Showing posts with label SMK terbaik. Show all posts
Showing posts with label SMK terbaik. Show all posts

SMK Negeri 4 Probolinggo : Siap Kerja Hingga ke Jepang


Pukul 06.45 wib, para taruna dan taruni, sebutan bagi siswa dan siswi, telah bersiap pada posisi masing. Mereka wajib melakukan apel pagi. Berbaris rapi, tubuh-tubuh tegak dengan sikap siap. Hormat, memberi laporan, luruskan barisan. Rutinitas inilah yang dilakukan di SMK Negeri 4 Probolinggo, Jawa Timur.

Sebagai sekolah menengah kejuruan berbasis maritim, gaya semi militer menjadi nuansa tersendiri bagi SMK Negeri 4 Probolinggo. Dengan seragam gagah bak pasukan elit, para taruna taruni justru merasa bangga. Demikian pula yang dirasakan Novita Putri, taruni kelas XI Jurusan Multimedia. “Sejak dulu saya selalu suka segala hal yang rapi, berseragam. Maka itu, saya ingin masuk ke SMK Negeri 4 Probolinggo, meski rumah saya di Situbondo,” katanya.

Namun bersekolah di SMK maritim seperti SMK Negeri 4 Probolinggo tak sekadar soal seragam. Banyak pula mereka yang bertujuan lain; mengidamkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, lebih bagus jika dikirim ke luar negeri. Seperti yang diinginkan Safira Adelia Jidan, taruni kelas XI Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. “Lulus dari sini, saya ingin kerja di Jepang. Tapi kalau tidak diterima, inginnya kuliah,” ujarnya.

Mimpi dan harapan demikian terasa lebih dekat untuk diwujudkan jika generasi-generasi yang bersemangat ini menempuh pendidikannya di SMK Negeri 4 Probolinggo. Pasalnya, sekolah yang didirikan pada tahun 2007 ini menawarkan banyak kesempatan melalui bidang kemaritiman. Asalkan sungguh-sungguh dan mampu memelihara tekad, impian untuk bekerja dan menjadi sukses pasti tercapai.

Buktikan Diri dengan Kerja di Jepang
Keberadaan SMK Negeri 4 Probolinggo dirasa cukup tepat demi mengimbangi potensi daerah maupun peluang yang ada. Indonesia adalah negara dengan kekayaan maritim yang luar biasa, namun masih memiliki sedikit sumber daya manusia yang mumpuni. Sedangkan Probolinggo, kabupaten seluas 1.696,17 km2 yang masuk dalam Provinsi Jawa Timur ini berdekatan dengan lautan, pun memiliki sebuah pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Tembaga. Oleh karena itu, seharusnya terdapat sebuah lembaga pendidikan yang menyiapkan sumber daya manusia berkompeten yang nantinya mampu mengolah dan mengelola potensi yang ada.

Drs. Yahya Ali, M.Pd., yang saat ini menjabat sebagai pengawas SMK di Kabupaten Probolinggo masih menyimpan banyak cerita tentang hal ihwal pendirian SMK Negeri 4 Probolinggo. Sejak menyadari adanya peluang tersebut, sekolah baru tak serta merta dibangun, namun berawal dari membuat jurusan baru di SMK Negeri 2 Probolinggo, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan. Tak diduga, ternyata jurusan ini cukup laris manis dan memiliki kemungkinan untuk berkembang menjadi lebih besar. “Kalau tetap di SMKN 2 Probolinggo, nanti akan berjubel dan tidak akan bisa berkembang. Oleh karena itu, muncullah rencana untuk memisahkan diri dengan membuat sekolah baru yang khusus berbasis kemaritiman,” kisahnya.


Pada tahun 2007, dibukalah SMK Negeri 4 Probolinggo, yang terletak di Kecamatan Pademangan, Probolinggo, tak jauh dari terminal bus Probolinggo. “Sekolah dekat dengan terminal bus agar orang luar kota memiliki kemudahan akses untuk sekolah di sini,” kata Yahya. Kepala sekolah pertamanya adalah H. Suryono. Saat itu, sekolah hanya menawarkan dua jurusan, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan.

Meski sekolah telah berdiri, tak mudah untuk membesarkan dan mempromosikannya pada masyarakat. Sedikit yang memahami bahwa SMK Negeri 4 Probolinggo adalah lembaga yang mampu mencetak generasi-generasi sukses di sektor kemaritiman. Perlu bukti demi membuka mata mereka mengenai peluang yang ditawarkan SMK Negeri 4 Probolinggo. Oleh karena itu, sekolah pun merancang strategi dengan cara menjalin kerjasama dengan berbagai stakeholders, terutama di dunia industri. Tak hanya di skala nasional, bahkan hingga internasional.

Hasilnya, sekolah berhasil menggandeng perusahaan dari Jepang yang kemudian meminta tenaga sumber daya manusia dari SMK Negeri 4 Probolinggo meski masih harus melalui serangkaian ujian. “Di Jepang gajinya sangat representatif. Dengan hanya kontrak 1 tahun, waktu itu anak sudah bisa membawa pulang sekitar 300 juta per tahun. Anak-anak sudah banyak yang kesana, dan ketika mereka pulang, masyarakat dapat melihat bahwa mereka telah sangat sukses. Sejak itu, sekolah ini pun menjadi favorit,” kata Yahya.

Komitmen pada Enam Kompetensi Keahlian
Saat ini, SMK Negeri 4 Probolinggo telah menjadi sekolah yang cukup besar dan didaulat sebagai sekolah rujukan di bidang kemaritiman. Yang bersekolah di sini tak hanya anak-anak yang berasal dari wilayah Probolinggo saja, melainkan juga dari berbagai kota di sekitarnya, seperti Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan sebagainya. Kini, sekolah dipimpin oleh Warnoto, S.Pd., M.Pd., yang baru menjabat sejak 2015 lalu. Jumlah jurusan yang ditawarkan sekarang pun lebih banyak, yakni Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI), Jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), Jurusan Teknik Multimedia (MM), Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan (TPHPi), dan Jurusan Nautika Kapal Niaga (NKN). Menurut Warnoto, jurusan yang memiliki lebih banyak peminat antara lain Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan dan Jurusan Nautika Kapal Niaga. Jumlah total siswa pada tahun ajaran 2015/2016 sebanyak 782 siswa, yang terbagi dalam 27 rombongan belajar. Sedangkan jumlah guru maupun tenaga kependidikan sebanyak 97 orang.

