Showing posts with label Papua. Show all posts
Showing posts with label Papua. Show all posts

Kabupaten Nabire, Papua : Pagar Sekolah Sangat Dibutuhkan


Dari sisi geografis, wilayah Kabupaten Nabire di Papua terbagi dalam 4 kategori wilayah. Pertama, wilayah kota, kedua wilayah pinggiran, ketiga wilayah terpencil, dan keempat wilayah sangat terpencil, dengan total distrik sebanyak 15 distrik. Menurut Primus Butu, S.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Papua, terdapat 118 sekolah dasar, baik negeri maupun swasta, yang tersebar dalam ke-15 distrik tersebut, tak terkecuali di wilayah yang sangat terpencil. Hanya saja, banyak kendala yang dihadapi oleh sekolah yang berada di wilayah sangat terpencil, antara lain masalah kekurangan guru. “Untuk menjangkau wilayah di sana, kita hanya bisa berjalan kaki atau dengan menggunakan helikopter, dimana satu kali penerbangan biayanya sekitar 47 juta rupiah,” katanya.

Di wilayah yang sangat terpencil, fokus pembelajaran terutama adalah menulis, membaca, dan berhitung. Ketika siswa menginjak kelas IV dan sudah dapat menguasai calistung, maka biasanya siswa tersebut akan dibawa ke kota untuk bersekolah di sekolah yang lebih lengkap. “Biasanya diantar kepala sekolah atau orangtua, berjalan kaki lima hari lima malam. Di kota, anak tersebut akan dititipkan di sanak saudara,” kata Primus.  

Karena akses yang cukup sulit dan menyusahkan di daerah terpencil, oleh karena itu menurut Primus, salah satu prioritas pembangunan seharusnya adalah membangun landasan pesawat terbang. Namun sayangnya, nampaknya pembangunan landasan pesawat terbang ini bukan menjadi prioritas bagi dinas perhubungan. Padahal jika akses lancar, maka pendidikan pun akan lancar.

Untuk memenuhi kekurangan guru terutama yang ada di pelosok-pelosok, Pemerintah daerah telah mengangkat sebanyak 220 guru kontrak dengan menggunakan dana otonomi khusus. Diharapkan dengan adanya guru kontrak tersebut dapat meningkatkan mutu pendidikan di Nabire.

Kendala lain yang dihadapi di Nabire adalah banyaknya sekolah yang terlibat dalam perselisihan masalah tanah maupun batas wilayah sekolah dengan penduduk setempat. “Waktu Zaman Presiden Soeharto, banyak dibangun SD Inpres dan masyarakat diam. Sekarang, anak-anak mereka banyak menuntut kepada sekolah, minta supaya tanahnya kembali. Kadang-kadang mereka pun mempersoalkan batas wilayah sekolah. Oleh karena itu, pembangunan pagar sekolah itu sangat penting untuk melindungi sekolah,” kata Primus. Dengan adanya pagar sekolah, diharapkan masyarakat dapat melihat dengan jelas batas wilayah sekolah. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

Kabupaten Kerom, Papua : Perbanyak Sekolah Berasrama


Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kerom, Papua sedang menggalakkan pembangunan sekolah dengan model asrama. Menurut Sergius Fatim, S.Sos., Kepala Bidang Dikdas di Dinas Pendidikan Kabupaten Kerom, jumlah sekolah berasrama yang ada di Kabupaten Kerom.

Jumlah sekolah dasar di Kabupaten Kerom sebanyak 77 SD, baik negeri maupun swasta, yang tersebar dalam beberapa distrik. Menurut Sergius, ada tiga distrik yang sulit dijangkau, antarar lain Distrik Towe, Distrik Singgi, dan Distrik Weh. “Untuk menuju ke sana harus ditempuh dengan pesawat udara yang biayanya mencapai 18 juta sekali terbang, atau jalan kaki,” katanya.

