Showing posts with label gurdasus. Show all posts
Showing posts with label gurdasus. Show all posts

Profil Gurdasus : Majukan Generasi di Tanah Kelahiran


Zulkani, S.Pd.
Guru daerah khusus Provinsi Sumatera Barat


Sebagai putra daerah, Zulkani, S.Pd. merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk memajukan daerahnya. Oleh karena itu, Zulkani memutuskan untuk menjadi guru dan mengabdi di Jorong Padang Hilalang, Nagari Banai, Kecamatan IX Koto, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, tempat kelahirannya.

Sudah 12 tahun lamanya Zulkani mengajar di SD Negeri 08 IX Koto, yang berada di Jorong Padang Hilalang, Banai. Tak seperti guru-guru lainnya yang kerap datang dan pergi, pria kelahiran 15 Juni 1978 ini memilih untuk tetap bertahan, karena tekadnya untuk mengabdi di tanah kelahirannya begitu besar. Terlebih, hampir sebagian besar guru-guru lainnya adalah pendatang dari luar daerah. Zulkani merasa terketuk hatinya, karena ia adalah satu-satunya putra daerah yang diharapkan oleh masyarakat setempat untuk membina kampung halamannya. “Saya adalah putra daerah ke-4 yang berhasil menamatkan pendidikan SLTA dan orang pertama yang berhasil meraih sarjana S-1, saking rendahnya minat masyarakat pada pendidikan anak-anaknya,” Zulkani mengungkapkan.

Jorong Padang Hilalang adalah sebuah daerah terpencil, terletak sekitar 15 km dari pusat kecamatan. Sedangkan jarak menuju ke Kabupaten sekitar 55 km. Jika musim kemarau atau cuaca panas, maka perjalanan bisa ditempuh selama 45 menit dengan menggunakan sepeda motor meski jalanan banyak yang berlubang dan melewati hutan belantara. Namun jika musim hujan tiba, jalan menjadi sulit dilalui, dan akan menempuh waktu selama sekitar 2 jam menuju pusat kecamatan.

Sebagian besar masyarakat di Jorong Padang Hilalang tergolong masyarakat miskin, dan mereka tidak begitu peduli dengan pentingnya arti pendidikan. Banyak sekali anak-anak yang langsung menikah di usia dini, dan banyak juga yang tidak melanjutkan pendidikan selanjutnya. “Saya selalu berupaya meyakinkan masyarakat dan memberi pengertian bahwa pendidikan itu penting dengan cara melakukan pendekatan-pendekatan khusus pada wali murid. Saya sebagai putra daerah merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk membangun dan mendidik masyarakat di kampung saya ini,” tuturnya.

“Awal saya mengajar di SD Negeri 08 IX Koto (dulu namanya masih SDN 23 Pulau Punjung), saya banyak menemukan siswa-siswa yang tidak belajar atau tidak masuk sekolah saat jam sekolah. Apalagi pada saat panen dan musim ke ladang. Bahkan tak segan ada orang tua yang selalu memintakan izin anaknya dalam waktu yang lama, sampai ujian semester dimulai,” cerita Zulkani.

Namun berkat pendekatan-pendekatan yang dilakukan Zulkani secara aktif, lambat laun masyarakat mulai menyadari tentang pentingnya pendidikan. “Kalau sekarang bahkan sudah banyak yang melanjutkan pendidikan dan meraih sarjana,” katanya dengan bangga.

Zulkani pun sempat mengaku bahwa dulu dirinya sering mengajar dari kelas 1 sampai kelas VI sendirian. Dalam mengajar, ia tak memperhatikan kurikulum. “Yang saya ajarkan adalah matematika dan bahasa Indonesia. Namun sekarang Alhamdulillah pembelajaran di SD Negeri 08 IX Koto sudah menggunakan Kurikulum. Bahkan sudah banyak mendulang prestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik. Di bidang akademik, SD Negeri 08 IX Koto  pernah meraih peringkat nem tertinggi se-kecamatan dari 14 sekolah yang ada di kecamatan. Kalau di bidang non akademik, SD Negeri 08 IX Koto pernah mewakili Kabupaten Dharmasraya untuk maju ke tingkat provinsi dalam lomba olahraga cabang badminton dan atletik,” kata Zulkani. Di tahun ajaran 2014/2015 ini, jumlah siswa SD Negeri 08 IX Koto  sebanyak 171 orang yang terdiri dari 9 rombongan belajar. 6 rombel induk, dan 3 rombel filial.


Di lingkungan masyarakat, Zulkani pun aktif baik di kegiatan keagamaan maupun kegiatan kepemudaan. “Bahkan sampai sekarang saya dipercaya sebagai ketua pemuda dan ketua pengurus masjid. Saya sangat bangga dapat membangun dan mewujudkan pemikiran saya di kampung sendiri, walaupun di daerah terpencil dan terikat dengan adat istiadat dan budaya yang kental,” katanya. Ia berharap supaya pemerintah dan masyarakat selalu memberikan perhatian pada daerahnya, khususnya di bidang transportasi. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Terinspirasi Guru di Masa Kecil


Yermias Makobis, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Sulawesi Utara



Keinginan Yermias Makobis, S.Pd menjadi guru dimulai ketika ia masih duduk di bangku SD Negeri Posokan. Saat itu, hanya terdapat satu orang guru yang mengajar di sekolah tersebut, bernama Leprin Balaati (alm). Beliau lah yang menjadi sosok inspirasi bagi Yermias. Meski mengajar seorang diri di wilayah terpencil, namun Yermias melihat semangat mengabdi yang tak pernah surut pada diri gurunya tersebut. Lewat tuntunan dan bimbingannya, anak-anak di SD Negeri Posokan berhasil menyelesaikan studinya dengan baik, termasuk Yermias. “Berangkat dari hal itu, terbersit dalam hati nurani saya ingin menjadi guru. Hal ini juga didasari oleh kondisi kami yang jauh dari perkotaan, sehingga setiap guru yang ditempatkan oleh pemerintah tidak betah untuk tinggal dan mengabdi di SDN Posokan. Bahkan ada juga guru yang sudah menerima SK tetapi tidak mau mengabdi,” ungkap Yermias.

Desa Posokan sendiri terletak di Pulau Lembeh, Kota Bitung, dikelilingi oleh perbukitan dan lembah, dan berhadapan langsung dengan laut Maluku. Karena begitu terpencil, maka tidak ada jaringan listrik maupun telekomunikasi. Jarak dari desa Posokan ke pusat kecamatan kurang lebih 25km, atau ke pusat kabupaten kurang lebih 40 km. Untuk menuju desa Posokan harus ditempuh dengan jalan kaki, ojek, perahu, maupun mobil.

Yermias sendiri dalah penduduk asli desa Posokan semenjak lahir. Setelah tamat dari SD Negeri Posokan, pria yang lahir pada 22 Januari 1984 ini melanjutkan sekolahnya ke SMP PGRI Sondakareko yang berjarak 5 km dari Desa Posokan. Setiap hari, Yermias harus berjalan kaki dan berangkat pukul 4 pagi untuk berangkat ke sekolah, melintasi hutan belantara. Peluh dan lelah telah menjadi makanan sehari-hari baginya.

Setamat SMP pada tahun 1998, Yermias melanjutkan sekolah ke SMA Kristen Bitung. Karena letak sekolah yang amat jauh dari rumah, maka terpaksa Yermias pun meninggalkan desanya, berpisah dengan orang tuanya hingga ia lulus SMA. Dengan keadaan ekonomi orang tuanya yang nelayan kecil sangat pas-pasan, Yermias harus benar-benar berjuang keras supaya dapat terus bersekolah.

Usai menamatkan jenjang SMAnya pada 2001, Yermias sempat merasa pesimis bahwa ia akan dapat mewujudkan cita-citanya menjadi guru. Pasalnya, keadaan ekonomi orang tuanya waktu itu sangat tidak memungkinkan untuk membiayainya masuk universitas. “Dalam benak saya, pasti harapan dan cita-cita ini pupus. Tetapi hati nurani saya berkata, saya pasti bisa menjadi guru walaupun tidak studi di perguruan tinggi,” kata Yermias.

Demi melihat semangat dan keinginan Yermias yang begitu besar, akhirnya orang tua Yermias pun berkata, “Walau dengan susah payah, ayah dan ibu akan berusaha agar kamu bisa menjadi guru, Nak...”. Yermias menjadi sangat terharu sekaligus senang tiada terkira. Ia benar-benar tak menyangka bahwa akhirnya ia pun dapat mendaftar di Jurusan D-2 Pendidikan Guru SD di Universitas Negeri Manado.

Selama menempuh studi di universitas, jika ada waktu libur, pria yang hobi menyanyi ini kerap magang menjadi tenaga sukarela di SD Negeri Posokan, mengajar anak-anak tanpa dibayar. Tak mengapa baginya, karena mendapat kesempatan mengajar pun sudah membuatnya merasa senang. Bahkan setelah lulus kuliah, ia  pun memutuskan untuk mengajar di SD Negeri Posokan.

Tahun 2004, pemerintah membuka lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil. Yermias pun mencoba mendaftar sebagai guru. Berkat doa dan kerja kerasnya, Yermias pun lulus seleksi dan ditetapkan menjadi calon pegawai negeri sipil di Kota Bitung. Namun karena hasratnya ingin mengabdi di desanya di Posokan, maka Yermias pun memberanikan diri menghadap kepala BKD dan memohon untuk ditempatkan di SD Negeri Posokan. Permintaannya segera dikabulkan dengan pertimbangan karena waktu itu tidak ada orang lain yang mau mengabdi  di Posokan karena letaknya yang begitu jauh dan terpencil.

Profesinya sebagai guru ia lakukan dengan penuh tanggung jawab dan sukacita meski saat itu Yermias harus mengajar dua kelas. Jumlah guru pada waktu ia pertama kali mengajar hanya dua orang. Namun Yermias selalu bersemangat mendidik anak-anak serta memotivasi masyarakat untuk bersama-sama membangun dan memajukan pendidikan. Ia pun tak peduli meski penghasilannya sebagai guru tidaklah begitu besar. Untuk menambah tabungannya, Yermias pun acapkali melaut saat di luar jam sekolah.