Untuk program keahlian Nautika Kapal Penangkap Ikan, sistem pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan prosedur penyelamatan diri di atas kapal, merencanakan trek pelayaran, tehnik penangkapan ikan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain perwira deck, ahli kapal penangkap ikan, nahkoda kapal penangkap ikan, atau staf di instansi departemen pemerintah lingkup kelautan dan perikanan.

Untuk program keahlian Teknika Kapal Penangkap Ikan, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan instalasi tenaga penggerak kapal, instalasi listrik kapal, prosedur keselamatan diatas kapal dan prosedur keselamatan kerja. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain perwira/engineer kapal perikanan, teknisi mesin kapal perikanan, teknisi cold storage, atau staff institusi pemerintah lingkup Kelautan dan Perikanan.

Untuk program keahlian Teknik Multimedia, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan desain grafis, web desain, editing film, produksi film, photografi, perakitan komputer, dan instalasi jaringan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain teknisi, editing, photografer, web designer, atau operator.

Untuk program keahlian Teknik Mekanik Otomotif, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan  sistem penerangan motor, penyetelan kerenggan katup mesin diesel, service karburator,bongkar pasang roda kendaraan ringan, bongkar pasang dan service kampas rem, service filter udara. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain teknisi kendaraan ringan dan operasional.

Untuk program keahlian Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan pengolahan, pengawetan, dan budidaya ikan. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain asisten pengolah ikan, karyawan di perusahaan pengolah Ikan di dalam dan luar negeri, atau staf institusi pemerintah lingkup Kelautan dan Perikanan.

Untuk program keahlian Nautika Kapal Niaga, pembelajaran dilaksanakan dengan sistem reguler dan kelas kecil untuk kerja praktik di bengkel. Materinya dititikberatkan pada penguasaan trek pelayaran, navigasi dan K3 pada kapal niaga. Potensi pekerjaan untuk program keahlian ini antara lain asisten perwira kapal niaga (kapal kargo, tanker, kapal penyebrangan, dan lain-lain). Program Keahlian ini tergolong yang paling baru di SMK Negeri 4 Probolinggo.

Biasakan Akrab dengan Kelautan
Meski demikian, menurut Warnoto, tak semua taruna-taruni yang menuntut ilmu di SMK Negeri 4 Probolinggo memiliki latar belakang sebagai keluarga nelayan atau masyarakat yang tinggal di pesisir, namun lebih heterogan. “Makanya, kadang ada juga anak yang lulus dari sini tapi tidak mau melaut. Karena bagaimana pun, melaut itu butuh tekad dan kemauan,” ujarnya. Untuk mengantisipasi hal ini, sekolah pun telah menyiapkan program-program pembelajaran yang bertujuan untuk membiasakan siswa dengan suasana  kemaritiman, misalnya dengan paket one day sailing, kunjungan ke industri, atau kegiatan Kesamaptaan sejak kelas X. Pembelajaran juga dikondisikan mendekati kehidupan laut.

Sebagai kepala sekolah, Warnoto berupaya untuk terus meningkatkan dan mengembangkan sekolah, utamanya dalam hal bahan, peralatan, dan fasilitas yang terkait standard proses. “Pengembangaan yang pertama kali saya lakukan adalah revitalisasi yang ada di kelas dan bengkel,” katanya. Oleh karena itu, saat ini sekolah pun sedang membangun beberapa bengkel baru dan fasilitas-fasilitilas lainnya. Pemenuhan sarana dan fasilitas pembelajaran menurut Warnoto adalah sebuah tantangan yang tidak mudah, dikarenakan beberapa peralatan seperti peralatan navigasi dan alat pembelajaran CBT harus mematuhi standard Internasional atau IMO. Namun demikian, sekolah telah memiliki simulator dan peralatan-peralatan primer lainnya.  

Di sisi lain, para taruna yang menuntut ilmu di SMK Negeri 4 Probolinggo berasal dari tingkat perekonomian yang berbeda-beda, sehingga sekolah pun berupaya untuk tak memberatkan mereka dari sisi biaya, terlebih kebijakan Pemerintah Kota Probolinggo menetapkan bahwa sekolah tidak boleh mengadakan pungutan biaya yang terlalu besar pada masyarakat. Padahal, sebenarnya bidang kemaritiman adalah bidang yang tak bisa dikatakan murah, terutama Nautika Kapal Niaga. Oleh karena itu, acapkali sekolah pun memberikan subsidi kepada beberapa siswa, misalnya dalam menempuh sertifikat BST. “Kami  harus pandai pandai dalam mengelola keuangan sekolah. Sejauh ini, sekolah dapat dikelola dengan baik dengan anggaran dari BOS maupun BOSDA,” kata Warnoto.

Salah satu strategi yang dilakukan sekolah adalah menggiatkan jalinan kerjasama dengan pihak-pihak perusahaan melalui program CSR, misalnya dalam bentuk pelatihan bagi para taruna. “Kami bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja untuk memberikan pelatihan-pelatihan ekstra kepada anak-anak. Kami juga harus pandai-pandai mengusulkan pengadaan pelatihan yang terkait dengan kegiatan kami,” jelasnya.

Giatkan Kerjasama
Kerjasama dengan pihak dunia industri pun tak sekadar di lingkup pelatihan, namun juga untuk kegiatan prakerin taruna, rekruitmen, guru tamu, hingga asesor dalam uji kompetensi. Kegiatan prakerin di SMK Negeri 4 Probolinggo dilaksanakan menjelang taruna duduk di bangku kelas XI, yang ditempuh selama kurun waktu 3 bulan. Menurut Warnoto, dunia industri yang bekerja sama dengan SMK Negeri 4 Probolinggo tak hanya yang berada di kawasan Probolinggo saja, namun hingga Bali, Pati, Jepara, Semarang, dan lain-lain.

