Showing posts with label M.Si.. Show all posts
Showing posts with label M.Si.. Show all posts

Papua : Dari Berantas Buta Huruf hingga BAP PAUD PNF

Peningkatan Mutu Paud Dikmas di Papua



Di antara sekian banyak provinsi di wilayah Indonesia, angka prosentase buta huruf yang cukup tinggi di antaranya kerap diraih oleh Provinsi Papua. Banyak faktor yang menjadikan masih banyak masyarakat Papua yang belum tersentuh oleh kemampuan membaca dan menulis. Beberapa orang tinggal di wilayah lembah, beberapa orang lagi tinggal di wilayah pegunungan, dan masih banyak lagi yang tinggal di wilayah sulit dijangkau. Papua, meski sangat kaya akan sumber daya alam, namun juga menyajikan tantangan tersendiri untuk menaklukkannya. Butuh biaya yang sangat mahal untuk transportasi; untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain dibutuhkan kapal laut hingga pesawat; dan belum lagi dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Oleh karena itu, Pemerintah pun memiliki pekerjaan besar dalam memecahkan masalah infrastruktur demi keterjangkauan Papua pada modernisasi dan akses kesejahteraan.

Di sisi lain, masyarakat Papua pun memerlukan akses pendidikan yang layak. Namun sulitnya medan yang harus ditempuh untuk memberikan akses pendidikan menjadikan Papua sedikit lebih tertinggal. Tak heran, jika prosentase angka melek huruf pun tak sebesar provinsi lainnya, terutama dari wilayah barat. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, pada tahun 1996, angka melek huruf di Papua hanya 67,47 persen. Pada tahun 2007, angka melek huruf mengalami peningkatan, yakni sebesar 75,41 persen.

Kabar baik ini pun menjadi motivasi Provinsi Papua untuk lebih meningkatkan angka melek huruf. Berbagai cara telah ditempuh, hingga pada tahun 2016, angka buta huruf di Papua hanya tinggal 28,61 persen saja, yang tersebar di 14 kabupaten wilayah pegunungan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua, Elias Wonda menyebutkan, 14 kabupaten ini merupakan hasil pemekaran baru yang memiliki kinerja kurang dari setengah rata-rata angka melek huruf di Papua. Sementara untuk pencapaian pemberantasan buta aksara di kabupaten induk telah mencapai angka di atas 80 persen, sehingga cukup rumit untuk melakukan peningkatan secara signifikan.

Di Provinsi yang memiliki 28 kabupaten ini, beberapa kabupaten yang sudah tergolong cukup maju antara lain Jayapura, Merauke, Biak, dan Yapen. Sedangkan kabupaten yang masih memerlukan banyak sentuhan perbaikan antara lain Kabupaten Nduga, Kabupaten Intan jaya, Kabupaten Puncak Jaya. Terutama kabupatena yang merupakan daerah pemekaran dan sangat sulit dijangkau.

Program Gubernur Papua, Lukas Enembe, S.IP, MH, untuk meningkatkan pendidikan di Provinsi Papua adalah dengan memberikan 80 persen ABPD Provinsi Papua untuk dana otonomi khusus yang yang langsung disalurkan ke kabupaten/kota. Di masing-masing kabupaten, dana tersebut dibagi, antara lain 30 persen untuk pendidikan. Dana 30 persen tersebut didistribusikan untuk antara lain 5 persen untuk Paud Dikmas, 10 persen untuk pemberantasan buta aksara, 5 persen untuk jenjang SMP/SMA/SMK, dan 5 persen untuk jenjang SD.

Program KKN Berantas Buta Huruf
Salah satu langkah Pemerintah Provinsi Papua dalam pemberantasan buta huruf adalah memberikan  dukungan peningkatan angka melek huruf yang terfokus pada kabupaten yang berkinerja sangat rendah. Ia menambahkan, sejauh ini telah ada beberapa program pengentasan buta aksara yang dilakukan. Sejauh ini, telah ada beberapa program, salah satunya adalah Gerakan Indonesia Membaca (GIM), yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan dan pemberantasan buta huruf di Papua. “Pada tahun ini, program  keaksaraan tidak hanya menyangkut baca, tulis, dan berhitung.“Namun, perlu pula diperkuat dengan peningkatan budaya, sosial, dan ekonomi guna,” kata Elias Wonda.

Kepala Bidang Paud dan Dikmas Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Desman Kogoya, S.Sos., M.Si. mengatakan bahwa saat ini Pemerintah Provinsi Papua memiliki suatu program untuk menuntaskan buta aksara, terlebih di wilayah-wilayah terpencil atau susah terjangkau, yakni bekerja sama dengan lima sekolah tinggi teologi dan tiga Kolase Guru Khas Papua (KPG) yang ada di Papua dalam hal pelaksanaan kegiatan KKN Tematik. Nantinya, para mahasiswa dari universitas sersebut yang melaksanakan kegiatan KKN akan diterjunkan langsung ke daerah-daerah yang memang membutuhkan sentuhan, terutama untuk memberantas buta aksara. Untuk program ini, Pemerintah Provinsi Papua telah menganggarkan dana sebesar sekitar 7 miliar rupiah. “Kami sudah melaksanakan MoU, dan para mahasiswa itu sudah diterjunkan. Rencananya pada Januari mendatang kami akan turun untuk evaluasi hasilnya,” kata Desman.

Kelima sekolah tinggi tersebut antara lain Kolase Pendidikan Guru (KPG) Merauke yang menggarap Kabupaten Asmat, Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi, Kolase Pendidikan Guru (KPG) Mimika yang menggarap Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak, dan Kabupaten Nduga, Kolase Pendidikan Guru (KPG) Nabire yang menggarap Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Deiai, STKIP Yayasan Kristen Wamena (YKW) yang menggarap Kabupaten Yahokimo, Lanny Jaya, dan Yalimo, Sekolah Tinggi Theologi (STT) GIDI yang menggarap Kabupaten Mamb. Tengah, Pegunungan Bintang, Yahukimo, dan Tolikara, Sekolah Tinggi Theologi (STT) Wolter Post yang menggarap Kabupaten Yahukimo, Nduga, Puncak, dan Daiai, Sekolah Tinggi Theologi (STT) GKI yang menggarap Kabupaten Yahokimo dan Mamb. Raya, serta Sekolah Tinggi Theologi (STT) Baptis yang menggarap Kabupaten Lanny Jaya dan Pegunungan Bintang. Target sasaran warga belajar adalah sebanyak 7.150 warga belajar, yang tersebar pada 14 titik Kabupaten dengan kantong buta aksara terbesar.

Selain itu, para mahasiswa yang turun langsung ke lapangan juga diharapkan dapat sekaligus mengambil data yang menyangkut PAUD maupun buta aksara. “Kami memfasilitasi mereka, dan tugas mereka disana antara lain mengajarkan membaca dan menulis,” jelas Desman.  Diharapkan dengan adanya program kerjasama antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi pada program percepatan tuntas buta aksara melalui KKN tematik diharapkan dapat membantu menurunkan angka melek huruf di Papua.

Aktifkan Bunda PAUD
Untuk meningkatkan pelayanan PAUD dan Dikmas, menurut Desman, Pemerintah Provinsi Papua pun bekerja sama dengan PKK Provinsi Papua. Selain itu, bunda PAUD, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota pun memiliki peran yang sangat besar.  Para Bunda PAUD diharapkan setidaknya memiliki program untuk membangun PAUD Percontohan di masing-masing kota/kabupaten.  Saat ini, PKK Provinsi Papua pun sedang membangun PAUD Percontohan di Sentani, Jayapura. Nantinya, PAUD Percontohan ini akan terintegrasi dengan Posyandu dan SD Kecil.

Para Bunda PAUD juga diharapkan berupaya dapat menggandeng gereja maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam menjalankan berbagai program yang diembannya, terutama dalam rangka pemberantasan Buta Aksara sejak usia dini. Selama ini, banyak PAUD di Papua lebih banyak didirikan dan dikelola oleh yayasan gereja maupun LSM dengan tujuan benar-benar ingin memberikan akses pendidikan yang layak bagi masyarakat. “Peran tempat ibadah sangat luar biasa, terutama di daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau. Para hamba-hamba Tuhan banyak yang mendirikan PAUD, menjadi guru PAUD atau tutor, meski beberapa dari mereka memiliki kompetensi yang terbatas. Namun mereka siap mengabdi dengan ikhlas. Hanya saja, kendala yang mereka hadapi antara lain tentang pengesahan PAUD mereka supaya dapat diakui Pemerintah. Ada beberapa syarat yang sulit mereka penuhi, misalnya tentang adanya sertifikat atau notaris. Di pedalaman yang sulit dijangkau dan jauh dari mana-mana, untuk mendapatkan notaris itu sangat sulit dan mahal, karena tidak ada notaris yang tinggal di pedalaman. Untuk ke kota, mereka harus merogoh ongkos yang tidak sedikit,” kata Desman.

Di sisi lain, ada pula kabupaten yang banyak mendirikan PAUD hanya karena tergiur oleh dana PAUD yang disediakan pemerintah pusat. Ketika dana telah ada di rekening, ternyata tidak dipergunakan untuk pengelolaan PAUD. Acapkali meskipun ada surat pendirian PAUD dan laporan administrasi lengkap, namun di lapangan tidak ada aktifitas belajar mengajar. Namun dengan adanya Bunda PAUD, permasalahan seperti ini dapat terminimalisir karena Bunda PAUD baik di tingkat Provinsi hingga Kabupaten/Kota dapat mengakomodir para tenaga pendamping/tutor dari PAUD gereja maupun LSM yang sudah ada.

Bunda PAUD pun diharapkan senantiasa melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan baik di tingkat Provinsi hingga kabupaten/kota untuk melakukan pendataan dan pengecekan tentang keberadaan PAUD di Papua. Diharapkan ke depan PAUD bisa berada di masing-masing kampung di daerah.

Sejauh ini, salah satu kabupaten yang cukup berhasil memajukan pendidikan PAUD adalah Kabupaten Lanny Jaya. Bahkan pada akhir 2014 lalu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Yohana Yembise meresmikan ratusan taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kabupaten Lanny Jaya. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy, ketika melawat ke tanah Papua, pun menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu PAUD di Kabupaten Lanny Jaya. Bahkan beliau pun secara simbolik juga memberikan bantuan dana penuntasan keaksaraan sebesar 3,18 miliar rupiah kepada Bupati Lanny Jaya, Befa Yigibalom.

Terbentuknya BAP PAUD dan Dikmas
Guna meningkatkan mutu pelayanan pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat di Tanah Papua, Pemerintah Provinsi Papua pun membentuk Badan Akreditasi Provinsi (BAP) PAUD dan PNF Papua pada Juli 2016 lalu. Kehadiran BAP PAUD dan PNF ini menjadi penjamin mutu pendidikan PAUD dan PNF di Papua, sehingga diharapkan lembaga-lembaga pendidikan di Papua dapat benar-benar mengawal generasi dan masyarakat untuk menjadi lebih baik. Sebelumnya, sistem akreditasi lembaga-lembaga pendidikan di Papua ternyata banyak yang tidak sesuai aturan karena untuk mendapatkan akreditasi, mereka hanya mengisi instrumen saja. Namun dengan adanya BAP PAUD dan PNF, banyak lembaga pendidikan yang semakin berbenah untuk menjadi lembaga yang lebih baik, terlebih karena nantinya, lembaga PAUD yang tidak terakreditasi tidak diperbolehkan untuk memberikan surat kelulusan pada siswa-siswanya.

Pembentukan lembaga ini mengacu pada pedoman BAN dan PNF, dimana tahap awal dimulai dengan pengumuman terbuka melalui Mas Media, dilanjutkan dengan seleksi portofolio hingga tes wawancara sehingga menetapkan 13 orang angora BAP PAUD dan PNF Papua. Pelantikan ini tertuang dalam SK Gubernur No 188.4/183/2016.