Untuk sekolah-sekolah dasar di daerah 3T, fokus pendidikan adalah mengajarkan siswa untuk membaca, menulis,dan berhitung. Setelah siswa menginjak kelas 4 SD dan sudah lancar calistung, diharapkan siswa tersebut masuk ke asrama sekolah untuk memudahkan akses pembelajaran, samai mereka menginjak kelas 3 SMP. Sejauh ini, telah ada 55 siswa yang tinggal di asrama.

“Bulan September 2016, kami memiliki satu lagi Sekolah Atap Berasrama Bompai. Jadi tahun ini total satap berasrama yang kami miliki ada tiga buah. Di asrama, anak-anak dijamin semuanya, diberi fasilitas makan, seragam, dan sekolah gratis yang semuanya ditanggung oleh pemerintah daerah dengan menggunakan dana otonomi khusus,” jelas Sergius. Anak-anak yang berada di asrama dan ditanggung oleh Pemerintah Daerah adalah anak-anak asli Kerom.


Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan memberikan dana bantuan untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Harapannya, tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat semakin tinggi, dan siswa pun semakin betah untuk bersekolah. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

PAUD Kasih Mama Jayapura : Bina Guru PAUD hingga dari Pedalaman Papua


Menghidupkan PAUD di Papua memiliki tantangan tersendiri. Banyak hal yang berpengaruh, mulai dari kondisi sosio-geografis penduduknya, latar belakang pendidikan masyarakatnya, hingga kebijakan pemerintah daerah setempat. PAUD Kasih Mama, PAUD yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Papua memiliki kiat dan strategi untuk tetap menjadi yang terbaik meski dengan berbagai tantangan yang tidak mudah.

Berdiri sejak Juli 2005, PAUD Kasih Mama menyediakan berbagai layanan untuk anak. Mulai dari Tempat Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), dan Taman Kanak-kanak (TK). “Kami menerima siswa dari usia 6 bulan hingga ada yang lebih dari 6 tahun,” kata Siti Amanah, SE., M.Si., Kepala PAUD Kasih Mama.

Menempati lahan seluas 725 m2, gedung yang ditempati oleh PAUD yang terletak di Jalan Tanjung Ria Base G, Jayapura, Papua ini menurut Amanah dulunya adalah kantor Dharma Wanita Dinas Pendidikan Provinsi Papua yang telah jarang digunakan. Oleh karena itu, Aminah yang juga bertugas di seksi PAUD Bidang PAUD Dikmas di Dinas Pendidikan Provinsi Papua pun mengajukan permohonan supaya ruangan yang jarang terpakai itu dapat dimanfaatkan sebagai sarana dan wahana pendidikan anak usia dini. “Tahun 2004 bangunan ini diserahkan pada kami. Dulu ruangannya sempit, tapi kami berupaya untuk bertahan dengan memanfaatkan apapun yang bisa kami buat dan siasati,” kisah Amanah.

Oleh karena Amanah merupakan salah satu yang menjadi pionir berdirinya PAUD Kasih Mama, maka ia pun diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 2005. Terhadap profesinya, wanita yang juga adalah ketua HIMPAUDI Provinsi Papua ini merasa sangat menyelami dan menikmatinya. Sejak awal, ia memang memiliki impian dan cita-cita ingin mengabdikan diri secara profesional pada dunia pendidikan anak usia dini. “Pada tahun 2003, saya sempat mengikuti ToT Tingkat Nasional di Yogyakarta yang diikuti oleh pra guru maupun pegiat kelompok bermain. Berkat ToT itulah maka hati saya terbuka, terutama setelah mendengar paparan dan nasehat dari Ibu Nibras Salim, yang saat itu menjadi narasumber.  Dulu saya berpikir bahwa mendidik anak dengan keras itu merupakan bagian dari pendidikan kedisiplinan. Namun ternyata saya salah. Disitulah hati saya merasa hancur. Saya menangis dan menyesal menyesal jika mengingat hal itu. Lambat laun, di hati saya timbul rasa cinta kepada anak-anak, terlebih anak papua yang saat itu banyak yang kekurangan gizi dan terabaikan pendidikannya,” kata Amanah.