SMK Negeri 4 Probolinggo juga pernah menjalin kerjasama dengan negeri Belanda melalui kedutaan Belanda mengenai peningkatan pelestarian lingkungan, khususnya di bidang mangrove. Kerjasama ini meliputi kegiatan survey lokasi mangrove di pantai pesisir Probolinggo, seminar international tentang mangrove, penanaman mangrove di pantai pesisir Probolinggo, dan rekomendasi penanaman Mangrove dampak dari erupsi.

Nonot Widjayanto, syahbandar di UPT Pelabuhan Mayangan, Probolinggo mengatakan bahwa UPT Pelabuhan Mayangan Probolinggo juga telah bekerja sama dengan SMK Negeri 4 Probolinggo sejak tahun 2011. Rutin setiap tahun hingga sekarang, 15 - 20 taruna dari SMK Negeri 4 Probolinggo melaksanakan kegiatan prakerin di Pelabuhan Mayangan, Probolinggo. Para siswa SMK yang melaksanakan kegiatan prakerin di Pelabuhan Mayangan Probolinggo tak hanya dari SMK Negeri 4 Probolinggo saja, melainkan juga dari berbagai SMK dan lembaga/institusi pendidikan lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama untuk Jurusan Nautika dan Teknika Permesinan.

Selama prakerin, Nonot mengatakan bahwa siswa akan mendapatkan banyak pengalaman yang tidak didapatkan di sekolah asalkan mau banyak belajar dan mengikuti pola serta aturan yang ditetapkan di dunia industri. “Mereka juga harus memenuhi persyaratan pelaksanaan kegiatan berlayar, maka kami beri kesempatan itu. Selama prakerin, mereka tak hanya mencoba praktek kerja di kapal, tapi juga kadangkala di darat atau di pelabuhan, supaya mereka dapat merasakan atau memiliki lebih banyak pengalaman dan wawasan,” kata pria yang juga kerap diminta sebagai penguji LKS tingkat Provinsi Jawa Timur ini.

Namun Nonot juga menegaskan bahwa yang terpenting dalam mempersiapkan generasi terjun ke dunia kerja adalah mental dan karakter yang tertib dan disiplin. Oleh karena itu, ia menilai bahwa SMK Negeri 4 Probolinggo ini memiliki nilai plus tersendiri karena memiliki sistem kedisiplinan yang sangat baik. Tak heran jika banyak dunia industri yang melirik para lulusan SMK Negeri 4 Probolinggo.

Sejak tahun 2010 hingga sekarang, SMK Negeri 4 Probolinggo pun telah mengirim para tamatannya ke Jepang. Pada tahun 2006 sejumlah guru dari Jurusan Nautika dikirim ke Jepang untuk melihat langsung potensi dan peluang kerja di bidang kelautan. Setiap tahun, beberapa pihak penyalur di Indonesia seperti LPK SEII, LPK Sekai Hikari, dan PT. PUDJI UTAMI selalu mengadakan seleksi di SMKN 4 Probolinggo bersama pihak penyalur dari Jepang, yakni Tekay Coorporation dan beberapa perusahaan lainnya yang berasal dari Jepang dan Taiwan.

Menurut Yahya Ali, M.Pd., pengawas SMK, tak hanya di Jepang saja, potensi lapangan kerja di negara lain juga besar seperti Korea, China, Spanyol, dan Malaysia. Jurusan yang paling banyak mengirimkan tenaga magang ke Jepang adalah Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan yang bekerja di perusahaan pengolahan makanan, kemudian Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan, yang bekerja di kapal-kapal ikan di Jepang. “Tahun 2013 seorang guru dari SMKN 4 Probolinggo dikirim ke Malaysia untuk melihat langsung Alumni SMKN 4 Probolinggo  yang bekerja di perusahaan elektronika,” ungkapnya. Sedangkan untuk tahun 2016 ini, sebanyak kurang lebih 50 taruna telah lulus tes pada tahap pertama untuk kesempatan magang kerja di Jepang.

Target Program Unggulan
Meski demikian, masih ada biaya yang harus ditanggung para lulusan yang lulus seleksi ini. Misalnya biaya visa atau biaya perjalanan. Jika demikian, biasanya para calon tenaga kerja ini akan sepakat untuk dikenai potong gaji oleh perusahaan. Namun ada pula perusahaan yang tak segan untuk membiayai secara keseluruhan.

Namun walau bagaimanapun, kesuksesan para taruna tentu tak lepas dari peran guru. Jika guru mampu memberikan pembelajaran yang baik pada para siswanya, maka siswanya pun akan berhasil. Oleh karena itu, guru dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan tak bosan untuk terus meningkatkan kompetensinya. Salah satu strategi yang digunakan Warnoto adalah memberikan reward bagi guru maupun staff yang berprestasi atau memiliki kinerja bagus. Bahkan sekolah pun tak segan menjawalkan kegiatan studi banding ke sekolah-sekolah lainnya, misalnya ke Malang, ke Semarang, dan lain sebagainya, juga untuk memperluas jaringan.

Salah satu kendala yang masih dirasakan Warnoto mengenai tenaga pendidik adalah guru produktif. Namun masalahnya, hingga saat ini tidak ada perguruan tinggi yang mencetak guru produktif kelautan. Sedangkan para ahli dan profesional di bidang kelautan cenderung lebih memilih bekerja di dunia industri daripada terjun ke dunia pendidikan, karena pendapatan di dunia industri jauh lebih tinggi. “Kita harus pandai-pandai berkomunikasi dengan pihak luar untuk memperluas jaringan sehingga kita dapat menemukan orang-orang yang mau mengajar itu,” katanya.

Sedangkan dalam membangun sekolah, Warnoto mengharapkan semua warga sekolah berpartisipasi saling bahu membahu dan memiliki kesadaran tinggi untuk  sekolah. Oleh karena itu, strategi yang ia gunakan adalah memberikan target, misalnya kepada masing-masing jurusan. “Mereka harus membuat program atau kegiatan unggulan sesuai dengan tupoksinya,” katanya.

