Showing posts with label Kemdikbud. Show all posts
Showing posts with label Kemdikbud. Show all posts

Guru Daerah Khusus 2015 : Buah Pengabdian di Daerah Khusus


Bulan November 2015 adalah bulan yang istimewa bagi para guru. Terlebih bagi perwakilan guru daerah khusus yang diundang ke Jakarta untuk ikut merayakan Hari Guru Nasional dan menerima penghargaan dari Pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan kuota sebanyak dua orang guru daerah khusus (gurdasus) per provinsi di seluruh Indonesia untuk diberangkatkan ke Jakarta, mengikuti event nasional yang memberi kesempatan para guru tersebut untuk bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan bahkan Presiden Republik Indonesia.

Dengan dikawal oleh Sub Direktorat Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus, dan SILN yang dinahkodai oleh Kepala Subdit Dra. Nike Kusumahani, M.Pd., para gurdasus dimanjakan selama kurang lebih satu minggu dengan menginap di hotel bintang lima, Grand Sahid Jaya, yang terletak di Jalan PB Sudirman, Jakarta Pusat. Jadwal kegiatan mereka pun sudah terjadwal dan disiapkandengan baik. Di saat para guru dan tenaga kependidikan sibuk dengan tes dan ujian, waktu para gurdasus justru lebih banyak diisi dengan kegiatan jalan-jalan menikmati beberapa  tempat menarik yang ada di Jakarta. Bagi mereka, melihat dan menikmati secara langsung kota besar dan aneka modernitasnya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa. Untuk sesaat, mereka dapat melupakan kerja keras dan pengabdian tak terhingga yang telah mereka  curahkan di daerah khusus, di pelosok Indonesia.


Salah satu kegiatan menarik para gurdasus adalah mengunjungi Museum Gajah. Mereka diajak untuk melihat-lihat berbagai koleksi berharga benda-benda purbakala dan yang mengandung nilai sejarah Indonesia. Dipandu oleh tim dari Museum Gajah, para gurdasus mendapat tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai khasanah bangsa. Mereka juga terlihat amat riang gembira.

Selain itu, mereka juga diajak untuk mengunjungi  Monumen Nasional (Monas), yang menjadi icon kota Jakarta. Karena letaknya yang tak begitu jauh dari Museum Gajah,  para gurdasus pun diajak untuk berjalan kaki sembari menikmati suasana Jakarta, melihat lalu lintas, taman, dan aneka transportasi di Jakarta. Di Museum Nasional, selain menikmati diorama yang menggambarkan sejarah bangsa, mereka juga berkesempatan untuk naik hingga ke puncak Monas dan melihat pemandangan luas kota Jakarta dari ketinggian. Tak sedikit yang berdecak kagum, memotretnya dalam ingatan, untuk dibawa pulang dan dibagi ke para siswa serta handai taulan di kampung halaman.


Beberapa kegiatan lain yang diikuti para gurdasus antara lain mengikuti Simposium Nasional dalam rangka merayakan Hari Guru Nasional 2015 dan pemberian penghargaan guru dan tenaga kependidikan berprestasi dan berdedikasi nasional 2015 di Plaza Kemdikbud, Senayan, Jakarta. Para gurdasus tak luput mendapat apresiasi dan penghargaan dari Mendikbud, Anies Baswedan. Selain itu, seluruh gurdasus juga diberi keistimewaan untuk mengikuti acara talkshow Mata Najwa di Studio Metro TV.

Tak ketinggalan Taman Rekreasi Ancol, Jakarta, juga menjadi salah satu obyek kunjungan para gurdasus maupun guru berprestasi lainnya. Mereka menikmati berbagai wahana permainan di Dufan. Bagi para gurdasus, pengalaman selama satu minggu di Jakarta adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup.
Pengabdian dan dedikasi tanpa pamrih mereka berbuah manis. Sepulang ke tanah pengabdian, mereka pun bertekad untuk semakin berkarya dan mendedikasikan diri sepenuh hati demi mencerdaskan anak negeri di pelosok terpencil Indonesia. ***


Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Dikdas (Kemendikbud)




Profil Juara : Kembangkan Wirausaha di Sekolah Pertanian

Akib Ibrahim, S.Pd., M.M.
Juara II Kepala SMK Berprestasi Tingkat Nasional 2013


Awalnya, SMKN 1 Pacet adalah sekolah jauh dari SMKN 3 Cianjur yang dibuka tahun 2003 dengan siswa yang hanya sebanyak 58 orang. Saat ini, SMK yang dipimpin oleh Akib Ibrahim ini telah menjadi sekolah mandiri unggulan dengan jumlah siswa lebih dari 1000 orang. Ia pun bahkan pernah menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI pada tahun 2011. Butuh perjalanan panjang untuk mewujudkan hasil maksimal seperti yang telah SMKN 1 Pacet dan Akib tuai. Kendati demikian, kerja keras dan strategi matang menjadi salah satu dari kunci kesuksesan.

Salah satu strategi yang digunakan pria kelahiran 15 Juli 1964 ini untuk mengantar kesuksesan SMKN 1 Pacet adalah strategi “ROTANE”, yakni strategi dalam mengembangkan sekolah jauh yang berbasis pengembangan pembelajaran outsourcing menjadi sekolah mandiri yang mengembangkan Teaching Industry guna menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya. Model pembelajaran Teaching Industry adalah model pembelajaran berbasis industri dimana konsep pembelajaran menggunakanan kaidah-kaidah industri dari mulai penerapan disiplin, persiapan, proses dan pencapaian tujuan sehingga mampu menghasilkan lulusan yang terampil, profesional dan mampu menciptakan lapangan kerja atau berwirausaha. Pengalaman ini terakumulasi dari tahun 2003 sampai dengan saat ini.

