Showing posts with label guru berdedikasi. Show all posts
Showing posts with label guru berdedikasi. Show all posts

Guru GGD Papua : Nilai Jelek, Panah dan Parang Siap Mengancam

Ervin Indayati, S.Pd.
Guru Peserta GGD yang Mengajar di SMP Negeri 10 Warmare, Manokwari, Papua


Mengajar di pedalaman Papua adalah satu impian yang sangat diidamkan Ervin Indayati, S.Pd sejak lama. Berkat mengikuti program Guru Garis Depan, harapannya tercapai. Kini, wanita kelahiran Kediri, 28 Agustus 1987 ini mengabdikan dirinya di SMP Negeri 10 Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Saat pertama kali tiba di Manokwari, Ervin tinggal di sebuah rumah kos salah seorang warga yang jaraknya sekitar 800 meter dari sekolah dengan tarif sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Kesan pertama tak begitu menyenangkan baginya, karena tempat kosnya tersebut jauh dari harapan kelayakan. “Tempat indekos saya berdinding kayu dan beratap seng tanpa ada plafon. Jika panas ya sangat panas. Mengatasinya cukup menggunakan buku tipis kemudian dikipas-kipaskan dengan tangan. Cara itu cukup berguna untuk memberikan sedikit kesejukan. Tapi sejak berada di Warmare, kulit saya yang hitam kini semakin gosong. Jika malam sangat dingin, sampai selimut pun tak mempan untuk memberi kehangatan. Jika hujan, berisiknya tidak karuan. Jika saya menyanyi sekeras apa pun tidak akan ada yang komentar karena kalah berisik dengan suara hujan,” ceritanya.

Ervin (paling kanan) bersama murid-muridnya.

Tempat indekos Ervin pun memiliki sedikit lahan di bagian belakang rumah yang luasnya sekitar 2x3 meter. Ervin memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami beberapa sayuran seperti tomat, cabai, kacang panjang, terong, ataupun kangkung demi membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kadangkala saya nimbrung makan bersama pemilik indekos, hitung-hitung mengurangi pengeluaran. Saya berusaha untuk menabung. Saya berharap suatu saat bisa memiliki rumah di sini karena saya enggan indekos terus. Pekerjaan sudah di sini, KTP sudah sini,” katanya.

Jarak dari tempat kos Ervin menuju pusat kota sekitar 45 km, yang bisa ditempuh dengan sepeda motor selama sekitar 1 jam. Kendati demikian, angkutan umum pun sudah banyak yang berseliweran. Taksi, demikian orang setempat menyebutnya. ‘Taksi’ yang digunakan biasanya menggunakan mobil Avanza yang bahkan adakalanya masih tergolong mulus. Tarif yang dikenakan dari tempat tinggal Ervin menuju ke kota sekitar dua puluh ribu rupiah.

Kondisi jalanan sudah cukup bagus dan mulus, hanya berkelok-kelok dan naik turun. Yang cukup rawan terjadi adalahnya kadangkala ada hewan-hewan yang berkeliaran di jalanan. “Jika menabrak hewan, umumnya dikenakan denda yang tak tanggung-tanggung mahalnya. Menurut masyarakat, denda yang diberikan ditentukan sesuai dengan jumlah puting pada hewan, terutama pada babi,” kata Ervin.

Berdasarkan keterangan dari penduduk setempat dan rekan sejawat di sekolah tempat Ervin mengajar, Warmare tergolong daerah yang sedikit rawan. Banyak pemabuk dan pencuri yang harus diwaspadai, terutama bagi pendatang yang masih single seperti Ervin. Meski demikian, pengetahuan tersebut tak lantas membuat Ervin berkecil hati. Bagaimanapun, sejak dari tanah asalnya ia telah membulatkan keyakinan untuk mengabdi di tanah Papua.

Para guru di SMP Negeri 10 Warmare cukup ramah terhadap Ervin. Sebagian besar, mereka adalah para pendatang atau peranakan para transmigran. “Yang suku Papua ada tiga orang, yakni kepala sekolah, guru Pkn, dan guru Agama Kristen. Guru perempuan hanya dua, yakni saya dan guru Agama Kristen,” kata Ervin. Rata-rata usia guru di SMP Negeri 10 Warmare sudah banyak yang senior, tetapi menurut Ervin semangat pengabdian mereka masih bergelora. Kendati demikian, metode pengajaran yang sering diterapkan masih banyak menggunakan metode ceramah dan mencatat, meski ada guru yang adakalanya menggunakan media audio dan atau visual. Hampir sebagian besar guru sudah memiliki laptop masing-masing.

Sarana di SMP Negeri 10 Warmare  sudah cukup baik karena sudah dilengkapi dengan lima unit komputer, proyektor, dan perangkat pendukungnya untuk memperlancar pembelajaran.  Sekolah pun memiliki jaringan internet, bantuan dari Pustekom. 

Sayangnya, kondisi perpustakaan sudah cukup memprihatinkan. Tak hanya dari sisi koleksi buku-bukunya, tapi juga kondisi bangunannya. Tidak ada petugas perpustakaan yang aktif stand by di perpustakaan. Buku-buku bacaannya tidak begitu mendukung, pun sudah banyak yang tua dan lapuk, ditandai dari adanya beberapa buku yang berlubang dimakan rayap. Hanya buku pelajaran KTSP dan K-13 yang masih dalam kondisi bagus. SMP Negeri 10 Warmare pernah menjalankan K-13 sebelumnya, namun kemudian kembali ke Kurikulum KTSP, terlebih karena guru-guru yang terlatih K-13 banyak yang tak lagi mengajar.

Banyak Pencuri dan Pemabuk
Lokasi SMP Negeri 10 Warmare dekat dengan hutan dan kelapa sawit, sehingga sering beberapa kali dijumpai ular bersarang di sekolah, terutama perpustakaan, yang paling dekat dengan hutan. “Pernah pula pintu perpustakaan berada dalam kondisi jebol karena ada pencuri yang masuk. Ruang guru pun pernah kemalingan. Jendelanya jebol, tembok pembatas yang terbuat dari triplek pun dirusak. Beberapa piring hilang,” kisah Ervin.

Namun yang menurutnya paling seru adalah aksi pencurian tali bendera. “Saat itu upacara sudah siap dimulai. Ketika pemimpin barisan melaporkan barisannya ke pemimpin upacara, berceletuklah seorang dari pemimpin barisan, ‘Tali benderanya tidak ada’, seraya menunjuk tiang bendera. Dan ternyata memang benar, tali bendera hilang. Mendapati hal tersebut, akhirnya upacara bendera pun dibatalkan. Sekolah tidak memiliki persediaan tali bendera sehingga bendera dipasang manual dengan cara menurunkan tiang benderanya,” kata Ervin.

Saat malam, sekolah menjadi gelap gulita, tak ada penerangan satu pun. Hal ini karena lampu-lampu yang dipasang di luar ruangan selalu hilang sehingga tidak pernah dipasang lagi. Pernah pula dijumpai sisa kulit kacang dan genangan air yang beraroma tak sedap di salah satu ruang kelas, yang mungkin dilakukan orang yang mabuk.

Kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 10 Warmare dimulai pada pukul 07.30 WIT. Meski demikian, banyak siswa yang terlambat datang ke sekolah. Salah satunya karena mereka harus berjalan kaki menempuh jarak berkilo-kilo untuk menuju ke sekolah, bahkan ada yang harus menempuh jarak 10 kilometer. Jalanan menuju ke sekolah sudah beraspal mulus dan dilewati oleh angkutan umum/taksi, tetapi masih banyak siswa yang memilih berjalan kaki menuju sekolah daripada naik angkutan. Jika pada pagi hari turun hujan, maka banyak kemungkinan siswa yang bersekolah sedikit. Di SMP Negeri 10 Warmare, kedisiplinan siswa masih kurang bagus, karena masih ada siswa yang tidak masuk sekolah tanpa keterangan, bahkan hingga mencapai 20 hari selama satu bulan.

Siswa SMP Belum Bisa Membaca
Dikarenakan SMP Negeri 10 Warmare terletak di Distrik Warmare yang merupakan tempat transmigran pertama di Kabupaten Manokwari, beberapa siswa merupakan siswa peranakan transmigran. Namun siswa yang asli Papua, terutama dari Suku Arfak, pun juga cukup banyak, sekitar 85%. Namun demikian kemampuan siswa di SMP Negeri 10 Warmare ini cukup beragam. Ada yang bagus, ada yang tidak bagus. Bahkan masih ada siswa kelas VII yang belum hafal abjad atau huruf, apalagi membaca.

Ervin sempat berinisiatif untuk memberikan tambahan belajar sepulang sekolah pada murid-murid tersebut. “Saya mendesak kepala sekolah untuk membuatkan surat undangan orangtua siswa yang dianggap belum bisa membaca dan menulis. Dari 18 undangan yang diberikan, hanya dua orang tua siswa saja yang datang dan memberikan respon positif. Saya pun kemudian menyusun jadwal belajar tambahan kepada para siswa tersebut. Dari 18 siswa yang saya panggil, hanya tiga siswa yang datang. Masih sekitar 15 menit belajar, mereka sudah mengeluh lapar. Esok harinya, yang datang hanya satu orang. Esok harinya, tak ada yang datang. Saya panggil mereka, tidak ada yang menggubris saya. Alasan mereka jujur, malas dan lapar. Saya benar-benar tak berdaya,” keluh Ervin.