Utamakan Kedisiplinan
Demi menanamkan dan membina nilai-nilai kedisiplinan pada para taruna, SMK Negeri 4 Probolinggo menerapkan budaya sekolah yang diharapkan menjadi kebiasaan yang baik bagi para taruna. Sekolah dimulai pada pukul 06.45 WIB, dan para taruna diwajibkan mengikuti apel pagi. Kegiatan apel juga kembali dilakukan pada siang hari. Untuk para taruna baru, sekolah mengadakan kegiatan Kesamaptaan yang wajib diikuti seluruh taruna baru. Kegiatan ini difokuskan untuk melatih mental dan kedisiplinan siswa. Untuk kegiatan ini, sekolah pun bekerja sama dengan Angkatan Laut. Namun yang terpenting, menurut Warnoto adalah nilai-nilai keteladanan. Kepala sekolah maupun guru harus memberikan contoh-contoh yang baik kepada anak.

Para taruna SMK Negeri 4 Probolinggo juga mendapat fasilitas kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya dilaksanakan menjelang usai jam sekolah, yakni pukul 14.00 WIB. Taufiqurrahman, S.Kom., wakil kepala sekolah bidang humas mengatakan bahwa ada sekitar 15 kegiatan ekstrakurikuler di SMK Negeri 4 Probolinggo. Ekstrakurikuler yang cukup menonjol menurutnya adalah kegiatan pecinta alam dan panjat tebing, karena ekstrakurikuler ini bahkan mampu menyumbangkan prestasi tak hanya di tingkat nasional, bahkan hingga tingkat internasional. “Tahun depan kami akan mengadakan ekstrakurikuler Marching Band,” katanya.

Pasarkan Produk Olahan Ikan
Untuk melatih dan mengasah jiwa wirausaha para taruna, SMK Negeri 4 Probolinggo memiliki unit produksi. Terutama yang paling menonjol adalah unit produksi dari jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, dikarenakan jurusan ini berkesempatan menghasilkan produk yang umumnya adalah hasil pengolahan ikan menjadi barang pangan seperti bakso, nugget, keripik ikan, dan lain sebagainya. Sekolah pun bekerja sama dengan UKM dalam hal penjualan produk, atau acapkali para taruna lah yang justru antusias untuk menjual produk olahan mereka sendiri.

Dian Rahayu Sethiya Rini, S.Pi, guru Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan mengatakan kegiatan wirausaha ini justru yang paling disukai para siswanya,selain membuat produk yang berbahan dasar ikan. “Mereka belajar membuat sampai memasarkan. Mereka dapat mengambil keuntungan. Anak anak sangat antusias karena mendapat ilmu mengolah ikan mentah menjadi produk dengan hasil yang bervariasi,” katanya.

Sebagai guru Jurusan Teknik Pengolahan Hasil Perikanan, Dian pun termotivasi untuk selalu mencari berbagai informasi tentang produk olahan ikan untuk kemudian dipraktekkan bersama para taruna, sehingga para siswa tidak menjadi bosan. Bahkan ia mengungkapkan bahwa kadangkala ia memiliki menu yang berbeda di tiap angkatan yang diajarnya. Dian berharap kelak SMK Negeri 4 Probolinggo memmiliki outlet sendiri sehingga sisi pemasaran produk semakin bagus, dan masyarakat pun memperoleh kemudahan untuk mendapatkan produk-produk SMK Negeri 4 Probolinggo.

Terus belajar, terus membangun – demikianlah nafas yang selalu dihembuskan di SMK Negeri 4 Probolinggo. Harapan ke depan semoga SMK Negeri 4 Probolinggo dapat menjadi sekolah inspiratif dan rujukan bagi sekolah-sekolah lainnya, terutama dalam pengelolaan sekolah berbasis maritim. ***



Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)


SMK Perikanan dan Kelautan Puger : Siapkan Pelaut Kelas Dunia Berkarakter


Terletak di bagian selatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kecamatan Puger telah dikenal sebagai pusatnya hasil laut, dimana banyak kapal nelayan ikan berlabuh dan menurunkan ikan yang telah dijaringnya. Sebagai ikon pusat perikanan dan pelautan di Kabupaten Jember, semakin lengkaplah dengan keberadaan SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Dengan adanya  SMK Perikanan dan Kelautan Puger yang menyiapkan sumber daya manusia berkompeten di bidang perikanan dan kelautan, diharapkan potensi perikanan dan kelautan di Indonesia dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para anak bangsa.

SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah sebuah lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darsul Bihar pada tahun 2000. Saat ini, sekolah yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani 36 Puger Kulon ini dipimpin oleh Drs. Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin, M.Si., yang juga menjadi tim inisiator pendirian SMK Perikanan dan Kelautan Puger.

Saat pertama kali dibuka, sekolah masih memiliki dua kompetensi keahlian, yakni Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI) dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (TPHP). Kini, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah memiliki lima kompetensi keahlian, yakni ditambah dengan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), Agribisnis Perikanan, dan yang baru dibuka pada tahun 2016 adalah Desain Perkapalan. Harapannya, SMK Perikanan dan Kelautan Puger dapat menjadi andalan sebagai lembaga yang mencetak generasi kompeten demi menyongsong ketahanan pangan di Indonesia.


Tahun 2012, SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga membuka Program Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) Diploma 1 (D1) untuk program keahlian TPHP, bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember. SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga telah memperoleh pengakuan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dengan Sertifikat No. 496720 QM08, Tanggal 31 Mei 2012 dari DQS. Bahkan sejak tahun 2015, sekolah ini telah didaulat menjadi SMK Rujukan di bidang kemaritiman.

Pola pendidikan yang diterapkan di SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah menjunjung tinggi kedisiplinan. “Di sini kita tegakkan sikap disiplin, jujur, tanggung jawab, korps, semangat kebersamaan, dan kepedulian sebagai pondasi utama dan pertama untuk mengubah hidup anak-anak, baru keahlian dan kompetensi lainnya. Jika sikap dan karakter telah terbentuk, maka akan mudah mendidik kompetensinya. Dan Alhamdulillah, dari sisi kompetensi, anak-anak sudah mendapat pengakuan dari dalam hingga luar negeri,” tegas Kuntjoro.