Lembaga pendidikan nonformal di Papua mulai terasa dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk, terlebih perkembangan demografi Papua yang cukup luas. Untuk menjaga mutu dan pelayanan lembaga-lembaga tersebut, maka peran BAP sangat penting dan strategis. Namun demikian, menurut Desman, jumlah lembaga pendidikan nonformal atau pendidikan masyarakat di Papua masih terbatas sehingga menjadi kendala dalam pelaksanaan program keaksaraan maupun menjaga mutu Lembaganya.

Kurangnya tutor terlatih menjadikan pendidikan keaksaraan hanya menjadi kegiatan yang bernuansa lokal karena pelakunya adalah para pendidik formal yang dinilai sedikit menggunakan fungsionalisasi khas Papua. Selain itu kondisi pemukiman warga belajar yang berada di kawasan pegunungan atau daerah sulit akses menyebabkan sulitnya pendekatan kelompok, kecuali melalui jalur gereja.

Biasanya, para hamba Tuhan dari gereja memiki cara tersendiri dalam mendekati kelompok atau masyarakat yang menjadi sasaran/target belajar. Terlebih yang memudahkan mereka antara lain adalah karena mereka adakalanya masih sesama suku atau golongan, sehingga komunikasi menjadi lebih mudah. Dalam pembelajaran, mereka pun kerap menggunakan bahasa ibu dengan alasan karena pembelajaran dengan menggunakan bahasa ibu justru lebih efektif dan terlihat hasilnya. Di pedalaman Papua yang masih sulit dijangkau, masih banyak masyarakat yang tidak memahami Bahasa Indonesia.

Pemerintah Provinsi Papua sendiri sejauh ini telah bekerja sama dengan mitra untuk membuat kamus bahasa ibu masing-masing kabupaten di Papua. Dengan adanya kamus tersebut, hal itu akan membantu siapapun yang terjun mendidik dan bersosialisasi dengan masyarakat Papua. “Di tingkat PAUD hingga SD kelas 3, mereka dapat belajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa ibu, karena banyak dari mereka yang kurang mengenal Bahasa Indonesia. Dengan penggunaan bahasa ibu, mereka menjadi lebih paham dengan apa yang mereka pelajari di sekolah,” jelas Desman.

Provinsi Papua optimis, ke depan pendidikan Papua akan semakin baik. Terlebih Pemerintah Provinsi Papua memberi dukungan penuh untuk peningkatan pendidikan di Papua secara merata. ***



Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah MISI (Kemendikbud)

Kabupaten Sorong, Papua Barat : Sediakan Fasilitator Dari Unicef


Program andalan Kabupaten Sorong di sektor pendidikan adalah memberikan pendidikan dasar yang maksimal bagi anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, Pemerintah daerah pun telah menyiapkan dana BOS Daerah sejak tahun 2013 demi menyukseskan akses maupun peningkatan mutu pendidikan di wilayah Kabupaten Sorong. “Kebutuhan siswa di sekolah akan dihitung, kemudian dipenuhi oleh BOS dari pemerintah pusat. Sisa kekurangannya akan ditanggung oleh dana BOSDA dari pemerintah daerah,” kata Sonny V., S.Sos., M.Si., Kepala Bidang Dikdas Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Menurut Sonny, di Kabupaten Sorong, ada sekitar 130 SD dan 12 Madrasah Ibtidaiyah, sehingga total ada 142 sekolah dasar, yang tersebar dalam 21 distrik atau kecamatan. Dari sisi sarana prasarana, kondisi SD di Kabupaten Sorong menurut Sonny 80% cukup baik. “Tahun 2012, kami mendapat dana rehabilitasi nasional dari Direktorat PSD untuk 30 sekolah, dan bantuan ini sangat membantu,” katanya.

Salah satu sekolah model atau sekolah percontohan di Kabupaten Sorong adalah SD Negeri Inpres 48, terutama untuk pendidikan karakternya. Sekolah ini juga kerap mengadakan sosialisasi kepada sekolah-sekolah lainnya mengenai pendidikan karakter dan literasi sekolah.


Salah satu kendala pendidikan yang hingga saat ini masih dialami di Kabupaten Sorong adalah kurangnya tenaga guru, terutama untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil. Untuk mengatasi persoalan ini, dinas pendidikan pun kami bekerja sama dengan lembaga Unicef. “Mereka mengangkat fasilitator yang ditempatkan di sekolah yang kurang guru ini, dan gaji mereka dibayar oleh Unicef. Para fasilitator ini umumnya adalah pensiunan guru tapi masih dianggap bagus atau mahasiswa lokal lulusan keguruan tetapi belum diangkat. Sebelum terjun mengajar, mereka didiklat selama 1 bulan, baru diterjunkan ke sekolah. Sejauh ini hasilnya cukup baik,” jelas Sonny. Kerjasama ini berlangsung sejak tahun 2015/2016 hingga tahun 2018. “Sekarang ada 30 sekolah yang mendapatkan fasilitator dari Unicef. Tahun depan mau ditambah 20 sekolah lagi,” tambahnya. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

SMK Negeri 1 Jayapura : Siapkan Siswa Asal Remote Area Siap Kerja


Alberto Bady, siswa kelas X Jurusan Tata Boga merasa senang sangat sekaligus beruntung dapat bersekolah di SMK Negeri 1 Jayapura. Katanya, semenjak bersekolah di sini, ia jadi memperoleh banyak sekali ilmu pengetahuan dan keterampilan. Tempo lalu, ia bahkan diberi kesempatan untuk unjuk gigi menjadi chef barbeque pada acara Hari Ulang Tahun SMK Negeri 1 Jayapura. Ia berhasil memukau para tamu undangan yang tak hanya warga sekolah, namun juga para alumni hingga para pejabat di Jayapura. Padahal sebagai siswa kelas X, ia belum diajarkan materi barbeque. Tapi ia mengatakan bahwa keterampilannya hanya berdasarkan pengalamannya ketika masih berada di kampung halaman.

Alberto adalah siswa yang berasal dari Kabupaten Timika, Papua. Ia dapat masuk ke SMK Negeri 1 Jayapura atas sponsor dari PT. Pangansari Utama, sebuah industri katering yang memasok PT. Freeport di Papua. Ada 10 anak yang dibawa PT. Pangansari Utama untuk belajar di SMK Negeri 1 Jayapura, dengan harapan setelah lulus, mereka dapat langsung bekerja untuk PT. Pangansari Utama.
Menurut Elisabeth Paksoal, SE., M.Si., kepala SMK Negeri 1 Jayapura, saat pertama kali anak-anak dari Timika tersebut datang ke sekolah, mereka masih belum menguasai banyak hal. Bahkan membaca ataupun menulis pun belum lancar, juga berbahasa Indonesia. Namun sekolah membentuk tim yang membina para siswa tersebut supaya mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Kendati demikian, juga diperlukan komitmen, kerjasama, dan kesabaran banyak pihak, baik itu para guru maupun para siswa lainnya. “Kami juga menerapkan sistem tutor sebaya, dan hasilnya cukup bagus,” kata Elisabeth.

Komitmen SMK Negeri 1 Jayapura dalam membimbing dan membina anak-anak dari remote area di Kabupaten Timika ini benar-benar luar biasa. Sekolah telah menyediakan rumah yang menjadi asrama mereka, dilengkapi dengan penjaga asrama dan koki masak untuk mereka. Mesin cuci pun telah disediakan untuk mereka. Anak-anak benar-benar sangat diperhatikan, pun memiliki jadwal dan aturan khusus supaya mereka juga dapat belajar lebih tertib.

“Tinggal di asrama ini cukup menyenangkan. Biasanya kalau sore kami main bola di sekolah. Tapi malam harinya kami tidak boleh keluar, oleh karena itu kami pergunakan waktu untuk belajar,” kata Alberto. 


Menurut Elisabeth, gelombang saat ini adalah gelombang kedua PT Pangansari Utama mengirimkan anak-anak dari Papua. Elisabeth merasa senang dan bangga karena itu berarti sekolah telah mendapatkan kepercayaan penuh dari PT Pangansari Utama dalam hal mendidik anak-anak dari Timika tersebut. Betapa tidak, karena bahkan ada pula anak-anak dari Timika ini yang berhasil mengikuti ajang LKS tingkat Provinsi. Artinya, mereka rupanya juga memiliki kemampuan yang bahkan lebih baik jika terus diasah dan dididik dengan baik. Ia berharap program ini terus berlanjut di tahun-tahun kemudian.

Sebenarnya, program dari PT Pangansari Utama ini telah dijalankan sejak lama. Mulanya, industri katering ini mengirimkan anak-anak dari Timika ini untuk bersekolah di Jawa. Namun bahkan hingga enam tahun berjalan, program ini dianggap tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Anak-anak masih tetap tidak memiliki kompetensi yang menjanjikan. Namun dengan dikirimkannya anak-anak tersebut ke Jayapura, setidaknya dapat mengurangi culture shock yang dialami anak-anak, dan SMK Negeri 1 Jayapura yang berbasis pariwisata diharapkan dapat memberikan bekal kompetensi dan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan supaya anak-anak ini dapat langsung bekerja di bidang tata boga atau perhotelan setelah mereka lulus.

Komitmen SMK Negeri 1 Jayapura dalam mendidik generasi bangsa terutama yang berasal dari daerah sulit dijangkau ini memang patut diacungi jempol. Awal tahun 2016 lalu, sekolah juga pernah bekerjasama dengan tiga kementerian dengan mengadakan program pelatihan akomodasi perhotelan untuk para 25 calon tenaga dari New Papua Nuginie (PNG), Timor Leste, dan daerah perbatasan Papua dan PNG. “Di sini mereka dilatih selama satu minggu, mereka menginap di Edotel Tefa. Untuk memperlancar kegiatan, kami juga menyediakan penerjemah bahasa PNG, yakni anak kami dari jurusan UPW,” kata Elisabeth.  

Di akhir kegiatan, para peserta pelatihan ini diajak untuk menikmati indahnya pariwisata Jayapura didampingi oleh para siswa dari jurusan UPW sebagai tour guide mereka. Kegiatan ini juga diliput oleh para wartawan dari tujuh negara, antara lain dari Solomon Island, beberapa negara dari Afrika, Papua Nugini, Timor Leste, dan lain-lain. Mereka juga sempat menawarkan kerjasama untuk pelatihan di masa yang akan datang.

Jennifer Sudumeru, siswa kelas XII Jurusan UPW mengaku merasa sangat senang dengan adanya acara atau kegiatan semacam ini, terlebih ia pun turut dilibatkan demi menyukseskan kegiatan ini. Jennifer adalah salah seorang penerjemah untuk bahasa Papua Nuginie. Ia dapat menguasai bahasa PNG dengan baik karena sebelumnya ia dan keluarganya pernah tinggal di Papua Nuginie. “Bahasa PNG itu hampir sama dengan bahasa Inggris. Hanya untuk sistem penulisannya, cara menulisnya sama dengan cara pengucapannya. Misalnya, welcome dalam bahasa Inggris, welkam dalam bahasa PNG,” kata Jennifer menerangkan.

Setelah tamat dari SMK, Jennifer ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Namun kedua orangtuanya berharap ia dapat bekerja terlebih dahulu setelah lulus nanti.

Di Papua, terutama para putra daerah memang masih memiliki kecenderungan untuk memilih melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah ketimbang bekerja. Bagi mereka, pekerjaan dan karier paling ideal adalah menjadi pegawai negeri. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Papua telah membuat berbagai kebijakan untuk merevitalisasi SMK, misalnya dengan pendidikan gratis untuk para putera-puteri daerah.