Komitmen Tak Ajarkan Calistung
PAUD Kasih Mama dirintis mulai dari pelayanan Kelompok Bermain (KB). Seiring perjalanan waktu, kebutuhan masyarakat khususnya yang para orang tua yang sibuk bekerja semakin meningkat, terutama di kawasan Jayapura maupun Abepura. Oleh karena itu, kemudian dibentuklah  Tempat Penitipan Anak. Para orangtua yang menggunakan jasa penitipan anak ini umumnya adalah para orangtua yang baik ayah maupun ibunya bekerja, baik itu di pemerintahan maupun di swasta. Masyarakat juga berharap ada program TK, supaya ketika anak sudah melalui KB, mereka tidak usah keluar dari lembaga yang lain, dan tidak mengalami tantangan adaptasi di tempat yg baru.

Menurut Amanah, awalnya PAUD Kasih Mama tak menerapkan pembatasan kuota dalam penerimaan siswa baru. Namun karena banyaknya anak berkorelasi dengan efektivitas pembelajaran, pun dikarenakan jumlah guru yang terbatas, maka PAUD Kasih Mama pun mulai membatasi kuota anak, tak lebih dari 40 anak.

Saat pertama kali dibuka, antusias masyarakat sekitar ternyata cukup besar, hingga dapat menjaring anak hingga sekitar 50 anak. Pada orangtua siswa, Amanah menekankan bahwa selama anak-anak belajar di PAUD Kasih Mama, mereka tidak akan diajarkan calistung, melainkan akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bermain sambil belajar. Awalnya, menurut Aminah, ada beberapa orangtua yang merasa kecewa karena mereka khawatir anak-anak mereka tak akan dapat masuk ke SD yang diinginkan. Namun seiring waktu, kini telah banyak yang membuktikan bahwa lulusan PAUD Kasih Mama pun tak kalah dengan sekolah-sekolah yang sudah mengajarkan calistung – bahkan kerap kali lulusan PAUD Kasih Mama lebih unggul daripada yang lainnya.

Jam belajar di PAUD Kasih Mama dimulai pada pukul 08.00 WIT, mulai dari hari Senin sampai Jumat. Untuk kelompok TK, jam pelajaran usai pada pukul 11.00 WIT. Namun untuk anak-anak yang berada di TPA, mereka tinggal di sekolah hingga pukul 16.00 WIT. “Kadangkala bahkan ada orangtua yang lupa menjemput anaknya, sampai-sampai kami yang mengantarkan pulang ke rumahnya,” cerita Amanah, yang merasa miris dengan kepedulian orangtua terhadap pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.

Dalam pembelajaran, anak-anak dibagi dalam beberapa grup, yakni kelompok ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Meski fasilitas terbatas, namun para guru telah dibekali ilmu bagaimana pengelolaan kelas yang baik dan bagaimana membuat serta memanfaatkan media sebagai bahan pembelajaran. “Kami sudah menyediakan fasilitas dan bahan pembelajaran, namun adakalanya guru juga bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitar untuk belajar. Misalnya, guru bisa membawa tanaman dari rumah untuk mengajarkan pada siswanya tentang tanaman,” jelas Amanah.

Saat ini, jumlah pendidik di PAUD Kasih Mama sebanyak tujuh orang, yang kesemuanya berstatus guru honorer. Rata-rata, sebagian besar guru memiliki latar belakang sebagai pengasuh di Sekolah Minggu. “Mereka adalah para guru yang penuh pengabdian dan benar-benar mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak-anak,” kata Amanah. Para guru tersebut harus mampu membimbing anak mulai dari kelas KB, TK, hingga anak-anak yang ada di TPA. Oleh karena itu, mereka pun kerap menghabiskan sebagian besar waktu mereka di PAUD Kasih Mama.

Menjadi Tempat Magang Guru
Sebagai kepala sekolah, Amanah kerap memberikan kesempatan kepada para guru untuk mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya, baik yang diadakan oleh dinas provinsi, lembaga atau organisasi, hingga kegiatan pelatihan mandiri di PAUD Kasih Mama. Kegiatan belajar atau berdiskusi dengan para guru biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu ketika sekolah libur.