Dalam mewujudkan Sekolah Teaching Industry, kunci suksesnya adalah kegiatan kewirausahaan. Kendati demikian, diperlukan suatu strategi manajemen operasional penyelenggaraan sekolah dalam pengembangan Teaching Industry sebagai upaya untuk mewujudkan sekolah yang bermutu dan mandiri sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan. Upaya tersebut meliputi Enam langkah strategi yaitu : Read, Opportunity, Trust, Adapting, Networking dan Evaluation atau disebut pula dengan strategi “ROTANE”.  Strategi yang ditelorkan oleh Akib Ibrahim ini terbukti telah membawa banyak keberhasilan untuk sekolah, antara lain telah menobatkan Akib sebagai juara II Kepala SMK Berprestasi tingkat Nasional 2013.

Jadi Pengelola Kebun Durian
Awalnya, Akib hanyalah seorang guru di Sekolah Menengah Teknologi Pertanian di Sitiung, Sumatera Barat, usai menamatkan program D-3 nya di Institut Pertanian Bogor tahun 1987. Berada di daerah terpencil, Akib tidak pernah berkesempatan ikut pendidikan dan pelatihan guru. Akib sempat mencoba melanjutkan kuliah. Sebenarnya, Akib diterima di dua perguruan tinggi negeri berbeda, tetapi Dinas Pendidikan Sumatera Barat tidak mengizinkan.

Pada tahun 1994, ia ditugaskan untuk mengajar di SMTP Cianjur. Namun karena saat itu gaji guru tak terlalu memadai, maka Akib pun menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengelola kebun durian yang seluas 30 hektar.   "Saya keluar rumah pukul 05.30 untuk mengurus kebun. Pukul 08.00 baru ke sekolah. Dari sekolah ke kebun lain lagi. Dari cara seperti inilah, saya mendapatkan uang. Alhamdulillah,  rezeki ada sepanjang kita mau berbuat," katanya.

Atas dedikasi Akib yang tinggi sebagai guru, maka pada tahun 2003 ia pun dipercaya mengelola kelas jauh pertanian. Yang pertama kali ia lakukan adalah segera merekrut guru honorer, mulai dari pemuda pengangguran hingga ustad. "Saya sempat kesulitan dana. Untuk gaji guru honorer, sering saya pakai uang sendiri," kenangnya. Bahkan awalnya, sekolah jauh yang Akib kelola tidak memiliki ruang belajar. Lebih dari 70% pembelajarannya dilaksanakan di lapangan karena belum memiliki sarana-prasarana, sedangkan jumlah guru pun terbatas . Namun atas dukungan dari seorang kenalannya, Endang Ibin alias Abah Ibin, salah satu tokoh pertanian di Cianjur, para siswa pun diijinkan belajar di lahan Abah Ibin,yakni di P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya) Taruna Mekar. Ada juga yang belajar di lahan kosong Villa Aquila. Sejak itu, masyarakat sekitar menyebut sekolah Akib sebagai "sekolah lapang" karena menumpang di lahan kosong. Tanah lapang yang luas di sekitar villa tersebut pun dijadikan tempat melakukan praktek budidaya ternak dan tanaman.  

Awalnya, sekolah jauh yang dikelola Akib hanya memiliki 2 rombel dengan jumlah siswa 58 orang dan satu ruang kelas. Dengan sekolah yang serba kekurangan tersebut, Akib terus bertekad untuk mengembangkan visi sekolah dan terus membangun networking. “Dengan segala keterbatasan yang ada kami  bertekad mewujudkan Sekolah  Teaching Industry,” katanya. Dalam hal ini, ayah tiga anak ini pun memanfaatkan dan mengelola semaksimal mungkin peluang yang ada demi meningkatkan layanan pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Dalam ROTANE, kegiatan ini merupakan salah satu dari pemanfaatan peluang (Opportunity).

Tahun 2004, Akib diangkat sebagai kepala sekolah. Kendati demikian, ia harus berusaha keras supaya sekolah dapat memenuhi Standar Pendidikan Minimal (SNP). Persoalan pelik pertama yang muncul adalah pengembangan lahan sekolah. “Sebagai kepala sekolah ‘numpang’,  tentu sangat terbantu dengan adanya kepercayaan dari P4S dan pengelola Villa Aquila serta masyarakat. Karena itu, memelihara kepercayaan ini sangatlah penting dan kami menjaga dengan sebaik-baiknya diantaranya dengan cara mematuhi semua aturan yang telah disepakati bersama sebelumnya,” tuturnya.

Secara bertahap, sekolah mendapatkan kepercayaan dari berbagai pihak untuk membangun fasilitas pembelajaran secara bertahap. Tahun 2004, sekolah Akib mendapatkan lahan 5.000 m2 dari Pasum Kota Bunga yang dihibahkan melalui Pemerintah Kabupaten Cianjur, yang diikuti dengan bantuan Program SMK Kecil dari pemerintah Pusat dengan nilai Rp 250 juta. Sejak itu, status SMK Kelas Jauh yang menumpang meningkat menjadi SMK kecil yang dibangun pada lahan tersebut.

Teamwork pun mulai dibangun untuk melaksanakan kepercayaan baik pengembangan fasilitas maupun meningkatkan mutu pembelajaran melalui pembelajaran model Teaching Industry yang dilaksanakan di lapangan. Adapting dan Networking dikembangkan dengan siapapun yang dapat membantu mewujudkan sekolah impian. Pada akhir tahun 2004, SMK Kecil mempunyai 2 (dua) ruangan kelas baru, sehingga ruang belajar siswa pindah dari Villa Aquilla dan P4S ke ruangan kelas baru tersebut di Desa Cibodas Keacamatan Pacet.