Di Provinsi Papua sendiri ada 117 SMK, baik negeri maupun swasta, seperti yang disampaikan oleh Drs. Muhammad Yusuf, MM., Kepada Bidang PLS Dinas Pendidikan Provinsi Papua yang juga adalah mantan Kepala Bidang SMK pada periode sebelumnya. Berbicara mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Elias Wonda, S.Pd., ia mengatakan bahwa pendidikan menengah kejuruan ini merupakan jenjang pendidikan yang paling strategis karena SMK bak memiliki tiga mata pisau, yakni dimana lulusan kejuruan itu bisa menjadi pekerja, bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi, dan juga bisa membuka lapangan kerja.

Namun demikian, menurut Yusuf, pendidikan kejuruan di Papua pun masih dihadapkan oleh tiga tantangan besar, antara lain masyarakat masih belum begitu peduli atau merasa memiliki SMK sebagai institusi profesional, sehingga keberlangsungan SMK masih sangat tergantung pada kepala dinas pendidikan maupun kepala sekolahnya. “Seharusnya SMK berkolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan, pihak industri, dan juga peran serta masyarakat,” tukasnya. Tantangan kedua adalah kurangnya sarana dan prasarana yang menyebabkan level skill para lulusannya menjadi kurang maksimal. Sedangkan tantangan ketiga adalah acapkali institusi pemerintahan belum menyadari peran strategis SMK sebagai institusi pencetak tenaga kerja, sehingga hal ini pun mempengaruhi keputusan atau kebijakan yang dibuat.

Sementara itu, SMK pun mengemban tugas berat, dimana SMK harus mempersiapkan lulusannya untukmenghadapi tiga kebutuhan pasar. Yang pertama, harus memenuhi kompetensi pasar kerja di tingkat lokal, yang kedua di tingkat nasional, dan yang ketiga di tingkat internasional. “Di daerah ini saja juga sudah banyak industri yang menggunakan standard nasional maupun internasional. Aturan kebijakan daerah telah mengatur sistem perekrutan pegawai, dimana mereka harus melibatkan tenaga lokal. Di sini lah peran SMK, yakni menyiapkan tenaga-tenaga kerja tersebut. SMK juga harus menjalin kerjasama dengan industri-industri tersebut supaya tahu persis kebutuhan seperti apa yang diinginkan,” terang Yusuf.

Oleh karena itu, Yusuf menekankan bahwa revitalisasi SMK sangat diperlukan untuk segera dilaksanakan. Terutama dalam memaksimalkan peran sekolah rujukan atau sekolah yang menjadi piloting project supaya dapat merangsang proses perkembangan sekolah-sekolah lainnya. Misalnya, untuk wilayah Jayapura, SMK Negeri 1 Jayapura merupakan salah satu SMK andalan yang telah menjadi sekolah rujukan di wilayah Jayapura. Bahkan menurut Yusuf, untuk bidang pariwisata, SMK Negeri 1 Jayapura dapat dikatakan terbaik di wilayah Indonesia bagian timur.

Hal ini pun disepakati oleh I Wayan Mudiyasa, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura. Ia menilai bahwa SMK Negeri 1 Jayapura patut menjadi sekolah rujukan yang perlu ditiru oleh SMK-SMK lainnya di Jayapura. “Dari sisi penampilan, SMKN 1 Jayapura dari hari ke hari semakin baik. Gedungnya megah, cara berpakaian guru-guru, staf, maupun siswanya menarik, manajemen pengelolaannya pun juga sangat rapi, dan dari sisi pelayanan juga sangat bagus dan dilakukan secara profesional. Sekolah ini pun selalu berbenah dan membuat inovasi-inovasi bagaimana sekolah selalu eksis, bagaimana mempertahankan jurusan-jurusan yang dimiliki agar tetap ada dan konsisten untuk masayrakat. Tak heran jika mereka kerap mendulang prestasi,” katanya.  

Dulunya adalah Sekolah Kepandaian Puteri
SMK Negeri 1 Jayapura berdiri pada tahun 1963 dengan nama Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) Negeri Jayapura. Saat itu, sekolah yang terletak di Jalan Nusa Tenggara, Dok V 14, Kota Jayapura, Papua ini membuka dua jurusan yaitu Jurusan Memasak dan Jurusan Menjahit, dengan tujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga pendidik untuk bidang kepandaian/ketrampilan wanita.

Pada tahun 1967, sekolah ini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga Tingkat Atas (SKKA) Negeri Jayapura yang berorientasi pada program-program kerumahtanggaan. Selain jurusan yang sudah ada, ditambah pula jurusan baru, yakni Jurusan Tata Laksana Rumah Tangga. Selanjutnya di tahun 1976, SKKA berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK) Negeri Jayapura.

Seiring dengan berkembangnya pendidikan kejuruan yang menyesuaikan kebutuhan dunia kerja yang sangat membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan handal dan profesional, maka di tahun 1992 SMKK berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Pariwisata (SMK Pariwisata) Negeri Jayapura serta mengalami perubahan nama pula pada ketiga jurusannya. Jurusan Memasak berganti nama menjadi jurusan Tata Boga, jurusan menjahit berganti nama menjadi jurusan Tata Busana, dan jurusan Tata Laksana Rumah Tangga berganti nama menjadi jurusan Tata Graha. Materi pembelajarannya pun lebih mengarah pada bidang kepariwisataan.

Pada tahun 1997, pemberian nama sekolah berubah, yaitu penomoran SMK ditetapkan berdasarkan tahun pendiriannya, sehingga pada tahun tersebut SMK Pariwisata Negeri Jayapura berganti nama menjadi SMK Negeri 1 Jayapura. Satu program keahlian baru yang dibuka pada tahun 1997 ini adalah program keahlian Tata Kecantikan. Tahun 2001, dalam program re-enginering menambah satu program keahlian yaitu program keahlian Usaha Perjalanan Wisata (UPW) dan di tahun 2006 menambah program keahlian Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).

Sayangnya, pada tahun 2014, program keahlian Tata Kecantikan ditiadakan untuk sementara waktu karena minimnya tenaga pengajar dan berkurangnya peminat. Sehingga saat ini, SMK Negeri 1 Jayapura memiliki lima program keahlian, yakni Tata Boga, Tata Busana, Akomodasi Perhotelan, Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Menurut Elisabeth, kepala SMKN 1 Jayapura, program keahlian yang memiliki animo atau minat masyarakat yang paling tinggi justru adalah Rekayasa Perangkat Lunak. “Saat ini bidang komputer seolah menjadi primadona karena lekat dengan modernisasi. Padahal sudah kami sosialisasikan bahwa semua jurusan juga menggunakan IT,” kata Elisabeth.

Tahun ajaran 2015/2016, jumlah total siswa sebanyak 518 anak, sedangkan jumlah siswa baru saja mencapai 190 anak. Tiap-tiap kelas biasanya memiliki 2 rombongan belajar, sehingga totalnya ada sekitar 22 rombongan belajar. SMK Negeri 1 Jayapura merupakan sekolah berbasis pariwisata yang sudah cukup modern dan telah menggunakan IT, termasuk dalam pelaksanaan UNBK maupun tes ulangan umum.

Fasilitas sarana dan prasarana di SMK yang memiliki luas 4.850 m2 ini sudah cukup memadai, termasuk laboratorium praktek siswa. Hanya saja, untuk praktek siswa, sekolah menggunakan sistem blok, dimana siswa per kelas bergantian dalam penggunaan laboratorium praktek melalui jadwal yang sudah ditentukan. Untuk program keahlian Akomodasi Perhotelan, sekolah juga memiliki sebuah edotel bernama Yotefa Hotel, yang memiliki 14 kamar, mulai dari kelas standard, deluxe, hingga suit. Hotel ini selain digunakan sebagai tempat praktek siswa jurusan Akomodasi Perhotelan, juga menjadi lahan bisnis bagi SMK Negeri 1 Jayapura untuk tamu-tamu dari umum. Dulunya, edotel ini memiliki spot view yang cukup indah karena berhadapan dengan pantai maupun laut. Namun kemudian pembangunan beberapa bangunan di depan hotel menghalangi pemandangan, sehingga sekarang pemandangan lautan sedikit terhalang oleh atap-atap beberapa bangunan. Meski demikian, hotel ini termasuk cukup ramai, terutama jika terdapat event atau pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan di Jayapura. SMK Negeri 1 Jayapura sendiri pun kerap mendapat order dari penyewaan aula sekolah untuk kegiatan-kegiatan pelatihan, workshop, hingga acara pernikahan. Dengan demikian, sekolah pun mendapat pemasukan yang membantu meringankan biaya operasional sekolah.

Guru harus Aktif dan Kreatif
Jumlah total guru yang mengajar di SMK Negeri 1 Jayapura sebanyak 48 orang, yang sebagian besar telah berstatus pegawai negeri sipil. Yang unik dari SMK Negeri 1 Jayapura, sebagian besar guru yang mengajar di sini adalah para alumni dari SMK Negeri 1 Jayapura, bahkan termasuk Elisabeth Paksoal. Sebagai kepala sekolah, ia pun menghimbau para tenaga pendidik di SMK Negeri 1 Jayapura selalu meningkatkan kompetensinya dan berupaya untuk selalu seiring dengan perkembangan dunia industri.

Untuk memantau perkembangan dan kinerja para guru, sekolah pun selalu mengadakan evaluasi di akhir semester. Sedangkan pada awal semester, sekolah mengadakan In House Training untuk para guru maupun tenaga kependidikan. Kegiatan In House Training ini biasanya diselenggarakan selama satu minggu. Kegiatan ini membahas tentang pembuatan perencanaan program kerja sekolah selama satu semester ke depan, strategi-strategi mengajar yang perlu dilakukan para guru, maupun strategi sekolah dalam meningkatkan eksistensi baik di masyarakat maupun di dunia industri.

Rafael F.F. Piter, S.Pd., guru bahasa Inggris yang juga adalah guru di Jurusan UPW mengatakan bahwa ia pun memiliki strategi dan kiat-kiat tersendiri dalam mengajar maupun mendekati siswa-siswanya. Rafael, demikian ia akrab disapa, menegaskan bahwa mengajar anak-anak Papua itu berbeda dengan mengajar anak-anak dari daerah lain, misalnya Jawa. “Sebagian besar anak-anak di sini berlatar belakang lingkungan nelayan atau pedagang di pasar, dimana kehidupan mereka cukup keras. Oleh karena itu, kita tidak bisa menerapkan cara yang lemah lembut saat mengajar mereka, karena mereka tidak akan memperhatikan atau mengindahkan kita,” jelasnya.

Dalam mengajar, Rafael juga memiliki cara khusus yang menurutnya cukup ampuh dan terbukti lebih banyak berhasil. “Biasanya anak-anak lebih mudah menyenangi guru daripada pelajarannya. Oleh karena itu, saya berusaha terlebih dulu menjadi sosok guru yang disenangi murid-murid saya. Saya berusaha untuk bisa akrab dengan anak-anak, menempatkan diri sebagai teman bagi mereka. Saya juga tidak selalu membuat situasi kelas tegang, oleh karena itu saya sering menyelipkan joke atau games dalam pembelajaran, sehingga kelas jadi tidak membosankan. Sebagai guru yang juga mengajar bahasa Inggris, saya tetap menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar supaya pesan saya sampai dan dimengerti oleh anak-anak,” terang Rafael.

Sebagai guru untuk jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Rafael menilai bahwa kesiapan para siswa untuk terjun di bidang kerja yang berkaitan dengan UPW sudah cukup bagus karena sekolah pun menyediakan fasilitas yang memadai dalam belajar. Dalam kegiatan prakerin siswa pun para siswa jurusan UPW banyak ditempatkan di bandara penerbangan Jayapura, kantor maskapai penerbangan, maupun kantor-kantor perusahaan travel agent.