Di tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa di SD Negeri Posokan adalah 58 orang, yang dibimbing oleh 3 orang guru, termasuk Yermias. Kondisi sarana dan prasarananya kurang begitu baik meskipun sudah memiliki bangunan permanen.

Di lingkungan masyarakat, Yermias dipercaya oleh masyarakat menjadi ketua Komisi Pemuda Jemaat GMIM ebenHaezer Posokan sejak tahun 2004 hingga tahun 2009. Bahkan pada tahun 2009, Yermias bersama masyarakat setempat bahu membahu membangun PAUD di Kelurahan Posokan. Saat itu, ia pun dipercaya menjadi sekretaris Badan Pekerja Majelis Jemaat GMIM Eben Haezer Posokan hingga tahun 2013.

Selama menjadi guru membimbing siswa-siswa kelas 6 menghadapi Ujian Nasional, Yermias tak kenal lelah berjibaku hingga semua murid-muridnya berhasil lulus dengan nilai baik. Sebuah pencapaian yang membuat Yermias merasa amat bangga. Kendati demikian, ia pun menyimpan pengalaman-pengalaman manis yang sekaligus penuh dengan dukacita dalam memorinya. Misalnya ketika ia harus berjalan kaki melintasi hutan belantara dan basah kuyup karena diguyur hujan demi menghadiri acara di pusat kabupaten bersama siswa-siswanya untuk mengikuti lomba gerak jalan.


Tahun 2012, Yermias mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan S-1nya di UNIMA demi memenuhi target kualifikasi. Ia pun selalu rajin melaksanakan tugas dan melakukan bimbingan olahraga hingga dapat meraih prestasi dari tingkat kota hingga tingkat provinsi. Sebagai guru berdedikasi, Yermias selalu menjaga semangat untuk tak kenal lelah mengabdi mencerdaskan anak-anak di desa kelahirannya supaya lebih pintar dan mandiri. ***


Ditulis Tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Mengajar dan Menjual Keripik


Esti Marianti Paus, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Sulawesi Utara



Menjadi guru SD dan mengabdi di kampung halamannya pun harus ditempuhnya dengan penuh perjuangan. Namun Esti Marianti Paus, S.Pd. adalah sosok wanita tangguh yang tak kenal menyerah demi menggapai cita-cita yang didambakannya sejak masih duduk di bangku SD. Hingga pada akhirnya ia pun mendapat kesempatan untuk mengajar di SDN Talise pada tahun 2003, Esti merasa bahwa itu adalah sebuah pencapaian yang selama ini diimpikannya. Kendati demikian, pengalaman yang paling manis baginya adalah ketika diundang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di ajang Penghargaan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2014. Ia pun bahkan mendapat kesempatan bersalaman dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Lahir dari ayah yang seorang nelayan dan ibu yang hanya bekerja di rumah, Esti terbiasa hidup sangat sederhana dan mandiri. Bahkan tak jarang keluarganya pun mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Saat pertama kali Esti mengutarakan cita-citanya ingin menjadi guru, orang tuanya sempat tak setuju. Mereka lebih berharap suatu saat nanti Esti menjadi seorang dokter. Namun Esti bersiteguh dengan pendiriannya. Alasan yang dikemukakannya, “Kata guru di sekolah, jika tak ada guru, maka tidak akan ada dokter, polisi, pengacara, insinyur, dan sebagainya. Jadi, guru sebenarnya lebih mulia dari pekerjaan apapun,” kata Esti, yang saat itu masih duduk di bangku SD.

Lulus SMP, Esti sempat terancam tak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang SMA karena ayahnya mengemukakan ketidaksanggupan mereka membiayai sekolahnya. Terlebih Esti masih memiliki seorang adik yang juga butuh melanjutkan pendidikan. Di samping itu, untuk melanjutkan SMA, Esti pun harus meninggalkan rumah, karena SMA terdekat hanya ada di Likupang, sehingga ia pun terpaksa harus tinggal di rumah kost. Namun ia tak mau menyerah dengan keadaan. Esti bersikeras pada ayahnya supaya diizinkan melanjutkan sekolah ke bangku SMA dan berjanji hendak membiayai sekolahnya sendiri dengan mencoba mencari pekerjaan sambilan. Terpaksa ayahnya pun mengizinkannya pergi, melanjutkan sekolah ke SMA di Likupang.

Dengan menumpang perahu motor tempel 40 pk, Esti pun meninggalkan desa Tambun, tanah kelahirannya, menuju Likupang, yang berjarak kurang lebih 14 mil laut dari desa tempatnya tinggal. Di Likupang, Esti tinggal di rumah keluarga salah satu kawan baiknya. “Saya membantu mengerjakan tugas rumah seperti mencuci pakaian, menyeterika, membantu memasak. Syukurlah saya tidak dikenakan biaya kost,” tutur wanita kelahiran Talise, 13 September 1978 ini. Di samping itu, ia pun mencoba sembari berjualan keripik dan kacang goreng di sekolah demi menambah uang saku dan membayar uang sekolah.

Lulus SMA, Esti sempat memendam keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah, merintis cita-citanya menjadi seorang guru di desa Tambun, tanah kelahirannya. Lagi-lagi masalah biaya menjadi batu sandungannya. Terpaksa Esti pun bekerja di sebuah toko minimarket supaya bisa menabung untuk kuliah. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 2000, baru Esti mendapat kesempatan mendaftar di D-2 PGSD UNIMA.

Lulus dari PGSD, Esti pun tak ragu untuk segera mengabdi di desa Tambun. Tak menjadi soal baginya meski waktu itu statusnya hanya sebagai seorang guru honorer dengan penghasilan 75 ribu per bulan. Baginya, mendapat kesempatan mengabdi di Desa Tambun adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Meski begitu, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Esti pun tetap melanjutkan usaha sampingannya berjualan keripik 1.000 rupiah per bungkus.

SDN Talise merupakan salah satu SD yang terletak di daerah terpencil, yakni di Pulau Talise, Desa Tambun, kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, provinsi Sulawesi Utara. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah masih sangat minim. Listrik masih belum menjangkau daerah ini, sehingga pembelajaran harus dilaksanakan seadanya, tak bisa menggunakan peralatan elektronik apapun. Keberadaanbuku paket sangat membantu dalam pembelajaran, namun tak semua murid memilikinya. Bahkan Esti sendiri pun terpaksa harus membeli sendiri buku-buku paket tersebut, yang kadang kemudian ia bagikan pada murid-muridnya supaya pembelajaran berjalan lancar. Namun syukurlah kondisi meja dan kursi sekolah sudah dalam keadaan baik dan cukup karena baru saja mendapatkan bantuan DAK pada tahun 2011 lalu.

Kepala sekolah mempercayakannya mengajar kelas 1 karena menilai Esti sebagai seorang yang lemah lembut dan penuh perhatian pada anak-anak. Meski demikian, acapkali Esti pun mengajar kelas-kelas yang lain. Di samping itu, ia pun kerap mengajar anak-anak di luar jam sekolah, baik itu di rumahnya ataupun belajar di alam, misalnya di tepi pantai. Belajar di alam justru membuat murid-muridnya lebih antusias dalam belajar. Bahkan ada pula beberapa murid dewasa diatas usia 20 tahunan yang juga ikut belajar membaca dan menulis.

Tahun 2004, Esti diangkat menjadi guru bantu melalui keputusan pemerintah daerah. Gaji awal yang diterimanya sebagai guru bantu adalah 710 ribu rupiah per bulan. “Saya sangat bersyukur dengan gaji segitu, meski banyak orang bilang bahwa gaji segitu hanya cukup untuk beli sabun dan bedak. Saya tak hiraukan, karena saya tidak melihat dari sisi nilai uangnya. Saya benar-benar tulus mengajar, karena memang cita-cita saya ingin membangun desa Tambun agar masyarakatnya mengenyam pendidikan. Selama ini, hampir 60 persen penduduk di sana tidak lulus SD dan tidak bisa membaca dan menulis,” ungkapnya.

Esti pun menikah dengan Seliberata Sampurena, yang juga seorang guru honorer. Meski bertahan dengan penghasilan yang menurut orang lain tidaklah besar, namun Esti dan suaminya merasa amat bersyukur. Terlebih karena cita-cita mereka sama, yakni mengabdi di desa Tambun, mencerdaskan generasinya melalui pendidikan. Namun Esti pun menyadari bahwa banyak anak-anak dari golongan kaum miskin tak mampu mencukupi kebutuhan pendidikan mereka. Oleh karena itu, Esti dan suaminya tak segan untuk mengulurkan tangan membantu mereka mengatasi masalah. “Beberapa anak yang tidak bisa mencukupi biaya sekolah kami bantu dengan memberi mereka uang. Beberapa yang lain kami pinjami uang tanpa bunga,” katanya. Bahkan karena rasa sosial ini, tak jarang Esti bahkan tak bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. “Yang penting mereka bisa sekolah. Tak mengapa bagi kami menjadi kekurangan, tapi kami merasa amat bangga jika mereka berhasil sekolah, bahkan hingga melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.

Adakalanya Esti pun mengantar murid-muridnya untuk mengikuti lomba di kabupaten. Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan Esti adalah ketika harus mengantar murid-muridnya ke kabupaten, sementara cuaca sedang tidak begitu baik. Ombak di laut begitu tinggi dan besar, sehingga ia dan murid-muridnya merasa sangt takut bahwa perahu yang mereka tumpangi akan karam. Bahkan beberapa muridnya pun sempat mengalami mabuk laut hingga mengotori seragam mereka. “Untunglah kami selamat sampai di tempat lomba. Yang lebih menggembirakan lagi, beberapa murid saya bahkan dapat meraih juara. Satu orang menjadi juara 1, dan tiga orang menjadi juara 2,” kata ibu satu anak ini berbinar. Esti merasa sangat bersyukur karena perjuangannya bersama murid-muridnya yang hingga bertaruh nyawa tidaklah sia-sia.