Menjadi SMKN 5 Cianjur
Pada tahun 2005, SMK Kecil beralih nama menjadi SMK Negeri 5 Cianjur dan Akib dikukuhkan menjadi kepala sekolahnya. Strategi “ROTANE” terus dikembangkan. Pada pertengahan tahun 2005, SMKN 5 Cianjur mendapatkan kepercayaan dari P4TK Cianjur untuk mengembangkan program working station bidang pertanian sehingga mendapatkan fasilitas pembelajaran yang signifikan untuk mengembangkan Teaching Industry, diantaranya Green House Bunga Rosolan seluas 400 m2, Laboratorium Kultur Jaringan 2 paket, bantuan Peternakan sapi perah, dan diikuti dengan bantuan dari Dinas Peternakan sebanyak 36 ekor kambing perah sebagai hasil Networking.

Saat itu, visi sekolah belum tercapai. Akib masih menggunakan konsep sekolah lapang. Daya dukung sumber daya manusia masih sangat minim dan tenaga kependidikan 100% honor. Beban semakin berat karena pada waktu itu dibuka juga program Akomodasi Perhotelan dan Usaha Jasa Parawisata. Namun demikian, Akib  tidak patah arang. Segala daya upaya dilakukan dengan selalu melakukan upaya “ROTANE”, yaitu setiap saat selalu membaca keadaan kondisi lingkungan, memanfaatkan peluang, membangun kepercayaan, menjalin kerjasama di setiap kesempatan, melakukan pengembangan kewirausahaan dengan matang, selalu melakukan evaluasi secara berkelanjutan, bersemangat, dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan, ulet dalam mengahadapi tantangan, selalu membangun kebersamaan dan aktif berinovasi serta tidak pernah berhenti bermimpi untuk berprestasi. Berbagai kesulitan yang dihadapi selalu dapat diselesaikan dengan baik.

Kerja keras Akib membuahkan hasil. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, diantaranya setiap tahun jumlah siswa selalu meningkat. Terbukti dari 58 orang tahun 2003, pada tahun 2006 sudah mencapai 510 siswa. Ini juga berdampak pada pengembangan fasilitas dan sumbangan pendidikan dari masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan kecakapan hidup siswa yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi dasar untuk bertahan hidup serta mampu menyesuaikan diri agar berhasil dalam kehidupan bermasyarakat.

Tahun 2006,  kurikulum berorientasi pada kompetensi. Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran berfungsi sebagai acuan pengembangan Teaching Industry. Pengembangan Teaching Industry disesuaikan dengan potensi dan karakteristik daerah masing-masing. Pembelajaran dapat menghasilkan kompetensi, yang sangat terkait dengan  kemampuan siswa agar dapat berusaha secara mandiri.

Hasil dari kerja keras pengelolaan sekolah tidak sia-sia dan menunjukkan prestasi yang menggembirakan, diantaranya Akreditasi A3 (tiga) Program keahlian, Juara LKS Tingkat Provinsi Bidang Peternakan, pengembangan lahan 1,5 Ha dari Pemerintah Daerah, jumlah Lulusan 100 %, dan adanya kesempatan siswa magang ke Jepang.

Upaya Pemecahan Masalah Tahun 2007-2008
Dalam pendidikan kejuruan yang terbatas sarana prasarananya, pengembangan SDM adalah bagaimana mereka dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan kecakapan. Fokus pengembangan SDM adalah kemampuan memiliki putusan yang baik dan melakukan tindakan positif. Ini menjadi pola sikap yang membantu dalam mengembangkan kerja sama dengan yang lainnya, khususnya mereka dengan yang beragam latar belakang dan kemampuan. Karena itulah masa ini disebut juga masa networking.
Akib mengembangkan sikap-sikap dan perilaku guru  dengan cara mendorong untuk mulai giat membicarakan tentang kebutuhan sekolah yang dapat mengarah pada pembuatan kebijakan sekolah, membantu mengevaluasi program sekolah, dan meningkatkan keterlibatan guru dalam mengatasi masalah sekolah. Kepedulian pada mutu lebih dominan karena sekolah telah mulai mendapatkan sarana dan prasarana yang lebih baik dari sebelumnya.
Tahun 2007 pun adalah tahun penuh kejutan bagi sekolah sebagai hasil dari strategi pengembangan “ROTANE”. Pemerintah Kabupaten Cianjur memberikan lahan pengembangan sekolah seluas 1.5 Ha, sehingga total lahan yang dimiliki sekolah menjadi 2 Ha. Sejak itu, fokus pengembangan Teaching Industry pun mulai diarahkan kepada pengembangan Tanaman Hias dan Holtikultura, yang juga bekerja sama dengan masyarakat dan pengusaha (networking).

Menjadi RSBI
Dampak dari hasil kerja keras ini, di pertengahan 2007, sekolah mendapatkan kado istimewa berupa ditetapkannya SMK Negeri 1 Pacet sebagai Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI). “Dengan kepercayaan ini tentu kami sangat gembira karena kami satu-satunya SMK Kecil yang mampu mengsejajarkan diri dengasn SMK besar yang sudah senior dan berusia puluhan tahun, meskipun saat itu kami baru berdiri 3 (tiga) tahun,” kata Akib.
Demi menjaga kepercayaan sebagai sekolah RSBI, SMKN 1 Pacet selalu meningkatkan mutu kinerja dengan membentuk teamwork yang baik sehingga menghasilkan renstra yang sesuai dengan tuntutan RSBI. Salah satunya meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan sekolah yang meliputi  :
  1. kemudahan masyarakat memperoleh informasi mengenai sekolah,
  2. adanya transparansi pengelolaan keuangan sekolah, 
  3. kepala sekolah mampu melakukan komunikasi dalam menangani perbedaan pandangan masyarakat terhadap pengelolaan sekolah.

Pada periode ini, dampak yang dicapai antara lain pengembangan unit produksi sebagai Teaching Industry, lulusan 100%, magang ke Jepang bertambah, penghargaan sekolah berbudaya lingkungan tingkat provinsi dan kabupaten, Juara I LKS Tingkat Nasional bidang Agronomy, Masuk RSBI, ISO 9001:2008, dan pengelolaan dana terbaik.

