigadir Khaerul Solihin, salah satu lulusan SMK Negeri 1 Alas tahun 2006 yang tergolong sukses meraih cita-cita yang diinginkannya sejak awal. Kini ia mengabdi sebagai Polisi Air (Polair) yang ditugaskan di wilayah Alas, Sumbawa. “Sejak awal saya sudah punya cita-cita masuk Polair. Maka itu, sejak lulus dari SMK, saya langsung mengikuti seleksi kepolisian, dan saya merasa sangat senang karena berhasil lulus seleksi. Berkat pendidikan yang saya dapat di SMK Negeri 1 Alas, saya merasa cukup siap dan tak terlalu kaget dengan rangkaian tes kepolisian. Saya sangat bangga menjadi bagian dari Polair Republik Indonesia yang memiliki tugas mulia seperti menjaga wilayah maritim Indonesia, mencegah teroris, illegal fishing, dan lain-lain,” kata pria yang dulu mengambil jurusan Nautika Kapal Niaga ini.

Sosok seperti Khaerul Solihin dan para alumni lainnya yang telah berhasil merupakan sosok-sosok yang mampu menjadi inspirasi maupun motivasi bagi para taruna-taruni SMK Negeri 1 Alas. Oleh karena itu, tak jarang para alumni yang telah berhasil mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya kerap diundang oleh sekolah untuk memotivasi adik-adik tingkatnya, membakar semangat mereka untuk tak lekas menyerah dalam meraih cita-cita.

Untuk menghindari kasus siswa yang salah masuk jurusan, sekolah mengadakan sosialisasi bagi para calon taruna-taruni baru mengenai detail kompetensi keahlian yang disediakan di SMK Negeri 1 Alas, termasuk pekerjaan-pekerjaan apa sajakah yang menjadi peluang bagi para lulusan di jurusan tersebut. Harapannya, para calon taruna-taruni baru tersebut dapat memilih jurusan yang pas dan sesuai dengan minat bakatnya. “Jangan sampai mereka salah jurusan,” kata Gunawan.

Usai menjaring para taruna baru, sekolah pun mengadakan masa pengenalan sekolah yang diisi dengan pengenalan kurikulum secara umum, pengenalan tata tertib, dan pengenalan pengenalan program. Dalam kegiatan pengenalan sekolah tersebut, beberapa materi disisipkan, misalnya mengenai narkoba, tata tertib lalu lintas, dan lain sebagainya. Untuk hal ini, sekolah telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihat terkait, misalnya dengan puskesmas atau kepolisian. Untuk tetap menjaga semangat taruna baru, di akhir kegiatan pengenalan sekolah diadakan kegiatan outbond bersama. Namun demikian, para taruna baru tak sekadar bersenang-senang, melainkan juga harus menunaikan kewajibannya. Mereka diberikan tugas untuk membuat sebuah karangan dengan tema, ‘Mengapa Saya Memilih Bersekolah di SMK Negeri 1 Alas’.

Berdasarkan data maupun survey sekolah, telah banyak dibuktikan bahwa tingkat kepuasan di SMK Negeri 1 Alas semakin tinggi. Para siswa maupun masyarakat menaruh kepercayaan yang lebih besar kepada sekolah. Kepercayaan inilah yang menjadi sumbu motivasi bagi sekolah untuk terus meningkatkan diri dan berkembang menjadi sekolah yang berkomitmen melahirkan generasi bangsa yang siap kerja. ***



Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMK Negeri 4 Probolinggo : Siap Kerja Hingga ke Jepang


Pukul 06.45 wib, para taruna dan taruni, sebutan bagi siswa dan siswi, telah bersiap pada posisi masing. Mereka wajib melakukan apel pagi. Berbaris rapi, tubuh-tubuh tegak dengan sikap siap. Hormat, memberi laporan, luruskan barisan. Rutinitas inilah yang dilakukan di SMK Negeri 4 Probolinggo, Jawa Timur.