Untuk materi tour guide, menurut Rafael sebenarnya kemampuan para siswa dapat diasah dengan baik karena wilayah Jayapura memiliki banyak potensi wisata yang cukup menarik. Misalnya keindahan Danau Sentani, Tugu Mac Arthur, Museum Loka Budaya, Pantai Hamadi, Pantai Harlem bagi para pecinta snorkeling, Desa Skouw, yang merupakan desa perbatasan negara dengan New Papua Nuginie, hingga Pulau Aksai yang banyak menawarkan kerajinan lukisan khas Papua di atas lembaran kulit kayu. Sayangnya, sebagian besar tempat rekreasi di Jayapura juga dikelola oleh masyarakat adat yang menyebabkan banyaknya pungutan atau retribusi di sana-sini, yang tentunya hal ini sedikit memberatkan para siswa. Di samping itu, sekolah pun masih belum memiliki sarana bus, sehingga sekolah perlu menyewa bus tiap kali berkegiatan. Menurut Rafael, kelengkapan sarana bus ini sangat diperlukan pula untuk menunjang proses pembelajaran.

Nanda Fajar Isnaeny, siswi kelas XII Jurusan UPW mengatakan bahwa sejauh ini ia sama sekali tak menemui kendala berarti dalam pembelajaran. Untuk menunjang kompetensinya, Nanda pun diajarkan bahasa Inggris maupun bahasa Jepang di sekolah. Ia ingin suatu saat dapat menjadi seorang tour guide. Berkisah tentang pengalamannya selama prakerin, Nanda mendapat kesempatan untuk melaksanakan kegiatan prakerin di Kantor Maskapai Garuda Indonesia di Jayapura. “Selama prakerin saya ditugaskan sebagai operator telepon, juga melayani reservasi. Yang susah adalah saat pertama kali saya masuk, karena harus berhadapan dengan rumus-rumus, karena pemesanan tiket di maskapai Garuda Indonesia harus menggunakan sistem Abacus, sedangkan kami belum belajar terlalu banyak tentang itu di sekolah. Tapi kami diajari perlahan-lahan di sana sampai bisa,” ungkapnya.

Nanda juga termasuk dalam tim siswa yang mewakili SMK Negeri 1 Jayapura dalam lomba LKS hingga tingkat Nasional tahun 2015 untuk kategori Usaha Perjalanan Wisata dan berhasil meraih Juara Harapan II Tingkat Nasional. Prestasi ini benar-benar sebuah pencapaian yang sangat membanggakan bagi sekolah, dan terutama bagi Nanda. “Saya merasa senang sekali karena dapat berkompetisi dengan daerah lain, dan saya juga merasa sangat bangga dapat mewakili Papua di ajang Nasional,” katanya lagi. 

Lain dengan jurusan UPW, lain pula dengan jurusan Akomodasi Perhotelan di SMK Negeri 1 Jayapura. Program keahlian ini merupakan salah satu program keahlian yang cukup difavoritkan selain program keahlian RPL. Ada empat guru produktif di program keahlian ini, termasuk salah satunya adalah Danang Setiawan, SE. yang telah mengabdi di SMK Negeri 1 Jayapura sejak tahun 2004.

Selain memperbanyak praktek dengan fasilitas yang telah disediakan sekolah maupun di edotel sekolah, Danang juga mengajak para siswanya untuk turut berperan serta dalam kegiatan yang dikelola event organizer. Dalam hal ini, sekolah telah menjalin kerjasama dengan seluruh industri katering di Jayapura, sehingga tiap kali diadakan berbagai event, para siswa-siswi SMK Negeri 1 Jayapura pun diberi kesempatan untuk berpartisipasi.

“Kegiatan ini melibatkan siswa-siswi dari berbagai jurusan, tergantung kebutuhan event organizernya. Di sini, anak-anak jadi punya kesempatan untuk langsung praktek di lapangan, mulai dari event pernikahan hingga pemerintahan. Anak-anak juga merasa sangat senang dan bersemangat karena acapkali mereka pun mendapat uang saku tambahan,” katanya.

Peluang-peluang seperti ini merupakan salah satu hasil dari upaya sekolah dalam membina hubungan dengan dunia industri, karena bagaimanapun kesuksesan program SMK pun tak bisa lepas dari keharmonisan hubungan sekolah dengan pihak dunia usaha/industri (du/di). Bahkan jika sekolah berhasil membina hubungan baik dan bersinergi dengan pihak du/di, maka lulusan SMK pun akan menjadi tenaga terampil yang siap pakai di dunia industri.

Saling Bantu dengan Pihak Du/di
Sejauh ini, SMK Negeri 1 Jayapura pun memiliki kiat dan strategi tersendiri dalam menjaring du/di maupun membina hubungan supaya senantiasa harmonis dan saling menguntungkan. “Kami selalu berkomunikasi dengan baik dengan pihak industri. Kami saling mengetahui apa kebutuhan masing-masing. Pihak du/di pun perlu diberitahu mengenai program-program sekolah dan apa yang ingin kami capai sesuai visi misi sekolah. Dengan adanya transparansi tersebut, mereka tidak ragu untuk menjalin kerjasama dengan kami. Kami identifikasi apa yang mereka butuhkan, dan kami pun siap memberikan bantuan kepada mereka jika mereka butuh bantuan. Dengan begitu, kami mempererat kerjasama dengan mereka,” tutur Elisabeth.

“Selain itu, kami juga secara rutin mengundang du/di ke sekolah untuk melihat fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah dan berdiskusi tentang kompetensi apa sajakah yang ingin dicapai oleh para siswa. Itu biasanya sekitar 4 bulan sekali,” tambahnya lagi.

Sejauh ini, menurut Elisabeth, ada sekitar 60 pihak du/di yang telah bekerja sama dengan SMK Negeri 1 Jayapura. Bentuk kerjasama yang disepakati antara lain penempatan siswa prakerin, pengadaan guru tamu, maupun kesempatan guru magang di industri. “Ada sekitar 10 du/di untuk Jurusan Akomodasi Perhotelan dan Tata Boga, 16 du/di untuk jurusan UPW, 5 du/di untuk jurusan Tata Busana, serta 21 du/di untuk jurusan RPL. Biasanya, kontrak kesepakatan MoU tersebut berlaku hingga 5 tahun, yang kemudian dapat diperpanjang,” terang Elisabeth.

Untuk jurusan RPL, tempat prakerin yang biasa digunakan siswa adalah di kantor-kantor instansi pemerintahan maupun di perusahaan swasta. “Tapi kadang kami agak kesulitan menyakinkan birokrasi pemerintahan daerah karena mereka mengira bahwa siswa jurusan RPL ini pasti membuat desain program, dan sebagainya. Padahal mereka juga bisa membantu dalam membuat laporan, dan sebagainya. Namun adapula instansi pemerintahan yang sangat puas dengan kinerja anak-anak, dan bahkan hingga anak-anak sering diajak serta dalam menghadiri beberapa kegiatan untuk menyiapkan laporan atau presentasinya,” jelas Elisabeth.  

Sedangkan untuk jurusan Akomodasi Perhotelan maupun jurusan Tata Boga, sejauh ini sekolah telah bekerjasama dengan dunia industri perhotelan yang ada di Jayapura, terutama hotel-hotel bintang 3 maupun bintang 4 di Jayapura, seperti Sahid Hotel, Sheraton Hotel, Yasmine Hotel, Aston Hotel, dan lain sebagainya. Dalam dasawarsa ini, pertumbuhan hotel di Jayapura meningkat pesat karena pertumbuhan dan perkembangan kota Jayapura yang juga semakin maju, terutama sebagai pusat bisnis maupun pemerintahan.

Kegiatan prakerin di SMK Negeri 1 Jayapura dilaksanakan saat siswa menginjak bangku kelas XI. Tempat prakerin ditentukan oleh guru pembimbing berdasarkan pada berbagai pertimbangan. Kegiatan prakerin tersebut dilaksanakan selama tiga bulan penuh.

Salah satu industri yang bekerjasama dengan SMK Negeri 1 Jayapura dalam hal penempatan siswa prakerin adalan Swiss-Belhotel Papua, Jayapura. Yohannes Makatita, General Manager Swiss-Belhotel Papua, Jayapura mengaku merasa puas dengan kinerja para siswa SMK Negeri 1 Jayapura yang melaksanakan prakerin di Swiss-Belhotel Papua, Jayapura. Kerjasama ini telah dijalin sejak tahun 2012 dan semakin langgeng hingga sekarang.

“Kami juga selalu memastikan bahwa anak-anak ini memperoleh ilmu dan pengalaman yang cukup selama mereka magang di sini. Kami juga biasanya mengadakan kelas untuk mereka, juga ada pembimbingan secara tatap muka dengan kepala departemen yang bersangkutan,” terang Yohannes. Dalam setiap satu periode kegiatan prakerin, biasanya terdapat 10-12 siswa SMK Negeri 1 Jayapura yang magang di Swiss-Belhotel Papua, dan tersebar dalam beberapa departemen, sesuai dengan kompetensi siswa. Selama magang prakerin, siswa diharapkan dapat mengikuti segala aturan yang berlaku di hotel karena mereka pun diperlakukan sama selayaknya para karyawan lainnya.

Di samping itu, hotel pun kerap memanfaatkan para siswa SMK Negeri 1 Jayapura dalam event-event hotel melalui kerja kasual. Ketika hotel membutuhkan tenaga kerja secara insidental, maka hotel akan langsung menghubungi pihak SMK Negeri 1 Jayapura untuk meminta sejumlah tenaga kerja. Bagi pihak hotel, kerjasama demikian sangat menguntungkan karena hotel tidak perlu merekrut karyawan baru ataupun mentraining tenaga kerja terlebih dahulu karena siswa SMK telah memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Sedangkan para siswa pun merasa diuntungkan karena selain mendapatkan pengalaman kerja melalui praktek langsung, mereka pun bisa mendapatkan tambahan uang saku.

Salah satu keunggulan siswa maupun lulusan SMK Negeri 1 Jayapura yang cukup menonjol di antara yang lainnya menurut Yohannes adalah attitude atau perilaku siswanya yang sangat baik, di samping kompetensinya yang juga memadai. Dalam hal perekrutan pegawai, attitude atau perilaku adalah poin yang menjadi pertimbangan paling utama bagi perusahaan untuk menerima atau menolak calon pegawai. “Mental dan attitude para siswa maupun lulusan SMK Negeri 1 Jayapura sudah tak perlu diragukan lagi, makanya SMK Negeri 1 Jayapura pun menjadi pemasok utama tenaga kerja di tempat kami,” kata Yohannes.

Sejauh ini, telah banyak lulusan SMK Negeri 1 Jayapura yang menjadi karyawan tetap di hotel bintang empat yang dibangun di Jayapura sejak tahun 2006 ini. Ismail Tampubolon adalah salah satunya, yang kini menjadi Kepala Departemen Kitchen di Swis-Belhotel Papua Jayapura. Alumni tahun 1999 jurusan Tata Boga ini merasa sangat berterima kasih kepada SMK Negeri 1 Jayapura yang telah mendidik dan membimbingnya hingga ia dapat meraih pencapaian seperti yang ia dapatkan saat ini, karena apa yang dicapainya pun sangat sesuai dengan minat atau passion-nya.

Kini, sebagai profesional yang bekerja di industri hotel, ia pun berkesempatan untuk membimbing adik-adik kelasnya melalui kegiatan prakerin di Swiss-Belhotel Papua Jayapura. Hanya saja, ia pun melihat beberapa kekurangan yang biasanya dialami oleh siswa-siswa prakerin. “Biasanya anak-anak SMK ini masih malu dalam bertanya, padahal staff di kitchen itu sibuknya luar biasa. Kalau mereka tidak bertanya, mereka tidak akan pernah tahu,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya bidang kitchen atau tata boga itu masih sangat menjanjikan dan merupakan peluang besar bagi siswa-siswa SMK Jurusan Tata Boga. “Hanya saja, hingga saat ini masih melekat stigma bahwa jurusan Tata Boga ini hanya untuk perempuan. Padahal justru sebenarnya dalam Tata Boga, laki-laki juga mendapat peluang yang sama, terlebih karena pekerjaan di kitchen ini juga dapat dikatakan sebagai pekerjaan berat,” terang Ismail.