Upaya Pemecahan Masalah Tahun 2009 - 2011  ( Business Center )
Sebagai dampak dari pengelolaan sekolah di periode sebelumnya yang menghasilkan banyak penghargaan dan kepercayaan, maka pada tahun 2009 bertambah pula kepercayaan guna pengembangan model Teaching industry yang lebih luas khususnya pada pengembangan bidang pertanian, yaitu kompetensi pengolahan hasil pertanian yang secara kreatif mengolah limbah pertanian yang berupa daun wortel, daun singkong, dan daun lokatmala diolah menjadi makanan ringan yang unik dan diminati oleh berbagai kalangan karena rasanya khas, bentuknya unik, dan harganya terjangkau.

Di bidang kompetensi keahlian agribisnis tanaman pangan dan holtikultura keberhasilan SMKN 1 Pacet mengembangkan tanaman hias bunga kastuba dan sayuran membuahkan kepercayaan dari pemerintah pusat yang kemudian memberi bantuan senilai 400 juta untuk mengembangkan program tersebut. Di saat yang bersamaan, pada tahun 2009, lahirlah konsep pengembangan Business Center yang terbagi atas 5 (lima) divisi, yaitu Divisi Sarana Produksi Pertanian, Tanaman Hias, Produksi Tanaman Hidroponik, Pengolahan Makanan, dan Pemasaran. 

Sebagai Kepala Sekolah, Akib menerapkan strategi “ROTANE” guna mewujudkan Business Center yang sesuai dengan visi misi serta tujuan yang telah ditetapkan, yaitu terwujudnya SMK Negeri 1 Pacet sebagai pusat pengembangan pendidikan berlandaskan iman dan taqwa berbasis teknologi produksi pertanian dan pariwisata dengan tingkat kualifikasi lulusan berstandar internasional, berjiwa wirausaha, berbudi pekerti luhur, dan berwawasan lingkungan hidup. Langkah yang paling strategis adalah dengan membentuk teamwork guna pengelolaan Business Center, baik untuk level sekolah maupun di  tingkat divisi, di mana setiap komponen diwajibkan untuk menyusun renstra.

Pada tahun 2010 semua devisi menjalankan tugasnya dengan baik. Koordinasi antara divisi satu dengan lainnya sangat baik dan saling mendukung, sehingga semua kegiatan menjadi efisien. Dari kelima divisi ini, keseluruhannya dilaksanakan oleh siswa dan guru, di mana pada tahap awal didampingi oleh tenaga profesional dari industri untuk menerapkan prinsip dasar pengembangan Teaching Industry. Produk yang dihasilkan berkualitas dan unik, sehingga mampu menembus pasar lokal dan regional. Bahkan melalui kegiatan pameran, tidak jarang ada permintaan pasar untuk internasional. Berbagai komentar tentang produk yang dihasilkan oleh SMK Negeri 1 Pacet mendapatkan respon positif, misalnya dari pengusaha Nasional Bob Sadino yang merespon bahwa produk yang dihasilkan siswa SMKN 1 Pacet bidang Pertanian berkualitas baik, sehingga diminta untuk mengisi supermarket yang dimilikinya ( Kem Chick ). Komentar Beliau, “Kib, Produk Paprika yang kamu hasilkan bagus kualitasnya, bisa menyaingi produk import. Berapa kamu jual ? Akib menjawab, “15 ribu untuk yang merah,”. Bob Sadino langsung terperangah, “Kok murah banget ! Jangan kamu jual di tempat. Ambil pasar di supermarket saja. Bila perlu di tempat saya,” katanya. Mulai saat itu, produk yang dihasilkan siswa SMK N 1 Pacet dipasarkan melalui Kem Chick.

Selain itu, ketika Akib melaporkan dan mempresentasikan kegiatan hasil Busines Center ke Direktorat Pembinaan SMK dengan konsep Business Center  model Teaching Industry, ia mendapatkan apresiasi dari Direktorat PSMK terutama dalam pengembangan pertanian. Kemudian ia kerap dipanggil untuk menjadi narasumber kewirausahaan.

Dampak dari pengembangan Business Center antara lain, Akib pernah mendapat Juara I Kepala Sekolah Berbudaya Lingkungan Tingkat  Kabupaten, Provinsi, dan Nasional, Juara I LKS Tingkat Nasional Bidang Agronomy.

Upaya Pemecahan Masalah Tahun 2012 – sekarang
Masa ini adalah masa penyempurnaan program untuk mencapai tujuan pendidikan khususnya untuk mencetak lulusan yang mampu berwirausaha. Karena itu, strategi “ROTANE” dioperasionalkan secara lebih tajam untuk melihat komponen apa yang harus disempurnakan agar pengembangan Teaching Industry mampu menghasilkan lulusan yang Santun, Mandiri, Kreatif, Berilmu, Inovatif, Sehat, Agamis (SMK BISA).

Sebagai apresiasi dari Dit. PSMK atas keberhasilan SMKN 1 Pacet dalam pengembangan kewirausahaan khususnya di bidang pertanian, maka SMKN 1 Pacet mendapatkan kepercayaan sebagai sekolah binaan Jerman melalui Program Social Economic development Through Vocational Education and Training ( SED TVET ), yang besarnya Rp 8,5 Milyar untuk mendukung program Teaching Industry. Sharingnya diberikan oleh Dit. PSMK untuk pengembangan sarana dan lahan dari Pemerintah Daerah. Program tersebut saat ini dalam proses, dan implementasinya akan terlaksana pada tahun 2014 sampai 2015.

Strategi “ROTANE” merupakan strategi yang berbasis kemampuan Entrepreneur. Karena itu ke depan perlu dikembangkan pada sistem manajemen mutu yang dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur ( SOP ) untuk menjadi penduan seluruh warga sekolah dalam mengembangkan Teaching Industry guna menghasilkan lulusan yang profesional dan mandiri. Dengan demikian tidak hanya bertumpu pada leadership perorangan.