Namun Esti pun tak menampik kenyataan bahwa susahnya medan dan transportasi merupakan kendala tersendiri dalam memajukan pendidikan di desa Tambun. Misalnya, setiap kali ada kegiatan KKG di Kabupaten, Esti harus benar-benar memastikan cuaca sedang baik untuk menuju ke kabupaten jika ingin berangkat, karena jika cuaca buruk, perahu pun tak ada yang melaut.

Esti berharap bahwa masyarakat semakin sadar tentang pentingnya pendidikan dan tak ragu untuk memotivasi anak-anak untuk memiliki cita-cita tinggi dan berusaha keras meraihnya melalui pendidikan. Ia pun berharap bahwa setidaknya sekolah tempatnya mengabdi memiliki mesin diesel, sehingga dapat merasakan adanya listrik, dan dapat memanfaatkan peralatan elektronik untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Harapan terbesarnya pada pemerintah, supaya wilayahnya segera mendapat infrastruktur yang nantinya akan memudahkan mobilitasnya. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Senang Mengajar Anak-anak


Zulhidrayani
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Tenggara



SD Negeri 02 Teomokole  adalah sebuah sekolah di kawasan terpencil yang terletak di kelurahan Teomokole, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Dari pusat kecamatan, jarak yang harus ditempuh untuk menuju sekolah adalah sekitar 7km. Namun untuk menuju ke pusat kabupaten, harus menumpang kapal laut dan berperjalanan selama kurang lebih 6 jam, jika lancar dan kapalnya tidak rusak di tengah lautan. Karena terletak di daerah terpencil, maka jalanan yang membentang pun cukup terjal, pun belum tersentuh aspal. Sedangkan Zulhidrayani sendiri harus melewati Sungai Lakambua jika hendak berangkat ke sekolah.

Zulhidrayani mengajar di SDN 2 Teomokole sejak tahun 2010 hingga sekarang. Awalnya, wanita kelahiran Teomokole, 3 November 1980 ini ditugaskan untuk mengajar kelas 2. Menurut Zulhidrayani, mengajar anak-anak kelas 2 berbeda dengan mengajar anak-anak kelas 4, 5, atau 6. Dalam menghadapi anak kelas 2 harus lebih sabar, karena usia mereka masih sangat belia dan lebih senang bermain. Kendati demikian, Zulhidrayani sangat menikmati dan merasa bangga dengan profesinya. “Menjadi guru SD itu butuh kesabaran ekstra dan tidak semua orang bisa,” ujarnya. Sejauh ini, Zulhidrayani ditugaskan untuk mengajar pelajaran olahraga.

Pada tahun ajaran 2014/2015 ini, jumlah siswa di SDN 2 Teomokole sebanyak 71 siswa, sedangkan jumlah guru sebanyak 8 orang termasuk kepala sekolah. Sejauh ini, kondisi sarana dan prasarana sekolah sudah cukup baik, namun sarana olah raganya menurut Zulhidrayani masih sangat kurang. “Yang ada hanya meja untuk tenis meja. Itupun belum memadai. Sedangkan alat olahraga lainnya seperti matras, lembing, dan cakram belum pernah ada,” ungkapnya. Selain itu, menurut Zulhidrayani, keberadaan buku paket pun masih sangat kurang. Oleh karena itu, siswa menjadi lebih banyak mencatat. Pun belum ada perpustakaan maupun laboratorium.

Kendati demikian, suka duka yang dirasakan ibu dari Frizka Filandari dan Azdi Mukhtifar ini amat banyak dan beragam. “Sukanya, saat ada kegiatan 17 agustusan, banyak kegiatan yang diikuti oleh anak-anak. Saya tidak menyangka bahwa ternyata banyak anak yang memiliki hobi kesenian dan olahraga,” tuturnya dengan bersemangat.

Selama menjadi guru daerah khusus, istri dari Adirman ini mengaku merasa cukup dengan penghasilan yang diterimanya, yakni sebesar kurang lebih lima jutaan per bulan, termasuk tunjangan daerah khusus. Selain itu, Zulhidrayani pun memiliki usaha sampingan yakni berjualan nasi kuning di sekolah sebagai tambahan penghasilannya.


Sebagai guru, Zulhidrayani berharap masyarakat sekitar senantiasa memberikan dukungan terhadap setiap program sekolah. Demikian terhadap pemerintah, semoga senantiasa memperhatikan kebutuhan sekolah-sekolah di daerah khusus supaya pendidikan di Indonesia dapat maju dengan merata. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Guru bagi Anak Pantai


Nasir, A.Ma.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Tenggara



Sejak duduk di bangku SD, Nasir, A.Ma., telah bercita-cita ingin menjadi guru. Hal itu diutarakannya ketika pada suatu hari kepala sekolahnya sewaktu di SD dulu menanyai cita-cita para muridnya ketika hendak lulus SD. Demi mewujudkan cita-citanya, maka Nasir pun melanjutkan sekolahnya ke PGA (Pendidikan Guru Agama) di Tomokole,dan lulus pada tahun 1977. Baru pada tahun 1982 Nasir diangkat menjadi guru PNS dan ditugaskan untuk mengajar di SDN 2 Pongka Laero, di Desa Puununu, provinsi Sulawesi Tenggara. Ia sangat gembira karena akhirnya cita-citanya tercapai. Tak menjadi soal baginya meski ditugaskan di daerah terpencil dengan medan yang sangat menantang.

Desa Puununu, desa tempat Nasir mengabdikan diri hingga sekarang, merupakan sebuah desa yang terletak di kepulauan Kabaena, sebuah kawasan terpencil, jauh dari pusat kota. Untuk menuju ke desa ini, harus melewati jalanan bergunung-gunung dan berbatu-batu. Jarak untuk menuju ke pusat kecamatan sekitar 4km. Sedangkan jarak menuju pusat kabupaten dapat ditempuh selama kurang lebih 6 jam, dengan menggunakan kapal laut. Itupun jika perjalanan lancar.

Di Desa Puununu, sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan dan tinggal di pinggir laut. Anak-anak pun kerap membantu orang tua mereka bekerja sebagai nelayan. Sehari-hari, mereka hanya bisa menggunakan bahasa daerah, yakni Bahasa Bajo. Namun berkat kerja keras perjuangan Nasir dan rekan-rekan guru lainnya dalam mendidik anak-anak dan masyarakat, kini mereka sedikit lebih mengerti Bahasa Indonesia.

Di tahun ajaran 2014/2014, jumlah siswa di SDN 2 Pongka Lero adalah 94 siswa. Sedangkan jumlah guru sebanyak 8 orang. Meski berada di daerah terpencil, namun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SDN 2 Pongka Lero cukup baik.


Nasir sangat menginginkan supaya daerah kepulauan tempatnya bertugas lekas dijadikan sebagai Kabupaten Kepulauan Kabaena. Dengan begitu, ia berharap bahwa pembangunan infrastruktur maupun di berbagai bidang menjadi lebih cepat, sehingga masyarakat maupun anak didiknya tak menjadi masyarakat yang jauh tertinggal. *** 


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Mengajar di Pelosok Hutan


Sumatri
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Tengah


Sudah kurang lebih 14 tahun Sumatri menjadi guru di daerah khusus. Sejak awal, Sumatri memang ingin menjadi guru, mengabdi pada bangsa dan negara. Ia pun sudah berkomitmen siap ditempatkan di mana saja. Dan sungguh beruntung Sumatri, karena rupanya ia pun ditempatkan mengajar di kampung halamannya, sehingga perjuangannya pun ia hadapi dengan suka cita.

Secara geografis, letak daerah tempat Sumatri mengajar adalah sebuah kampung tertua di Sulawesi Tengah, tepatnya di Dusun IV, Desa Pombewe, Kecamatan Biromoru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kawasan ini termasuk kawasan hutan yang masih terlindungi. Hasil bumi yang diperoleh adalah rotan serta pohon Aren, yang airnya bisa direbus dan dipanaskan untuk kemudian dijadikan gula merah.

Untuk menuju ke sana, jalanan yang dilalui cukup terjal, karena sebagian besar belum teraspal. Terlebih jika musim hujan datang, jalan menjadi becek dan berbahaya, sehingga tak bisa dilewati oleh kendaraan apapun, melainkan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sumatri sendiri biasa berjalan kaki bersama teman-temannya saat hendak berangkat ke sekolah. Jarak sekolah ke pusat kecamatan sekitar 25km, sedangkan jarak dari sekolah ke pusat kabupaten 35km. Ongkos untuk menuju ke kabupaten adalah sebesar 75 ribu.

Tahun 2014/2015, jumlah siswa di SD.... adalah 51 orang, dengan jumlah guru sebanyak 10 orang, yakni 6 guru pria dan 4 guru wanita. Sejauh ini, sarana dan prasarana belum begitu mencukupi. Jumlah buku paket pelajaran masih sangat kurang. Demikian pula dengan alat-alat peraga, masih belum tersedia. Aliran listrik pun belum ada. Meski demikian, hal itu tak mematahkan semangatnya dan anak-anak untuk terus belajar di sekolah.

Upaya pria kelahiran Biromoru, 08 Oktober 1966 ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat sekitar dalam pendidikan adalah ia selalu menghubungi ketua komite sekolah dan orang tua adat untuk mendiskusikan berbagai permasalahan sekolah. Sumatri pun tak segan untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah. Terutama saat akhir tahun, banyak kegiatan dan perlombaan yang diadakan di sekolah. Tak jarang Sumatri pun terpaksa menginap di sekolah bersama kawan-kawan guru lainnya. Selain itu, Sumatri pun aktif membina Pramuka di sekolah, juga kegiatan di gereja. Hampir 100% siswa-siswanya beragama Kristen.