Karena para siswa dari SMK Negeri 1 Jayapura dianggap lebih unggul dan lebih siap, pihak Swiss-Belhotel Papua Jayapura pun kerap menawarkan peluang kerja pada para siswa usai mereka melaksanakan kegiatan prakerin. “Saat mereka prakerin, kami juga sudah melakukan pemetaan dan membuat data base siapa-siapa saja siswa yang kinerja dan penampilannya bagus. Setelah prakerin, kami akan tawari mereka untuk bekerja di sini saat mereka lulus nanti,” kata Yohannes. Bagi industri, pertimbangan utama dalam merekrut karyawan adalah pengalaman kerja, performa kinerja, maupun attitude. Nilai sekolah tak menjadi patokan utama siswa dapat diterima atau tidak.

Seperti halnya Hamzanudin, siswa kelas XII jurusan Akomodasi Perhotelan, ia mengaku mendapat tawaran kerja dari Hotel Horison, Jayapura sehingga ia dapat langsung bekerja setelah lulus nanti. Awalnya, Hamzanudin mendapat kesempatan untuk melaksanakan kegiatan prakerin di Hotel Horizon ketika ia masih duduk di bangku kelas XI tahun lalu. “Saya merasa beruntung mendapatkan Hotel Horison sebagai tempat prakerin saya karena letaknya tak jauh dari rumah, tinggal berjalan kaki saja. Rencananya setelah lulus nanti saya akan langsung bekerja di sana,” katanya.

Kesiapan para siswa maupun lulusan SMK Negeri 1 Jayapura juga diamini oleh Salim, MM., pihak dunia industri yang merupakan sekretaris PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan juga pernah menjadi ketua komite sekolah pada periode sebelumnya. Menurut Salim, SMK Negeri 1 Jayapura merupakan pensuplai utama tenaga kerja untuk hotel maupun restoran di wilayah Jayapura. Sejauh ini, tenaga kerja yang disiapkan oleh SMK Negeri 1 Jayapura bahkan masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah permintaan tenaga kerja. Oleh karena itu, hal ini seharusnya menjadi tantangan bagi SMK Negeri 1 Jayapura untuk menjadi lembaga pencetak tenaga kerja yang dipercaya masyarakat. “Untuk industri-industri di sini, terutama di perhotelan, untuk sudah dari SMKN 1 Jayapura tidak perlu banyak tanya lagi, mereka pasti diterima,”katanya.

Salim pun didapuk sebagai asesor dalam uji kompetensi siswa di SMK Negeri 1 Jayapura. Mewakili pihak industri, ia berharap SMK Negeri 1 Jayapura terus meningkatkan performanya dan selalu jeli melihat celah dan peluang dalam berbagai kesempatan, terutama dalam kerjasama dengan para stakeholder.

Sebagai sekolah rujukan yang juga telah dipercaya sebagai sekolah menengah kejuruan berbasis pariwisata terbaik di Provinsi Papua, SMK Negeri 1 Jayapura senantiasa meningkatkan dan mengembangkan diri untuk terus menjadi sekolah yang menginspirasi dan melahirkan tenaga kerja kompeten yang siap mengabdi untuk kemajuan banga dan negara. ***



Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMK Perikanan dan Kelautan Puger : Siapkan Pelaut Kelas Dunia Berkarakter


Terletak di bagian selatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kecamatan Puger telah dikenal sebagai pusatnya hasil laut, dimana banyak kapal nelayan ikan berlabuh dan menurunkan ikan yang telah dijaringnya. Sebagai ikon pusat perikanan dan pelautan di Kabupaten Jember, semakin lengkaplah dengan keberadaan SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Dengan adanya  SMK Perikanan dan Kelautan Puger yang menyiapkan sumber daya manusia berkompeten di bidang perikanan dan kelautan, diharapkan potensi perikanan dan kelautan di Indonesia dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para anak bangsa.

SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah sebuah lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darsul Bihar pada tahun 2000. Saat ini, sekolah yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani 36 Puger Kulon ini dipimpin oleh Drs. Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin, M.Si., yang juga menjadi tim inisiator pendirian SMK Perikanan dan Kelautan Puger.

Saat pertama kali dibuka, sekolah masih memiliki dua kompetensi keahlian, yakni Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI) dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (TPHP). Kini, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah memiliki lima kompetensi keahlian, yakni ditambah dengan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI), Agribisnis Perikanan, dan yang baru dibuka pada tahun 2016 adalah Desain Perkapalan. Harapannya, SMK Perikanan dan Kelautan Puger dapat menjadi andalan sebagai lembaga yang mencetak generasi kompeten demi menyongsong ketahanan pangan di Indonesia.


Tahun 2012, SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga membuka Program Pendidikan Vokasi Berkelanjutan (PVB) Diploma 1 (D1) untuk program keahlian TPHP, bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember. SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga telah memperoleh pengakuan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 dengan Sertifikat No. 496720 QM08, Tanggal 31 Mei 2012 dari DQS. Bahkan sejak tahun 2015, sekolah ini telah didaulat menjadi SMK Rujukan di bidang kemaritiman.

Pola pendidikan yang diterapkan di SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah menjunjung tinggi kedisiplinan. “Di sini kita tegakkan sikap disiplin, jujur, tanggung jawab, korps, semangat kebersamaan, dan kepedulian sebagai pondasi utama dan pertama untuk mengubah hidup anak-anak, baru keahlian dan kompetensi lainnya. Jika sikap dan karakter telah terbentuk, maka akan mudah mendidik kompetensinya. Dan Alhamdulillah, dari sisi kompetensi, anak-anak sudah mendapat pengakuan dari dalam hingga luar negeri,” tegas Kuntjoro.

Lantik Taruna dengan Mandi Kembang
Menurut Kuntjoro, hampir semua calon taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger mendapat dukungan dari orangtua mereka. Menempuh pendidikan di SMK berbasis maritim tak seperti sekolah lainnya, diperlukan kesungguhan dan kesiapan yang luar biasa karena para taruna akan menghadapi dunia yang jauh berbeda dari yang biasa ia temui sebelumnya. Sejak awal, para calon taruna diperkenalkan dengan pendidikan kedisiplinan demi mengasah rasa cinta pada tanah air. Ini sudah menjadi kegiatan wajib bagi semua calon Taruna dan Taruni SMK perikanan dan kelautan puger setiap tahun ajaran baru. Sebelum dilantik menjadi taruna, mereka akan mengikuti kegiatan untuk memberikan dasar kedisiplinan dan aturan yang berlaku di SMK Perikanan Kelautan Puger. Kegiatan itu dinamakan LDDK (Latihan Dasar Disiplin Korps), yang juga menjadi ciri khas dari SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter bagi calon taruna yang akan mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga mereka bisa mengikuti semua aturan yang diterapkan dan menjadi taruna yang berakhlak, tangguh, cakap serta menjadi pribadi yang bisa membanggakan orang tua dan berguna bagi bangsa dan negara.

Kegiatan LDDK setiap tahun diadakan kurang lebih selama 6 hari sebelum calon taruna mengikuti kegiatan belajar mengajar. Setiap kegiatan LDDK akan dilatih dan diawasi secara langsung oleh bagian staf batalyon taruna yang merupakan taruna taruni pilihan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, aparat TNI dari Koramil Puger, dan beberapa pendamping dari pihak guru.

Meski demikian, LDDK bukan sarana perploncoan bagi para taruna baru. Pada setiap LDDK terdapat beberapa kegiatan diantaranya pemberian materi ESQ (Emotional Spiritual Quotient) yang bertujuan untuk memberikan konsep dasar dan pengalaman spiritual yang gabungan antara pengendalian kecerdasan emosi dan spiritual. Selain ESQ, mereka juga diberikan materi wawasan kebangsaan dan PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang dilatih langsung oleh TNI AD. Dengan diberikannya materi PBB tersebut, diharapkan mereka bisa berdisiplin baik dalam setiap kesehariannya  di sekolah dan pada saat berada di rumahnya, ataupun pada setiap kegiatan yang membutuhkan keilmuan dalam baris berbaris seperti kegiatan gerak jalan dan penyambutan tamu dari kedinasan dan lainya.

Setelah menjalani kegiatan LDDK, seluruh calon taruna baru berhak dilantik menjadi taruna baru melalui upacara pelantikan yang juga menjadi ciri khas di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Kegiatan pelantikan ini selalu menjadi ajang yang penuh khidmat sekaligus membanggakan, dimana kegiatan ini biasanya dihadiri oleh berbagai pihak,baik pejabat terkait,tokoh masyarakat, maupun seluruh keluarga para taruna baru.  Dala pelantikan tersebut, terdapat pula ritual yang unik, yakni menyiram air bunga kepada calon taruna baru. Penyiraman air bunga ini berasal dari tiga sumber mata air yaitu air zamzam, air laut, dan air tawar serta tujuh jenis bunga. Ketiga sumber mata air tersebut memang dimaksudkan agar anak-anak kelak menjadi taruna yang beragama dan berbudi luhur, selalu mencintai laut serta senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu. 

Ada rasa bangga yang begitu besar dirasakan para taruna yang baru dilantik tersebut. Memakai seragam yang gagah, juga berbagai tanda kebesaran membuat mereka benar-benar bangga. Namun demikian, tanda-tanda yang tersemat dalam seragam mereka bukanlah tanpa arti. Sekolah memiliki aturan tersendiri dalam memberikan tanda kebesaran, yakni melalui proses yang tidak mudah, namun harus dilalui oleh para taruna. “Misalnya, untuk mendapatkan tanda wing, mereka harus menempuh perjalanan minimal 100 km, yang dapat dilakukan secara bertahap. Kami melatih mental dan fisik taruna supaya mereka kuat. Awalnya tampak berat. Namun setelah kami latih dengan baik, mereka justru merasakan bahwa tantangan tersebut sama sekali tidak berat,” kata Kuntjoro.

Firmansyah Septiawan, taruna kelas XI jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan mengaku merasa tak keberatan dengan tempaan fisik yang ia dapatkan di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. “Kami dipersiapkan untuk dapat bekerja di kapal. Sedangkan kalau kapal, ikan yang ditangkap ukurannya besar-besar, jadi harus punya mental dan fisik yang kuat,” ujarnya. Taruna yang bercita-cita menjadi nahkoda ini berencana ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi usai ia menamatkan pendidikannya di SMK Perikanan dan Kelautan Puger. “Setelah lulus, kami kan mendapat sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan (Ankapin) II, bisa bekerja di kapal yang berukuran sedang. Tapi untuk dapat bekerja di kapal besar, apalagi menjadi nahkoda, harus mendapatkan sertifikat Ankapin I. Untuk mendapatkan sertifikat ini, harus kuliah dulu.  Maka itu, saya ingin kuliah di akademi perikanan supaya mendapatkan sertifikat Ankapin I,” katanya.

Siapkan Taruna Siap Melaut
Bukan rahasia umum jika untuk bekerja di kapal pun membutuhkan persiapan mental, fisik, sekaligus biaya. Hal ini dikarenakan para calon tenaga kerja harus melengkapi diri terlebih dahulu dengan berbagai sertifikat IMO, baru mereka mendapat lisensi untuk bekerja di kapal. Namun SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah menyiapkan hal ini, sehingga para lulusannya benar-benar siap kerja dimanapun berada. “Lulus dari sini, anak-anak telah memiliki sertifikat BST, Buku Pelaut, sertifikat BNSP, logo garuda, sertifikat profesi keahlian pelaut perikanan dari direktorat perhubungan laut. Belum lagi sertifikat pengalaman di luar,” kata Kuntjoro.