Di samping itu, banyak pula para guru PAUD dari berbagai daerah di wilayah Papua hingga Sulawesi yang tertarik untuk magang di PAUD Kasih Mama selama beberapa waktu. Kegiatan pemagangana ini sudah dimulai sejak tahun 2008. “Meski di sini masih memiliki banyak keterbatasan dalam sarana prasarana, tapi kami berusaha membuat mereka nyaman untuk magang. Kami berikan apa yang kami punya dan membimbing mereka secara optmal,” kata Amanah.

Ia bercerita, acapkali para guru PAUD tersebut datang dari daerah-daerah yang sangat jauh dan terpencil. Mereka datang secara mandiri atas usaha mandiri pula, hingga tak jarang mereka harus berkorban dengan menjual hasil kebun dan sebagainya untuk mendapatkan uang sebagai ongkos pergi ke Jayapura – padahal mereka hanyalah guru PAUD honorer dengan kualifikasi SMP/SMA. “Yang pertama kali datang ke sini adalah para guru PAUD dari Manado, yakni ketika kami pertama kali menerapkan metode BCCT dalam pembelajaran. Kemudian selanjutnya banyak guru-guru PAUD dari berbagai kabupaten di Papua yang belajar disini. Bahkan ada yang dari pedalaman, yang umumnya berasal dari gereja setempat,” kata Amanah. Ia mengakui bahwa semangat para guru tersebut benar-benar luar biasa. “Mereka benar-benar ingin belajar menimba ilmu hanya supaya kelak dapat memberikan yang terbaik untuk generasi bangsa. Mereka sama sekali  tak berhitung meski materi yang mereka dapatkan tak sebanding dengan yang mereka keluarkan atau korbankan. Seharusnya orang-orang seperti mereka mendapat dukungan penuh dari Pemerintah,” tambahnya.  

Rawan Pencurian
Salah satu hambatan dan tantangan yang masih dihadapi PAUD Kasih Mama hingga saat ini adalah jaminan keamanan yang rendah. Menurut Amanah, lokasi PAUD Kasih Mama, meski terletak di tengah riuhnya kota Jayapura, namun juga berada dalam kawasan yang sering dianggap rawan. Letak PAUD Kasih Mama sendiri berada berhadapan dengan kampung pesisir, yang mana banyak ditemukan orang-orang atau bahkan anak-anak yang terlibat dalam berbagai perbuatan kriminal, misalnya pencurian, dan lain sebagainya. PAUD Kasih Mama sendiri telah berulang kali mengalami musibah pencurian. Namun demikian, Aminah tak pernah merasa gentar. “Polres sampai hapal dan malah mungkin juga bosan karena kami terlalu sering membuat laporan, hehehee...” ujar Amanah, diiringi derai tawanya.

Apapun tantangannya, PAUD Kasih Mama berkomitmen terus melaksanakan pendidikan bagi anak usia dini dan berupaya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi generasi bangsa. ***


Ditulis tahun : 2016
Dimuat di Majalah Guru (Kemendikbud)

Guru GGD Papua : Nilai Jelek, Panah dan Parang Siap Mengancam

Ervin Indayati, S.Pd.
Guru Peserta GGD yang Mengajar di SMP Negeri 10 Warmare, Manokwari, Papua