Berdasarkan pengamatan Ervin, siswa yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung adalah siswa yang berasal dari gunung. Umumnya, mereka bersekolah tidak sampai enam tahun. Mereka loncat kelas karena permintaan orangtua atas pertimbangan usia siswa yang sudah melampaui batas wajar tingkat pendidikan. Beberapa siswa dengan jujur mengatakan bahwa mereka jarang masuk sekolah karena membantu orangtua bekerja di ladang, ada pula karena malas. Mereka juga mengatakan bahwa guru mereka saat di SD pun jarang masuk dan mengajar. Kalau pun masuk, mereka hanya diberi catatan atau disuruh bermain saja. Beberapa siswa juga kedapatan merokok, bahkan ada yang membawa pisau seperti milik tentara dan pedang panjang. Nampaknya, kebiasaan berkelahi pun sudah dianggap wajar.

Saat ini, jumlah siswa di SMP Negeri 10 Warmare adalah 164 siswa, yang terbagi dalam  enam rombongan belajar. Sekitar 85% siswa beragama Kristen, dan 15% beragama Islam. Sekolah memiliki 7 ruang kelas, namun hanya 6 kelas yang berfungsi. Laboratorium IPA pun tidak berfungsi karena perlatannya sudah banyak yang rusak. Di SMP Negeri 10 Warmare, Ervin adalah wali kelas VII-B, dan juga mengajar Bahasa Indonesia di kelas VII, VIII, dan IX. Setiap Sabtu siang, ia juga membina ekstrakurikuler Pramuka.

Hingga saat ini, Sekolah masih belum memiliki guru Penjaskes dan guru Bimbingan Konseling, sehingga pelajaran Olahraga pun dibina oleh guru yang jam pelajarannya tidak sampai 24 jam per minggunya. Sedangkan untuk Bimbingan Konseling ditangani oleh masing-masing wali kelas.

Panah dan Pedang Mengancam
Menurut Ervin, mengatasi siswa di SMP Negeri 10 Warmare membutuhkan ekstra kesabaran. Problematika selalu muncul setiap hari. “Ada yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung saat masuk SMP. Mereka tidak mau diajak berubah. Diminta maju berbicara tidak mau, diajak belajar diam saja, diminta membaca malah menangis. Jika saya memberi penilaian sesuai dengan kondisi, parang dan panah mengancam,” kata Ervin. Ya, setiap tiba saatnya penulisan nilai rapor, Ervin selalu merasa galau dalam memberi nilai. Jika harus jujur sesuai fakta yang ada, ada ancaman panah dan pedang siap menghadang.

Meski demikian, Ervin selalu optimis bahwa pengabdiannya takkan pernah sia-sia. Misinya dalam mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri senantiasa menjadi senandung doa dan keyakinan yang menyertai setiap langkahnya di tanah seberang, Papua. ***


Ditulis tahun : 2016
Diterbitkan di Majalah Dikdas (Kemendikbud)

Sumber: Tulisan Ervin Indayati, S.Pd.

Guru Daerah Khusus 2015 : Buah Pengabdian di Daerah Khusus


Bulan November 2015 adalah bulan yang istimewa bagi para guru. Terlebih bagi perwakilan guru daerah khusus yang diundang ke Jakarta untuk ikut merayakan Hari Guru Nasional dan menerima penghargaan dari Pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan kuota sebanyak dua orang guru daerah khusus (gurdasus) per provinsi di seluruh Indonesia untuk diberangkatkan ke Jakarta, mengikuti event nasional yang memberi kesempatan para guru tersebut untuk bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan bahkan Presiden Republik Indonesia.

Dengan dikawal oleh Sub Direktorat Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus, dan SILN yang dinahkodai oleh Kepala Subdit Dra. Nike Kusumahani, M.Pd., para gurdasus dimanjakan selama kurang lebih satu minggu dengan menginap di hotel bintang lima, Grand Sahid Jaya, yang terletak di Jalan PB Sudirman, Jakarta Pusat. Jadwal kegiatan mereka pun sudah terjadwal dan disiapkandengan baik. Di saat para guru dan tenaga kependidikan sibuk dengan tes dan ujian, waktu para gurdasus justru lebih banyak diisi dengan kegiatan jalan-jalan menikmati beberapa  tempat menarik yang ada di Jakarta. Bagi mereka, melihat dan menikmati secara langsung kota besar dan aneka modernitasnya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Untuk sesaat, mereka dapat melupakan kerja keras dan pengabdian tak terhingga yang telah mereka  curahkan di daerah khusus, di pelosok Indonesia.


Salah satu kegiatan menarik para gurdasus adalah mengunjungi Museum Gajah. Mereka diajak untuk melihat-lihat berbagai koleksi berharga benda-benda purbakala dan yang mengandung nilai sejarah Indonesia. Dipandu oleh tim dari Museum Gajah, para gurdasus mendapat tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai khasanah bangsa. Mereka juga terlihat amat riang gembira.

Selain itu, mereka juga diajak untuk mengunjungi  Monumen Nasional (Monas), yang menjadi icon kota Jakarta. Karena letaknya yang tak begitu jauh dari Museum Gajah,  para gurdasus pun diajak untuk berjalan kaki sembari menikmati suasana Jakarta, melihat lalu lintas, taman, dan aneka transportasi di Jakarta. Di Museum Nasional, selain menikmati diorama yang menggambarkan sejarah bangsa, mereka juga berkesempatan untuk naik hingga ke puncak Monas dan melihat pemandangan luas kota Jakarta dari ketinggian. Tak sedikit yang berdecak kagum, memotretnya dalam ingatan, untuk dibawa pulang dan dibagi ke para siswa serta handai taulan di kampung halaman.


Beberapa kegiatan lain yang diikuti para gurdasus antara lain mengikuti Simposium Nasional dalam rangka merayakan Hari Guru Nasional 2015 dan pemberian penghargaan guru dan tenaga kependidikan berprestasi dan berdedikasi nasional 2015 di Plaza Kemdikbud, Senayan, Jakarta. Para gurdasus tak luput mendapat apresiasi dan penghargaan dari Mendikbud, Anies Baswedan. Selain itu, seluruh gurdasus juga diberi keistimewaan untuk mengikuti acara talkshow Mata Najwa di Studio Metro TV.

Tak ketinggalan Taman Rekreasi Ancol, Jakarta, juga menjadi salah satu obyek kunjungan para gurdasus maupun guru berprestasi lainnya. Mereka menikmati berbagai wahana permainan di Dufan. Bagi para gurdasus, pengalaman selama satu minggu di Jakarta adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup.
Pengabdian dan dedikasi tanpa pamrih mereka berbuah manis. Sepulang ke tanah pengabdian, mereka pun bertekad untuk semakin berkarya dan mendedikasikan diri sepenuh hati demi mencerdaskan anak negeri di pelosok terpencil Indonesia. ***


Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Dikdas (Kemendikbud)




Profil Gurdasus : Mengajar di Pelosok Hutan


Sumatri
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Tengah


Sudah kurang lebih 14 tahun Sumatri menjadi guru di daerah khusus. Sejak awal, Sumatri memang ingin menjadi guru, mengabdi pada bangsa dan negara. Ia pun sudah berkomitmen siap ditempatkan di mana saja. Dan sungguh beruntung Sumatri, karena rupanya ia pun ditempatkan mengajar di kampung halamannya, sehingga perjuangannya pun ia hadapi dengan suka cita.

Secara geografis, letak daerah tempat Sumatri mengajar adalah sebuah kampung tertua di Sulawesi Tengah, tepatnya di Dusun IV, Desa Pombewe, Kecamatan Biromoru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kawasan ini termasuk kawasan hutan yang masih terlindungi. Hasil bumi yang diperoleh adalah rotan serta pohon Aren, yang airnya bisa direbus dan dipanaskan untuk kemudian dijadikan gula merah.

Untuk menuju ke sana, jalanan yang dilalui cukup terjal, karena sebagian besar belum teraspal. Terlebih jika musim hujan datang, jalan menjadi becek dan berbahaya, sehingga tak bisa dilewati oleh kendaraan apapun, melainkan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sumatri sendiri biasa berjalan kaki bersama teman-temannya saat hendak berangkat ke sekolah. Jarak sekolah ke pusat kecamatan sekitar 25km, sedangkan jarak dari sekolah ke pusat kabupaten 35km. Ongkos untuk menuju ke kabupaten adalah sebesar 75 ribu.