Sebagai sekolah menengah kejuruan berbasis maritim, gaya semi militer menjadi nuansa tersendiri bagi SMK Negeri 4 Probolinggo. Dengan seragam gagah bak pasukan elit, para taruna taruni justru merasa bangga. Demikian pula yang dirasakan Novita Putri, taruni kelas XI Jurusan Multimedia. “Sejak dulu saya selalu suka segala hal yang rapi, berseragam. Maka itu, saya ingin masuk ke SMK Negeri 4 Probolinggo, meski rumah saya di Situbondo,” katanya.

Namun bersekolah di SMK maritim seperti SMK Negeri 4 Probolinggo tak sekadar soal seragam. Banyak pula mereka yang bertujuan lain; mengidamkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, lebih bagus jika dikirim ke luar negeri. Seperti yang diinginkan Safira Adelia Jidan, taruni kelas XI Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. “Lulus dari sini, saya ingin kerja di Jepang. Tapi kalau tidak diterima, inginnya kuliah,” ujarnya.

Mimpi dan harapan demikian terasa lebih dekat untuk diwujudkan jika generasi-generasi yang bersemangat ini menempuh pendidikannya di SMK Negeri 4 Probolinggo. Pasalnya, sekolah yang didirikan pada tahun 2007 ini menawarkan banyak kesempatan melalui bidang kemaritiman. Asalkan sungguh-sungguh dan mampu memelihara tekad, impian untuk bekerja dan menjadi sukses pasti tercapai.

Buktikan Diri dengan Kerja di Jepang
Keberadaan SMK Negeri 4 Probolinggo dirasa cukup tepat demi mengimbangi potensi daerah maupun peluang yang ada. Indonesia adalah negara dengan kekayaan maritim yang luar biasa, namun masih memiliki sedikit sumber daya manusia yang mumpuni. Sedangkan Probolinggo, kabupaten seluas 1.696,17 km2 yang masuk dalam Provinsi Jawa Timur ini berdekatan dengan lautan, pun memiliki sebuah pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Tembaga. Oleh karena itu, seharusnya terdapat sebuah lembaga pendidikan yang menyiapkan sumber daya manusia berkompeten yang nantinya mampu mengolah dan mengelola potensi yang ada.

Drs. Yahya Ali, M.Pd., yang saat ini menjabat sebagai pengawas SMK di Kabupaten Probolinggo masih menyimpan banyak cerita tentang hal ihwal pendirian SMK Negeri 4 Probolinggo. Sejak menyadari adanya peluang tersebut, sekolah baru tak serta merta dibangun, namun berawal dari membuat jurusan baru di SMK Negeri 2 Probolinggo, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan. Tak diduga, ternyata jurusan ini cukup laris manis dan memiliki kemungkinan untuk berkembang menjadi lebih besar. “Kalau tetap di SMKN 2 Probolinggo, nanti akan berjubel dan tidak akan bisa berkembang. Oleh karena itu, muncullah rencana untuk memisahkan diri dengan membuat sekolah baru yang khusus berbasis kemaritiman,” kisahnya.


Pada tahun 2007, dibukalah SMK Negeri 4 Probolinggo, yang terletak di Kecamatan Pademangan, Probolinggo, tak jauh dari terminal bus Probolinggo. “Sekolah dekat dengan terminal bus agar orang luar kota memiliki kemudahan akses untuk sekolah di sini,” kata Yahya. Kepala sekolah pertamanya adalah H. Suryono. Saat itu, sekolah hanya menawarkan dua jurusan, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan.

Meski sekolah telah berdiri, tak mudah untuk membesarkan dan mempromosikannya pada masyarakat. Sedikit yang memahami bahwa SMK Negeri 4 Probolinggo adalah lembaga yang mampu mencetak generasi-generasi sukses di sektor kemaritiman. Perlu bukti demi membuka mata mereka mengenai peluang yang ditawarkan SMK Negeri 4 Probolinggo. Oleh karena itu, sekolah pun merancang strategi dengan cara menjalin kerjasama dengan berbagai stakeholders, terutama di dunia industri. Tak hanya di skala nasional, bahkan hingga internasional.