Kegigihan Akib untuk memajukan sekolah menengah pertanian membuahkan hasil. Bermula hanya dari kelas jauh, Akib berhasil mengubah sekolah yang menumpang di lahan masyarakat menjadi salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian terbaik di negeri ini. "Saya hanya ingin berbuat yang terbaik. Jika SMK kecil dinilai bisa menjadi sekolah unggulan, saya berharap ini bisa menjadi inspirasi untuk model pengembangan pendidikan. Saya sedih, di Indonesia ada ahli pertanian, tetapi pasar dibanjiri produk pertanian dari luar negeri. Padahal, kalau ditekuni, pertanian menghasilkan keuntungan yang besar," ujarnya.****

Ditulis tahun : 2013




Suryadarma, Ph.D : Kurikulum 2013 = Pembelajaran Abad 21


Di hadapan 297 PTK berprestasi dari seluruh Indonesia di 33 provinsi, Suryadarma, MPA., Ph.D, Direktur Pembinaan PTK Dikmen menghimbau bahwa para guru harus lekas mempersiapkan diri untuk menghadapi era knowledge society. Selama kurang lebih 2 (dua) jam, ia menyampaikan paparannya mengenai guru dan pembelajaran abad 21 di salah satu rangkaian acara pemilikan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2013, yang digelar di Hotel Century pada akhir Agustus lalu.

Dalam paparannya, ia menyampaikan bahwa guru menduduki posisi penting karena tugas guru adalah menyampaikan pengetahuan. Di masa depan nanti, menurut Suryadarma, masyarakat yang sebelumnya berorientasi pada industri akan berubah menjadi masyarakat yang berpengetahuan. Jadi, untuk mewujudkan hal ini, guru harus benar-benar siap, terutama dalam hal kualitas kompetensi.

Menurut Suryadarma, hal-hal yang mendorong perubahan tersebut antara lain adalah adanya desakan globalisasi. Dengan adanya globalisasi, perkembangan ICT (Information and Communication Technology) semakin pesat. “Perkembangan ICT ini mau tidak mau mempengaruhi kehidupan kita, misalnya adanya perubahan tenaga kerja. Perubahan tenaga kerja ini akhirnya perlu didukung oleh perubahan; misalnya perubahan bagaimana kita hidup, bagaimana kita bekerja, bagaimana kita belajar, dsb,” terangnya. “Salah satu contoh adalah internet. Semua sudah serba ICT dengan jalur internet. Internet itu sendiri mengubah cara kita bekerja, cara kita hidup, cara kita bermain, belajar, dsb. Oleh sebab itu, saya menggarisbawahi para guru, pengawas, kepala sekolah, tutor, dll, untuk mau tak mau menyesuaikan terhadap bagaimana perkembangan teknologi ini di dalam cara mengajar maupun belajar. Jadi ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi dengan adanya perubahan,” tambahnya.

Menjadi Negara Besar
Dalam kesempatan itu, Suryadarma juga membeberkan survey McKenzie yang meneliti tentang 30 negara di dunia, antara lain Jepang, Finlandia, Jerman, Korea, Singapura, Italia, Amerika, dsb; mengapa negara-negara tersebut bisa sukses dalam kesejahteraan maupun pendidikannya. Setelah diteliti, ternyata ada temuan yang sama di antara negara-negara tersebut. Yakni, rupanya mereka merekrut orang-orang dengan kualitas terbaik untuk menjadi guru; orang-orang yang punya motivasi yang bagus, punya kompetensi, dan punya sikap yang bagus. Setelah itu, kemudian mereka mengembangkan guru-guru berkualitas tersebut menjadi guru yang efektif, dengan melatih secara terstruktur, sistematik, dan teratur. Dapat dikatakan bahwa di ke-30 negara-negara maju tersebut, guru menduduki peranan yang sangat penting.

Itulah perbedaannya dengan Indonesia. Seandainya Indonesia mau mengadopsi cara-cara tersebut, tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia akan lekas menjadi besar dan kuat. Selama ini, menurut Suryadarma, bahkan perekrutan guru-guru di Indonesia acapkali mengabaikan faktor kompetensi. Selain itu, para guru pun jarang meningkatkan atau mengembangkan kemampuannya melalui pelatihan-pelatihan. “Mungkin yang ikut pelatihan orangnya itu-itu saja, sehingga ia tidak menjadi guru yang efektif. Lain halnya dengan di Singapura, ada peraturan bahwa guru minimal harus mengikuti pelatihan sebanyak minimal 100 jam dalam satu tahun – kalau karir mereka mau naik. Demikian pula dengan di Jepang,” tuturnya.

Selain itu, menurut Suryadarma, guru pun harus dijamin kesejahteraannya, dan ketika mengajar, mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka kembangkan dan inovasikan. Namun kendala yang kerap dihadapi di Indonesia, terutama di daerah otonomi, iklim sekolah maupun iklim daerah acapkali tidak memfasilitasi perkembangan mereka.

Fakta lain, menurut hasil data dari PISA, dalam tes IPA dan matematika, anak-anak Indonesia acapkali hanya dapat mengerjakan tes dengan tingkat kesulitan di bawah level satu – sementara anak-anak Jepang atau Korea bahkan dapat mengerjakan tes dalam level 5 – 6, yakni level yang paling tinggi. Suryadarma menyebutnya sebagai sebuah tantangan. “Mengapa kita selalu jauh tertinggal? Karena soal PISA lebih banyak problem solving dan critical thinking. Sedangkan pembelajaran kita lebih banyak pada hapalan. Sehingga inilah kesulitan kita paling utama yang dihadapi siswa kita. Tantangan kita, bagaimana meningkatkan kemampuan problem solving dan critical thinking pada siswa-siswa kita,” kata Suryadarma.  