Lantik Taruna dengan Mandi Kembang
Menurut Kuntjoro, hampir semua calon taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger mendapat dukungan dari orangtua mereka. Menempuh pendidikan di SMK berbasis maritim tak seperti sekolah lainnya, diperlukan kesungguhan dan kesiapan yang luar biasa karena para taruna akan menghadapi dunia yang jauh berbeda dari yang biasa ia temui sebelumnya. Sejak awal, para calon taruna diperkenalkan dengan pendidikan kedisiplinan demi mengasah rasa cinta pada tanah air. Ini sudah menjadi kegiatan wajib bagi semua calon Taruna dan Taruni SMK perikanan dan kelautan puger setiap tahun ajaran baru. Sebelum dilantik menjadi taruna, mereka akan mengikuti kegiatan untuk memberikan dasar kedisiplinan dan aturan yang berlaku di SMK Perikanan Kelautan Puger. Kegiatan itu dinamakan LDDK (Latihan Dasar Disiplin Korps), yang juga menjadi ciri khas dari SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter bagi calon taruna yang akan mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga mereka bisa mengikuti semua aturan yang diterapkan dan menjadi taruna yang berakhlak, tangguh, cakap serta menjadi pribadi yang bisa membanggakan orang tua dan berguna bagi bangsa dan negara.

Kegiatan LDDK setiap tahun diadakan kurang lebih selama 6 hari sebelum calon taruna mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setiap kegiatan LDDK akan dilatih dan diawasi secara langsung oleh bagian staf batalyon taruna yang merupakan taruna taruni pilihan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, aparat TNI dari Koramil Puger, dan beberapa pendamping dari pihak guru.

Meski demikian, LDDK bukan sarana perploncoan bagi para taruna baru. Pada setiap LDDK terdapat beberapa kegiatan diantaranya pemberian materi ESQ (Emotional Spiritual Quotient) yang bertujuan untuk memberikan konsep dasar dan pengalaman spiritual yang gabungan antara pengendalian kecerdasan emosi dan spiritual. Selain ESQ, mereka juga diberikan materi wawasan kebangsaan dan PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang dilatih langsung oleh TNI AD. Dengan diberikannya materi PBB tersebut, diharapkan mereka bisa berdisiplin baik dalam setiap kesehariannya  di sekolah dan pada saat berada di rumahnya, ataupun pada setiap kegiatan yang membutuhkan keilmuan dalam baris berbaris seperti kegiatan gerak jalan dan penyambutan tamu dari kedinasan dan lainya.

Setelah menjalani kegiatan LDDK, seluruh calon taruna baru berhak dilantik menjadi taruna baru melalui upacara pelantikan yang juga menjadi ciri khas di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Kegiatan pelantikan ini selalu menjadi ajang yang penuh khidmat sekaligus membanggakan, dimana kegiatan ini biasanya dihadiri oleh berbagai pihak,baik pejabat terkait,tokoh masyarakat, maupun seluruh keluarga para taruna baru.  Dala pelantikan tersebut, terdapat pula ritual yang unik, yakni menyiram air bunga kepada calon taruna baru. Penyiraman air bunga ini berasal dari tiga sumber mata air yaitu air zamzam, air laut, dan air tawar serta tujuh jenis bunga. Ketiga sumber mata air tersebut memang dimaksudkan agar anak-anak kelak menjadi taruna yang beragama dan berbudi luhur, selalu mencintai laut serta senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu. 

Ada rasa bangga yang begitu besar dirasakan para taruna yang baru dilantik tersebut. Memakai seragam yang gagah, juga berbagai tanda kebesaran membuat mereka benar-benar bangga. Namun demikian, tanda-tanda yang tersemat dalam seragam mereka bukanlah tanpa arti. Sekolah memiliki aturan tersendiri dalam memberikan tanda kebesaran, yakni melalui proses yang tidak mudah, namun harus dilalui oleh para taruna. “Misalnya, untuk mendapatkan tanda wing, mereka harus menempuh perjalanan minimal 100 km, yang dapat dilakukan secara bertahap. Kami melatih mental dan fisik taruna supaya mereka kuat. Awalnya tampak berat. Namun setelah kami latih dengan baik, mereka justru merasakan bahwa tantangan tersebut sama sekali tidak berat,” kata Kuntjoro.

Firmansyah Septiawan, taruna kelas XI jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan mengaku merasa tak keberatan dengan tempaan fisik yang ia dapatkan di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. “Kami dipersiapkan untuk dapat bekerja di kapal. Sedangkan kalau kapal, ikan yang ditangkap ukurannya besar-besar, jadi harus punya mental dan fisik yang kuat,” ujarnya. Taruna yang bercita-cita menjadi nahkoda ini berencana ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi usai ia menamatkan pendidikannya di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. “Setelah lulus, kami kan mendapat sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan (Ankapin) II, bisa bekerja di kapal yang berukuran sedang. Tapi untuk dapat bekerja di kapal besar, apalagi menjadi nahkoda, harus mendapatkan sertifikat Ankapin I. Untuk mendapatkan sertifikat ini, harus kuliah dulu.  Maka itu, saya ingin kuliah di akademi perikanan supaya mendapatkan sertifikat Ankapin I,” katanya.

Siapkan Taruna Siap Melaut
Bukan rahasia umum jika untuk bekerja di kapal pun membutuhkan persiapan mental, fisik, sekaligus biaya. Hal ini dikarenakan para calon tenaga kerja harus melengkapi diri terlebih dahulu dengan berbagai sertifikat IMO, baru mereka mendapat lisensi untuk bekerja di kapal. Namun SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah menyiapkan hal ini, sehingga para lulusannya benar-benar siap kerja dimanapun berada. “Lulus dari sini, anak-anak telah memiliki sertifikat BST, Buku Pelaut, sertifikat BNSP, logo garuda, sertifikat profesi keahlian pelaut perikanan dari direktorat perhubungan laut. Belum lagi sertifikat pengalaman di luar,” kata Kuntjoro.