Mengajar di pedalaman Papua adalah satu impian yang sangat diidamkan Ervin Indayati, S.Pd sejak lama. Berkat mengikuti program Guru Garis Depan, harapannya tercapai. Kini, wanita kelahiran Kediri, 28 Agustus 1987 ini mengabdikan dirinya di SMP Negeri 10 Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Saat pertama kali tiba di Manokwari, Ervin tinggal di sebuah rumah kos salah seorang warga yang jaraknya sekitar 800 meter dari sekolah dengan tarif sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Kesan pertama tak begitu menyenangkan baginya, karena tempat kosnya tersebut jauh dari harapan kelayakan. “Tempat indekos saya berdinding kayu dan beratap seng tanpa ada plafon. Jika panas ya sangat panas. Mengatasinya cukup menggunakan buku tipis kemudian dikipas-kipaskan dengan tangan. Cara itu cukup berguna untuk memberikan sedikit kesejukan. Tapi sejak berada di Warmare, kulit saya yang hitam kini semakin gosong. Jika malam sangat dingin, sampai selimut pun tak mempan untuk memberi kehangatan. Jika hujan, berisiknya tidak karuan. Jika saya menyanyi sekeras apa pun tidak akan ada yang komentar karena kalah berisik dengan suara hujan,” ceritanya.

Ervin (paling kanan) bersama murid-muridnya.

Tempat indekos Ervin pun memiliki sedikit lahan di bagian belakang rumah yang luasnya sekitar 2x3 meter. Ervin memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami beberapa sayuran seperti tomat, cabai, kacang panjang, terong, ataupun kangkung demi membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kadangkala saya nimbrung makan bersama pemilik indekos, hitung-hitung mengurangi pengeluaran. Saya berusaha untuk menabung. Saya berharap suatu saat bisa memiliki rumah di sini karena saya enggan indekos terus. Pekerjaan sudah di sini, KTP sudah sini,” katanya.

Jarak dari tempat kos Ervin menuju pusat kota sekitar 45 km, yang bisa ditempuh dengan sepeda motor selama sekitar 1 jam. Kendati demikian, angkutan umum pun sudah banyak yang berseliweran. Taksi, demikian orang setempat menyebutnya. ‘Taksi’ yang digunakan biasanya menggunakan mobil Avanza yang bahkan adakalanya masih tergolong mulus. Tarif yang dikenakan dari tempat tinggal Ervin menuju ke kota sekitar dua puluh ribu rupiah.

Kondisi jalanan sudah cukup bagus dan mulus, hanya berkelok-kelok dan naik turun. Yang cukup rawan terjadi adalahnya kadangkala ada hewan-hewan yang berkeliaran di jalanan. “Jika menabrak hewan, umumnya dikenakan denda yang tak tanggung-tanggung mahalnya. Menurut masyarakat, denda yang diberikan ditentukan sesuai dengan jumlah puting pada hewan, terutama pada babi,” kata Ervin.

Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat dan rekan sejawat di sekolah tempat Ervin mengajar, Warmare tergolong daerah yang sedikit rawan. Banyak pemabuk dan pencuri yang harus diwaspadai, terutama bagi pendatang yang masih single seperti Ervin. Meski demikian, pengetahuan tersebut tak lantas membuat Ervin berkecil hati. Bagaimanapun, sejak dari tanah asalnya ia telah membulatkan keyakinan untuk mengabdi di tanah Papua.

Para guru di SMP Negeri 10 Warmare cukup ramah terhadap Ervin. Sebagian besar, mereka adalah para pendatang atau peranakan para transmigran. “Yang suku Papua ada tiga orang, yakni kepala sekolah, guru Pkn, dan guru Agama Kristen. Guru perempuan hanya dua, yakni saya dan guru Agama Kristen,” kata Ervin. Rata-rata usia guru di SMP Negeri 10 Warmare sudah banyak yang senior, tetapi menurut Ervin semangat pengabdian mereka masih bergelora. Kendati demikian, metode pengajaran yang sering diterapkan masih banyak menggunakan metode ceramah dan mencatat, meski ada guru yang adakalanya menggunakan media audio dan atau visual. Hampir sebagian besar guru sudah memiliki laptop masing-masing.

Sarana di SMP Negeri 10 Warmare  sudah cukup baik karena sudah dilengkapi dengan lima unit komputer, proyektor, dan perangkat pendukungnya untuk memperlancar pembelajaran.  Sekolah pun memiliki jaringan internet, bantuan dari Pustekom. 