Tahun 2014/2015, jumlah siswa di SD.... adalah 51 orang, dengan jumlah guru sebanyak 10 orang, yakni 6 guru pria dan 4 guru wanita. Sejauh ini, sarana dan prasarana belum begitu mencukupi. Jumlah buku paket pelajaran masih sangat kurang. Demikian pula dengan alat-alat peraga, masih belum tersedia. Aliran listrik pun belum ada. Meski demikian, hal itu tak mematahkan semangatnya dan anak-anak untuk terus belajar di sekolah.

Upaya pria kelahiran Biromoru, 08 Oktober 1966 ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekitar dalam pendidikan adalah ia selalu menghubungi ketua komite sekolah dan orang tua adat untuk mendiskusikan berbagai permasalahan sekolah. Sumatri pun tak segan untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah. Terutama saat akhir tahun, banyak kegiatan dan perlombaan yang diadakan di sekolah. Tak jarang Sumatri pun terpaksa menginap di sekolah bersama kawan-kawan guru lainnya. Selain itu, Sumatri pun aktif membina Pramuka di sekolah, juga kegiatan di gereja. Hampir 100% siswa-siswanya beragama Kristen.


Saat ini, penghasilan yang diterima Sumatri adalah sebesar 3.320.000 rupiah. Bukan termasuk penghasilan yang besar, mengingat harga kebutuhan pokok di daerah terpencil amatlah mahal. Terlebih Sumatri pun harus menghidupi seorang istri dan ketiga anaknya. Namun toh ia tak pernah merasa kecewa dan kekurangan. Sumatri telah terbiasa dengan lingkungan sekitarnya dan hidup dengan sederhana. Istrinya pun tak kenal lelah, selalu memberinya semangat untuk terus berjuang dan mengabdi. “Istri itu adalah obat bagi kita, kaum laki-laki, hahahaa...” ujarnya sembari tertawa gembira. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Meneruskan Jejak Pengabdian Ayah


Rawiyah, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Sulatan



Guru SDN 17 Pulau Burungloe ini sudah lebih dari 22 tahun mengabdi di daerah terpencil. Latar belakangnya, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi guru di daerah terpencil, sama seperti ayahnya, yang dulu juga pernah mengabdi di daerah yang sama.

SDN 17 Pulau Burungloe, tempat Rawiyah, S.Pd. mengabdi, terletak di salah satu pulau yang berada dalam gugusan kepulauan Sembilan, di bagian selatan sulawesi. Dinamakan Kepulauan Sembilan karena terdapat sembilan pulau yang bertebaran di Teluk Bone, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
Pulau Burungloe termasuk salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Sembilan tersebut. Dari kejauhan, Pulau Burungloe tampak seperti tempurung kelapa yang telungkup. Pulau ini termasuk daerah terpencil karena terletak jauh dari pusat kota dan harus ditempuh melalui jalur laut untuk mencapainya. Jarak dari pusat kecamatan mencapai 3 mil laut, sedangkan jarak dari pusat kabupaten mencapai 9 mil laut, ditempuh dengan menggunakan kapal motor.

Sebagian besar masyarakat yang mendiami Kepulauan Sembilan adalah Suku Bugis, yang terkenal sejak dulu kala sebagai pelaut tangguh. Kulit legam karena terpapar sinar matahari, rambut lurus, serta sorot mata yang tajam, berbicara dengan suara keras, adalah ciri khas anak-anak di Kepulauan Sembilan, termasuk Pulau Burungloe. Karena terpencil, maka masyarakat di sana pun hidup dalam kesederhanaan dan kurang ilmu pengetahuan karena terbatasnya akses. Bahkan listrik yang berasal dari diesel pun hanya dijatah hidup setiap jam 6 sore hingga 9 malam. Kendati demikian, anak-anak Pulau Burungloe memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah.

SDN 17 Pulau Burungloe merupakan sekolah dasar satu-satunya untuk anak-anak Pulau Burungloe belajar. Pada tahun ajaran 2014/2015,jumlah murid mencapai 152 siswa, dengan jumlah guru sebanak 13 orang, yang terdiri dari 7 orang guru PNS dan 6 orang guru nonPNS. Karena tak ada listrik pada pagi hari, maka sekolah pun tak bisa memanfaatkan sarana elektronik demi menunjang kegiatan pembelajaran.

Rawiyah mulai mengabdi menjadi guru di Pulau Burungloe sejak Oktober 1992, setelah diangkat menjadi guru bantu melalui SK Gubernur Sulawesi Selatan. Maka ia pun tak ragu, terlebih karena sebelumnya ayahnya, yang juga adalah guru, pernah pula mengabdi di pulau ini pada dekade tahun 60an. Rawiyah pun menyeberangi lautan dengan penuh semangat, memulai hidup baru dengan segenap tantangannya di Pulau Burungloe. Di sana, ia tinggal di rumah dinas yang telah disediakan. Kendati demikian, menurut Rawiyah, rumah dinas yang ditempati para guru saat ini banyak yang rusak berat. Rawiyah berharap supaya pemerintah peduli dengan rehabilitasi rumah dinas para guru di daerah terpencil. “Jadi guru sekolah dasar di daerah terpencil tidaklah mudah. Butuh kekuatan dan ketahanan fisik maupun mental. Tapi jika sudah terbiasa, ternyata tidaklah sesulit apa yang dibayangkan,” tutur Rawiyah.

“Pancaran mata anak didik saya dan kehausan mereka akan sebuah perubahan lah  yang selalu menginspirasi saya untuk selalu berbuat, mengajari mereka tentang segala hal, ilmu, perilaku, dan lain sebagainya. Saya ceritakan pada mereka bahwa kehidupan di luar sana adalah sebuah dunia nyata yang menyenangkan sebagaimana yang sempat mereka lihat di televisi. Saya katakan pula pada mereka bahwa kita pun mampu hidup damai dan nyaman tanpa rasa takut dan was-was akan kelaparan. Dan semua itu dapat diwujudkan dengan cara belajar yang tekun dan bercita-cita tinggi. Saya pun berusaha memotivasi mereka dengan berbagai hal,” kata wanita kelahiran Sinjai, 18 Agutus 1969 ini. Hal yang paling membuat Rawiyah merasa gembira adalah ketika melihat anak-anak begitu antusias tiap kali menyambut kedatangannya di sekolah. Demikian pula pandangan masyarakat sekitar mengenai guru, yang adalah profesi paling mulai, sangat dihormati dan disegani.

Di samping mengajar anak-anak pada pagi hari di sekolah, ibu dua anak ini pun seringkali memberi pelatihan pada ibu-ibu penduduk setempat tentang berbagai keterampilan, baik itu jahit menjahit maupun masak memasak. Tak jarang pula Rawiyah membimbing mereka, orang dewasa, yang masih belum bisa membaca dan menulis. Meski melelahkan, tapi Rawiyah merasa sangat senang dan puas ketika segala ilmu yang diajarkannya membawa manfaat bagi mereka.

Demi dapat menjadi guru yang baik, Rawiyah pun senantiasa berusaha selalu mengupdate ilmu dan keterampilan yang ia miliki  melalui berbagai hal. “Jika ada waktu dan dana, saya mencoba membuka internet, melihat dan mencari tahu perkembangan baru yang erat kaitannya dengan profesi saya sebagai guru,” kata Rawiyah. Di samping itu, tiap sebulan sekali Rawiyah pun berkumpul bersama guru-guru kelas IV lainnya di wilayah kecamatan Pulau Sembilan dalam forum KKG (Kelompok Kerja Guru), untuk membicarakan berbagai hal mengenai profesi guru.

Selama menjadi guru, Rawiyah akan terus menjaga tekadnya untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam mendidik anak-anak didiknya menjadi generasi yang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa. Kendati demikian, Rawiyah berharap bahwa pemerintah semakin memperhatikan kebutuhan pendidikan di daerah terpencil, supaya tak kalah dengan pendidikan di perkotaan. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Berbekal Roti Demi Memberi Les


Masyura, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Barat

Sudah sepuluh tahun lamanya Masyura, S.Pd. menjadi guru, tepatnya sejak tahun 2004. Profesi yang diidamkannya sejak ia masih kecil ini senantiasa membuatnya bahagia meski hingga kini ia masih berstatus sebagai guru honorer. Ia pun teguh pada komitmen, bersedia ditempatkan di mana saja, termasuk di daerah terpencil. Sehingga tak ada keluh sedikitpun saat pertama kali ia menjadi guru dan harus mengajar di daerah yang sulit. Masyura benar-benar ingin mengabdi pada tanah kelahirannya, mencerdaskan anak-anak bangsa. Namun kini ia sudah bernafas lega karena telah dipindahkan ke sekolah yang berada di tanah kelahirannya, di SD Negeri 24 Batukarut.

SD Negeri 24 Batukarut terletak di Desa Onang Utara, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. . Dari pusat kabupaten menuju sekolah, jarak yang ditempuh mencapai 1,5 jam dengan naik ojek, kemudian jalan kaki. Namun Desa Onang Utara termasuk dataran rendah, dan sebagian besar masyarakatnya adalah petani dan nelayan.