Sejak kelas X, para taruna juga telah dibiasakan untuk mengenal  laut, dengan praktek di kapal selama tiga minggu pelayaran. “Yang penting anak tidak mabuk dan senang berlayar terlebih dahulu. Ini modal dasar untuk kesiapan fisik,” jelas Kuntjoro.

Arif Sugiarto, S.Pd., guru jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan mengatakan bahwa sekolah memiliki program Pertahanan Laut untuk mengenalkan dunia kelautan kepada para taruna kelas XI yang telah menginjak semester genap, yang dijalankan selama kurun waktu kurang lebih satu bulan. “Dalam program ini, para taruna diperkenalkan dengan kehidupan alam di atas kapal. Selesai menjalankan Program Pertahanan Laut, para taruna kemudian mengikuti diklat atau atau pelatihan Sertifikat Keterampilan Laut di Politeknik Surabaya selama enam hari,” ujarnya.

Sekolah pun membiasakan budaya apel pagi dan apel siang, dimana selain pengibaran bendera merah putih, para taruna juga akan mendapat motivasi. Para motivator bisa dari kepala sekolah atau para guru. Bagaimanapun, motivasi adalah modal terpenting untuk terus melecutkan semangat menjadi tenaga kelautan yang berkompeten dan sepenuh hati.

Namun demikian, kesuksesan pembelajaran pun juga tergantung dari fasilitas sarana dan prasarana sekolah. Oleh karena itu, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah melengkapi diri dengan berbagai fasilitas yang terstandard. Sekolah dengan luas kurang lebih 7140 m2 ini telah memiliki fasilitas yang memadai dan telah diverifikasi oleh Direktorat Perhubungan Laut. “Tiap tiga tahun sekali kami selalu update,” kata Kuntjoro. Tak hanya bangunan lokal kelas maupun bengkel praktek, sekolah juga memiliki kolam renang, bahkan juga sebuah asrama bagi para taruna, terutama yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari sekolah.

Sistem pembelajaran di SMK Perikanan dan Kelautan Puger pun diterapkan secara fleksibel dan tidak kaku. Para taruna diharapkan memiliki kompetensi dan potensi untuk menjadi multitalenta. Pembelajaran, misalnya praktek di bengkel, acapkali tak cukup hanya ketika jam sekolah, namun juga dapat menggunakan waktu-waktu di luar jam sekolah. Sekolah benar-benar memastikan para taruna  menguasai dan memiliki kompetensi yang diinginkan oleh pasar industri.

Mendidik Taruna Santri
Satu keunikan lain dari SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah sistem pendidikan yang juga menerapkan pola pendidikan pondok pesantren bagi para tarunanya. Saat ini, tak semua taruna tinggal di asrama atau pondok pesantren dikarenakan keterbatasan fasilitas. Ada sekitar 120 taruna yang tinggal di asrama atau pondok pesantren. Namun demikian, sebenarnya hampir 80 persen taruna memiliki minat untuk mondok di sekolah.

“Yang mondok di sini hanyalah taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Pagi pukul 07.00 – 13.45 wib mereka sekolah, sore dan malam hari belajar agama. Kami telah menyiapkan guru ngaji tersendiri, yang khusus berlatar belakang kiai. Sedangkan yang memantau adalah guru yang bertugas,” jelas Kuntjoro. Ke depan, sekolah berharap bahwa seiring terlengkapinya fasilitas, seluruh taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger tinggal di pondok pesantren tersebut.

Muhammad Lutfi Gojali, taruna kelas XI Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan, adalah salah satu taruna yang tinggal di pondok pesantren, karena tempat tinggalnya jauh dari sekolah. “Ada enaknya tinggal di pondok, kalau berangkat sekolah tidak pernah terlambat. Orangtua juga diizinkan menjenguk tiap dua minggu sekali,” katanya.  “Selama saya mondok di sini kegiatan yang menarik bagi saya adalah ketika melakukan shalawat. Kami juga diajari berpidato menggunakan bahasa Arab,” katanya.

Peran Guru sebagai Pengasuh
Dalam hal tenaga pendidik, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki 37 guru tetap yang cukup berkompeten, bahkan sebagian besar telah menjadi asesor dalam uji kompetensi. Kuntjoro selalu memberi ruang dan kesempatan bagi para tenaga pendidik untuk senantiasa mengembangkan dan mengasah kompetensinya melalui berbagai jalan. Misalnya, para guru NKPI pernah mengikuti diklat dan seminar di P4TK hingga praktek di laut untuk menjadi mualim.

Guru pun diharapkan kreatif dan inovatif dalam pembelajaran supaya para taruna tak lekas bosan, dan yang terpenting dapat memahami dengan baik ilmu yang diberikan. Guru tak hanya memberikan teori dan praktek keilmuan, tapi juga sangat diharapkan dapat memotivasi, mendidik dan membimbing karakter para taruna melalui keteladanan dan inspirasi, seperti halnya yang dilakukan oleh Ernawati Cahya Handari, S.Pd., guru yang mengajar bidang studi Matematika. “Guru harus pandai menyikapi dan menerapkan metode ataupun trik dimana anak-anak dapat dengan mudah  mencerna materi-materi yang disampaikan, karena kami juga harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Selain itu, yang terpenting, dalam mengajar saya juga memasukkan nilai-nilai karakter, karena memang itulah yang menjadi visi misi sekolah,” tuturnya.

Untuk membuat para taruna senang pelajaran Matematika, Erna pun memiliki strategi tersendiri. Pertama, ia selalu memberikan pengertian pada para taruna mengapa Matematika seringkali menjadi momok, dan mengapa pelajaran Matematika sangat penting untuk dikuasai. “Saya sering paksa anak-anak untuk menghapalkan rumus-rumus Matematika karena jika mereka tidak hafal, mereka tidak akan bisa mengerjakan soal Matematika. Awalnya mereka memang tidak antusias, tetapi setelah diberi tahu manfaatnya, mereka terlihat lebih tertarik,” katanya lagi.