Suryadarma menyarankan supaya para guru mengurangi gaya pembelajaran yang bersifat menghapal atau memorizing. Menurutnya, kemampuan ini sudah tak lagi cocok untuk pembelajaran abad 21. Selain itu, struktur kelas pun seharusnya sudah mengalami perubahan, setidaknya seperti di Singapura, dimana siswa duduk berempat-berempat dan berkolaborasi.

Dari tahun 2007 hingga 2011, menurut Suryadarma, pencapaian anak-anak Indonesia dalam mengerjakan soal PISA selalu konsisten. Empat tahun kemudian, walau ada perbaikan, tetapi tetap masih belum mampu naik ke level tinggi, apalagi menyaingi Singapura, yang sudah sangat luar biasa dalam prestasi belajar internasional.


Wajar Dikmen
Kendati demikian, menurut Suryadarma, Indonesia masih memiliki kesempatan emas, dikarenakan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi dalam kurun waktu 2010 hingga 2040, yakni tahun dimana Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang sangat besar.  Oleh karena itu, menurut Suryadarma, para guru memiliki misi mengembangkan calon usia produktif ini dengan baik, supaya nantinya dapat bermanfaat untuk pembangunan bangsa. “Kalau usia produktif ini kita kembangkan dengan baik melalui pendidikan, maka dia akan menjadi modal pembangunan,” tuturnya. Cara terbaik menyiapkan usia produktif tersebut antara lain melalui pendidikan dan menjadikan mereka kompeten. “Oleh sebab itu, Menteri mengatakan, dalam momentum hingga tahun 2040 ini, kita harus kembangkan PMU (Pendidikan Menengah Universal),” tambahnya.

Salah satu cara untuk mengembangkan PMU adalah melalui pembelajaran yang efektif. Untuk itu, menurut Suryadarma, program Wajib Belajar Dikmen harus dimulai pada tahun depan. “Dengan kita intervensi dalam PMU, maka diharapkan pada tahun 2020 nanti, APK pendidikan menengah bisa mencapai 97%. Jika demikian, kita bisa melakukan penghematan selama 20 tahun, hingga tahun 2040. Itulah sebab mengapa kegiatan PMU ini kita kembangkan di kementerian mulai tahun depan,” terang Suryadarma. 

Setidaknya, dua tema besar dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini adalah tentang wajib belajar 12 tahun dan kurikulum 2013. “Dengan kurikulum 2013, diharapkan siswa menjadi produktif, kreatif, inovatif, dan efektif. Tahu bagaimana harus bersikap, memahami pengetahuan, sekaligus menguasai ketrampilan. Itulah esensi dari kurikulum 2013,” jelas Suryadarma.

Menurut Suryadarma, kurikulum 2013 ini sebenarnya mengadopsi dari kompetensi abad 21. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kompetensi abad 21 antara lain problem solving, kemampuan berinovasi, kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan cara bersikap. Hal ini hanya dapat tercapai jika kompetensi tersebut diintegrasikan dengan kurikulum 2013. Selain itu, metode penilaiannya pun harus mengalami perubahan. “Evaluasi yang harus dilakukan tidak lagi hanya mengandalkan ujian nasional yang sifatnya multiple choice, tetapi nantinya akan diperkenalkan dengan portofolio, dan authentic assessment. Para guru akan dilatih untuk ini. Jadi bukan kurikulumnya saja yang berubah, tetapi sistem penilaian juga berubah. Ini harus dipahami oleh para guru,” kata Suryadarma.

Selain itu, guru harus senantiasa merangsang murid-muridnya untuk bertanya dan menciptakan sesuatu. Dengan demikian, mereka menjadi terlatih untuk kreatif. Selain itu, kultur guru jaman dahulu yang tidak mau dikritik pun harus diubah. Guru harus terbuka dan mau dikritik jika memang melakukan kesalahan. Guru harus paham apa yang sebenarnya diharapkan dari siswanya. “Jadi, kita menyesuaikan bagaimana cara mereka belajar. Kita harus beradaptasi dengan apa yang dia inginkan. Paradigmanya berubah. Kita tidak bisa memaksakan cara kita mengajar, tetapi kita harus mencari cara, pendekatan, dan pembelajaran, supaya mereka bisa memahami apa pesan yang kita harapkan,” terangnya.

Digital Immigrant
Selain itu, menurut Suryadarma, para guru pun harus memahami bahwa sejatinya mereka adalah digital immigrant, yakni pendatang baru di dunia digital, yang sedang menghadapi digital native, yakni anak-anak yang hidup pada era sekarang, siswa di abad 21. “Anak-anak sekarang sebenarnya adalah digital native, yakni penduduk asli dunia digital. Tapi kita sebagai imigran atau pendatang baru dalam dunia digital justru mengajari mereka yang penduduk asli. Ini adalah sebuah dilema, sekaligus fenomena yang kita hadapi untuk menuju pembelajaran abad 21,” terang Suryadarma.

Dalam dunia digital, cara berpikir dan belajar para digital native berbeda dengan para digital immigrant. Oleh karena itu, para digital native pun memerlukan perlakuan yang berbeda dari apa yang pernah diterima oleh digital immigrant pada masanya. “Cara guru ngajar jaman dulu dan jaman sekarang beda. Jaman dulu suruh nyatet, nggak baca buku, main, tidur. Tapi anak jaman sekarang sudah bisa explore sendiri,” kata Suryadarma. Multimedia menjadi bagian dari kehidupan. Siswa yang hidup dalam dunia digital akan mengharapkan sentuhan teknologi dan multimedia ini pun terjadi di dalam kelas. “Menurut studi di luar negeri, anak-anak menggunakan media elektronik selama 6 jam untuk belajar. Jadi, mereka belajar sendiri. Seperti inilah siswa yang kita hadapi sekarang,” imbuhnya. Untuk itu, Suryadarma menghimbau pada para guru untuk menjadi guru abad 21.