Sayangnya, kondisi perpustakaan sudah cukup memprihatinkan. Tak hanya dari sisi koleksi buku-bukunya, tapi juga kondisi bangunannya. Tidak ada petugas perpustakaan yang aktif stand by di perpustakaan. Buku-buku bacaannya tidak begitu mendukung, pun sudah banyak yang tua dan lapuk, ditandai dari adanya beberapa buku yang berlubang dimakan rayap. Hanya buku pelajaran KTSP dan K-13 yang masih dalam kondisi bagus. SMP Negeri 10 Warmare pernah menjalankan K-13 sebelumnya, namun kemudian kembali ke Kurikulum KTSP, terlebih karena guru-guru yang terlatih K-13 banyak yang tak lagi mengajar.

Banyak Pencuri dan Pemabuk
Lokasi SMP Negeri 10 Warmare dekat dengan hutan dan kelapa sawit, sehingga sering beberapa kali dijumpai ular bersarang di sekolah, terutama perpustakaan, yang paling dekat dengan hutan. “Pernah pula pintu perpustakaan berada dalam kondisi jebol karena ada pencuri yang masuk. Ruang guru pun pernah kemalingan. Jendelanya jebol, tembok pembatas yang terbuat dari triplek pun dirusak. Beberapa piring hilang,” kisah Ervin.

Namun yang menurutnya paling seru adalah aksi pencurian tali bendera. “Saat itu upacara sudah siap dimulai. Ketika pemimpin barisan melaporkan barisannya ke pemimpin upacara, berceletuklah seorang dari pemimpin barisan, ‘Tali benderanya tidak ada’, seraya menunjuk tiang bendera. Dan ternyata memang benar, tali bendera hilang. Mendapati hal tersebut, akhirnya upacara bendera pun dibatalkan. Sekolah tidak memiliki persediaan tali bendera sehingga bendera dipasang manual dengan cara menurunkan tiang benderanya,” kata Ervin.

Saat malam, sekolah menjadi gelap gulita, tak ada penerangan satu pun. Hal ini karena lampu-lampu yang dipasang di luar ruangan selalu hilang sehingga tidak pernah dipasang lagi. Pernah pula dijumpai sisa kulit kacang dan genangan air yang beraroma tak sedap di salah satu ruang kelas, yang mungkin dilakukan orang yang mabuk.

Kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 10 Warmare dimulai pada pukul 07.30 WIT. Meski demikian, banyak siswa yang terlambat datang ke sekolah. Salah satunya karena mereka harus berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo untuk menuju ke sekolah, bahkan ada yang harus menempuh jarak 10 kilometer. Jalanan menuju ke sekolah sudah beraspal mulus dan dilewati oleh angkutan umum/taksi, tetapi masih banyak siswa yang memilih berjalan kaki menuju sekolah daripada naik angkutan. Jika pada pagi hari turun hujan, maka banyak kemungkinan siswa yang bersekolah sedikit. Di SMP Negeri 10 Warmare, kedisiplinan siswa masih kurang bagus, karena masih ada siswa yang tidak masuk sekolah tanpa keterangan, bahkan hingga mencapai 20 hari selama satu bulan.

Siswa SMP Belum Bisa Membaca
Dikarenakan SMP Negeri 10 Warmare terletak di Distrik Warmare yang merupakan tempat transmigran pertama di Kabupaten Manokwari, beberapa siswa merupakan siswa peranakan transmigran. Namun siswa yang asli Papua, terutama dari Suku Arfak, pun juga cukup banyak, sekitar 85%. Namun demikian kemampuan siswa di SMP Negeri 10 Warmare ini cukup beragam. Ada yang bagus, ada yang tidak bagus. Bahkan masih ada siswa kelas VII yang belum hafal abjad atau huruf, apalagi membaca.