Terlahir dari orang tua petani, Masyura terbiasa hidup sederhana. Terlebih dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Baginya, bercita-cita menjadi guru adalah sebuah kesempatan yang lebih mudah untuk diraih, terlebih ia pun mendapat panggilan hati untuk menjadi guru. Beberapa saudara sepupunya pun ada yang menjadi guru, sehingga ia kerap terinspirasi dari mereka.

Saat ini SD Negeri 24 Batukarut memiliki 12 rombongan belajar, dan satu guru mengajar satu kelas. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika guru harus mengajar 2 hingga 3 kelas. Ini karena pemerintah telah membuka kelas jauh, sehingga jumlah siswa dalam rombongan belajar tak lagi sepadat dulu, yang hingga mencapai 40 siswa. Kecuali mata pelajaran olahraga dan agama memiliki guru khusus.  Namun jumlah ruang kelas masih 9 buah, sehingga terpaksa anak-anak harus belajar bergantian. Apalagi anak kelas 1 dan kelas 2 memiliki 2 rombongan belajar. Meski demikian, menurut Masyura, minat anak-anak terhadap sekolah sangat tinggi.

Saat ini, Masyura mengajar di kelas 6. Setiap hendak mengikuti ujian nasional, ia dan guru-guru lainnya pun tak segan memberikan les atau jam pelajaran tambahan usai pulang sekolah. Masyura kerap tak pulang ke rumah terlebih dahulu, melainkan menunggu anak-anak datang, kemudian memberikan les, sehingga ia baru dapat pulang ke rumah sekitar pukul 6 sore. Tak pelak ia pun hanya berbekal roti sebagai makan siangnya. Kendati demikian, kerja keras Masyura dan guru-guru lainnya membuahkan hasil. Anak-anak didiknya dapat melalui ujian nasional dengan hasil yang cukup baik.

Di samping itu, Masyura pun mengajar di kelas 5, dimana terdapat anak dalam kelas tersebut yang berkebutuhan khusus. Ia harus membimbing anak tersebut untuk dapat membaca dan menulis. Dikarenakan di Desa Onang Utara belum ada SLB, maka anak-anak yang berkebutuhan khusus pun dimasukkan ke SD Negeri 24 Batukarut, bercampur dengan anak-anak normal. Meski demikian, Masyura mengaku tak mendapat kesulitan berarti karena ia telah berpengalaman dan terbiasa mengatasi masalah tersebut.

Setiap tahun, SD Negeri 24 Batukarut pun rutin mengadakan semacam event demi membesarkan minat dan semangat para anak didik, yakni dengan kegiatan penamatan massal dan pramuka. Sebuah ajang yang mengasah prestasi di bidang olahraga dan kesenian. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah khusus yang menyenangkan.

Setiap hari, Masyura harus berangkat ke sekolah pukul 5.30 pagi demi mendapat tumpangan bus umum yang memang hanya ada pukul 6 dan pukul 9 pagi. Jika tak demikian, ia akan terlambat masuk ke sekolah. Sementara semua murid dan guru harus datang di sekolah tak lebih dari pukul 7 pagi. “Guru harus lebih rajin daripada murid karena guru harus memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya,” tutur Masyura.

Saat ini, Masyura hidup bahagia bersama suami dan seorang anaknya. Mustinya Masyura memiliki 3 orang anak, namun kini hanya satu yang tersisa karena 2 anak lainnya telah berpulang. Sementara suaminya bekerja di perusahaan tambang batubara. Dulu, setelah Masyura lulus kuliah dan ditugaskan menjadi guru, suaminya sempat berhenti bekerja demi mengurus anak-anak sementara Masyura bekerja. Terlebih karena orang tua Masyura pun telah renta dan sakit-sakitan. Tak ada pilihan lain, demi memberikan perawatan yang terbaik untuk anak-anaknya, maka suaminya lah yang tinggal di rumah merawat anak-anak.

Masyura berharap pemerintah senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan para guru daerah khusus, supaya mereka pun dapat bekerja dan memberikan hasil terbaik dalam mendidik anak negeri. Masyura memimpikan bahwa generasi Indonesia secara keseluruhan, baik di kota ataupun di desa, dari Sabang sampai Meuroke, memiliki pendidikan yang tinggi dan memadai untuk menyukseskan negeri, menjadi bangsa Indonesia sebagai negara besar yang disegani. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)


Profil Gurdasus : Pengabdi dari Majene


Basir, S.Pd.
Guru Daerah khusus Provinsi Sulawesi Barat



Betapa bangga guru SD Inpres 15 Ulumanda, Majene, Sulawesi Barat ini mendapat undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghadiri perhelatan bergengsi nasional, yakni Pemberian Penghargaan PTK Berprestasi dan Berdedikasi 2014 di Jakarta. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi Basir, S.Pd, karena ia menyadari bahwa hanya dua orang perwakilan guru daerah khusus untuk satu provinsi yang diberangkatkan ke Jakarta dan bertemu menteri maupun presiden nantinya. Basir benar-benar merasa beruntung. Jerih payahnya menjadi guru di daerah terpencil selama sebelas tahun benar-benar tak sia-sia.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Basir sudah bercita-cita ingin menjadi guru, memajukan pendidikan di Majene, membuat anak-anak di desanya menjadi lebih pintar membaca, menulis, dan berilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk menjadi guru selepas tamat sekolah, dengan status awal sebagai guru honorer.

Baru pada 01 Desember 2003 ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, yang membuatnya merasa amat lega dan bahagia. Basir merasa sangat bahagia karena dua hal; diangkat menjadi guru PNS, dan ditugaskan untuk mengabdi di tanah leluhurnya, di Ulumanda, Majene, Sulawesi Barat, tepatnya di Desa Popenga. Sebuah daerah yang sangat terpencil, berjarak 50km dari pusat kecamatan, atau 120km dari pusat kabupaten. Karena keterpencilannya, maka untuk menuju ke sana pun harus ditempuh dengan berbagai alat transportasi, mulai dari menggunakan mobil angkutan, ojek, hingga berjalan kaki. Rutenya pun naik dan turun gunung. Pada musim hujan, jalanan menjadi  sulit dilalui karena sangat becek dan berlumpur. “Kalau hendak berbelanja ke pusat kecamatan harus menunggu orang lain untuk dijadikan teman dalam perjalanan atau untuk mendorong motor ketika terjebak lumpur. Bahkan kalau cuacanya sangat buruk, terpaksa kita harus jalan kaki,” ungkap Basir.
Namun syukurlah Basir dan keluarganya tinggal tak jauh dari sekolah, hanya berjarak 700 meter. 

Setiap hari, Basir hanya perlu berjalan kaki menuju sekolah. Sejak kecil, Basir telah terbiasa hidup di daerah terpencil, sehingga ia pun dapat menikmati keadaannya yang jauh dari manapun dengan damai, bahagia, dan penuh rasa syukur. Kendati demikian, karena letak daerahnya yang demikian jauh, tak pelak harga kebutuhan pokok di Ulumanda pun sangat mahal. Belum ada pasar, listrik, bahkan jaringan telepon. Namun ia mengaku bahwa penghasilannya yang sebesar sekitar dua jutaan cukup untuk menghidupi keluarganya. “Kami juga senang saling berbagi dan tukar pikiran dengan keluarga, terutama dengan keluarga yang rajin bekerja di lahan pertanian. Soalnya saya suka ikut sama-sama mengerjakan lahan pertanian di luar jam pembelajaran sekolah,” kata ayah dari lima anak ini.

Menurut Basir, menjadi guru di desa Ulumanda sangat menyenangkan. Terlebih karena masyarakat sekitar menganggap bahwa profesi guru adalah sebuah profesi mulia yang dihormati dan disegani. “Setiap ada kegiatan di masyarakat, saya selalu dilibatkan,” kata Basir.
Saat pertama kali mengajar, menurut guru yang lahir pada 31 Desember 1967 ini, hanya ada dua orang guru di SD Inpres 15 Ulumanda, termasuk kepala sekolah. Saat ini, Basir mengajar di kelas VI dengan jumlah murid sebanyak 14 orang. Total murid di SD Inpres 15 Ulumanda pada tahun ajaran 2014/2015 ini sebanyak 100 orang, dengan jumlah guru dan kepala sekolah sebanyak sembilan orang. Lima orang guru PNS, dan tiga orang guru tidak tetap.

Sarana dan prasarana yang dimiliki SD Inpres 15 Ulumanda ini pun sangat terbatas. Hanya terdapat satu bangunan di tanah sekolah, dengan 3 ruangan yang kemudian disekat-sekat menjadi dua untuk enam rombongan belajar. Karena keterbatasan ini, Basir pun tak kurang akal dalam memanfaatkan segala peralatan atau alat peraga seadanya untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Bahkan tak jarang ia mengajak murid-muridnya untuk belajar di luar sembari mengamati alam sekitar.