Kendati demikian, Suryadarma mengatakan bahwa meskipun para guru mengajar para digital native, tak menjadi suatu kewajiban bahwa para guru harus menjadi ahli. Yang terpenting adalah cukup mengetahui bagaimana memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Guru sebagai fasilitator tidak berarti bahwa guru harus tahu semuanya. “Saya tidak setuju kalau misalnya guru-guru ICT di sekolah hanya mengajarkan tentang pengetahuan ICT itu sendiri. Lebih baik pelajaran ICT itu adalah bagaimana memanfaatkan informasi yang ada di google atau youtube, bisa didownload dan dieksplore untuk pembelajaran. Tapi gurunya harus tahu dulu bagaimana caranya. Ini yang paling penting,” ia menekankan.

Pionir Pembelajaran Abad 21
Pemerintah berharap para guru berprestasi ini menjadi pionir dalam pembelajaran, juga pionir dalam memanajemen sekolah. “Jadi ke depan, kalau kita mau memilih instruktur-instruktur, kita harapkan para guru berprestasi inilah orang-orang yang potensial untuk kita manfaatkan jadi instruktur. Kami selalu minta kepada Badan, kalau bisa, instruktur-instruktur nasional, dalam kurikulum dan kebijakan apapun, kita harapkan teman-teman berprestasi ini yang didahulukan,” tambahnya.

Hal ini dikarenakan para guru memiliki tugas berat, yakni menyiapkan siswa-siswanya supaya mereka benar-benar dibutuhkan dalam abad 21. Menurut Suryadarma, guru harus melihat pada kompetensi baru. Untuk skill-nya adalah problem solving, berpikir kritis, kemampuan berinovasi, dan kemampuan berkolaborasi.  Kompetensi ini diasah melalui Kurikulum 2013, yang menekankan pada knowledge, skill, attitude (KSA). Cara pembelajarannya adalah bagaimana menggunakan ICT. Dalam Kurikulum 2013, hal ini dinamakan sebagai pendekatan scientific. Pendekatan scientific adalah discovery, observasi, project list learning, dsb. Itulah yang harus diberikan para guru dalam pembelajaran. “Anak-anak harus diberikan kompetensi dan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang harus terus belajar sepanjang hayat. Berapapun umur kita, janga pernah berhenti belajar.  Belajar tak harus kuliah, tapi juga bisa dari membaca buku, seminar, dsb. Inilah yang disebut dengan continuing professional development,” jelas Suryadarma.

Oleh karena itu, diharapkan bahwa para PTK Dikmen Berprestasi dan Berdedikasi 2013 ini mampu menjadi pilot dalam menyukseskan Kurikulum 2013, terutama melalui pembelajaran berbasis ICT untuk anak-anak generasi abad 21. ***