Saat ini, penghasilan yang diterima Sumatri adalah sebesar 3.320.000 rupiah. Bukan termasuk penghasilan yang besar, mengingat harga kebutuhan pokok di daerah terpencil amatlah mahal. Terlebih Sumatri pun harus menghidupi seorang istri dan ketiga anaknya. Namun toh ia tak pernah merasa kecewa dan kekurangan. Sumatri telah terbiasa dengan lingkungan sekitarnya dan hidup dengan sederhana. Istrinya pun tak kenal lelah, selalu memberinya semangat untuk terus berjuang dan mengabdi. “Istri itu adalah obat bagi kita, kaum laki-laki, hahahaa...” ujarnya sembari tertawa gembira. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Menjadi Guru di Tepi Hutan Lindung


Huriah, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Tengah

Kecintaannya pada anak-anak menjadikannya memutuskan untuk menjadi guru. Ditambah lagi kedua orang tua Huriah, S.Pd sangat mendukung cita-citanya. “Saya sangat suka dengan anak-anak. Pada saat saya tidak bertemu dengan anak-anak didik saya, saya sangat merindukan mereka. Sejak itulah saya mencintai profesi saya sebagai guru, terlebih juga merasa bangga menjadi guru di daerah khusus, karena tidak semua guru bisa  menjadi guru daerah khusus,” kata Huriah.

Maka sejak tahun 2006, setelah diangkat menjadi CPNS, Huriah pun mengajar di SDN Anca, yang terletak di Desa Anca, Kecamatan Lindu. Secara geografis, Desa Anca berada di bagian utara Kecamatan Lindu. Termasuk daerah terpencil yang berada di ketinggian sekitar 1000 meter dari permukaan laut, sehingga memiliki udara yang sangat sejuk. Selain itu, daerah ini merupakan kawasan taman nasional hutan Lindung. Namun karena letaknya yang sangat terpencil, sehingga belum dijangkau oleh jaringan listrik dan telekomunikasi. Jarak Desa Anca ke pusat kecamatan sekitar 8km, sedangkan ke pusat kabupaten mencapai kurang lebih 80km. Kendati demikian, Kecamatan Lindu memiliki panorama yang sangat menakjubkan. Terutama karena adanya Danau Lindu yang memiliki luas -+ 5000 m2, adalah sebuah keindahan yang tiada taranya.

SDN Anca berdiri di atas tanah seluas 100 x 100 m2, dan berdiri sejak tahun 1974. Letak sekolah ini tepatnya berada di tepi taman nasional Hutan Lindu. Sebelah timurnya adalah area persawahan masyarakat, sebelah utara dan selatan adalah area perkebunan masyarakat, sedangkan sebelah barat adalah kawasan taman nasional Hutan Lindu. Oleh karena itu, suasana di sekitar SDN Anca sangat tenang dan sejuk, karena agak jauh dari pemukiman masyarakat. Pada saat pembelajaran berlangsung, hanya kicau burung yang terdengar.

Jumlah siswa di SDN Anca pada tahun ajaran 2014/2015 adalah sebanyak 100 siswa, dengan jumlah guru sebanyak 6 orang, yang terdiri dari 2 guru PNS dan 4 guru nonPNS. Secara fisik, bangunan sekolah saat ini masih kelihatan baik karena baru saja direhabilitasi pada tahun 2012. Akan tetapi sarana dan prasarananya masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Hanya empat ruangan yang bisa dipergunakan, itu pun satu ruangan untuk kantor. Sementara meja maupun kursi sangat kurang, sehingga bahkan satu kursi ditempati oleh dua anak, demikian pula dengan mejanya.

Selama 8 tahun menjadi guru, wanita kelahiran 16 Juli 1981 ini merasa sangat menikmati profesinya. Yang membuatnya merasa bersemangat dan gembira adalah ketika menghadapi siswa-siswinya yang masih polos namun sangat menghargai guru-guru mereka. Bahkan para orang tua maupun masyarakat pun sangat menghargai dan menghormati guru-guru. Sedikit duka yang dialaminya selama mengajar yakni ketika menghadapi siswa yang kurang paham Bahasa Indonesia dengan baik, karena umumnya anak-anak menggunakan bahasa daerahnya.

Sehari-hari, satu-satunya alat transportasi yang dipergunakan Huriah adalah sepeda motor. Namun ketika musim hujan datang, Huriah terpaksa harus berjalan kaki. Termasuk ketika akan menuju pusat kecamatan maupun ke pusat kabupaten. Karena ketika musim hujan, jalanan menjadi sangat berlumpur dan licin, sehingga berbahaya.

Sejak mendapat tunjangan daerah khusus, Huriah merasa hidup sangat berkecukupan karena total penghasilan yang ia dapatkan sebesar 5.500.000 per bulan. Ia bahkan dapat membantu orang tua dan adik-adiknya bersekolah hingga lulus.


Huriah berharap bahwa masyarakat selalu mendukung program-program yang telah dilakukan oleh pihak sekolah. Ia pun berharap supaya pemerintah senantiasa memperhatikan guru-guru yang bertugas di daerah khusus sehingga mereka dapat bertugas dengan baik dan sejahtera. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Terbiasa Mengajar di Dua Sekolah


Yulius, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Selatan



Bagi Yulius, S.Pd., berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya telah menjadi makanan sehari-hari karena telah dilakoninya selama lebih dari sepuluh tahun. Kendati demikian, ia tak pernah mengeluh. Yulius sadar, bahwa menjadi guru di daerah khusus dengan berbagai tantangannya harus dijalaninya dengan penuh pengabdian, karena ia sejak awal ia telah memutuskan untuk menjadi guru, yang menurutnya adalah pekerjaan yang sangat mulia. Maka Yulius pun bertekad untuk terus semangat memajukan pendidikan di  Desa Singkalong, Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Seko terletak di daerah pegunungan, kurang lebih 1000 meter dari permukaan laut. Oleh karena itu, udaranya cukup dingin. Namun akses menuju Seko cukup sulit dilalui karena jalanan yang terjal, berliku, dan penuh lumpur, sulit untuk dijangkau mobil. Satu-satunya cara untuk menuju Seko adalah dengan menggunakan ojek motor atau berjalan kaki. Jarak Seko menuju ke pusat kecamatan adalah 7km, sedangkan jarak dari pusat kecamatan ke pusat kabupaten adalah 150km. Jika dari Kabupaten menuju Seko, maka akan menghabiskan biaya untuk ojek sebesar 600.000 rupiah.

Karena sangat terpencil, tak heran jika harga kebutuhan pokok di Seko pun melangit. Semisal, harga bensin bisa mencapai 15.000 per liter, atau harga semen bisa mencapai 220.000 per sak. Sementara itu, hampir 95 persen penduduknya adalah petani. Di samping itu, listrik dan jaringan telekomunikasi pun belum ada, sehingga menyulitkan masyarakat untuk mendapat berbagai akses informasi. Kalaupun ada beberapa penduduk yang memiliki handphone, mereka hanya dapat menggunakannya sekadar untuk menyetel musik.

Namun pria kelahiran Singkalong, 3 Juni 1970 ini memilih untuk mengabdikan diri di Seko karena Seko adalah tanah kelahirannya. Oleh karena itu, ia berniat untuk memajukan tanah kelahirannya melalui pendidikan. Hingga pada Mei 1993, Yulius pun akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan mendapat tugas untuk mengajar di SDN 571 Bana, sebuah SD yang berada di daerah sangat terpencil. Sebagian besar masyarakat di sana adalah suku terasing yang bahkan tak paham menggunakan Bahasa Indonesia.

Namun pada prakteknya, Yulius mengajar di SDN 571 Bana hanya tiga hari dalam seminggu, karena pada waktu itu ia pun ditugaskan untuk mengajar di SMP PGRI Eno, yang merupakan SMP satu-satunya di daerah tersebut, yang sekarang sudah menjadi SMPN 2 Seko. Rutinitas mengajar di dua tempat ini sempat dilakoninya selama satu tahun lamanya. Kendati demikian, Yulius menjalankan profesi dan aktivitasnya dengan penuh sukacita meskipun ia harus menempuh jarak 14 km pulang-pergi berjalan kaki untuk ke SMPN 2 Seko setiap harinya.

Pada tahun 1994, Yulius pun dipindahkan ke SDN 066 Singkalong. Pertimbangannya, SDN 066 Singkalong lebih dekat dengan SMP PGRI Eno. Tentu hal ini membuat Yulius sedikit merasa lega, karena setidaknya ia tak lagi berjalan terlalu jauh. Maka sejak tahun 1994, Yulius pun mengajar di SDN 066 Singkalong dan SMP PGRI Eno, masing-masing tiga hari dalam seminggu.

SDN 066 Singkalong masuk dalam kategori sekolah terpencil karena letaknya. Saat ini, jumlah murid di tahun ajaran 2014/2015 adalah sebanyak 75 murid. Sedangkan jumlah guru adalah sebanyak 7 orang, yang terdiri dari guru PNS sebanyak 4 orang, dan guru sukarela sebanyak 3 orang. Hingga saat ini, kondisi sekolah yang berdiri sejak tahun 1970 ini masih jauh dari layak. Sarana dan prasarananya sangat tidak memadai. Ada 6 ruangan yang terpakai dalam kondisi 3 ruangan cukup baik, sedangkan 3 ruangan lainnya mengalami rusak berat. Dindingnya masih serba kayu, dan atapnya pun masih terbuat dari seng.

Tahun 2003, Yulius tak lagi mengajar di SMP PGRI Eno, tetapi ia diminta untuk mengajar di SMA Swadaya Seko, karena SMA tersebut, yang adalah satu-satunya di Kecamatan Seko, sangat kekurangan guru. Maka sejak tahun 2005, Yulius pun mengajar di SDN 066 Singkalong dan SMA Swadaya Seko (yang sekarang menjadi SMAN 1 Seko).

Pada tahun 2005, Yulius pun diminta mengajar di kelas jauh SD yang terletak di Dusun Lore. Dusun ini berada kurang lebih 5km dari SDN 066 Singkalong. Pertimbangan pembukaan kelas jauh ini adalah untuk memudahkan anak-anak di Dusun Lore yang sejauh ini harus menempuh rute sejauh 10 km berjalan kaki (pulang – pergi) untuk bersekolah di SDN 066 Singkalong. Namun kini kelas jauh tersebut telah diresmikan oleh Pemerintah menjadi SD Negeri 234 Lore. Sementara pada tahun 2007, Yulius juga dipercaya untuk menjadi Tutor Paket B, yakni mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Di samping sibuk di bidang pendidikan, ayah dari empat anak ini pun aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Sejak tahun 1999 hingga tahun 2007, ia dipercaya menjadi ketua LKMD hingga 2 periode. Ia pun menjabat sebagai ketua BPD Desa Talota pada tahun 2013 hingga 2019 nanti. Sedangkan di bidang keagamaan, sejak tahun 1999 hingga sekarang Yulius dipercaya menjadi ketua jemaat gereja Singkalong. Selain itu, dalam setiap kali ajang pemilu ataupun pilkada, Yulius pun turut berpartisipasi menjadi PPS (Panitia Pemungutan Suara).