Soal aturan terhadap para pendidik, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki kebijakan yang cukup ketat dan harus dipatuhi para guru. Antara lain yaitu guru tidak diperbolehkan mengajar di tempat lain, melainkan hanya di SMK Perikanan dan Kelautan Puger saja. “Di sini, guru lebih berperan sebagai pengasuh bagi para taruna. Guru harus memiliki kedekatan terhadap para taruna, juga sekaligus memiliki akses untuk dapat menghubungi para wali murid dengan mudah. Guru juga dituntut untuk dapat menanamkan karakter dan figur yang inspiratif,” kata Kuntjoro.

Tampilkan Marching Band di Karnaval Kelas Dunia
Dalam hal pengembangan minat dan bakat, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki beragam pilihan kegiatan yang bisa dipilih oleh para taruna, yang biasanya dilakukan usai jam pembelajaran. Mulai dari kegiatan Marching Band, English Club, Japanese Club,Voli, Pencak Silat, Teater, Sepakbola, Hadrah, Taekwondo, dan lain sebagainya. Kelompok Marching Band SMK Perikanan dan Kelautan Puger bahkan kerap diundang untuk tampil di acara bergengsi Jember Fashion Festival, sebuah acara karnaval yang telah mendunia, dan juga berbagai acara lain seperti penyambutan kedatangan tamu, dan lain sebagainya. Kegiatan Pencak Silat juga memiliki banyak kesempatan tampil di berbagai event karena berhasil menyuguhkan berbagai atraksi menarik, misalnya memecahkan baja hanya dengan anggota tubuh.

Untuk pembelajaran bahasa asing, SMK Perikanan dan Kelautan Puger mengajarkan dua bahasa asing pada para taruna, antara lain bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan di dunia industri. Seiring dengan sekolah yang semakin giat mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak di kalangan dunia industri, sekolah telah berhasil menjalin kerjasama dengan Korea Selatan. Oleh karena itu, menurut Kuntjoro, tahun 2017 nanti para taruna akan mendapatkan pelajaran bahasa Korea. Buku-buku pedoman dan pembelajaran pun bahkan telah disiapkan oleh pihak Korea Selatan.

Jaring Du/di hingga Luar Negeri
Tak bisa dipungkiri, indikasi kesuksesan sebuah sekolah kejuruan antara lain seberapa luas sekolah tersebut mampu menjaring dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak dari dunia industri, karena jalinan kerjasama tersebut nantinya lah yang akan memuluskan perjalanan para lulusan untuk mendapat kemudahan dalam pekerjaan sesuai dengan kompetensinya. Demikian pula yang dilakukan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, sekolah ini telah membangun kerjasama dan kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta serta perusahaan industri di bidang perikanan dan kelautan.

Instansi dan du/di tersebut antara lain Kementerian Kelautan Perikanan Republik Indonesia, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Timur, Akademi Perikanan Sidoarjo, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Teknologi Surabaya, Politeknik Negeri Jember, PT Pudji Utami Jakarta (konsultan recruitment and training), PT Kusuma Bahari Jaya Sidoarjo, PT Harini Jakarta, Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya, Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BP3) Bangsring Banyuwangi, Unit LPPMHP Banyuwangi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Asosiasi Tuna Longline Indonesia, dan lain-lain.

Berkat adanya berbagai kerjasama tersebut, sekolah pun banyak mendapat kemudahan dan dukungan untuk pembangunan dan pengembangan pendidikan. Kemudahan tersebut antara lain terealisir dalam kegiatan prakerin para taruna, yang dilaksanakan saat menjelang kelas XII, dengan lama prakerin sekitar 4 – 6 bulan. “Untuk tempat prakerin, kami targetnya di kapal-kapal besar yang memiliki teknologi tinggi, biasanya paling banyak di Benoa, Bali,” jelas Kuntjoro. 

Kerjasama dengan pihak du/di pun memudahkan sekolah untuk menyalurkan para lulusannya ke dunia kerja. Dalam hal ini, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah menjalin kerjasama bahkan dengan berbagai pihak du/di di luar negeri. Dengan adanya kerjasama tersebut, hal ini memudahkan para taruna atau para lulusan juga dalam hal mengikuti seleksi penerimaan kerja. Biasanya, pihak du/di atau penyalur datang ke sekolah dan mengadakan seleksi bagi para taruna yang berminat. “Rekruitmen diadakan di sekolah, termasuk kapal pesiar, yang bekerja sama dengan Perusahaan Duta Persada, pun datang ke sini untuk menyeleksi para lulusan. Jadi, anak tidak perlu repot ke Jakarta,” kata Kuntjoro.

Menurut informasinya,  banyak lulusan SMK Perikanan dan Kelautan yang bekerja hingga ke luar negeri, dan mereka cukup senang mendapatkan kesempatan dan pengalaman ke luar negeri. Mereka pun sebagian besar bekerja sesuai dengan kompetensinya. “Anak-anak kami banyak direkrut oleh perusahaan dari Jepang, Korea, Taiwan, Australia, Eropa, dan sebagainya. Nilai jual anak-anak tak hanya pada kompetensinya, namun juga karakter, dimana banyak pihak du/di yang merasa puas dengan karakter dan kedisiplinan para lulusan sekolah ini,” kata Kuntjoro.

Umumnya, para lulusan tersebut menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun. Mereka akan memiliki pengalaman yang cukup serta gaji yang tinggi. Diharapkan setelah bekerja di luar negeri,mereka akan pulang ke tanah air dan membangun sendiri untuk menyejahterakan dan memajukan sektor kelautan di tanah air.

Perusahaan-perusahaan sektor perikanan dan kelautan di Jepang setiap tahun selalu mencari lulusan SMK di Indonesia. Mereka mengirimkan agen pencari kerja ke sekolah-sekolah menengah kejuruan khusus sektor tersebut. Itu pun kompetensinya diperhatikan betul. Sistem rekruitmen pun umumnya mengutamakan karakter pekerja daripada keilmuan semata. Sebagian besar adalah seleksi fisik, seperti mengangkat barbel, kemampuan membedakan warna, tes Matematika, serta wawancara untuk mengetahui minat siswa.