Sejak kelas X, para taruna juga telah dibiasakan untuk mengenal  laut, dengan praktek di kapal selama tiga minggu pelayaran. “Yang penting anak tidak mabuk dan senang berlayar terlebih dahulu. Ini modal dasar untuk kesiapan fisik,” jelas Kuntjoro.

Arif Sugiarto, S.Pd., guru jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan mengatakan bahwa sekolah memiliki program Pertahanan Laut untuk mengenalkan dunia kelautan kepada para taruna kelas XI yang telah menginjak semester genap, yang dijalankan selama kurun waktu kurang lebih satu bulan. “Dalam program ini, para taruna diperkenalkan dengan kehidupan alam di atas kapal. Selesai menjalankan Program Pertahanan Laut, para taruna kemudian mengikuti diklat atau atau pelatihan Sertifikat Keterampilan Laut di Politeknik Surabaya selama enam hari,” ujarnya.

Sekolah pun membiasakan budaya apel pagi dan apel siang, dimana selain pengibaran bendera merah putih, para taruna juga akan mendapat motivasi. Para motivator bisa dari kepala sekolah atau para guru. Bagaimanapun, motivasi adalah modal terpenting untuk terus melecutkan semangat menjadi tenaga kelautan yang berkompeten dan sepenuh hati.

Namun demikian, kesuksesan pembelajaran pun juga tergantung dari fasilitas sarana dan prasarana sekolah. Oleh karena itu, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah melengkapi diri dengan berbagai fasilitas yang terstandard. Sekolah dengan luas kurang lebih 7140 m2 ini telah memiliki fasilitas yang memadai dan telah diverifikasi oleh Direktorat Perhubungan Laut. “Tiap tiga tahun sekali kami selalu update,” kata Kuntjoro. Tak hanya bangunan lokal kelas maupun bengkel praktek, sekolah juga memiliki kolam renang, bahkan juga sebuah asrama bagi para taruna, terutama yang berasal dari daerah yang cukup jauh dari sekolah.

Sistem pembelajaran di SMK Perikanan dan Kelautan Puger pun diterapkan secara fleksibel dan tidak kaku. Para taruna diharapkan memiliki kompetensi dan potensi untuk menjadi multitalenta. Pembelajaran, misalnya praktek di bengkel, acapkali tak cukup hanya ketika jam sekolah, namun juga dapat menggunakan waktu-waktu di luar jam sekolah. Sekolah benar-benar memastikan para taruna  menguasai dan memiliki kompetensi yang diinginkan oleh pasar industri.

Mendidik Taruna Santri
Satu keunikan lain dari SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah sistem pendidikan yang juga menerapkan pola pendidikan pondok pesantren bagi para tarunanya. Saat ini, tak semua taruna tinggal di asrama atau pondok pesantren dikarenakan keterbatasan fasilitas. Ada sekitar 120 taruna yang tinggal di asrama atau pondok pesantren. Namun demikian, sebenarnya hampir 80 persen taruna memiliki minat untuk mondok di sekolah.

“Yang mondok di sini hanyalah taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Pagi pukul 07.00 – 13.45 wib mereka sekolah, sore dan malam hari belajar agama. Kami telah menyiapkan guru ngaji tersendiri, yang khusus berlatar belakang kiai. Sedangkan yang memantau adalah guru yang bertugas,” jelas Kuntjoro. Ke depan, sekolah berharap bahwa seiring terlengkapinya fasilitas, seluruh taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger tinggal di pondok pesantren tersebut.

Muhammad Lutfi Gojali, taruna kelas XI Jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan, adalah salah satu taruna yang tinggal di pondok pesantren, karena tempat tinggalnya jauh dari sekolah. “Ada enaknya tinggal di pondok, kalau berangkat sekolah tidak pernah terlambat. Orangtua juga diizinkan menjenguk tiap dua minggu sekali,” katanya.  “Selama saya mondok di sini kegiatan yang menarik bagi saya adalah ketika melakukan shalawat. Kami juga diajari berpidato menggunakan bahasa Arab,” katanya.

Peran Guru sebagai Pengasuh
Dalam hal tenaga pendidik, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki 37 guru tetap yang cukup berkompeten, bahkan sebagian besar telah menjadi asesor dalam uji kompetensi. Kuntjoro selalu memberi ruang dan kesempatan bagi para tenaga pendidik untuk senantiasa mengembangkan dan mengasah kompetensinya melalui berbagai jalan. Misalnya, para guru NKPI pernah mengikuti diklat dan seminar di P4TK hingga praktek di laut untuk menjadi mualim.

Guru pun diharapkan kreatif dan inovatif dalam pembelajaran supaya para taruna tak lekas bosan, dan yang terpenting dapat memahami dengan baik ilmu yang diberikan. Guru tak hanya memberikan teori dan praktek keilmuan, tapi juga sangat diharapkan dapat memotivasi, mendidik dan membimbing karakter para taruna melalui keteladanan dan inspirasi, seperti halnya yang dilakukan oleh Ernawati Cahya Handari, S.Pd., guru yang mengajar bidang studi Matematika. “Guru harus pandai menyikapi dan menerapkan metode ataupun trik dimana anak-anak dapat dengan mudah  mencerna materi-materi yang disampaikan, karena kami juga harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Selain itu, yang terpenting, dalam mengajar saya juga memasukkan nilai-nilai karakter, karena memang itulah yang menjadi visi misi sekolah,” tuturnya.

Untuk membuat para taruna senang pelajaran Matematika, Erna pun memiliki strategi tersendiri. Pertama, ia selalu memberikan pengertian pada para taruna mengapa Matematika seringkali menjadi momok, dan mengapa pelajaran Matematika sangat penting untuk dikuasai. “Saya sering paksa anak-anak untuk menghapalkan rumus-rumus Matematika karena jika mereka tidak hafal, mereka tidak akan bisa mengerjakan soal Matematika. Awalnya mereka memang tidak antusias, tetapi setelah diberi tahu manfaatnya, mereka terlihat lebih tertarik,” katanya lagi.

Soal aturan terhadap para pendidik, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki kebijakan yang cukup ketat dan harus dipatuhi para guru. Antara lain yaitu guru tidak diperbolehkan mengajar di tempat lain, melainkan hanya di SMK Perikanan dan Kelautan Puger saja. “Di sini, guru lebih berperan sebagai pengasuh bagi para taruna. Guru harus memiliki kedekatan terhadap para taruna, juga sekaligus memiliki akses untuk dapat menghubungi para wali murid dengan mudah. Guru juga dituntut untuk dapat menanamkan karakter dan figur yang inspiratif,” kata Kuntjoro.

Tampilkan Marching Band di Karnaval Kelas Dunia
Dalam hal pengembangan minat dan bakat, SMK Perikanan dan Kelautan Puger memiliki beragam pilihan kegiatan yang bisa dipilih oleh para taruna, yang biasanya dilakukan usai jam pembelajaran. Mulai dari kegiatan Marching Band, English Club, Japanese Club,Voli, Pencak Silat, Teater, Sepakbola, Hadrah, Taekwondo, dan lain sebagainya. Kelompok Marching Band SMK Perikanan dan Kelautan Puger bahkan kerap diundang untuk tampil di acara bergengsi Jember Fashion Festival, sebuah acara karnaval yang telah mendunia, dan juga berbagai acara lain seperti penyambutan kedatangan tamu, dan lain sebagainya. Kegiatan Pencak Silat juga memiliki banyak kesempatan tampil di berbagai event karena berhasil menyuguhkan berbagai atraksi menarik, misalnya memecahkan baja hanya dengan anggota tubuh.

Untuk pembelajaran bahasa asing, SMK Perikanan dan Kelautan Puger mengajarkan dua bahasa asing pada para taruna, antara lain bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan di dunia industri. Seiring dengan sekolah yang semakin giat mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak di kalangan dunia industri, sekolah telah berhasil menjalin kerjasama dengan Korea Selatan. Oleh karena itu, menurut Kuntjoro, tahun 2017 nanti para taruna akan mendapatkan pelajaran bahasa Korea. Buku-buku pedoman dan pembelajaran pun bahkan telah disiapkan oleh pihak Korea Selatan.

Jaring Du/di hingga Luar Negeri
Tak bisa dipungkiri, indikasi kesuksesan sebuah sekolah kejuruan antara lain seberapa luas sekolah tersebut mampu menjaring dan menjalin kerjasama dengan pihak-pihak dari dunia industri, karena jalinan kerjasama tersebut nantinya lah yang akan memuluskan perjalanan para lulusan untuk mendapat kemudahan dalam pekerjaan sesuai dengan kompetensinya. Demikian pula yang dilakukan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, sekolah ini telah membangun kerjasama dan kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah dan swasta serta perusahaan industri di bidang perikanan dan kelautan.

Instansi dan du/di tersebut antara lain Kementerian Kelautan Perikanan Republik Indonesia, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa Timur, Akademi Perikanan Sidoarjo, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Teknologi Surabaya, Politeknik Negeri Jember, PT Pudji Utami Jakarta (konsultan recruitment and training), PT Kusuma Bahari Jaya Sidoarjo, PT Harini Jakarta, Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya, Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BP3) Bangsring Banyuwangi, Unit LPPMHP Banyuwangi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Asosiasi Tuna Longline Indonesia, dan lain-lain.

Berkat adanya berbagai kerjasama tersebut, sekolah pun banyak mendapat kemudahan dan dukungan untuk pembangunan dan pengembangan pendidikan. Kemudahan tersebut antara lain terealisir dalam kegiatan prakerin para taruna, yang dilaksanakan saat menjelang kelas XII, dengan lama prakerin sekitar 4 – 6 bulan. “Untuk tempat prakerin, kami targetnya di kapal-kapal besar yang memiliki teknologi tinggi, biasanya paling banyak di Benoa, Bali,” jelas Kuntjoro. 

Kerjasama dengan pihak du/di pun memudahkan sekolah untuk menyalurkan para lulusannya ke dunia kerja. Dalam hal ini, SMK Perikanan dan Kelautan Puger telah menjalin kerjasama bahkan dengan berbagai pihak du/di di luar negeri. Dengan adanya kerjasama tersebut, hal ini memudahkan para taruna atau para lulusan juga dalam hal mengikuti seleksi penerimaan kerja. Biasanya, pihak du/di atau penyalur datang ke sekolah dan mengadakan seleksi bagi para taruna yang berminat. “Rekruitmen diadakan di sekolah, termasuk kapal pesiar, yang bekerja sama dengan Perusahaan Duta Persada, pun datang ke sini untuk menyeleksi para lulusan. Jadi, anak tidak perlu repot ke Jakarta,” kata Kuntjoro.

Menurut informasinya,  banyak lulusan SMK Perikanan dan Kelautan yang bekerja hingga ke luar negeri, dan mereka cukup senang mendapatkan kesempatan dan pengalaman ke luar negeri. Mereka pun sebagian besar bekerja sesuai dengan kompetensinya. “Anak-anak kami banyak direkrut oleh perusahaan dari Jepang, Korea, Taiwan, Australia, Eropa, dan sebagainya. Nilai jual anak-anak tak hanya pada kompetensinya, namun juga karakter, dimana banyak pihak du/di yang merasa puas dengan karakter dan kedisiplinan para lulusan sekolah ini,” kata Kuntjoro.

Umumnya, para lulusan tersebut menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun. Mereka akan memiliki pengalaman yang cukup serta gaji yang tinggi. Diharapkan setelah bekerja di luar negeri,mereka akan pulang ke tanah air dan membangun sendiri untuk menyejahterakan dan memajukan sektor kelautan di tanah air.