Harapan Yulius, masyarakat memiliki kesadaran yang lebih tinggi untuk tak segan mendukung dan memasukkan anaknya ke sekolah, karena bagaimanapun, pendidikan itu sangat penting untuk masa depan mereka. Pada pemerintah, Yulius pun berharap supaya sarana, prasarana sekolah maupun infrastruktur daerah segera ditingkatkan, sehingga akses pendidikan pun menjadi lebih mudah dicapai, terutama di daerah terpencil seperti Seko. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Meneruskan Jejak Pengabdian Ayah


Rawiyah, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Sulatan



Guru SDN 17 Pulau Burungloe ini sudah lebih dari 22 tahun mengabdi di daerah terpencil. Latar belakangnya, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi guru di daerah terpencil, sama seperti ayahnya, yang dulu juga pernah mengabdi di daerah yang sama.

SDN 17 Pulau Burungloe, tempat Rawiyah, S.Pd. mengabdi, terletak di salah satu pulau yang berada dalam gugusan kepulauan Sembilan, di bagian selatan sulawesi. Dinamakan Kepulauan Sembilan karena terdapat sembilan pulau yang bertebaran di Teluk Bone, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
Pulau Burungloe termasuk salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Sembilan tersebut. Dari kejauhan, Pulau Burungloe tampak seperti tempurung kelapa yang telungkup. Pulau ini termasuk daerah terpencil karena terletak jauh dari pusat kota dan harus ditempuh melalui jalur laut untuk mencapainya. Jarak dari pusat kecamatan mencapai 3 mil laut, sedangkan jarak dari pusat kabupaten mencapai 9 mil laut, ditempuh dengan menggunakan kapal motor.

Sebagian besar masyarakat yang mendiami Kepulauan Sembilan adalah Suku Bugis, yang terkenal sejak dulu kala sebagai pelaut tangguh. Kulit legam karena terpapar sinar matahari, rambut lurus, serta sorot mata yang tajam, berbicara dengan suara keras, adalah ciri khas anak-anak di Kepulauan Sembilan, termasuk Pulau Burungloe. Karena terpencil, maka masyarakat di sana pun hidup dalam kesederhanaan dan kurang ilmu pengetahuan karena terbatasnya akses. Bahkan listrik yang berasal dari diesel pun hanya dijatah hidup setiap jam 6 sore hingga 9 malam. Kendati demikian, anak-anak Pulau Burungloe memiliki semangat yang tinggi untuk bersekolah.

SDN 17 Pulau Burungloe merupakan sekolah dasar satu-satunya untuk anak-anak Pulau Burungloe belajar. Pada tahun ajaran 2014/2015,jumlah murid mencapai 152 siswa, dengan jumlah guru sebanak 13 orang, yang terdiri dari 7 orang guru PNS dan 6 orang guru nonPNS. Karena tak ada listrik pada pagi hari, maka sekolah pun tak bisa memanfaatkan sarana elektronik demi menunjang kegiatan pembelajaran.

Rawiyah mulai mengabdi menjadi guru di Pulau Burungloe sejak Oktober 1992, setelah diangkat menjadi guru bantu melalui SK Gubernur Sulawesi Selatan. Maka ia pun tak ragu, terlebih karena sebelumnya ayahnya, yang juga adalah guru, pernah pula mengabdi di pulau ini pada dekade tahun 60an. Rawiyah pun menyeberangi lautan dengan penuh semangat, memulai hidup baru dengan segenap tantangannya di Pulau Burungloe. Di sana, ia tinggal di rumah dinas yang telah disediakan. Kendati demikian, menurut Rawiyah, rumah dinas yang ditempati para guru saat ini banyak yang rusak berat. Rawiyah berharap supaya pemerintah peduli dengan rehabilitasi rumah dinas para guru di daerah terpencil. “Jadi guru sekolah dasar di daerah terpencil tidaklah mudah. Butuh kekuatan dan ketahanan fisik maupun mental. Tapi jika sudah terbiasa, ternyata tidaklah sesulit apa yang dibayangkan,” tutur Rawiyah.

“Pancaran mata anak didik saya dan kehausan mereka akan sebuah perubahan lah  yang selalu menginspirasi saya untuk selalu berbuat, mengajari mereka tentang segala hal, ilmu, perilaku, dan lain sebagainya. Saya ceritakan pada mereka bahwa kehidupan di luar sana adalah sebuah dunia nyata yang menyenangkan sebagaimana yang sempat mereka lihat di televisi. Saya katakan pula pada mereka bahwa kita pun mampu hidup damai dan nyaman tanpa rasa takut dan was-was akan kelaparan. Dan semua itu dapat diwujudkan dengan cara belajar yang tekun dan bercita-cita tinggi. Saya pun berusaha memotivasi mereka dengan berbagai hal,” kata wanita kelahiran Sinjai, 18 Agutus 1969 ini. Hal yang paling membuat Rawiyah merasa gembira adalah ketika melihat anak-anak begitu antusias tiap kali menyambut kedatangannya di sekolah. Demikian pula pandangan masyarakat sekitar mengenai guru, yang adalah profesi paling mulai, sangat dihormati dan disegani.

Di samping mengajar anak-anak pada pagi hari di sekolah, ibu dua anak ini pun seringkali memberi pelatihan pada ibu-ibu penduduk setempat tentang berbagai keterampilan, baik itu jahit menjahit maupun masak memasak. Tak jarang pula Rawiyah membimbing mereka, orang dewasa, yang masih belum bisa membaca dan menulis. Meski melelahkan, tapi Rawiyah merasa sangat senang dan puas ketika segala ilmu yang diajarkannya membawa manfaat bagi mereka.

Demi dapat menjadi guru yang baik, Rawiyah pun senantiasa berusaha selalu mengupdate ilmu dan keterampilan yang ia miliki  melalui berbagai hal. “Jika ada waktu dan dana, saya mencoba membuka internet, melihat dan mencari tahu perkembangan baru yang erat kaitannya dengan profesi saya sebagai guru,” kata Rawiyah. Di samping itu, tiap sebulan sekali Rawiyah pun berkumpul bersama guru-guru kelas IV lainnya di wilayah kecamatan Pulau Sembilan dalam forum KKG (Kelompok Kerja Guru), untuk membicarakan berbagai hal mengenai profesi guru.

Selama menjadi guru, Rawiyah akan terus menjaga tekadnya untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam mendidik anak-anak didiknya menjadi generasi yang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa. Kendati demikian, Rawiyah berharap bahwa pemerintah semakin memperhatikan kebutuhan pendidikan di daerah terpencil, supaya tak kalah dengan pendidikan di perkotaan. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Berbekal Roti Demi Memberi Les


Masyura, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Sulawesi Barat

Sudah sepuluh tahun lamanya Masyura, S.Pd. menjadi guru, tepatnya sejak tahun 2004. Profesi yang diidamkannya sejak ia masih kecil ini senantiasa membuatnya bahagia meski hingga kini ia masih berstatus sebagai guru honorer. Ia pun teguh pada komitmen, bersedia ditempatkan di mana saja, termasuk di daerah terpencil. Sehingga tak ada keluh sedikitpun saat pertama kali ia menjadi guru dan harus mengajar di daerah yang sulit. Masyura benar-benar ingin mengabdi pada tanah kelahirannya, mencerdaskan anak-anak bangsa. Namun kini ia sudah bernafas lega karena telah dipindahkan ke sekolah yang berada di tanah kelahirannya, di SD Negeri 24 Batukarut.

SD Negeri 24 Batukarut terletak di Desa Onang Utara, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. . Dari pusat kabupaten menuju sekolah, jarak yang ditempuh mencapai 1,5 jam dengan naik ojek, kemudian jalan kaki. Namun Desa Onang Utara termasuk dataran rendah, dan sebagian besar masyarakatnya adalah petani dan nelayan.

Terlahir dari orang tua petani, Masyura terbiasa hidup sederhana. Terlebih dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Baginya, bercita-cita menjadi guru adalah sebuah kesempatan yang lebih mudah untuk diraih, terlebih ia pun mendapat panggilan hati untuk menjadi guru. Beberapa saudara sepupunya pun ada yang menjadi guru, sehingga ia kerap terinspirasi dari mereka.

Saat ini SD Negeri 24 Batukarut memiliki 12 rombongan belajar, dan satu guru mengajar satu kelas. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika guru harus mengajar 2 hingga 3 kelas. Ini karena pemerintah telah membuka kelas jauh, sehingga jumlah siswa dalam rombongan belajar tak lagi sepadat dulu, yang hingga mencapai 40 siswa. Kecuali mata pelajaran olahraga dan agama memiliki guru khusus.  Namun jumlah ruang kelas masih 9 buah, sehingga terpaksa anak-anak harus belajar bergantian. Apalagi anak kelas 1 dan kelas 2 memiliki 2 rombongan belajar. Meski demikian, menurut Masyura, minat anak-anak terhadap sekolah sangat tinggi.

Saat ini, Masyura mengajar di kelas 6. Setiap hendak mengikuti ujian nasional, ia dan guru-guru lainnya pun tak segan memberikan les atau jam pelajaran tambahan usai pulang sekolah. Masyura kerap tak pulang ke rumah terlebih dahulu, melainkan menunggu anak-anak datang, kemudian memberikan les, sehingga ia baru dapat pulang ke rumah sekitar pukul 6 sore. Tak pelak ia pun hanya berbekal roti sebagai makan siangnya. Kendati demikian, kerja keras Masyura dan guru-guru lainnya membuahkan hasil. Anak-anak didiknya dapat melalui ujian nasional dengan hasil yang cukup baik.