Ervin sempat berinisiatif untuk memberikan tambahan belajar sepulang sekolah pada murid-murid tersebut. “Saya mendesak kepala sekolah untuk membuatkan surat undangan orangtua siswa yang dianggap belum bisa membaca dan menulis. Dari 18 undangan yang diberikan, hanya dua orang tua siswa saja yang datang dan memberikan respon positif. Saya pun kemudian menyusun jadwal belajar tambahan kepada para siswa tersebut. Dari 18 siswa yang saya panggil, hanya tiga siswa yang datang. Masih sekitar 15 menit belajar, mereka sudah mengeluh lapar. Esok harinya, yang datang hanya satu orang. Esok harinya, tak ada yang datang. Saya panggil mereka, tidak ada yang menggubris saya. Alasan mereka jujur, malas dan lapar. Saya benar-benar tak berdaya,” keluh Ervin.

Berdasarkan pengamatan Ervin, siswa yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung adalah siswa yang berasal dari gunung. Umumnya, mereka bersekolah tidak sampai enam tahun. Mereka loncat kelas karena permintaan orangtua atas pertimbangan usia siswa yang sudah melampaui batas wajar tingkat pendidikan. Beberapa siswa dengan jujur mengatakan bahwa mereka jarang masuk sekolah karena membantu orangtua bekerja di ladang, ada pula karena malas. Mereka juga mengatakan bahwa guru mereka saat di SD pun jarang masuk dan mengajar. Kalau pun masuk, mereka hanya diberi catatan atau disuruh bermain saja. Beberapa siswa juga kedapatan merokok, bahkan ada yang membawa pisau seperti milik tentara dan pedang panjang. Nampaknya, kebiasaan berkelahi pun sudah dianggap wajar.

Saat ini, jumlah siswa di SMP Negeri 10 Warmare adalah 164 siswa, yang terbagi dalam  enam rombongan belajar. Sekitar 85% siswa beragama Kristen, dan 15% beragama Islam. Sekolah memiliki 7 ruang kelas, namun hanya 6 kelas yang berfungsi. Laboratorium IPA pun tidak berfungsi karena perlatannya sudah banyak yang rusak. Di SMP Negeri 10 Warmare, Ervin adalah wali kelas VII-B, dan juga mengajar Bahasa Indonesia di kelas VII, VIII, dan IX. Setiap Sabtu siang, ia juga membina ekstrakurikuler Pramuka.

Hingga saat ini, Sekolah masih belum memiliki guru Penjaskes dan guru Bimbingan Konseling, sehingga pelajaran Olahraga pun dibina oleh guru yang jam pelajarannya tidak sampai 24 jam per minggunya. Sedangkan untuk Bimbingan Konseling ditangani oleh masing-masing wali kelas.

Panah dan Pedang Mengancam
Menurut Ervin, mengatasi siswa di SMP Negeri 10 Warmare membutuhkan ekstra kesabaran. Problematika selalu muncul setiap hari. “Ada yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung saat masuk SMP. Mereka tidak mau diajak berubah. Diminta maju berbicara tidak mau, diajak belajar diam saja, diminta membaca malah menangis. Jika saya memberi penilaian sesuai dengan kondisi, parang dan panah mengancam,” kata Ervin. Ya, setiap tiba saatnya penulisan nilai rapor, Ervin selalu merasa galau dalam memberi nilai. Jika harus jujur sesuai fakta yang ada, ada ancaman panah dan pedang siap menghadang.

Meski demikian, Ervin selalu optimis bahwa pengabdiannya takkan pernah sia-sia. Misinya dalam mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri senantiasa menjadi senandung doa dan keyakinan yang menyertai setiap langkahnya di tanah seberang, Papua. ***


Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Majalah Dikdas (Kemendikbud)

Sumber: Tulisan Ervin Indayati, S.Pd.