Perusahaan-perusahaan sektor perikanan dan kelautan di Jepang setiap tahun selalu mencari lulusan SMK di Indonesia. Mereka mengirimkan agen pencari kerja ke sekolah-sekolah menengah kejuruan khusus sektor tersebut. Itu pun kompetensinya diperhatikan betul. Sistem rekruitmen pun umumnya mengutamakan karakter pekerja daripada keilmuan semata. Sebagian besar adalah seleksi fisik, seperti mengangkat barbel, kemampuan membedakan warna, tes Matematika, serta wawancara untuk mengetahui minat siswa.

Tak hanya di bidang ketenagakerjaan, hasil kerjasama yang dijalin dengan berbagai pihak pun memberikan jalan alternatif lain bagi para lulusan, misalnya dengan adanya beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Beberapa kerjasama yang dijalin SMK Perikanan dan Kelautan Puger antara lain dengan Seamolec, yang memberi kesempatan bagi  lulusan SMK Perikanan dan Kelautan Puger untuk melanjutkan studi ke beberapa universitas di negara China melalui jalur beasiswa.

SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan Thailand untuk kegiatan tukar pelajar. Kegiatan ini telah dilaksanakan pertama kali dengan mengirimkan beberapa taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger selama kurang lebih tiga minggu ke sekolah vokasi yang ada di Thailand. “Dengan adanya program-program seperti ini, anak-anak menjadi sangat termotivasi, misalnya dengan belajar Bahasa Inggris supaya mereka lulus seleksi. Manfaatnya, kalaupun mereka tidak lulus seleksi, namun kompetensi bahasa mereka mendapatkan kemajuan yang pesat,” jelas Kuntjoro.

Unit Produksi dan Restoran
Sekolah menengah kejuruan umumnya memiliki unit produksi yang dapat menjadi ajang bagi para siswa, terutama untuk mengasah jiwa wirausaha. Demikian pula dengan SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Unit produksi yang paling menonjol terutama diupayakan oleh kompetensi keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian, dengan memproduksi hasil olahan ikan menjadi produk-produk pangan unggulan. Terdapat 19 produk yang menjadi andalan SMK Perikanan dan Kelautan Puger, antara lain Abon Sembunyi rasa original dan pedas yang sudahmemiliki izin Disperindag dan Badan POM, bakso ikan, kripik tulang ikan, Tahu bakso, mie ikan, dan masih banyak lagi. Yang ditonjolkan dari produk SMK Perikanan dan Kelautan adalah penggunaan bahan  dan material yang  aman dan menyehatkan.

Sejauh ini, pemasaran produk SMK Perikanan dan Kelautan Puger masih melayani segmen lokal dari masyarakat sekitar sekolah. Namun demikian, SMK Perikanan dan Kelautan Puger pun kerap mengikuti pameran ataupun ekspo untuk memperkenalkan produk-produknya. Saat menjelang lebaran, sekolah biasa menerima banyak pesanan, terutama untuk jenis kue kering. Para taruna pun sangat bersemangat karena mereka pun dapat menambah uang saku.

Sekolah juga kini telah mencoba mengembangkan unit produksi dengan membangun sebuah restoran, yang juga digunakan sebagai outlet produk SMK Perikanan dan Kelautan Puger. Restoran ini dikelola oleh guru, dibantu siswa hingga tenaga dari luar sekolah. Diharapkan restoran ini akan berkembang semakin besar dan memberikan pelayanan seperti layaknya restoran pada umumnya, seperti menyajikan makanan, terutama hasil laut.

Achmad Zunuroain Azis, S.Pi., guru jurusan THPI yang juga menjadi direktur Teaching Factory (TEFA) mengatakan bahwa unit produksi yang dikelola SMK Perikanan dan Kelautan Puger juga mendapat pendampingan dari pihak du/di, yakni dari PT. Istana Cipta Sembada (ICS), sebuah perusahaan pengolahan hasil kelautan yang berpusat di Sidoarjo. Selain pendampingan dalam unit produksi sekolah, perusahaan ini juga bekerja sama dalam hal menerima para taruna untuk melaksanakan prakerin. “Untuk prakerin di PT. ICS dilaksanakan selama empat bulan, yakni dua bulan di perusahaan, dan dua bulan sisanya di laboratoriumnya,” kata Zunuroain. Dengan magang di PT. ICS, para taruna mendapatkan ilmu dan pengalaman mengolah hasil laut menjadi komoditi dengan kualitas ekspor, karena jangkauan pasar PT. ICS tak hanya di wilayah dalam negeri, namun hingga ke pasar Eropa. Karena tingkat kerja yang tinggi, PT ICS bahkan kerap meminta para lulusan SMK Perikanan dan Kelautan Puger sebagai tenaga kerja.

Edy Sulistyo Cahyono, S.Pi., kepala Training Centre PT. ICS mengatakan bahwa alasan PT. ICS memberikan banyak peluang dan kesempatan kepada SMK Perikanan dan Kelautan Puger adalah adanya kecocokan, terlebih kecocokan karakter para taruna SMK Perikanan dan Kelautan Puger yang menurutnya sangat baik dan disiplin.

Tri Wahyuningsih, taruni kelas XII Jurusan TPHP adalah salah satu yang pernah melaksanakan prakerin di PT. ICS di cabang Banyuwangi. Ia mengaku mendapat banyak tambahan ilmu dan pengalaman baru semenjak magang di PT. ICS karena banyak hal-hal baru yang ditemuinya. “Di PT. ICS, kami mengolah udang untuk pasar ekspor, padahal di sekolah kami diajarkan untuk mengolah ikan tuna. Kami diajari mulai dari proses masuk, proses packing sampai ke proses persiapan ekspor,” ceritanya. Namun Tri merasa sangat antusias dan termotivasi, terlebih setelah lulus ia ingin mendapatkan pekerjaan di Jepang. Oleh karena itu, ilmu dan pengalaman yang ia dapat baik di sekolah maupun di tempat prakerin disadarinya sangat berguna bagi bekalnya dalam menembus pasar kerja internasional.

Bagi SMK Perikanan dan Kelautan Puger, pendidikan tak hanya menyiapkan para taruna untuk memiliki kompetensi di bidang perikanan dan kelautan, namun yang utama adalah memiliki bekal karakter yang kuat serta motivasi yang tinggi – karena bekal itulah yang dapat mengantarkan para lulusannya meraih kesuksesan, terutama dalam menembus dunia kerja. Ke depan, SMK Perikanan dan Kelautan Puger optimis dapat lebih aktif berperan serta memajukan Indonesia melalui sektor perikanan dan kelautan dengan menyediakan sumber daya manusia unggulan yang kompeten dan cinta tanah air. ***


Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMK Terbaik Indonesia (Kemendikbud)

SMA Negeri 1 Depok : Sistem CBT di Segala Ujian


Bagi Dra. Hj. R. Laksmi Gantini, M.Si., meraih penghargaan dari Pemerintah sebagai salah satu sekolah dengan Indeks Integritas Ujian Nasional terbaik nasional adalah sebuah kebanggaan yang patut disyukuri. Meski demikian, ia menyadari bahwa hasil capaian tersebut tak lepas dari kinerja semua pihak, terutama dewan guru, ekosistem sekolah, maupun para generasi pendahulu yang telah ikut andil merintis nama baik SMA Negeri 1 Depok. Terlebih, Laksmi baru sekitar dua tahun berada di SMAN 1 Depok. Segala prestasi yang diraih SMAN 1 Depok bukanlah semata prestasi yang sekonyong-konyong, melainkan telah dirintis dengan segenap kerja keras, keuletan, konsistensi, dan yang terpenting adalah integritas.

Bukan hal yang mudah untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan prestasi dan kualitas yang telah diraih dari tahun ke tahun. Namun SMA Negeri 1 Depok telah dan optimis terus mampu membuktikan diri sebagai sekolah yang selalu menjadi kepercayaan dan pilihan utama bagi masyarakat.

Kuota Tanpa Seleksi
Sekolah yang terletak di Jalan Nusantara Raya nomor 317, Depok, Jawa Barat ini sebenarnya memiliki tantangan yang lebih besar ketimbang sekolah-sekolah favorit di kota lainnya. Jika umumnya sekolah-sekolah favorit mendapatkan siswa melalui proses seleksi maupun penyaringan yang ketat sehingga yang diterima benar-benar sesuai dengan kualifikasi, namun berbeda dengan SMA Negeri 1 Depok. Terkait dengan kebijakan dan anjuran dari pemerintah kota Depok, SMA Negeri 1 Depok diwajibkan menyediakan kuota sebanyak 20% untuk siswa miskin, 10% untuk siswa berprestasi di bidang nonakademik, dan 1% untuk siswa berkebutuhan khusus. Otomatis, tantangan terberat bagi sekolah adalah membuat para siswa yang masuk dengan perkecualian tersebut dapat mencapai tingkat kualitas standard di SMA Negeri 1 Depok.

“Sejak dari kelas awal, kita akan lihat dan deteksi potensi mereka, mana yang bisa kita kejar dengan pola didik yang ada disini. Kalau mereka mampu mengikuti, kita dorong terus. Tapi kalau mereka tidak mampu mengikuti, setidaknya mereka dapat memiliki nilai yang baik. Kelemahannya, program kebijakan ini pun tak lepas dari seleksi alam. Bagi mereka yang betul-betul tidak bisa mengikuti baik itu pelajarannya, kondisi lingkungan, kondisi dinamika pembelajaran di sekolah, akhirnya dengan sendirinya mereka minggir,” ungkap Laksmi.

Ia juga menjelaskan bahwa sekolah tidak memisahkan anak-anak tersebut, melainkan dibaurkan dengan teman-temannya yang lain. “Harapannya, yang merasa lemah akan lebih termotivasi. Dalam hal ini, yang pintar punya tanggung jawab untuk membantu teman-temannya yang agak lemah dengan jalan antara lain diskusi, kelompok kerja, dan sebagainya. Dan Alhamdulillah untuk di SMAN 1 Depok, hal semacam itu berjalan dengan baik,” tuturnya. 

Namun ada pula sisi positif dari kebijakan Pemerintah Kota Depok, dimana siswa-siswa perkecualian tersebut pun dianjurkan untuk mengikuti pendidikan keterampilan hidup. Tujuannya, supaya nantinya mereka pun memiliki bekal keterampilan selain akademis. Kendati demikian, pendidikan tersebut sebenarnya tak hanya terbatas pada siswa-siswa dari golongan 20% saja, namun siswa manapun yang memiliki minat, boleh pula mengikutinya.

Sekolah dengan siswa sebanyak 981 anak ini juga memiliki kuota untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) sebanyak 1%. Sejauh ini, menurut Laksmi, terdapat tiga ABK yang menempuh pendidikan di SMAN 1 Depok. Satu penderita autis, satu penderita tunanetra, dan satu penderita tunarungu. “Semaksimal mungkin kami membantu membina mereka meski dengan keterbatasan kami. Terlebih kami belum memiliki guru khusus ABK. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama dengan semua pihak, terutama dari orangtua siswa,” katanya. Sejauh ini, masih belum ditemukan kendala berarti yang menyangkut proses pendidikan para siswa ABK. Bahkan menurut Laksmi, anak-anak tersebut kini justru menjadi lebih mandiri dan mampu bersaing dengan anak-anak normal lainnya.

Misalnya seperti anak autis, yang semula harus ditemani ibunya untuk dapat mengendalikannya, kini ia sudah mulai mandiri dan bersikap baik tanpa ibunya harus menemaninya di sekolah. Anak penderita tunarungu pun dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik berkat bantuan alat pendengaran. Sedangkan anak penderita tunanetra pun dapat mandiri dan belajar dengan baik, yang penting setiap ujian atau ulangan, guru pendamping pribadinya membantunya untuk membacakan soal ulangan atau menuliskan jawabannya.