Di samping itu, Masyura pun mengajar di kelas 5, dimana terdapat anak dalam kelas tersebut yang berkebutuhan khusus. Ia harus membimbing anak tersebut untuk dapat membaca dan menulis. Dikarenakan di Desa Onang Utara belum ada SLB, maka anak-anak yang berkebutuhan khusus pun dimasukkan ke SD Negeri 24 Batukarut, bercampur dengan anak-anak normal. Meski demikian, Masyura mengaku tak mendapat kesulitan berarti karena ia telah berpengalaman dan terbiasa mengatasi masalah tersebut.

Setiap tahun, SD Negeri 24 Batukarut pun rutin mengadakan semacam event demi membesarkan minat dan semangat para anak didik, yakni dengan kegiatan penamatan massal dan pramuka. Sebuah ajang yang mengasah prestasi di bidang olahraga dan kesenian. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah khusus yang menyenangkan.

Setiap hari, Masyura harus berangkat ke sekolah pukul 5.30 pagi demi mendapat tumpangan bus umum yang memang hanya ada pukul 6 dan pukul 9 pagi. Jika tak demikian, ia akan terlambat masuk ke sekolah. Sementara semua murid dan guru harus datang di sekolah tak lebih dari pukul 7 pagi. “Guru harus lebih rajin daripada murid karena guru harus memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya,” tutur Masyura.

Saat ini, Masyura hidup bahagia bersama suami dan seorang anaknya. Mustinya Masyura memiliki 3 orang anak, namun kini hanya satu yang tersisa karena 2 anak lainnya telah berpulang. Sementara suaminya bekerja di perusahaan tambang batubara. Dulu, setelah Masyura lulus kuliah dan ditugaskan menjadi guru, suaminya sempat berhenti bekerja demi mengurus anak-anak sementara Masyura bekerja. Terlebih karena orang tua Masyura pun telah renta dan sakit-sakitan. Tak ada pilihan lain, demi memberikan perawatan yang terbaik untuk anak-anaknya, maka suaminya lah yang tinggal di rumah merawat anak-anak.

Masyura berharap pemerintah senantiasa memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan para guru daerah khusus, supaya mereka pun dapat bekerja dan memberikan hasil terbaik dalam mendidik anak negeri. Masyura memimpikan bahwa generasi Indonesia secara keseluruhan, baik di kota ataupun di desa, dari Sabang sampai Meuroke, memiliki pendidikan yang tinggi dan memadai untuk menyukseskan negeri, menjadi bangsa Indonesia sebagai negara besar yang disegani. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)


Profil Gurdasus : Pengabdi dari Majene


Basir, S.Pd.
Guru Daerah khusus Provinsi Sulawesi Barat



Betapa bangga guru SD Inpres 15 Ulumanda, Majene, Sulawesi Barat ini mendapat undangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menghadiri perhelatan bergengsi nasional, yakni Pemberian Penghargaan PTK Berprestasi dan Berdedikasi 2014 di Jakarta. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi Basir, S.Pd, karena ia menyadari bahwa hanya dua orang perwakilan guru daerah khusus untuk satu provinsi yang diberangkatkan ke Jakarta dan bertemu menteri maupun presiden nantinya. Basir benar-benar merasa beruntung. Jerih payahnya menjadi guru di daerah terpencil selama sebelas tahun benar-benar tak sia-sia.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Basir sudah bercita-cita ingin menjadi guru, memajukan pendidikan di Majene, membuat anak-anak di desanya menjadi lebih pintar membaca, menulis, dan berilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk menjadi guru selepas tamat sekolah, dengan status awal sebagai guru honorer.

Baru pada 01 Desember 2003 ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, yang membuatnya merasa amat lega dan bahagia. Basir merasa sangat bahagia karena dua hal; diangkat menjadi guru PNS, dan ditugaskan untuk mengabdi di tanah leluhurnya, di Ulumanda, Majene, Sulawesi Barat, tepatnya di Desa Popenga. Sebuah daerah yang sangat terpencil, berjarak 50km dari pusat kecamatan, atau 120km dari pusat kabupaten. Karena keterpencilannya, maka untuk menuju ke sana pun harus ditempuh dengan berbagai alat transportasi, mulai dari menggunakan mobil angkutan, ojek, hingga berjalan kaki. Rutenya pun naik dan turun gunung. Pada musim hujan, jalanan menjadi  sulit dilalui karena sangat becek dan berlumpur. “Kalau hendak berbelanja ke pusat kecamatan harus menunggu orang lain untuk dijadikan teman dalam perjalanan atau untuk mendorong motor ketika terjebak lumpur. Bahkan kalau cuacanya sangat buruk, terpaksa kita harus jalan kaki,” ungkap Basir.
Namun syukurlah Basir dan keluarganya tinggal tak jauh dari sekolah, hanya berjarak 700 meter. 

Setiap hari, Basir hanya perlu berjalan kaki menuju sekolah. Sejak kecil, Basir telah terbiasa hidup di daerah terpencil, sehingga ia pun dapat menikmati keadaannya yang jauh dari manapun dengan damai, bahagia, dan penuh rasa syukur. Kendati demikian, karena letak daerahnya yang demikian jauh, tak pelak harga kebutuhan pokok di Ulumanda pun sangat mahal. Belum ada pasar, listrik, bahkan jaringan telepon. Namun ia mengaku bahwa penghasilannya yang sebesar sekitar dua jutaan cukup untuk menghidupi keluarganya. “Kami juga senang saling berbagi dan tukar pikiran dengan keluarga, terutama dengan keluarga yang rajin bekerja di lahan pertanian. Soalnya saya suka ikut sama-sama mengerjakan lahan pertanian di luar jam pembelajaran sekolah,” kata ayah dari lima anak ini.

Menurut Basir, menjadi guru di desa Ulumanda sangat menyenangkan. Terlebih karena masyarakat sekitar menganggap bahwa profesi guru adalah sebuah profesi mulia yang dihormati dan disegani. “Setiap ada kegiatan di masyarakat, saya selalu dilibatkan,” kata Basir.
Saat pertama kali mengajar, menurut guru yang lahir pada 31 Desember 1967 ini, hanya ada dua orang guru di SD Inpres 15 Ulumanda, termasuk kepala sekolah. Saat ini, Basir mengajar di kelas VI dengan jumlah murid sebanyak 14 orang. Total murid di SD Inpres 15 Ulumanda pada tahun ajaran 2014/2015 ini sebanyak 100 orang, dengan jumlah guru dan kepala sekolah sebanyak sembilan orang. Lima orang guru PNS, dan tiga orang guru tidak tetap.

Sarana dan prasarana yang dimiliki SD Inpres 15 Ulumanda ini pun sangat terbatas. Hanya terdapat satu bangunan di tanah sekolah, dengan 3 ruangan yang kemudian disekat-sekat menjadi dua untuk enam rombongan belajar. Karena keterbatasan ini, Basir pun tak kurang akal dalam memanfaatkan segala peralatan atau alat peraga seadanya untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Bahkan tak jarang ia mengajak murid-muridnya untuk belajar di luar sembari mengamati alam sekitar.

Kendati demikian, Basir menyadari bahwa untuk menjadi seorang guru yang baik, ia pun harus rajin meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, ia pun mengikuti program S-1 di Universitas Terbuka Majene dengan program studi Pendidikan Guru SD, dan lulus pada tahun 2012. Bahkan pada tahun 2013 Basir pun mengikuti pendidikandan pelatihan sertifikasi guru di Makassar, Sulawesi Selatan. Kini, pria 47 tahun ini sudah menyandang sertifikat pendidik.

Meski senantiasa bersemangat menjadi guru, Basir berharap pemerintah dan masyarakat bahu membahu dalam meningkatkan layanan pendidikan, memberikan kesempatan yang lebih besar kepada guru-guru di daerah khusus. Bagaimanapun, sebagai guru daerah khusus, Basir pun ingin tak kalah dengan kualitas guru-guru di perkotaan. Ia pun berharap pemerintah daerah segera meningkatkan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil seperti di Ulumanda, Majene, sehingga masyarakat, guru, maupun anak-anak mendapatkan akses yang mudah. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Pendidik Berdedikasi dari Batudaa Pantai


Wahyudin D.J. Mardjun, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Gorontalo



Wahyudin D.J. Mardjun, S.Pd. diangkat menjadi guru dengaan status CPNS pada tahun 1998. Ia ditempatkan di SD Negeri 01 Biluhu Tengah, yang terletak di kecamatan Batuda’a Pantai, Provinsi Gorontalo.  Setiap hari, Wahyudin harus berjalan kaki sejauh 5km untuk menuju ke sekolah.

Keberadaan Wahyudin sebagai guru di SD Negeri 01 Biluhu Tengah sangat disambut baik oleh sekolah dan masyarakat karena sudah sejak lama sekolah tersebut kekurangan guru. Hanya terdapat lima orang guru, termasuk kepala sekolah. Pengabdian Wahyudin di sekolah ini berlangsung selama empat tahun, karena kemudian pada tahun 2002 ia dipindah ke SDN 01 Olimoo’o (yang sekarang menjadi SDN 12 Batudaa Pantai) kecamatan Batudaa Pantai.

Secara geografis, SDN 12 Batudaa Pantai terletak di lereng gunung dan di pesisir pantai laut teluk Tomini, dan termasuk kategori daerah terpencil. Jarak sekolah ke pusat kecamatan adalah 27km dengan waktu tempuh selama kurang lebih 2 jam dengan menggunakan sepeda motor dengan kondisi jalan yang sebagian besar belum teraspal, atau dengan menggunakan perahu motor. Sementara jarak sekolah ke pusat kabupaten mencapai 52km, yang dapat ditempuh selama kurang lebih 4 jam dengan menggunakan sepeda motor, mobil angkutan umum, dan perahu motor.