Hasilnya, sekolah berhasil menggandeng perusahaan dari Jepang yang kemudian meminta tenaga sumber daya manusia dari SMK Negeri 4 Probolinggo meski masih harus melalui serangkaian ujian. “Di Jepang gajinya sangat representatif. Dengan hanya kontrak 1 tahun, waktu itu anak sudah bisa membawa pulang sekitar 300 juta per tahun. Anak-anak sudah banyak yang kesana, dan ketika mereka pulang, masyarakat dapat melihat bahwa mereka telah sangat sukses. Sejak itu, sekolah ini pun menjadi favorit,” kata Yahya.

Komitmen pada Enam Kompetensi Keahlian
Saat ini, SMK Negeri 4 Probolinggo telah menjadi sekolah yang cukup besar dan didaulat sebagai sekolah rujukan di bidang kemaritiman. Yang bersekolah di sini tak hanya anak-anak yang berasal dari wilayah Probolinggo saja, melainkan juga dari berbagai kota di sekitarnya, seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan sebagainya. Kini, sekolah dipimpin oleh Warnoto, S.Pd., M.Pd., yang baru menjabat sejak 2015 lalu. Jumlah jurusan yang ditawarkan sekarang pun lebih banyak, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI), Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), Jurusan Teknik Multimedia (MM), Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan (TPHPi), dan Jurusan Nautika Kapal Niaga (NKN). Menurut Warnoto, jurusan yang memiliki lebih banyak peminat antara lain Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Jurusan Nautika Kapal Niaga. Jumlah total siswa pada tahun ajaran 2015/2016 sebanyak 782 siswa, yang terbagi dalam 27 rombongan belajar. Sedangkan jumlah guru maupun tenaga kependidikan sebanyak 97 orang.

Untuk program keahlian Nautika Kapal Penangkap Ikan, sistem pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan prosedur penyelamatan diri di atas kapal, merencanakan trek pelayaran, tehnik penangkapan ikan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain perwira deck, ahli kapal penangkap ikan, nahkoda kapal penangkap ikan, atau staf di instansi departemen pemerintah lingkup kelautan dan perikanan.

Untuk program keahlian Teknika Kapal Penangkap Ikan, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan instalasi tenaga penggerak kapal, instalasi listrik kapal, prosedur keselamatan diatas kapal dan prosedur keselamatan kerja. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain perwira/engineer kapal perikanan, teknisi mesin kapal perikanan, teknisi cold storage, atau staff institusi pemerintah lingkup Kelautan dan Perikanan.

Untuk program keahlian Teknik Multimedia, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan desain grafis, web desain, editing film, produksi film, photografi, perakitan komputer, dan instalasi jaringan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain teknisi, editing, photografer, web designer, atau operator.

Untuk program keahlian Teknik Mekanik Otomotif, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan  sistem penerangan motor, penyetelan kerenggan katup mesin diesel, service karburator,bongkar pasang roda kendaraan ringan, bongkar pasang dan service kampas rem, service filter udara. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain teknisi kendaraan ringan dan operasional.

Untuk program keahlian Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan pengolahan, pengawetan, dan budidaya ikan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain asisten pengolah ikan, karyawan di perusahaan pengolah Ikan di dalam dan luar negeri, atau staf institusi pemerintah lingkup Kelautan dan Perikanan.

Untuk program keahlian Nautika Kapal Niaga, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan trek pelayaran, navigasi dan K3 pada kapal niaga. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain asisten perwira kapal niaga (kapal kargo, tanker, kapal penyebrangan, dan lain-lain). Program Keahlian ini tergolong yang paling baru di SMK Negeri 4 Probolinggo.

Biasakan Akrab dengan Kelautan
Meski demikian, menurut Warnoto, tak semua taruna-taruni yang menuntut ilmu di SMK Negeri 4 Probolinggo memiliki latar belakang sebagai keluarga nelayan atau masyarakat yang tinggal di pesisir, namun lebih heterogan. “Makanya, kadang ada juga anak yang lulus dari sini tapi tidak mau melaut. Karena bagaimana pun, melaut itu butuh tekad dan kemauan,” ujarnya. Untuk mengantisipasi hal ini, sekolah pun telah menyiapkan program-program pembelajaran yang bertujuan untuk membiasakan siswa dengan suasana  kemaritiman, misalnya dengan paket one day sailing, kunjungan ke industri, atau kegiatan Kesamaptaan sejak kelas X. Pembelajaran juga dikondisikan mendekati kehidupan laut.