Kendati demikian, Basir menyadari bahwa untuk menjadi seorang guru yang baik, ia pun harus rajin meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, ia pun mengikuti program S-1 di Universitas Terbuka Majene dengan program studi Pendidikan Guru SD, dan lulus pada tahun 2012. Bahkan pada tahun 2013 Basir pun mengikuti pendidikandan pelatihan sertifikasi guru di Makassar, Sulawesi Selatan. Kini, pria 47 tahun ini sudah menyandang sertifikat pendidik.

Meski senantiasa bersemangat menjadi guru, Basir berharap pemerintah dan masyarakat bahu membahu dalam meningkatkan layanan pendidikan, memberikan kesempatan yang lebih besar kepada guru-guru di daerah khusus. Bagaimanapun, sebagai guru daerah khusus, Basir pun ingin tak kalah dengan kualitas guru-guru di perkotaan. Ia pun berharap pemerintah daerah segera meningkatkan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil seperti di Ulumanda, Majene, sehingga masyarakat, guru, maupun anak-anak mendapatkan akses yang mudah. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Pendidik Anak Transmigran dari Gorontalo


Sarmin Usman, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Gorontalo



Mulanya, Sarmin Usman, S.Pd merasa tergugah ketika melihat anak-anak warga transmigran yang ingin belajar, namun belum ada bangunan sekolah dan guru yang memfasilitasi mereka. Terlebih karena selama ini Sarmin merasa terkesan dengan keramahan dan kesantunan para warga transmigran yang ada di sekitarnya. Maka pada tahun 1991, atas inisiatifnya bersama tiga orang kawannya dan kepala UPT Malango I, Sarmin pun menjadi guru sukarela bagi anak-anak transmigran tersebut. Mereka pun belajar bersama dengan memanfaatkan kantor UPT sebagai ruang kelas dan menggunakan peralatan seadanya. Tanpa meja, tanpa kursi. Meski belajar dengan menggelosor di lantai, anak-anak transmigran di Desa Malango ini sangat antusias belajar.

Desa Malango adalah sebuah desa terpencil, terletak di lereng gunung dan bantaran sungai Malango yang hampir setiap tahun dilanda banjir akibat penebangan hutan dan pembukaan lahan kebun kepala sawit. Desa ini pun adalah sebuah desa di mana banyak tinggal para transmigran. Mereka berasal dari dari berbagai suku dari Jawa Timur, Jawa Barat, Minahasa, Sangir Talaud, Bolang Mongindou, dan lain sebagainya. Sebagian besar pekerjaan mereka adalah sebagai buruh tani atau perkebunan yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Oleh karena itu, mereka masih berpikir bahwa pendidikan bukanlah hal utama, meskipun sekolah telah menjamin fasilitas seragam dan alat tulis gratis melalui dana BOS dan PNPM.

Tahun 1993, Sarmin pun diangkat menjadi guru honorer di SD Inpres Malango I. Tahun 1995, Sarmin dipindah ke SD Inpres 07 Motolohu. Hingga pada tahun 1996, wanita kelahiran 01 Januari 1969 ini baru diangkat menjadi PNS dan ditugaskan mengajar di SD Negeri 04 Taluditi hingga sekarang. Di samping itu, Sarmin pun telah menyelesaikan pendidikan tingginya di Universtas Terbuka pada tahun 2011.

SD Negeri 04 Taluditi adalah sebuah sekolah terpencil yang terletak sekitar 7 km dari pusat kecamatan, atau 52 km dari pusat kabupaten. Karena letaknya yang cukup jauh dengan medan transportasi yang sulit, maka angkutan umum pun belum tersedia. Untuk pergi ke kecamatan atau kabupaten harus menumpang truk rotan atau jhondeer. Jaringan telekomunikasi dan internet pun belum tersedia, sehingga Sarmin dan guru-guru lainnya harus pergi ke kecamatan jika hendak mengupdate Dapodik serta berbagai kebutuhan informasi lainnya untuk kegiatan belajar mengajar.

Tahun ajaran 2014/2015, murid-murid di SD Negeri 04 Taluditi berjumlah 112 orang. Kondisi bangunan sekolah saat ini mengalami beberapa rusak ringan. Pagar samping dan belakang sekolah sudah ambruk. Selain itu, sekolah pun belum memiliki alat-alat olah raga seperti matras. Motor dinas sekolah pun rusak berat.

Dalam mengajar, wanita yang gemar membaca ini kerap memberikan motivasi pada murid-muridnya supaya lebih giat dan rajin belajar dan datang ke sekolah. “Dalam seminggu, dua atau tiga kali saya memberi makanan atau uang jajan pada murid-murid saya. Jika ada yang belum punya seragam saya berikan seragam sekolah. Sedangkan untuk siswa kelas 1 yang biasanya lambat belajar, saya bujuk dengan menyediakan permen atau biskuit bagi mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya,” kata Sarmin.

Selain itu, Sarmin pun mencoba menerapkan beberapa program pembelajaran yang baik pada murid-muridnya. Misalnya dengan menghapal Surat Al-Fatihah sebelum masuk kelas, membaca satu kalimat atau menghitung cepat sebelum istirahat pertama, mencari satu kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebelum istirahat kedua, membuat resume seminggu sekali dengan sumber buku di perpustakaan, serta menjawab satu soal atau membaca doa-doa shalat sebelum jam pulang.

Sebagai guru daerah khusus, gaji yang diterima Sarmin sebesar tiga juta enam ratusan rupiah per bulan. Ia sangat bersyukur karena terbantu berkat adanya tunjangan daerah khusus yang diterimanya. Kendati demikian, harga kebutuhan pokok di Malango relatif mahal, sehingga Sarmin pun mencoba menggali penghasilan sampingan dari mengolah lahan pertanian dengan menanam jagung bersama suaminya, yang seorang guru SMP.

Sarmin berharap bahwa masyarakat pun memiliki andil menjaga keamanan dan kebersihan sekolah serta mendukung semua program sekolah atau komite sekolah sehingga dapat meraih hasil yang lebih optimal dalam mencetak generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia. Pada pemerintah, Sarmin berharap supaya pendidikan di daerah terpencil lebih diperhatikan kebutuhannya guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Demikian pula dengan kesejahteraan para guru daerah khusus, karena menurut Sarmin, masih banyak kawan-kawan sesama guru daerah khusus yang belum menikmati tunjangan guru daerah khusus di daerahnya.


Satu-satunya keinginan Sarmin adalah menjadi guru yang profesional dan dicintai murid-muridnya, serta mampu mengantarkan murid-muridnya sebagai manusia yang berpendidikan dan berakhlak mulia. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Mendidik Suku Terasing

Yusmerni Hano, S.Pd.
Guru daerah khusus Provinsi Gorontalo


Yusmerni Hano, S.Pd telah mengabdi selama kurang lebih 18 tahun sebagai guru di daerah khusus, di provinsi Gorontalo. Pertama kali, ia mengajar pada tahun 1995 di SDN 2 Lakeya. Kemudian pada tahun 2001, ia dipindahkan untuk mengajar di SDN 10 Tolangohula, hingga sekarang. Banyak pengalaman menarik yang telah dilaluinya, baik itu suka maupun duka. Kendati demikian, ia terus berkomitmen untuk mendidik anak bangsa di daerah khusus. SUngguh pantas jika kemudian ia mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai guru daerah khusus berdedikasi.

SDN 10 Tolangohula tempat Yusmerni mengajar terletak di Desa Binajaya, sebuah wilayah terpencil di provinsi Gorontalo. Jarak sekolah ke pusat kecamatan adalah 10 km, sedangkan ke pusat kabupaten adalah 110 km. Lokasi SDN 10 Tolangohula ini berada di pinggiran sungai di bawah kaki gunung, bahkan berada di tengah-tengah lahan tebu. Banyak terdapat pohon-pohon besar yang berusia tahunan, sehingga membuat lingkungan sekitar menjadi sejuk. Bahkan acapkali proses belajar mengajar ini pun dilakukan di bawah pohon untuk menumbuhkan minat siswa.

Di tahun ajaran 2013/2014 ini, ada 324 siswa yang belajar di SDN 10 Tolangohula, dibimbing oleh 18 orang guru. Gedung sekolah sudah permanen setelah mendapat dana DAK (Dana Alokasi Khusus) pada tahun 2008 dan 2009. Perlengkapan kelas dan kantor pun sudah cukup baik dan lengkap berkat dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun alat-alat elektronik belum bisa dipergunakan karena belum ada aliran listrik di Desa Binajaya, sehingga alat-alat elektronik seperti komputer terpaksa dibawa ke tempat yang beraliran listrik untuk memenuhi tugas penyelesaian administrasi sekolah maupun permintaan data dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Pada umumnya, masyarakat di Desa Binajaya sudah cukup menyadari arti pentingnya pendidikan, sehingga mereka sangat mendukung anak-anak mereka bersekolah. Kendati demikian, banyak anak-anak di Desa Binajaya yang hanya lulusan SD, karena untuk meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi lagi, mereka harus menempuh perjalanan yang amat jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, dsb. Kendala inilah yang membuat mereka mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah.