Saat pertama kali datang di SDN 12 Batudaa Pantai, pria kelahiran Batudaa, 14 Juni 1971 ini melihat bahwa kondisi sekolah tersebut cukup memprihatinkan, baik dari proses pelaksanaan pembelajaran maupun sarana dan prasarana. Sekolah tersebut pun hanya memiliki empat orang tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah, dan memiliki jumlah siswa sebanyak 120 siswa. Hanya terdapat empat ruang kelas, itu pun dalam keadaan yang sudah rusak. Buku-buku penunjang pembelajaran pun sangat kurang tersedia.

Namun saat ini, jumlah siswa pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 98 siswa dengan jumlah guru sebanyak 7 orang, termasuk kepala sekolah. Kondisi sarana dan prasarana sekolah pun sudah cukup menunjang untuk pelaksanaan proses pembelajaran. Pria yang telah lulus dari Universitas Terbuka Gorontalo pada tahun 2008 merasa senang menjadi guru karena baginya guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Meski ditugaskan di daerah terpencil, hal itu tak menyurutkan semangat Wahudin untuk mengabdi. Awalnya, Wahyudin pun harus bertahan dengan hidup yang pas-pasan. Namun semenjak mendapat tunjangan daerah khusus, ia menjadi lebih bersemangat dan bersuka cita dalam melaksanakan tugas mencetak generasi bangsa di wilayah terpencil.

Dalam melaksanakan tugas di  SDN 12 Batudaa Pantai, ayah dua anak ini selalu melibatkan diri di berbagai kegiatan, baik itu kegiatan di sekolah maupun di masyarakat. Wahyudin pun telah mencetak beberapa prestasi membanggakan, antara lain pernah menjadi Ketua KKG Mahardika dalam Program BERMUTU selama 3 tahun sejak tahun 2010, pernah menjadi guru pemandu di KKG, pernah menjadi penyusun soal UAS tingkat kabupaten pada tahun 2012 dan 2013, pernah membimbing siswa dalam lomba mata pelajaran dan lomba olah raga, pernah meraih juara 1 lomba Guru Berdedikasi dari Daerah Khusus, serta pernah menjadi Tutor Paket B pada tahun 2004. Sedangkan di lingkungan masyarakat, Wahyudin pernah menjadi ketua LPM selama 2 periode sejak tahun 2004, menjadi ketua ta’mirul masjid, serta menjadi ketua PPS dalam pemilihan umum. Pengabdian Wahyudin di Batudaa Pantai telah berlangsung selama 12 tahun hingga sekarang.


Ia berharap supaya pemerintah selalu memperhatikan pendidikan di daerah khusus sehingga tak kalah dengan pendidikan di perkotaan. Selain itu, ia pun berharap supaya infrastruktur, terutama jalan dan sarana transportasi yang menuju ke Batudaa Pantai menjadi prioritas utama dalam pembangunan. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Pendidik Anak Transmigran dari Gorontalo


Sarmin Usman, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Gorontalo



Mulanya, Sarmin Usman, S.Pd merasa tergugah ketika melihat anak-anak warga transmigran yang ingin belajar, namun belum ada bangunan sekolah dan guru yang memfasilitasi mereka. Terlebih karena selama ini Sarmin merasa terkesan dengan keramahan dan kesantunan para warga transmigran yang ada di sekitarnya. Maka pada tahun 1991, atas inisiatifnya bersama tiga orang kawannya dan kepala UPT Malango I, Sarmin pun menjadi guru sukarela bagi anak-anak transmigran tersebut. Mereka pun belajar bersama dengan memanfaatkan kantor UPT sebagai ruang kelas dan menggunakan peralatan seadanya. Tanpa meja, tanpa kursi. Meski belajar dengan menggelosor di lantai, anak-anak transmigran di Desa Malango ini sangat antusias belajar.

Desa Malango adalah sebuah desa terpencil, terletak di lereng gunung dan bantaran sungai Malango yang hampir setiap tahun dilanda banjir akibat penebangan hutan dan pembukaan lahan kebun kepala sawit. Desa ini pun adalah sebuah desa di mana banyak tinggal para transmigran. Mereka berasal dari dari berbagai suku dari Jawa Timur, Jawa Barat, Minahasa, Sangir Talaud, Bolang Mongindou, dan lain sebagainya. Sebagian besar pekerjaan mereka adalah sebagai buruh tani atau perkebunan yang masih hidup dalam garis kemiskinan. Oleh karena itu, mereka masih berpikir bahwa pendidikan bukanlah hal utama, meskipun sekolah telah menjamin fasilitas seragam dan alat tulis gratis melalui dana BOS dan PNPM.

Tahun 1993, Sarmin pun diangkat menjadi guru honorer di SD Inpres Malango I. Tahun 1995, Sarmin dipindah ke SD Inpres 07 Motolohu. Hingga pada tahun 1996, wanita kelahiran 01 Januari 1969 ini baru diangkat menjadi PNS dan ditugaskan mengajar di SD Negeri 04 Taluditi hingga sekarang. Di samping itu, Sarmin pun telah menyelesaikan pendidikan tingginya di Universtas Terbuka pada tahun 2011.

SD Negeri 04 Taluditi adalah sebuah sekolah terpencil yang terletak sekitar 7 km dari pusat kecamatan, atau 52 km dari pusat kabupaten. Karena letaknya yang cukup jauh dengan medan transportasi yang sulit, maka angkutan umum pun belum tersedia. Untuk pergi ke kecamatan atau kabupaten harus menumpang truk rotan atau jhondeer. Jaringan telekomunikasi dan internet pun belum tersedia, sehingga Sarmin dan guru-guru lainnya harus pergi ke kecamatan jika hendak mengupdate Dapodik serta berbagai kebutuhan informasi lainnya untuk kegiatan belajar mengajar.

Tahun ajaran 2014/2015, murid-murid di SD Negeri 04 Taluditi berjumlah 112 orang. Kondisi bangunan sekolah saat ini mengalami beberapa rusak ringan. Pagar samping dan belakang sekolah sudah ambruk. Selain itu, sekolah pun belum memiliki alat-alat olah raga seperti matras. Motor dinas sekolah pun rusak berat.

Dalam mengajar, wanita yang gemar membaca ini kerap memberikan motivasi pada murid-muridnya supaya lebih giat dan rajin belajar dan datang ke sekolah. “Dalam seminggu, dua atau tiga kali saya memberi makanan atau uang jajan pada murid-murid saya. Jika ada yang belum punya seragam saya berikan seragam sekolah. Sedangkan untuk siswa kelas 1 yang biasanya lambat belajar, saya bujuk dengan menyediakan permen atau biskuit bagi mereka yang sudah menyelesaikan tugasnya,” kata Sarmin.

Selain itu, Sarmin pun mencoba menerapkan beberapa program pembelajaran yang baik pada murid-muridnya. Misalnya dengan menghapal Surat Al-Fatihah sebelum masuk kelas, membaca satu kalimat atau menghitung cepat sebelum istirahat pertama, mencari satu kata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebelum istirahat kedua, membuat resume seminggu sekali dengan sumber buku di perpustakaan, serta menjawab satu soal atau membaca doa-doa shalat sebelum jam pulang.

Sebagai guru daerah khusus, gaji yang diterima Sarmin sebesar tiga juta enam ratusan rupiah per bulan. Ia sangat bersyukur karena terbantu berkat adanya tunjangan daerah khusus yang diterimanya. Kendati demikian, harga kebutuhan pokok di Malango relatif mahal, sehingga Sarmin pun mencoba menggali penghasilan sampingan dari mengolah lahan pertanian dengan menanam jagung bersama suaminya, yang seorang guru SMP.

Sarmin berharap bahwa masyarakat pun memiliki andil menjaga keamanan dan kebersihan sekolah serta mendukung semua program sekolah atau komite sekolah sehingga dapat meraih hasil yang lebih optimal dalam mencetak generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia. Pada pemerintah, Sarmin berharap supaya pendidikan di daerah terpencil lebih diperhatikan kebutuhannya guna mencapai tujuan pendidikan nasional. Demikian pula dengan kesejahteraan para guru daerah khusus, karena menurut Sarmin, masih banyak kawan-kawan sesama guru daerah khusus yang belum menikmati tunjangan guru daerah khusus di daerahnya.


Satu-satunya keinginan Sarmin adalah menjadi guru yang profesional dan dicintai murid-muridnya, serta mampu mengantarkan murid-muridnya sebagai manusia yang berpendidikan dan berakhlak mulia. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Mendidik Suku Terasing

Yusmerni Hano, S.Pd.
Guru daerah khusus Provinsi Gorontalo


Yusmerni Hano, S.Pd telah mengabdi selama kurang lebih 18 tahun sebagai guru di daerah khusus, di provinsi Gorontalo. Pertama kali, ia mengajar pada tahun 1995 di SDN 2 Lakeya. Kemudian pada tahun 2001, ia dipindahkan untuk mengajar di SDN 10 Tolangohula, hingga sekarang. Banyak pengalaman menarik yang telah dilaluinya, baik itu suka maupun duka. Kendati demikian, ia terus berkomitmen untuk mendidik anak bangsa di daerah khusus. SUngguh pantas jika kemudian ia mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai guru daerah khusus berdedikasi.

SDN 10 Tolangohula tempat Yusmerni mengajar terletak di Desa Binajaya, sebuah wilayah terpencil di provinsi Gorontalo. Jarak sekolah ke pusat kecamatan adalah 10 km, sedangkan ke pusat kabupaten adalah 110 km. Lokasi SDN 10 Tolangohula ini berada di pinggiran sungai di bawah kaki gunung, bahkan berada di tengah-tengah lahan tebu. Banyak terdapat pohon-pohon besar yang berusia tahunan, sehingga membuat lingkungan sekitar menjadi sejuk. Bahkan acapkali proses belajar mengajar ini pun dilakukan di bawah pohon untuk menumbuhkan minat siswa.