Sebagai kepala sekolah, Warnoto berupaya untuk terus meningkatkan dan mengembangkan sekolah, utamanya dalam hal bahan, peralatan, dan fasilitas yang terkait standard proses. “Pengembangaan yang pertama kali saya lakukan adalah revitalisasi yang ada di kelas dan bengkel,” katanya. Oleh karena itu, saat ini sekolah pun sedang membangun beberapa bengkel baru dan fasilitas-fasilitilas lainnya. Pemenuhan sarana dan fasilitas pembelajaran menurut Warnoto adalah sebuah tantangan yang tidak mudah, dikarenakan beberapa peralatan seperti peralatan navigasi dan alat pembelajaran CBT harus mematuhi standard Internasional atau IMO. Namun demikian, sekolah telah memiliki simulator dan peralatan-peralatan primer lainnya.  

Di sisi lain, para taruna yang menuntut ilmu di SMK Negeri 4 Probolinggo berasal dari tingkat perekonomian yang berbeda-beda, sehingga sekolah pun berupaya untuk tak memberatkan mereka dari sisi biaya, terlebih kebijakan Pemerintah Kota Probolinggo menetapkan bahwa sekolah tidak boleh mengadakan pungutan biaya yang terlalu besar pada masyarakat. Padahal, sebenarnya bidang kemaritiman adalah bidang yang tak bisa dikatakan murah, terutama Nautika Kapal Niaga. Oleh karena itu, acapkali sekolah pun memberikan subsidi kepada beberapa siswa, misalnya dalam menempuh sertifikat BST. “Kami  harus pandai pandai dalam mengelola keuangan sekolah. Sejauh ini, sekolah dapat dikelola dengan baik dengan anggaran dari BOS maupun BOSDA,” kata Warnoto.

Salah satu strategi yang dilakukan sekolah adalah menggiatkan jalinan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan melalui program CSR, misalnya dalam bentuk pelatihan bagi para taruna. “Kami bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja untuk memberikan pelatihan-pelatihan ekstra kepada anak-anak. Kami juga harus pandai-pandai mengusulkan pengadaan pelatihan yang terkait dengan kegiatan kami,” jelasnya.

Giatkan Kerjasama
Kerjasama dengan pihak dunia industri pun tak sekadar di lingkup pelatihan, namun juga untuk kegiatan prakerin taruna, rekruitmen, guru tamu, hingga asesor dalam uji kompetensi. Kegiatan prakerin di SMK Negeri 4 Probolinggo dilaksanakan menjelang taruna duduk di bangku kelas XI, yang ditempuh selama kurun waktu 3 bulan. Menurut Warnoto, dunia industri yang bekerja sama dengan SMK Negeri 4 Probolinggo tak hanya yang berada di kawasan Probolinggo saja, namun hingga Bali, Pati, Jepara, Semarang, dan lain-lain.

SMK Negeri 4 Probolinggo juga pernah menjalin kerjasama dengan negeri Belanda melalui kedutaan Belanda mengenai peningkatan pelestarian lingkungan, khususnya di bidang mangrove. Kerjasama ini meliputi kegiatan survey lokasi mangrove di pantai pesisir Probolinggo, seminar international tentang mangrove, penanaman mangrove di pantai pesisir Probolinggo, dan rekomendasi penanaman Mangrove dampak dari erupsi.

Nonot Widjayanto, syahbandar di UPT Pelabuhan Mayangan, Probolinggo mengatakan bahwa UPT Pelabuhan Mayangan Probolinggo juga telah bekerja sama dengan SMK Negeri 4 Probolinggo sejak tahun 2011. Rutin setiap tahun hingga sekarang, 15 - 20 taruna dari SMK Negeri 4 Probolinggo melaksanakan kegiatan prakerin di Pelabuhan Mayangan, Probolinggo. Para siswa SMK yang melaksanakan kegiatan prakerin di Pelabuhan Mayangan Probolinggo tak hanya dari SMK Negeri 4 Probolinggo saja, melainkan juga dari berbagai SMK dan lembaga/institusi pendidikan lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama untuk Jurusan Nautika dan Teknika Permesinan.