Sejak terangkat menjadi guru PNS pada tahun 1995 sampai tahun 2000, Yusmerni harus mengalami perjuangan yang berat dalam mengajar. “Untuk menuju ke sekolah, saya mengendarai sepeda, yang kemudian saya titipkan ke rumah penduduk. Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena jalannya penuh dengan batu-batuan dan lubang-lubang. Saat menuju ke sekolah, saya pun masih menjemput siswa saya di rumahnya untuk saya ajak bersekolah,” cerita Yusmerni.

Sempat Dikatai Anjing Menggonggong
Baru pada tahun 2001, ia dimutasikan di SDN10 Tolangohula. Tahun 2007, SDN 10 Tolangohula sudah mendapatkan SATAP (Kelas Satu Atap), serta mendapat gedung baru, yaitu di kelas jauh. Di kelas jauh, Wanita kelahiran 22 Juli 1964 ini bercerita bahwa ia pun memiliki siswa dari suku terasing yang hanya menggunakan kulit kayu dan dedaunan untuk menutupi tubuhnya. “Kami kesulitan mengajar mereka karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Setiap kami mengajar di kelas, dikatakan seperti anjing yang menggonggong, sama dengan anjing yang ada di pondok mereka,” kisah Yusmerni. “Namun kami tetap sabar dan tabah menjalaninya. 

Dua tahun kemudian, siswa ini sudah bisa beradaptasi dengan teman-temannya yang lain, dan mereka sudah duduk di kelas 4 – 5. Bahkan Bapak Bupati pun sudah mengunjungi sekolah ini dan berdialog langsung dengan anak-anak suku terasing ini. Beliau memberikan bantuan berupa pembangunan rumah sederhana, pakaian, dan uang saku. Dua tahun yang lalu Bapak Bupati pun bahkan telah menikahkan dua pasangan suku terasing  dengan meriah di kecamatan.

Menurut ibu satu anak ini, siswa di SDN 10 Tolangohula setiap tahun selalu bertambah, apalagi dengan semakin banyaknya bantuan yang datang, seperti gedung sekolah PAUD, SD, dan SMP. Bahkan pada bulan September 2013 ini akan dibuka tempat perkuliahan belajar jarak jauh (semacam Universitas Terbuka) yang berlokasi di SDN 10 Tolangohula. Menurut Yusmerni, banyak alumni SDN 10 Tolangohula yang telah meraih gelar Sarjana Pendidikan di PGSD, dan mereka pun sudah mengabdikan dirinya di SDN 10 Tolangohula.


Saat menerima penghargaan sebagai guru daerah khusus berdedikasi di Jakarta, Yusmerni mengaku bahwa ini kedua kalinya ia pergi ke Jakarta. Pertama kali adalah saat ia diwisuda di Universitas Terbuka Jakarta pada tahun 2011. Ia merasa tidak menyangka akan mendapat kesempatan mengikuti ajang pemilihan guru daerah khusus, yang kemudian mengantarkannya sampai ke Jakarta. Yusmerni merasa amat senang dan bahagia, apalagi dapat bersalaman langsung dengan Mendikbud dan melihat langsung Presiden RI, hal yang selama ini bahkan tak pernah ia impikan. ***


Ditulis tahun : 2013

Profil Gurdasus : Mengabdi untuk Kampung Halaman

Wahida, S.IP.
Guru daerah khusus Provinsi Sulawesi Tenggara


Sebagai putra daerah, Wahida A.Ma., S.IP merasa bertanggung jawab untuk memajukan negerinya, terutama di bidang pendidikan. Oleh karena itu, ia memilih untuk menjadi guru PNS di kampung halamannya sendiri. Apalagi di tempat kelahirannya, menurut adat, anak perempuan  berkewajiban merawat orang tuanya yang sudah renta. “Saya merasa, siapa lagi yang akan membangun pendidikan di daerah saya kalau bukan anak-anak daerah sendiri,” tuturnya.

Awal mengajar, Wahida ditempatkan di SDN 3 Laonti, dari tahun 1990 hingga 2002. Kemudian ia dipindahkan ke SDN 2 Ulusawa dari tahun 2003 hingga 2010. Baru pada tahun 2011 ia mendapat kesempatan mengabdi di SDN 1 Ulusawa, tempat dulu ia menempuh ilmu semasa kecil, hingga sekarang.

SDN 1 Ulusawa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, berjarak 3 km dari pusat kecamatan. Namun jarak ke kota kabupaten cukup jauh, harus ditempuh dengan perahu motor selama kurang lebih 4 – 6 jam, kemudian bersambung menggunakan transportasi mobil selama kurang lebih 2 jam.

Menuju lokasi desa Ulusawa boleh dibilang tergolong berat, karena tidak ada jalan darat. Satu-satunya transportasi adalah melalui jalur laut. Namun ketika musim timur tiba, tak ada yang berani melaut, karena  gelombang ombak cukup besar dan berbahaya.

Menurut wanita yang sudah sejak tahun 2011 mengajar di SDN 1 Ulusawa, sarana dan prasarana di sekolahnya boleh dibilang sudah cukup baik, meski masih sangat sederhana. Setidaknya, ruang kelas sudah berlantai semen dan beratap seng. Hanya sarana media pembelajarannya saja yang dirasa masih kurang.

Pada tahun ajaran 2013-2014, jumlah siswa SDN 1 Ulusawa mencapai 104 anak, yang dibimbing oleh 9 orang guru. 5 orang guru sudah PNS, sedang 4 guru lainnya berstatus guru tidak tetap. Kendati demikian, mereka pun mendapat honor dari dana BOS serta tunjangan dari pemerintah pusat. Sedangkan guru PNS nya pun sudah menikmati insentif daerah khusus dari pemerintah.

Banyak suka duka yang dirasakan wanita kelahiran 7 Juni 1970 ini saat mengajar di SDN 1 Ulusawa. Sukanya, ketika ia melihat anak-anak dapat menerima proses pembelajaran dengan bersemangat. Namun dukanya, banyak siswa-siswa yang tidak mandi ketika mereka bersekolah, sehingga hal ini dapat sedikit mengganggu konsentrasi belajar mengajar dikarenakan aroma yang tidak sedap. Oleh karena itu, kadang-kadang tak pelak Wahida menyuruh muridnya untuk mandi di sungai belakang sekolah.

Sayangnya, kondisi sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya kurang memahami arti penting pendidikan bagi anak-anaknya. Masih banyak anak-anak yang belum mengenyam pendidikan SD – SMA. Jika mereka bepergian, mereka kerap membawa anaknya tanpa meminta ijin pada sekolah. Selain itu, inisiatif mereka untuk memotivasi anak-anaknya pun kurang maksimal. “Pada saat pendaftaran penerimaan murid baru, tidak ada orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah, sehingga terpaksa kami mendatangi mereka ke rumah-rumah untuk mendata anak-anak mereka yang usia sekolah. Saat tiba waktu sekolah, mereka pun masih enggan datang ke sekolah. Namun jika sudah dibagikan baju seragam, baju kaos, batik, dari dana BOS, barulah mereka mau menyuruh anaknya ke sekolah,” cerita Wahida.

Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat sekitar berlatar belakang pendidikan rendah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Sehingga mereka cenderung lebih fokus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketimbang memikirkan pendidikan anak-anaknya.

Namun keadaan ini justru membuat ibu satu anak ini semakin termotivasi untuk melakukan lebih banyak hal. Di sela-sela kesibukannya menjadi guru SDN 1 Ulusawa, Wahida pun menyisihkan energinya untuk mendirikan TK (Taman Kanak-kanak). “Di kecamatan saya yang terdiri dari 19 desa, hanya ada satu TK, yaitu TK yang saya dirikan pada tahun 2010…” ujarnya.

Selain itu, Wanita lulusan Universitas Terbuka Jakarta ini pun mendirikan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) yang mengelola  pendidikan luar sekolah setara SD paket A, SMP paket B, dan SMA paket C. Ia merasa bahwa program ini bisa lebih menyentuh masyarakat.

Terpilih mewakili Sulawesi Tenggara untuk menerima penghargaan dari pemerintah sebagai guru berdedikasi daerah khusus sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Wahida. “Selama mengikuti kegiatan di Hotel Sahid, saya merasa sangat terhormat karena ditempatkan di hotel mewah dan ternama dengan pelayanan yang sangat memuaskan. Dilanjutkan dengan mengunjungi tempat wisata dan bersejarah yang sangat mengagumkan, karena selama ini apa yang saya ajarkan pada murid saya hanya melalui gambar dalam buku. Tapi kali ini saya benar-benar melihat langsung secara nyata dan saya abadikan dalam kamera saya,” kisah Wahida.

Wahida pun tidak menyangka akan dapat melihat langsung wajah Bapak dan Ibu Presiden serta Wakil Presiden RI saat silaturahim maupun upacara kemerdekaan RI di Istana Negara, juga berjumpa dengan Ibu-ibu dari SIKIB dengan program kerja yang membuatnya berdecak kagum.