Di tahun ajaran 2013/2014 ini, ada 324 siswa yang belajar di SDN 10 Tolangohula, dibimbing oleh 18 orang guru. Gedung sekolah sudah permanen setelah mendapat dana DAK (Dana Alokasi Khusus) pada tahun 2008 dan 2009. Perlengkapan kelas dan kantor pun sudah cukup baik dan lengkap berkat dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun alat-alat elektronik belum bisa dipergunakan karena belum ada aliran listrik di Desa Binajaya, sehingga alat-alat elektronik seperti komputer terpaksa dibawa ke tempat yang beraliran listrik untuk memenuhi tugas penyelesaian administrasi sekolah maupun permintaan data dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun pusat.

Pada umumnya, masyarakat di Desa Binajaya sudah cukup menyadari arti pentingnya pendidikan, sehingga mereka sangat mendukung anak-anak mereka bersekolah. Kendati demikian, banyak anak-anak di Desa Binajaya yang hanya lulusan SD, karena untuk meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi lagi, mereka harus menempuh perjalanan yang amat jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, dsb. Kendala inilah yang membuat mereka mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah.

Sejak terangkat menjadi guru PNS pada tahun 1995 sampai tahun 2000, Yusmerni harus mengalami perjuangan yang berat dalam mengajar. “Untuk menuju ke sekolah, saya mengendarai sepeda, yang kemudian saya titipkan ke rumah penduduk. Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena jalannya penuh dengan batu-batuan dan lubang-lubang. Saat menuju ke sekolah, saya pun masih menjemput siswa saya di rumahnya untuk saya ajak bersekolah,” cerita Yusmerni.

Sempat Dikatai Anjing Menggonggong
Baru pada tahun 2001, ia dimutasikan di SDN10 Tolangohula. Tahun 2007, SDN 10 Tolangohula sudah mendapatkan SATAP (Kelas Satu Atap), serta mendapat gedung baru, yaitu di kelas jauh. Di kelas jauh, Wanita kelahiran 22 Juli 1964 ini bercerita bahwa ia pun memiliki siswa dari suku terasing yang hanya menggunakan kulit kayu dan dedaunan untuk menutupi tubuhnya. “Kami kesulitan mengajar mereka karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Setiap kami mengajar di kelas, dikatakan seperti anjing yang menggonggong, sama dengan anjing yang ada di pondok mereka,” kisah Yusmerni. “Namun kami tetap sabar dan tabah menjalaninya. 

Dua tahun kemudian, siswa ini sudah bisa beradaptasi dengan teman-temannya yang lain, dan mereka sudah duduk di kelas 4 – 5. Bahkan Bapak Bupati pun sudah mengunjungi sekolah ini dan berdialog langsung dengan anak-anak suku terasing ini. Beliau memberikan bantuan berupa pembangunan rumah sederhana, pakaian, dan uang saku. Dua tahun yang lalu Bapak Bupati pun bahkan telah menikahkan dua pasangan suku terasing  dengan meriah di kecamatan.

Menurut ibu satu anak ini, siswa di SDN 10 Tolangohula setiap tahun selalu bertambah, apalagi dengan semakin banyaknya bantuan yang datang, seperti gedung sekolah PAUD, SD, dan SMP. Bahkan pada bulan September 2013 ini akan dibuka tempat perkuliahan belajar jarak jauh (semacam Universitas Terbuka) yang berlokasi di SDN 10 Tolangohula. Menurut Yusmerni, banyak alumni SDN 10 Tolangohula yang telah meraih gelar Sarjana Pendidikan di PGSD, dan mereka pun sudah mengabdikan dirinya di SDN 10 Tolangohula.


Saat menerima penghargaan sebagai guru daerah khusus berdedikasi di Jakarta, Yusmerni mengaku bahwa ini kedua kalinya ia pergi ke Jakarta. Pertama kali adalah saat ia diwisuda di Universitas Terbuka Jakarta pada tahun 2011. Ia merasa tidak menyangka akan mendapat kesempatan mengikuti ajang pemilihan guru daerah khusus, yang kemudian mengantarkannya sampai ke Jakarta. Yusmerni merasa amat senang dan bahagia, apalagi dapat bersalaman langsung dengan Mendikbud dan melihat langsung Presiden RI, hal yang selama ini bahkan tak pernah ia impikan. ***


Ditulis tahun : 2013

Profil Gurdasus : Mengabdi untuk Kampung Halaman

Wahida, S.IP.
Guru daerah khusus Provinsi Sulawesi Tenggara


Sebagai putra daerah, Wahida A.Ma., S.IP merasa bertanggung jawab untuk memajukan negerinya, terutama di bidang pendidikan. Oleh karena itu, ia memilih untuk menjadi guru PNS di kampung halamannya sendiri. Apalagi di tempat kelahirannya, menurut adat, anak perempuan  berkewajiban merawat orang tuanya yang sudah renta. “Saya merasa, siapa lagi yang akan membangun pendidikan di daerah saya kalau bukan anak-anak daerah sendiri,” tuturnya.

Awal mengajar, Wahida ditempatkan di SDN 3 Laonti, dari tahun 1990 hingga 2002. Kemudian ia dipindahkan ke SDN 2 Ulusawa dari tahun 2003 hingga 2010. Baru pada tahun 2011 ia mendapat kesempatan mengabdi di SDN 1 Ulusawa, tempat dulu ia menempuh ilmu semasa kecil, hingga sekarang.

SDN 1 Ulusawa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, berjarak 3 km dari pusat kecamatan. Namun jarak ke kota kabupaten cukup jauh, harus ditempuh dengan perahu motor selama kurang lebih 4 – 6 jam, kemudian bersambung menggunakan transportasi mobil selama kurang lebih 2 jam.

Menuju lokasi desa Ulusawa boleh dibilang tergolong berat, karena tidak ada jalan darat. Satu-satunya transportasi adalah melalui jalur laut. Namun ketika musim timur tiba, tak ada yang berani melaut, karena  gelombang ombak cukup besar dan berbahaya.

Menurut wanita yang sudah sejak tahun 2011 mengajar di SDN 1 Ulusawa, sarana dan prasarana di sekolahnya boleh dibilang sudah cukup baik, meski masih sangat sederhana. Setidaknya, ruang kelas sudah berlantai semen dan beratap seng. Hanya sarana media pembelajarannya saja yang dirasa masih kurang.

Pada tahun ajaran 2013-2014, jumlah siswa SDN 1 Ulusawa mencapai 104 anak, yang dibimbing oleh 9 orang guru. 5 orang guru sudah PNS, sedang 4 guru lainnya berstatus guru tidak tetap. Kendati demikian, mereka pun mendapat honor dari dana BOS serta tunjangan dari pemerintah pusat. Sedangkan guru PNS nya pun sudah menikmati insentif daerah khusus dari pemerintah.

Banyak suka duka yang dirasakan wanita kelahiran 7 Juni 1970 ini saat mengajar di SDN 1 Ulusawa. Sukanya, ketika ia melihat anak-anak dapat menerima proses pembelajaran dengan bersemangat. Namun dukanya, banyak siswa-siswa yang tidak mandi ketika mereka bersekolah, sehingga hal ini dapat sedikit mengganggu konsentrasi belajar mengajar dikarenakan aroma yang tidak sedap. Oleh karena itu, kadang-kadang tak pelak Wahida menyuruh muridnya untuk mandi di sungai belakang sekolah.

Sayangnya, kondisi sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya kurang memahami arti penting pendidikan bagi anak-anaknya. Masih banyak anak-anak yang belum mengenyam pendidikan SD – SMA. Jika mereka bepergian, mereka kerap membawa anaknya tanpa meminta ijin pada sekolah. Selain itu, inisiatif mereka untuk memotivasi anak-anaknya pun kurang maksimal. “Pada saat pendaftaran penerimaan murid baru, tidak ada orang tua yang mendaftarkan anaknya ke sekolah, sehingga terpaksa kami mendatangi mereka ke rumah-rumah untuk mendata anak-anak mereka yang usia sekolah. Saat tiba waktu sekolah, mereka pun masih enggan datang ke sekolah. Namun jika sudah dibagikan baju seragam, baju kaos, batik, dari dana BOS, barulah mereka mau menyuruh anaknya ke sekolah,” cerita Wahida.

Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat sekitar berlatar belakang pendidikan rendah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Sehingga mereka cenderung lebih fokus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketimbang memikirkan pendidikan anak-anaknya.

Namun keadaan ini justru membuat ibu satu anak ini semakin termotivasi untuk melakukan lebih banyak hal. Di sela-sela kesibukannya menjadi guru SDN 1 Ulusawa, Wahida pun menyisihkan energinya untuk mendirikan TK (Taman Kanak-kanak). “Di kecamatan saya yang terdiri dari 19 desa, hanya ada satu TK, yaitu TK yang saya dirikan pada tahun 2010…” ujarnya.

Selain itu, Wanita lulusan Universitas Terbuka Jakarta ini pun mendirikan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) yang mengelola  pendidikan luar sekolah setara SD paket A, SMP paket B, dan SMA paket C. Ia merasa bahwa program ini bisa lebih menyentuh masyarakat.

Terpilih mewakili Sulawesi Tenggara untuk menerima penghargaan dari pemerintah sebagai guru berdedikasi daerah khusus sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Wahida. “Selama mengikuti kegiatan di Hotel Sahid, saya merasa sangat terhormat karena ditempatkan di hotel mewah dan ternama dengan pelayanan yang sangat memuaskan. Dilanjutkan dengan mengunjungi tempat wisata dan bersejarah yang sangat mengagumkan, karena selama ini apa yang saya ajarkan pada murid saya hanya melalui gambar dalam buku. Tapi kali ini saya benar-benar melihat langsung secara nyata dan saya abadikan dalam kamera saya,” kisah Wahida.

Wahida pun tidak menyangka akan dapat melihat langsung wajah Bapak dan Ibu Presiden serta Wakil Presiden RI saat silaturahim maupun upacara kemerdekaan RI di Istana Negara, juga berjumpa dengan Ibu-ibu dari SIKIB dengan program kerja yang membuatnya berdecak kagum.


Wahida berharap semoga pemerintah, baik itu pusat maupun daerah, terus memberikan perhatian untuk kemajuan pendidikan di daerah-daerah khusus, dan memberi motivasi kepada para guru, sehingga mereka senantiasa berbesar hati ditempatkan di daerah khusus. ***


Ditulis tahun : 2013