Sekolah yang berdiri sejak tahun 1976 ini memang adalah yang terfavorit di kota Depok, bahkan sejak berdirinya. Banyak hal yang menjadikan sekolah yang memiliki luas 7.290 m2 ini didambakan oleh para siswa maupun orangtua. Salah satunya karena fasilitas, sarana, dan prasarana jauh lebih  lengkap dan memadai. Akses internet full menambah daya tarik siswa. Demikian pula dengan tersedianya berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dan  menarik minat siswa. “Disini, anak kalau nggak diusir nggak mau pulang. Mereka bahkan lebih senang mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman-temannya, atau beraktifitas di sekolah. Katanya, nanti kalau pulang ke rumah tinggal istirahat saja,” kata Laksmi.

Langganan Juara
Selain itu, sekolah yang saat ini memiliki 59 orang guru ini pun sudah terbukti memanen banyak prestasi setiap tahunnya. Bahkan SMAN 1 Depok merupakan penyumbang medali terbanyak di Provinsi Jawa Barat dalam kejuaraan OSN setiap tahunnya. Piala-piala kebanggaan tertata berderet di almari kaca yang bisa dilihat dari taman sekolah. Tak hanya prestasi akademis yang banyak diraih, prestasi nonakademis pun kerap diperoleh. Namun yang seringkali menjadi langganan adalah prestasi dari kejuaraan Olimpiade Sains Nasional. Hampir setiap tahun anak-anak SMAN 1 Depok menyabet gelar juara. “Kami mencari bibit-bibit dan melakukan pembinaan untuk persiapan OSN bahkan sejak kelas X. Untuk anak kelas X, bahkan kami tak segan untuk mengirim mereka mengikuti lomba. Kami tak mempermasalahkan kalah menang. Namun setidaknya itu memberi mereka pengalaman yang bagus. Para orangtua pun sangat bersemangat dan memberi dukungan penuh. Bibit-bibit itu nanti di kelas XI dan XII akan menjadi tulang punggung bagi adik-adik kelasnya,” terang Laksmi.


Anak-anak yang memiliki minat lebih besar pada mata pelajaran atau bidang akademis tertentu dapat bergabung dengan ekstrakurikuler Science Club. Disinilah bibit-bibit juara OSN digembleng dengan lebih terarah dan termotivasi. Uniknya, club ini dikelola oleh siswa. Sistem perekrutannya pun dilakukan oleh siswa. Mereka ingin menyamakan dan menjaga standard kualitas karena mereka bangga dengan kelompoknya maupun sekolahnya.

 Menurut Deden Suryasa, S.Pd., S.T., wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang juga adalah guru Biologi, hampir semua ekstrakurikuler di SMAN 1 Depok memiliki sistem perekrutan dalam mencari anggotanya. Yang diharapkan, anak-anak yang masuk ke sana adalah mereka yang benar-benar punya minat besar dan kesungguhan di bidang tersebut.

Bakti Alumni
Selain itu, jalinan ikatan alumni SMAN 1 Depok cukup erat, dan hal ini menjadi salah satu kunci pondasi yang mampu terus menunjang prestasi dan nama baik sekolah. Para alumni SMAN 1 Depok memiliki kebanggaan terhadap sekolahnya. Hal ini membuat ikatan batin dan kekeluargaan menjadi lebih kuat. Mereka tak segan untuk turut serta membantu membimbing maupun memotivasi adik-adiknya, baik itu melalui bidang akademis  melalui club atau kegiatan ekstrakurikuler, maupun mengarahkan mereka dalam memilih universitas melalui kegiatan campus goes to school. Bagaimanapun, hampir 100% lulusan SMAN 1 Depok diterima di perguruan tinggi negeri. Hal ini menambah kebanggaan siswa atas prestasi sekolahnya, juga menambah kepercayaan orangtua maupun masyarakat terhadap SMAN 1 Depok.

Hasil dan pelaksanaan Ujian Nasional di SMAN 1 Depok pun tak pernah mengalami masalah berarti. Dari tahun ke tahun, SMAN 1 Depok tak hanya meluluskan 100% siswanya, melainkan juga menghasilkan nilai-nilai yang cukup tinggi. Tentu saja hasil nilai tersebut merupakan buah kejujuran dan hasil kerja keras siswa selama belajar di SMAN 1 Depok. Sekolah yang meraih penghargaan atas indeks integritas UN ini selain menunjang akademis siswa, juga mengedepankan karakter siswa. Terlebih sisi religius dan spiritualitas dikedepankan. Kejujuran menjadi poin utama yang harus menjadi pondasi dalam melakukan banyak hal. “Dari temuan pengawas dalam proses kegiatan ujian sekolah, tidak pernah ada kasus kasus atau pengaduan pengawas bahwa anak kami menyontek. Kami disini telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi UN. Jika hasilnya bagus, maka demikianlah adanya, tanpa manipulasi,” kata Deden.

Kesadaran Siswa yang Tinggi
Yang melegakan, hampir sebagian besar siswa memiliki kesadaran yang cukup tinggi dengan nilai karakter dan budi pekerti. Contohnya, menurut Deden, mereka tak lagi perlu diingatkan mengenai atribut sekolah, kerapian pakaian dan rambut, hingga batas-batas pergaulan. Para siswa sudah menyadari dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. “Kami mengharapkan karakter menjadi benchmark dan budaya di sekolah ini. Kami membuat sistem dan budaya sekolah untuk menjadikan anak-anak kami mempunyai kebiasaan yang kami anggap baik,” tutur Deden.

Tak jarang orang mengira bahwa SMAN 1 Depok mirip sekolah Islam, karena hampir sebagian besar siswinya berjilbab, meski sekolah tidak mengharuskan demikian. Kesadaran siswa maupun sistem dan iklim sekolah yang kondusif membuat kepercayaan masyarakat terhadap SMAN 1 Depok bertambah. Mereka merasa aman dan nyaman menyekolahkan anak-anaknya di SMAN 1 Depok.

Bagi anak-anak di SMAN 1 Depok, kejujuran adalah sebuah sikap dan kebiasaan yang tak lagi dapat ditawar. Dalam menghadapi ujian atau ulangan, mereka mempersiapkannya dengan belajar tekun dan berlatih keras. Mereka sudah sangat menyadari bahwa dalam pendidikan, proses adalah yang terpenting. Ketika proses berjalan dengan baik, otomatis hasil pun menyesuaikan. Mereka menyadari bahwa berbuat curang dan memanipulasi pada akhirnya akan merugikan diri sendiri, dan juga orang lain. Selain itu, mereka pun menyadari bahwa buah kecurangan akan menghasilkan generasi yang tidak berkualitas di masa depan.

Aldi Al Farizi, siswa kelas XII IPA di SMAN 1 Depok mengatakan bahwa kejujuran itu harus diterapkan di kehidupan sehari-hari. Menurutnya, jika kejujuran diterapkan seraca masif dan terorganisir, maka akan membuahkan suatu tindakan yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat. Ia sendiri mengaku jujur dalam mengerjakan setiap ulangan ataupun ujian, tak pernah tertarik untuk menyontek. Di samping itu, Aldi, demikian ia disapa, telah mempersiapkan diri tak hanya untuk menghadapi Ujian Nasional, namun juga untuk mengikuti tes tulis perguruan tinggi. Padahal, sebenarnya ia pun telah mendaftar ke jalur undangan perguruan tinggi. “Bagi saya, undangan itu hanyalah sebuah hadiah. Kebanyakan siswa disini berpikir bahwa undangan itu hadiah, dan mereka tetap menyiapkan dirinya dengan belajar keras untuk menghadapi tes masuk ke perguruan tinggi,” ujar siswa yang ingin masuk ke Universitas Indonesia ini.

Sedangkan bagi Ivansa Ramadia Mausafi , yang juga siswa kelas XII IPA, menyontek tak pernah terbersit dalam keinginannya. Bahkan ia cenderung pelit dalam memberikan contekan, oleh karena itu ia tak mau menyontek. Siswa peraih medali perak dalam OSN 2015 bidang kebumian ini pun mengaku merasa senang ketika Ujian Nasional tak lagi menjadi parameter kelulusan siswa. Kendati demikian, ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia bahkan telah mempersiapkan dirinya untuk ujian masuk universitas dengan mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. “Saya masih perlu mengikuti les supaya dapat lebih mengetahui strategi-strategi untuk menjawab soal,” kata siswa yang ingin masuk ke Institut Teknologi Bandung ini.

K13 Penunjang Kejujuran
Sikap dan karakter baik yang terpola di lingkungan SMAN 1 Depok ini pun ditunjang dengan Kurikulum 2013. Sejauh ini, pelaksanaan Kurikulum 2013 di SMAN 1 Depok berjalan dengan cukup baik. “Dengan K13, mereka menjadi lebih diarahkan, karena segala tindak tanduk dan aktivitas siswa dinilai, diamati, dan dilaporkan. Itu harus bisa dipahami oleh anak. Jika anak-anak sudah tahu mereka diawasi dan dinilai, mereka akan berbuat yang terbaik. Entah itu berpura-pura atau sebenarnya, paling tidak kita sudah menciptakan pembiasaan pada anak, sehingga nantinya anak lambat laun akan terbiasa,” terang Deden Suryasa.

Sedangkan menurut Laksmi, K13 membuat anak tidak semata-mata pintar saja, namun juga membentuk anak untuk beretika. Salah satu aspek yang memegang peran penting adalah kejujuran. “Jika kejujuran dijadikan nomor satu, prestasi pasti didapat. Jika berprestasi tapi tidak jujur, maka hal-hal yang tidak diinginkan pasti terjadi. Pesan-pesan moral ini seringkali saya sisipkan ketika saya berada di tengah anak-anak dalam kegiatan seperti di Rohis, Pramuka, OSIS, MPK, dan sebagainya, meski secara tidak formal,” kata Laksmi.

CBT Untuk Semua Ujian
Hal lain yang menjadikan SMAN 1 Depok pantas mendapatkan penghargaan indeks integritas Ujian Nasional adalah karena kesiapannya, yang juga menjadi salah satu indikator penilaian. Segala sarana dan prasarana untuk pelaksanaan ujian telah cukup lengkap dan memadai. SMAN 1 Depok mulai membiasakan diri dengan ujian CBT (Computer Based Test). Bahkan menurut Laksmi, sistem CBT di SMAN 1 Depok telah dibuat permanen dan dapat digunakan dalam tujuh kelas. “Sekarang semuanya menggunakan online. Baik itu ujian harian, ujian semester, apalagi ujian sekolah. Semua ulangan pun sudah melaksanakan sistem online. Nantinya, orangtua pun bisa melihat hasilnya secara online,” kata Laksmi. 

Menurut Deden, kesiapan SMAN 1 Depok untuk ujian CBT sudah lebih dari cukup. “Ketika digulirkan UN dengan sistem CBT, kami sudah siap dengan perangkat maupun jaringannya. Guru-guru kami juga tidak lagi gaptek, sehingga ketika mereka menjadi operator, mereka sudah bisa,” tuturnya.

Harapan ke depan, semua sekolah nantinya menggunakan sistem CBT untuk semua ujian. SMAN 1 Depok siap mengawal dan menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah lainnya yang masih belum menggunakan sistem CBT. Banyak keunggulan yang diperoleh dengan menggunakan sistem CBT. Selain praktis, ujian dengan menggunakan sistem CBT pun meminimalisir kesempatan siswa untuk berbuat curang, yang otomatis membantu membiasakan mereka untuk senantiasa berbuar jujur dalam mengerjakan ujian. ***                                                                                                                                                                             
                       

Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Buku Profil SMA di Indonesia dengan Indeks Integritas Tertinggi (Kemendikbud)