Tak hanya di bidang ketenagakerjaan, hasil kerjasama yang dijalin dengan berbagai pihak pun memberikan jalan alternatif lain bagi para lulusan, misalnya dengan adanya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Beberapa kerjasama yang dijalin SMK Perikanan dan Kelautan Puger antara lain dengan Seamolec, yang memberi kesempatan bagi  lulusan SMK Perikanan dan Kelautan Puger untuk melanjutkan studi ke beberapa universitas di negara China melalui jalur beasiswa.

SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan Thailand untuk kegiatan tukar pelajar. Kegiatan ini telah dilaksanakan pertama kali dengan mengirimkan beberapa taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger selama kurang lebih tiga minggu ke sekolah vokasi yang ada di Thailand. “Dengan adanya program-program seperti ini, anak-anak menjadi sangat termotivasi, misalnya dengan belajar Bahasa Inggris supaya mereka lulus seleksi. Manfaatnya, kalaupun mereka tidak lulus seleksi, namun kompetensi bahasa mereka mendapatkan kemajuan yang pesat,” jelas Kuntjoro.

Unit Produksi dan Restoran
Sekolah menengah kejuruan umumnya memiliki unit produksi yang dapat menjadi ajang bagi para siswa, terutama untuk mengasah jiwa wirausaha. Demikian pula dengan SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Unit produksi yang paling menonjol terutama diupayakan oleh kompetensi keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian, dengan memproduksi hasil olahan ikan menjadi produk-produk pangan unggulan. Terdapat 19 produk yang menjadi andalan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, antara lain Abon Sembunyi rasa original dan pedas yang sudahmemiliki izin Disperindag dan Badan POM, bakso ikan, kripik tulang ikan, Tahu bakso, mie ikan, dan masih banyak lagi. Yang ditonjolkan dari produk SMK Perikanan dan Kelautan adalah penggunaan bahan  dan material yang  aman dan menyehatkan.

Sejauh ini, pemasaran produk SMK Perikanan dan Kelautan Puger masih melayani segmen lokal dari masyarakat sekitar sekolah. Namun demikian, SMK Perikanan dan Kelautan Puger pun kerap mengikuti pameran ataupun ekspo untuk memperkenalkan produk-produknya. Saat menjelang lebaran, sekolah biasa menerima banyak pesanan, terutama untuk jenis kue kering. Para taruna pun sangat bersemangat karena mereka pun dapat menambah uang saku.

Sekolah juga kini telah mencoba mengembangkan unit produksi dengan membangun sebuah restoran, yang juga digunakan sebagai outlet produk SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Restoran ini dikelola oleh guru, dibantu siswa hingga tenaga dari luar sekolah. Diharapkan restoran ini akan berkembang semakin besar dan memberikan pelayanan seperti layaknya restoran pada umumnya, seperti menyajikan makanan, terutama hasil laut.

Achmad Zunuroain Azis, S.Pi., guru jurusan THPI yang juga menjadi direktur Teaching Factory (TEFA) mengatakan bahwa unit produksi yang dikelola SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga mendapat pendampingan dari pihak du/di, yakni dari PT. Istana Cipta Sembada (ICS), sebuah perusahaan pengolahan hasil kelautan yang berpusat di Sidoarjo. Selain pendampingan dalam unit produksi sekolah, perusahaan ini juga bekerja sama dalam hal menerima para taruna untuk melaksanakan prakerin. “Untuk prakerin di PT. ICS dilaksanakan selama empat bulan, yakni dua bulan di perusahaan, dan dua bulan sisanya di laboratoriumnya,” kata Zunuroain. Dengan magang di PT. ICS, para taruna mendapatkan ilmu dan pengalaman mengolah hasil laut menjadi komoditi dengan kualitas ekspor, karena jangkauan pasar PT. ICS tak hanya di wilayah dalam negeri, namun hingga ke pasar Eropa. Karena tingkat kerja yang tinggi, PT ICS bahkan kerap meminta para lulusan SMK Perikanan dan Kelautan Puger sebagai tenaga kerja.

Edy Sulistyo Cahyono, S.Pi., kepala Training Centre PT. ICS mengatakan bahwa alasan PT. ICS memberikan banyak peluang dan kesempatan kepada SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah adanya kecocokan, terlebih kecocokan karakter para taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger yang menurutnya sangat baik dan disiplin.

Tri Wahyuningsih, taruni kelas XII Jurusan TPHP adalah salah satu yang pernah melaksanakan prakerin di PT. ICS di cabang Banyuwangi. Ia mengaku mendapat banyak tambahan ilmu dan pengalaman baru semenjak magang di PT. ICS karena banyak hal-hal baru yang ditemuinya. “Di PT. ICS, kami mengolah udang untuk pasar ekspor, padahal di sekolah kami diajarkan untuk mengolah ikan tuna. Kami diajari mulai dari proses masuk, proses packing sampai ke proses persiapan ekspor,” ceritanya. Namun Tri merasa sangat antusias dan termotivasi, terlebih setelah lulus ia ingin mendapatkan pekerjaan di Jepang. Oleh karena itu, ilmu dan pengalaman yang ia dapat baik di sekolah maupun di tempat prakerin disadarinya sangat berguna bagi bekalnya dalam menembus pasar kerja internasional.

Bagi SMK Perikanan dan Kelautan Puger, pendidikan tak hanya menyiapkan para taruna untuk memiliki kompetensi di bidang perikanan dan kelautan, namun yang utama adalah memiliki bekal karakter yang kuat serta motivasi yang tinggi – karena bekal itulah yang dapat mengantarkan para lulusannya meraih kesuksesan, terutama dalam menembus dunia kerja. Ke depan, SMK Perikanan dan Kelautan Puger optimis dapat lebih aktif berperan serta memajukan Indonesia melalui sektor perikanan dan kelautan dengan menyediakan sumber daya manusia unggulan yang kompeten dan cinta tanah air. ***


Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)