Wahida berharap semoga pemerintah, baik itu pusat maupun daerah, terus memberikan perhatian untuk kemajuan pendidikan di daerah-daerah khusus, dan memberi motivasi kepada para guru, sehingga mereka senantiasa berbesar hati ditempatkan di daerah khusus. ***


Ditulis tahun : 2013

Profil Gurdasus : Bertemu Jodoh di Daerah Terpencil

Sitti Nurhayati, S.Pd. SD
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Selatan


Lahir dari keluarga biasa di sebuah kampung kecil daerah perbukitan bernama Saa, sebelah timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Sitti Nurhayati, S.Pd. SD tak menyangka dapat menjadi guru daerah khusus yang mendapat penghargaan dari pemerintah atas dedikasinya. Wanita kelahiran 5 Juni 1959 ini telah tiga kali mengikuti seleksi ujian CPNS, hingga akhirnya berhasil lulus tahun 1982. “Kelulusan saya membawa kebahagiaan tiada terkira. Betapa tidak, menjadi PNS adalah idaman banyak orang…” ujarnya.

Namun Sitti kembali diselimuti kekhawatiran kala mengetahui bahwa ternyata ia ditugaskan di SDI Karumpa Timur, Desa Kalaotoa, Kecamatan Pasimarannu. sebuah tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Kendati demikian, Sitti tak lekas menyerah. Sesuai komitmennya bahwa ia bersedia ditempatkan dimana saja, maka berangkatlah Sitti menuju tempat tugas barunya dengan berbekal berbagai informasi yang telah didapatnya.

“Meski masih dihantui kekhawatiran, saya pun berangkat seorang diri ke tempat tugas. Saat itu status saya masih gadis. Kala itu saya menumpang kapal kayu pengangkut barang milik orang Bonerate yang kebetulan hendak membawa barang dagangan ke sana. Saya mengalami perjalanan laut yang luar biasa mendebarkan dan memicu adrenalin. Lautan lepas, ombak ganas, angin kencang, kapal kayu kecil, dan mabuk laut menjadi pemandangan selama 5 hari 5 malam. Ketika sampai, saya kelelahan hebat dan sedikit trauma perjalanan. Tapi yang membuat saya merasa senang adalah sambutan masyarakat sana yang sangat ramah, bersahabat, antusias, dan penuh penghormatan,” kisah Sitti.

Tiba di tempat dinas yang baru, Sitti terpaksa tinggal bersama keluarga kepala lingkungan karena pada waktu itu belum ada perumahan guru. Namun tak lama kemudian, masyarakat bergotong royong membangun sebuah pondok kecil untuk dia tinggali sendiri, membuat Sitti merasa amat terharu. “Di pondok itulah saya tinggal seorang diri menumpahkan suka duka di antara bingkai amanah dan kesepian dari orang-orang yang saya cintai,” katanya.

Saat itu, gaji pertama Sitti hanya 16ribu rupiah. Sitti sudah merasa cukup, karena kebutuhan lauk pauk, sayur-mayur, dan lain sebagainya seringkali gratis dari masyarakat. Bahkan Sitti seringkali diajak pergi rekreasi dan makan ikan bakar segar bersama-sama untuk mengusir kepenatan dan kejemuan.

Satu tahun mengabdi di SDI Karumpa Timur, Sitti baru mendapat kawan 2 orang guru tambahan. “Melalui teman itulah saya berbagi suka duka dan sharing mengatasi berbagai problem pembelajaran di SDI Karumpa Timur<” katanya. Kendati demikian, salah satu problema yang dihadapi pada saat itu adalah tidak adanya kepala sekolah, sehingga bagai anak ayam kehilangan induknya. Lima tahun kemudian, yakni pada tahun 1987, baru ada kepala sekolah yang ditugaskan disana.

Seiring dengan berjalannya waktu, Sitti mulai dapat beradaptasi dengan baik di Karumpa Timur. Hanya beberapa kendala yang membuatnya sedikit jengkel. Misalnya, ketidaktersediaannya air tawar, sehingga terpaksa ia harus menggunakan air asin untuk mandi, mencuci, dsb. Selain itu, Sitti pun kewalahan dengan nyamuk-nyamuk yang luar biasa banyak. Duka lainnya adalah, penerimaan gaji guru baru bisa ia terima 3 – 4 bulan sekali karena faktor administrasi maupun transportasi.

Hal lain yang membuatnya sempat kewalahan adalah, hampir sebagian besar murid-murid SDI Karumpa Timur tidak bisa berbahasa Indonesia, sedangkan Sitti pun tidak bisa berbahasa daerah setempat, yakni Bahasa Bonerate/Buton. Tentu saja hal ini dapat menghambat transfer keilmuan kepada anak-anak didik. “Tapi saya tidak kehilangan akal; saya mempelajari bahasa daerah setempat sedikit demi sedikit. Setelah tiga bulan belajar, akhirnya bisa sedikit berbahasa daerah setempat dan menggunakannya sebagai pengantar dalam mengajar anak-anak,” ceritanya.

Sedangkan pengalaman sukanya, Sitti mendapatkan jodoh, yakni seorang pemuda yang juga pendatang. Tak lama kemudian, Sitti pun menikah dan membangun keluarga harmonis yang bahagia. Hingga saat ini, Sitti telah dikaruniai dua putra.

Pindah Tugas
Setelah 10 tahun bertugas di SDI Karumpa Timur, Sitti mendapat penugasan baru, pindah ke SDN Bonerate di Desa Majapahit. “Di tempat tugas yang baru, saya merasa sedikit lega karena sudah berada di kota kecamatan, meski belum ada jembatan/dermaga tempat berlabuh. Waktu tempuh ke kota Kabupaten masih lama, sekitar 14 – 18 jam. Transportasinya pun belum lancar, dan belum ada listrik, apalagi jaringan telepon,” kisah Sitti.

Kendati demikian, Sitti merasa betah karena masyarakat Bonerate sangat ramah dan menganggapnya sebagai keluarga mereka sendiri. Di samping itu, air tawar pun tak lagi susah didapat, sehingga Sitti mulai dapat bernafas lega.

SDN Bonerate memiliki jumlah siswa sebanyak 180 anak, yang dibimbing oleh 14 orang guru. 5 orang guru PNS, 4 orang guru kontrak, dan 5 orang guru tidak tetap. Ada 7 ruang kelas yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar. Ini tidak mencukupi, karena seharusnya ada 10 kelas untuk mencapai ideal. Masyarakat Bonerate sangat peduli terhadap pendidikan. Para orang tua murid sangat mendukung anak-anaknya untuk bersekolah sebaik-baiknya.

Di SDN Bonerate inilah Sitti mengabdikan segenap kemampuannya selama 20 tahun hingga saat ini. “Saya bersedia mengabdikan diri di daerah khusus ini karena bertugas di daerah lain terutama di pulau sangat dihargai oleh masyarakat dan siswa-siswanya. Lagipula, saya pun sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk bersedia ditempatkan dimana saja demi mencerdaskan anak bangsa,” tutur Sitti.

Sitti terpilih mewakili Provinsi Sulawesi Selatan untuk menerima penghargaan guru daerah khusus berdedikasi dari pemerintah setelah melampaui beberapa seleksi. Pada akhirnya ia pun dinyatakan lulus dan melenggang ke Jakarta, kota yang belum pernah sekalipun dikunjunginya. “Perjalanan dari Sulawesi Selatan ke Jakarta sedikit mengkhawatirkan, karena saya baru pertama kali naik pesawat. Di Bandara Soekarno Hatta pun sempat kalang kabut karena tidak ada yang menjemput, sehingga saya bersama teman menyewa mobil 200 ribu rupiah untuk sampai ke Hotel Sahid. Sesampai di hotel, ternyata penyambutannya sangat luar biasa. Para panitianya baik dan ramah,” kata Sitti.

Yang paling membuatnya terkesan adalah ketika berkesempatan mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Negara, dimana ia bisa secara langsung melihat Presiden maupun Wakil Presiden. Sitti merasa sangat berterima kasih atas anugerah yang telah diterimanya. Kendati demikian, terbersit harapan dalam dirinya bahwa pendidikan di Indonesia akan semakin maju dan merata. “Harapan saya pada tokoh masyarakat, agar masyarakatnya diarahkan supaya mereka lebih memahami arti penting pendidikan dan mendorong anak-anaknya untuk sekolah. Sedangkan harapan saya pada pemerintah daerah, agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana sekolah, baik itu gedung sekolahnya, perpustakaan, serta buku-buku paket”.  Dan harapan Sitti pada pemerintah pusat adalah semoga nasib para guru daerah khusus semakin diperhatikan sehingga mereka semakin semangat dalam mendidik anak-anak didiknya.***


Ditulis tahun : 2013


Profil Gurdasus : Mengajar di Rumah Panggung

Roslina
Guru daerah khusus Provinsi Sulawesi Tengah


Menjadi guru telah dilakoni Roslina sejak tahun 1994. Saat pertama kali, ia mengajar di SDN Wugaga. Baru pada tahun 2005, Ia dipindahkan ke SDN Ongulero, mengajar hingga sekarang.