Profil Gurdasus : Berjuang di Perbatasan Papua


Hulda Erikha Homadi
Guru daerah khusus Provinsi Papua



SDN Holtekam terletak di daerah pesisir pantai Holtekam, Jayapura, Papua. Sebuah wilayah pedalaman yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, yakni Papua New Guenea. Sudah lima tahun lamanya Hulda Erikha Homadi di SDN Holtekam demi mencerdaskan anak-anak pesisir di Distrik Muara Tami. Tak gentar meski tantangannya cukup berat. Daerah perbatasan tempat Hulda mengajar adalah termasuk daerah dengan kategori merah karena seringkali terjadi penembakan yang mengorbankan warga sipil. “Apabila kami hendak ke kota, kami harus melewati jalur merah tersebut. Namun, semangat kami untuk mencerdaskan anak bangsa membuat kami terus berjuang tanpa kenal takut,” kata wanita kelahiran Jayapura, 10 Juni 1979 ini.

Di Distrik Holtekamp, sebagian orangtua murid bekerja sebagai nelayan, petani tambak, dan berkebun. Penghasilan mereka tak banyak, sehingga mereka senantiasa terbiasa dengan keterbatasan. Umumnya, anak-anak biasa membantu orangtua mereka bekerja, sehingga mereka tidak datang ke sekolah. Bagaimanapun, faktor ekonomi juga menjadi kendala. Bukanlah pemandangan yang mengherankan jika anak-anak belajar di sekolah tanpa alas kaki. Beberapa anak pun terpaksa harus berjalan kaki sejauh 1km untuk datang ke sekolah setiap hari.

Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa di SDN Holtekam adalah sebanyak 163 anak. Jumlah guru PNS adalah 5 orang, dan guru honorer 4 orang. Kondisi sarana dan prasarana di SDN Holtekamp ada 6 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, dan 1 ruang perpustakaan. Sedangkan kamar mandi ada 5 tetapi yang berfungsi hanya 2.

Hulda, yang adalah sarjana Theologia, menjadi guru bantu di SDN Holtekamp sejak tahun 2008. Kemudian tahun 2009 ia diminta untuk membantu mengajar di SDN Satu Atap Koya Koso, yang terletak sekitar 10 km dari sekolah induk. “Saya mencintai profesi guru karena guru selalu dikenang sepanjang masa, dan kelak yang saya didik nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang handal di negara ini,” tuturnya.

Saat ini, gaji yang diterima Hulda adalah sebesar Rp.2.700.000. Demi menambah penghasilan, ia pun mencoba untuk berjualan kecil-kecilan di sekolah maupun di rumah. “Saya memiliki kebun kelapa untuk dijual ke pasar, meskipun harga jualnya tak sebanding dengan proses pengambilan, pengupasan, dan sampai di pasar dengan biaya yang cukup mahal,” katanya.

Selama menjadi guru di SDN Holtekam, Hulda melihat bahwa awalnya kesadaran masyarakat pada pendidikan masih sangat rendah. Oleh karena itu, sekolah sering melakukan upaya pendekatan terhadap masyarakat, yakni tokoh adat di daerah setempat. Upaya ini sangat membantu untuk mengajak anak-anak ke sekolah. Lambat laun, kesadaran masyarakat mulai terlihat. Sedikit demi sedikit mereka mulai memahami arti pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. “Sejak itu, mereka pun aktif untuk ikut serta bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekolah,” kata Hulda. Hubungan sosial antara sekolah dan masyarakat pun cukup baik, meskipun sempat terdapat kasus dimana beberapa orang ada yang mengaku sebagai pemegang hak wilayah dan menjual sebagian tanah/lokasi sekolah ke pihak lain, sehingga semakin sempit area bermain dan belajar bagi anak di lingkungan sekolah. “Kami selaku tenaga pendidik tidak mampu untuk berbuat sesuatu karena kami hanya ditugaskan oleh pemerintah untuk mengajar/mendidik anak-anak yang ada di wilayah tersebut,” ungkap Hulda.


Meski demikian, itu tak membuat surut nyali Hulda dan rekan-rekannya untuk terus mengabdi di SDN Holtekam. “Apapun yang terjadi, kami tidak akan pernah putus asa. Bagi kami, guru bukanlah sekadar profesi belaka, melainkan sebuah panggilan jiwa. “Dalam situasi apapun, kami akan tetap bertahan dan berjuang memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” kata Hulda bersemangat. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)