Selama prakerin, Nonot mengatakan bahwa siswa akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak didapatkan di sekolah asalkan mau banyak belajar dan mengikuti pola serta aturan yang ditetapkan di dunia industri. “Mereka juga harus memenuhi persyaratan pelaksanaan kegiatan berlayar, maka kami beri kesempatan itu. Selama prakerin, mereka tak hanya mencoba praktek kerja di kapal, tapi juga kadangkala di darat atau di pelabuhan, supaya mereka dapat merasakan atau memiliki lebih banyak pengalaman dan wawasan,” kata pria yang juga kerap diminta sebagai penguji LKS tingkat Provinsi Jawa Timur ini.

Namun Nonot juga menegaskan bahwa yang terpenting dalam mempersiapkan generasi terjun ke dunia kerja adalah mental dan karakter yang tertib dan disiplin. Oleh karena itu, ia menilai bahwa SMK Negeri 4 Probolinggo ini memiliki nilai plus tersendiri karena memiliki sistem kedisiplinan yang sangat baik. Tak heran jika banyak dunia industri yang melirik para lulusan SMK Negeri 4 Probolinggo.

Sejak tahun 2010 hingga sekarang, SMK Negeri 4 Probolinggo pun telah mengirim para tamatannya ke Jepang. Pada tahun 2006 sejumlah guru dari Jurusan Nautika dikirim ke Jepang untuk melihat langsung potensi dan peluang kerja di bidang kelautan. Setiap tahun, beberapa pihak penyalur di Indonesia seperti LPK SEII, LPK Sekai Hikari, dan PT. PUDJI UTAMI selalu mengadakan seleksi di SMKN 4 Probolinggo bersama pihak penyalur dari Jepang, yakni Tekay Coorporation dan beberapa perusahaan lainnya yang berasal dari Jepang dan Taiwan.

Menurut Yahya Ali, M.Pd., pengawas SMK, tak hanya di Jepang saja, potensi lapangan kerja di negara lain juga besar seperti Korea, China, Spanyol, dan Malaysia. Jurusan yang paling banyak mengirimkan tenaga magang ke Jepang adalah Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan yang bekerja di perusahaan pengolahan makanan, kemudian Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan, yang bekerja di kapal-kapal ikan di Jepang. “Tahun 2013 seorang guru dari SMKN 4 Probolinggo dikirim ke Malaysia untuk melihat langsung Alumni SMKN 4 Probolinggo  yang bekerja di perusahaan elektronika,” ungkapnya. Sedangkan untuk tahun 2016 ini, sebanyak kurang lebih 50 taruna telah lulus tes pada tahap pertama untuk kesempatan magang kerja di Jepang.

Target Program Unggulan
Meski demikian, masih ada biaya yang harus ditanggung para lulusan yang lulus seleksi ini. Misalnya biaya visa atau biaya perjalanan. Jika demikian, biasanya para calon tenaga kerja ini akan sepakat untuk dikenai potong gaji oleh perusahaan. Namun ada pula perusahaan yang tak segan untuk membiayai secara keseluruhan.

Namun walau bagaimanapun, kesuksesan para taruna tentu tak lepas dari peran guru. Jika guru mampu memberikan pembelajaran yang baik pada para siswanya, maka siswanya pun akan berhasil. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan tak bosan untuk terus meningkatkan kompetensinya. Salah satu strategi yang digunakan Warnoto adalah memberikan reward bagi guru maupun staff yang berprestasi atau memiliki kinerja bagus. Bahkan sekolah pun tak segan menjawalkan kegiatan studi banding ke sekolah-sekolah lainnya, misalnya ke Malang, ke Semarang, dan lain sebagainya, juga untuk memperluas jaringan.

Salah satu kendala yang masih dirasakan Warnoto mengenai tenaga pendidik adalah guru produktif. Namun masalahnya, hingga saat ini tidak ada perguruan tinggi yang mencetak guru produktif kelautan. Sedangkan para ahli dan profesional di bidang kelautan cenderung lebih memilih bekerja di dunia industri daripada terjun ke dunia pendidikan, karena pendapatan di dunia industri jauh lebih tinggi. “Kita harus pandai-pandai berkomunikasi dengan pihak luar untuk memperluas jaringan sehingga kita dapat menemukan orang-orang yang mau mengajar itu,” katanya.