SDN Ongulero terletak di Desa Ongulero, Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Letaknya cukup jauh dan terpencil, berada di wilayah pegunungan, yakni berjarak 30 km dari pusat kecamatan, atau 80 km dari pusat kabupaten. Kendati demikian, Desa Ongulero memiliki hawa yang cukup sejuk dan pemandangan yang indah seperti pantai di selat Makassar.

Keadaan sekolah SDN Ongulero cukup memprihatinkan. Baik lantai maupun dindingnya masih terbuat dari kayu papan, sedangkan atapnya terbuat dari seng. Bentuk sekolahnya pun seperti rumah panggung, tidak seperti layaknya sekolah-sekolah lainnya. Hanya terdapat tiga kelas untuk siswa sebanyak 55 anak. Tidak ada ruang kantor maupun prasarana lainnya. Namun syukurlah 8 orang guru yang mengajar di SDN Ongulero berstatus PNS semua.

Sejauh ini, masyarakat setempat cukup mendukung pendidikan. Mereka tak segan menyuruh anaknya untuk bersekolah meski keadaan sekolah dan sarana prasarana yang dipergunakan hanya seadanya.

Roslina, yang adalah penduduk asli, terpanggil untuk memajukan kampung halamannya, terutama di bidang pendidikan. Oleh sebab itu ia mengabdikan diri dengan mangajar di daerah asalnya.

Dengan segenap kesulitan dan hambatan keadaan sekolah maupun lamanya dedikasi wanita kelahiran 20 November 1968 ini, pantas jika ia mendapatkan penghargaan sebagai guru daerah khusus berdedikasi dari pemerintah. Karena anugerah ini, Roslina berkesempatan untuk datang ke Jakarta. Pertama kalinya dalam hidupnya, juga pertama kali baginya merasakan naik pesawat. “Awalnya kami berkenalan dengan gurdasus lainnya. Kemudian mengikuti serangkaian acara, juga rekreasi ke Kota Tua dan Masjid Istiqlal,” kisah Roslina. Ia mengaku merasa sangat gembira dengan segala yang telah diperolehnya.


Roslina berharap bahwa pemerintah daerah terus memberikan perhatian khusus pada guru-guru daerah terpencil. Demikian pula ia berharap pada pemerintah pusat supaya senantiasa memperhatikan kesejahteraan guru-guru di daerah khusus, supaya mereka semakin semangat dalam mengabdi mencerdaskan anak-anak bangsa. ***


Ditulis tahun : 2013

Profil Gurdasus : Mengajar di Atas Laut

La Dalisa, S.Pd.
Guru daerah khusus Provinsi Sulawesi Tenggara


Saat pertama kali mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari pemerintah bahwa ia ditempatkan di sebuah sekolah terpencil di Pulau Bangko, La Dalisa, S.Pd bahkan sampai menangis karena merasa dibuang di pulau yang amat jauh dan terpencil. Namun kini ia malah semakin bersyukur, apalagi setelah menerima penghargaan nasional sebagai guru daerah khusus yang berdedikasi dari pemerintah.

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Bangko pada tahun 1988, La Dalisa ditempatkan di SDN Pulau Bangko yang terletak di kota kecamatan. Baru pada tahun 1998 ia dipindahkan ke SDN 13 Maginti, hingga tahun 2008. Setelah itu, ia dipindahkan ke SDN 12 Maginti, hingga sekarang. Berjuang dalam mendidik anak-anak, terutama di daerah khusus, dirasakan La Dalisa sebagai sebuah perjuangan yang tidak mudah. Ia harus dapat bertahan dengan segala keminiman dan keprihatinan sarana dan prasarana.

SDN 12 Maginti, yang terletak -+ 110 km dari kota kecamatan, adalah satu-satunya sekolah di Kabupaten Muna yang berdiri di atas laut, dengan disangga tiang-tiang kayu. Karena air maupun cuaca dapat mengikis kayu, maka setiap tiga bulan sekali La Dalisa pun harus membeli 10 – 20 batang tiang untuk kemudian disisipkan supaya penyanggah tetap kuat.

Jika terjadi musim angin barat, dimana biasanya angin bertiup cukup kencang disertai dengan gelombang yang besar, maka La Dalisa tak bisa beranjak kemanapun, bahkan untuk mendarat. Ia harus menunggu ombak surut, yang kadangkala bahkan dapat berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Resikonya, ketika waktu gajian tiba, terpaksa La Dalisa harus menundanya. Karena hidup di tengah laut dengan disangga tiang-tiang, menurut La Dalisa, bahkan tidur pun seperti diayun-ayun. Biasanya, masyarakat Desa Bangko tidak ada yang melaut karena keadaan gelombang yang besar. Sehingga mereka hanya diam di rumah sambil mendengarkan musik saja.

Karena sebagian besar penduduk adalah nelayan, hal yang menyenangkan bagi pria kelahiran Kambara, 31 Desember 1967 ini adalah, para orang tua siswa seringkali memberinya ikan, sehingga ia tak perlu membeli ikan untuk lauk pauk. Yang kurang menyenangkan dari hidup di Pulau Bangko adalah, menurut La Dalisa, mandi sore harus tak lebih dari pukul 4 sore, karena jika lebih dari itu akan digigit banyak nyamuk.

Jumlah siswa di SDN 12 Maginti adalah 247 orang, dengan siswa laki-laki sebanyak 122 orang, dan siswa perempuan sebanyak 125 orang. Dengan sedemikian banyak murid, kurangnya tenaga guru adalah salah satu kendala yang dihadapi SDN 12 Maginti. Sejauh ini, hanya terdapat  9 guru yang hampir kesemuanya adalah guru tidak tetap. Hanya La Dalisa seorang yang adalah guru PNS. Sarana dan prasarananya pun kurang memadai. Hanya terdapat 4 ruang kelas saja, padahal idealnya seharusnya ada 8 kelas. Bahkan dua tahun terakhir ini sekolah terpaksa harus meminjam gedung TK, sehingga anak-anak SD masuk siang ketika anak-anak TK sudah pulang dari sekolah. Media pembelajarannya pun masih sangat kurang, sehingga hanya memanfaatkan peralatan seadanya.

Sebenarnya masyarakat sekitar cukup mendukung adanya pendidikan untuk anak-anaknya. Menurut ayah 5 anak ini, setiap program sekolah yang disampaikan, mereka selalu mendukung. Hanya saja, kendala utama sejauh ini adalah masalah ekonomi, dimana sebagian besar dari mereka adalah masyarakat nelayan yang tidak mampu.

Selain karena ditugaskan oleh pemerintah, La Dalisa bersedia untuk mengabdikan dirinya mengajar di daerah khusus karena panggilan hatinya untuk mendidik anak-anak bangsa di manapun ia berada di seluruh wilayah Indonesia. “Tugas seorang guru adalah mencerdaskan anak-anak bangsa, karena mereka adalah tongkat estafet kepemimpinan bangsa kita di masa yang akan datang,” tuturnya.

Menerima penghargaan sebagai guru berdedikasi nasional adalah sebuah pengalaman berharga bagi La Dalisa. Juga termasuk pengalamannya pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, naik pesawat, dan menikmati berbagai sajian menarik kota metropolitan. Ia tak segan mengungkapkan kekagumannya saat mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta maupun Kota Tua. ”Saya tertegun dan heran melihat gedung-gedung yang bertingkat, juga masjid Istiqlal yang selama ini hanya saya lihat di televisi. Tapi sekarang saya bahkan menginjakkan kaki di halamannya dan masuk ke dalam. Saya menyempatkan diri berdoa di dalamnya, memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa,” kata La Dalisa. “Saat di Museum Fatahillah, saya teringat saat masih duduk di bangku sekolah dan belajar sejarah tentang perjuangan Fatahillah pada saat masa penjajahan. Sekarang saya bisa menyaksikan secara langsung kota perjuangan Fatahillah disertai bukti fisik perjuangan beliau serta peninggalannya,” tambahnya.

Selain itu, La Dalisa pun mendapat kesempatan untuk mengikuti Upacara Kemerdekaan 17 Agustus di Istana Negara. Sebuah kesempatan langka yang membuatnya takkan pernah melupakan pengalaman yang sangat berharga ini. “Sebelum berangkat untuk upacara, malamnya saya sampai tak bisa tidur memikirkan mau pergi upacara. Saya tidak habis bayangkan selama hidup saya, jangankan mau mengikuti secara langsung, melihat di televisi saja jarang karena keterbatasan informasi dan teknologi. Tapi sekarang saya bisa menyaksikannya secara langsung, sampai air mata saya berlinang saat dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Saya mengingat masa lalu saya yang sangat ketinggalan karena hidup di daerah yang terpencil…” ujar La Dalisa.


Dalam hati, La Dalisa mengucap doa dan harapan, semoga anak-anak didiknya nanti mendapat kesempatan untuk menjadi orang besar dan memajukan negeri Indonesia. ***



Ditulis tahun : 2013
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2013 (Kemendikbud)