Sedangkan dalam membangun sekolah, Warnoto mengharapkan semua warga sekolah berpartisipasi saling bahu membahu dan memiliki kesadaran tinggi untuk  sekolah. Oleh karena itu, strategi yang ia gunakan adalah memberikan target, misalnya kepada masing-masing jurusan. “Mereka harus membuat program atau kegiatan unggulan sesuai dengan tupoksinya,” katanya.

Utamakan Kedisiplinan
Demi menanamkan dan membina nilai-nilai kedisiplinan pada para taruna, SMK Negeri 4 Probolinggo menerapkan budaya sekolah yang diharapkan menjadi kebiasaan yang baik bagi para taruna. Sekolah dimulai pada pukul 06.45 WIB, dan para taruna diwajibkan mengikuti apel pagi. Kegiatan apel juga kembali dilakukan pada siang hari. Untuk para taruna baru, sekolah mengadakan kegiatan Kesamaptaan yang wajib diikuti seluruh taruna baru. Kegiatan ini difokuskan untuk melatih mental dan kedisiplinan siswa. Untuk kegiatan ini, sekolah pun bekerja sama dengan Angkatan Laut. Namun yang terpenting, menurut Warnoto adalah nilai-nilai keteladanan. Kepala sekolah maupun guru harus memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak.

Para taruna SMK Negeri 4 Probolinggo juga mendapat fasilitas kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya dilaksanakan menjelang usai jam sekolah, yakni pukul 14.00 WIB. Taufiqurrahman, S.Kom., wakil kepala sekolah bidang humas mengatakan bahwa ada sekitar 15 kegiatan ekstrakurikuler di SMK Negeri 4 Probolinggo. Ekstrakurikuler yang cukup menonjol menurutnya adalah kegiatan pecinta alam dan panjat tebing, karena ekstrakurikuler ini bahkan mampu menyumbangkan prestasi tak hanya di tingkat nasional, bahkan hingga tingkat internasional. “Tahun depan kami akan mengadakan ekstrakurikuler Marching Band,” katanya.

Pasarkan Produk Olahan Ikan
Untuk melatih dan mengasah jiwa wirausaha para taruna, SMK Negeri 4 Probolinggo memiliki unit produksi. Terutama yang paling menonjol adalah unit produksi dari jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, dikarenakan jurusan ini berkesempatan menghasilkan produk yang umumnya adalah hasil pengolahan ikan menjadi barang pangan seperti bakso, nugget, keripik ikan, dan lain sebagainya. Sekolah pun bekerja sama dengan UKM dalam hal penjualan produk, atau acapkali para taruna lah yang justru antusias untuk menjual produk olahan mereka sendiri.

Dian Rahayu Sethiya Rini, S.Pi, guru Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan mengatakan kegiatan wirausaha ini justru yang paling disukai para siswanya,selain membuat produk yang berbahan dasar ikan. “Mereka belajar membuat sampai memasarkan. Mereka dapat mengambil keuntungan. Anak anak sangat antusias karena mendapat ilmu mengolah ikan mentah menjadi produk dengan hasil yang bervariasi,” katanya.

Sebagai guru Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, Dian pun termotivasi untuk selalu mencari berbagai informasi tentang produk olahan ikan untuk kemudian dipraktekkan bersama para taruna, sehingga para siswa tidak menjadi bosan. Bahkan ia mengungkapkan bahwa kadangkala ia memiliki menu yang berbeda di tiap angkatan yang diajarnya. Dian berharap kelak SMK Negeri 4 Probolinggo memmiliki outlet sendiri sehingga sisi pemasaran produk semakin bagus, dan masyarakat pun memperoleh kemudahan untuk mendapatkan produk-produk SMK Negeri 4 Probolinggo.

Terus belajar, terus membangun – demikianlah nafas yang selalu dihembuskan di SMK Negeri 4 Probolinggo. Harapan ke depan semoga SMK Negeri 4 Probolinggo dapat menjadi sekolah inspiratif dan rujukan bagi sekolah-sekolah lainnya, terutama dalam pengelolaan sekolah berbasis maritim. ***



Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)