Ditulis tahun : 2013





Kesempatan Guru menjadi Duta Indonesia

Program Pertukaran Guru Indonesia – Korea

Program Pertukaran Guru Indonesia – Korea merupakan program kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Republik Korea. Program tersebut  diarahkan untuk meningkatkan pengembangan dan peningkatan kompetensi bagi guru Indonesia dan Korea.
Program pertukaran guru ini dilakukan selama 3 sampai dengan 4 bulan dengan mengirimkan guru Indonesia terpilih untuk tinggal dan mengajar dengan guru sejawat terpilih di Korea Selatan. Sebaliknya, guru Korea Selatan terpilih akan tinggal dan mengajar dengan guru sejawat terpilih di Indonesia.Guru Indonesia dan Korea Selatan pada jenjang sekolah dasar yang akan dipilih mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Sedangkan guru Indonesia dan Korea Selatan pada jenjang sekolah menengah mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Sosial.
Mereka diharapkan akan saling belajar, khususnya mengenai kegiatan pembelajaran di sekolah, dan lebih luas lagi mengenai aspek-aspek sosial/kemasyarakatan, teknologi, dan budaya negara lain, yang dirasakan bagus dan dapat diterapkan di Indonesia. Kendati demikian, program pertukaran guru juga menuntut kesiapan guru dan sekolah yang akan menjadi tamu dan tuan rumah yang baik dan dapat mengharumkan citra Indonesia di kancah pergaulan internasional.    
Keuntungan lain program pertukaran guru  yang dapat dipetik oleh sekolah berkenaan dengan adanya guru luar negeri adalah, mereka dapat dijadikan sebagai narasumber  untuk menyampaikan mengenai aspek  materi dan proses  pembelajaran tentang bagaimana menjadi guru, bagaimana mengembangkan lingkungan pembelajaran atau sekolah, bagaimana melibatkan orang tua atau masyarakat dalam kegiatan dan program sekolah, serta aspek lainnya.
Peserta program meliputi 14 orang guru Indonesia dan 10 orang guru Korea. Guru Indonesia terdiri atas 7 orang guru SMA/SMK, 4 orang guru SMP, dan 3 orang guru SD, sedangkan guru Korea akan ditempatkan di SMA/SMK sebanyak 4 orang, di SMP sebanyak 2 orang, dan di SD sebanyak  2 orang.
Jadwal Pelaksanaan Program Guru Indonesia untuk Korea ataupun guru Korea untuk Indonesia dimulai sejak April hingga Desember 2013, sejak dari mengisi surat perjanjian hingga kembali ke negara masing-masing.
Sekolah Indonesia yang ditetapkan untuk mengikuti program pertukaran guru berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi guru-guru Korea. Guru dan sekolah, khususnya, Indonesia yang mengikuti program pertukaran berperan sebagai duta dan tuan rumah, yang bertanggung jawab untuk menunjukkan citra bangsa dan negara Indonesia yang baik di mata tamu dan tuan rumah Korea. Guru Indonesia sebagai duta, yang akan berhadapan langsung dengan murid, guru, masyarakat, pemerintah Korea dituntut untuk siap mengikuti program pertukaran secara tuntas dan baik sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, dan menerima konsekuensi perbedaan budaya, kebiasaan, dan iklim yang berbeda dengan ikhlas, berhubungan dan berkomunikasi dengan murid, guru, masyarakat, dan pemerintah Korea yang memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda, dan mampu beradaptasi dengan perbedaan tersebut. Selain itu guru Indonesia juga harus dapat mengajar murid Korea  secara tepat dan menarik sebagaimana yang dikemukakan oleh Kurikulum 2013, dan siap menjadi narasumber tentang Indonesia, yang dapat menjelaskan geografi, masyarakat,  budaya, sosial, politik, ekonomi dan lainnya. Termasuk di dalamnya membawakan kesenian Indonesia. Guru Indonesia juga harus mau belajar dari pengalaman guru-guru Korea tentang pengelolaan, materi, proses, media, sumber, dan penilaian pembelajaran, serta materi lainnya, menuliskan kajian yang ditugaskan Pusbangprodik sebagai hasil pengamatan, wawancara, diskusi, dan kajian pustaka selama bertugas di Korea, dan menikmati apa saja yang yang dialami selama berada di Korea.
Sedangkan sekolah Indonesia yang ditetapkan untuk mengikuti program pertukaran guru harus berperan sebagai tuan rumah yang baik bagi guru-guru Korea. Sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan, mereka dituntut untuk siap memfasilitasi akomodasi bagi guru Korea selama berada di Indonesia dengan spesifikasi 1 kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi di dalam dengan dilengkapi AC, mengupayakan keselamatan guru Korea dari gangguan kejahatan dengan memberikan informasi dan bantuan lainnya, serta membantu mereka ketika mengalami kesulitan. Selain itu sekolah juga harus memfasilitasi guru Korea dalam melaksanakan program pertukaran sampai tuntas sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Untuk itu, sekolah dituntut untuk menyiapkan rancangan program/kegiatan guru Korea dengan dibantu guru pendampingnya. Program tersebut berisi kegiatan pembelajaran, kegiatan budaya, pelaksanaan proyek sekolah.
Di pihak Indonesia, penyelenggara program pertukaran guru Indonesia-Korea ini adalah Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP) Kemendikbud. Sedangkan di pihak Korea Selatan, Kementerian Pendidikan Korea Selatan menunjuk organisasi pelaksana Asia-Pacific Center of Education for International Understanding (APCEIU) atau Pusat Pendidikan Asia Pasifik untuk Kerjasama Internasional di bawah UNESCO sebagai pelaksana Program Pertukaran Guru. APCEIU bertanggung jawab terhadap keseluruhan pelaksanaan program ini mencakup orientasi, monitoring dan evaluasi.
Seleksi guru diambil dari sekolah yang terpilih sesuai persyaratan, antara lain sehat jasmani dan rohani, yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter pada Rumah Sakit Pemerintah, memiliki pengalaman mengajar > 3 tahun, yang dibuktikan dengan SK tugas mengajar dari Dinas Pendidikan, dan usia maksimal 50 tahun, menguasai pendidikan dasar (dengan konsentrasi Bahasa Inggris, IPS, Matematika dan IPA); untuk guru sekolah menengah (Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Sosial), dan belum pernah menerima beasiswa dari Pemerintah Indonesia ke Korea Selatan, dan/atau sebaliknya.
Sedangkan sekolah yang mengikuti program pertukaran guru Indonesia – Korea harus memenuhi persyaratan antara lain bersedia mengirimkan guru yang memenuhi syarat yang telah ditentukan, bersedia menerima guru Korea Selatan untuk mengajar (magang) selama program kerjasama berlangsung, bersedia memfasilitasi akomodasi bagi guru dari Korea Selatan yang dekat dengan lokasi sekolah, memberikan jam mengajar kepada guru Korea Selatan, dan mau mengkaji sistem pendidikan dan pembelajaran Korea melalui guru tamu.
Sekolah dan guru terpilih ditetapkan oleh Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dan sesuai dengan kesepakatan kerjasama, program pertukaran guru Indonesia – Korea tahun 2013 ini didanai oleh pihak Korea dengan pembiayaan yang mencakup tiket pesawat, uang saku, dan akomodasi.
Sekolah dan guru terpilih dalam Program Pertukaran Guru Indonesia-Korea Selatan diwajibkan untuk menyampaikan laporan kegiatan secara berkala setiap bulan selama kegiatan berlangsung.
Melalui program pertukaran guru Indonesia dan Korea Selatan ini, diharapkan kerjasama bidang pendidikan kedua negara dapat ditingkatkan dan berkelanjutan, serta dapat mengembangkan profesionalitas dan kompetensi global pada guru dan sekolah di Indonesia.***
 Ditulis tahun : 2014


Tingkatkan Capaian 2014

Hari Pendidikan Nasional 2014


Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pun menggelar peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Jumat, 2 Mei 2014 melalui upacara bendera di kompleks plaza Kemdikbud, Senayan, Jakarta. Upacara bendera dilaksanakan oleh segenap jajaran pegawai Kemdikbud dan para undangan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. H. Muhammad Nuh, DEA memanfaatkan momen ini sebagai pemacu semangat nasionalisme dan patriotisme.

Tema yang diusung untuk peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kali ini adalah ‘Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul’. Dalam sambutannya, Mendikbud mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya untuk menyelesaikan atau menjawab persoalan-persoalan yang sifatnya sangat teknis dan bersifat kekinian semata, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu bahwa pendidikan pada hakekatnya adalah upaya memanusiakan manusia untuk membangun peradaban yang unggul.

Nuh menjelaskan bahwa dalam pendidikan, ada dua hal yang sangat mendasar, yaitu yang pertama terkait dengan akses untuk mendapatkan layanan pendidikan, yang mana akses tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan dan keterjangkauan. Beberapa kebijakan dan program seperti BOS untuk pendidikan dasar dan menengah, Bantuan Siswa Miskin, Bidikmisi, pengiriman guru untuk daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal melalui SM3T, Bantuan Operasional untuk Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), pendirian perguruan tinggi negeri baru dan sekolah berasrama merupakan sebagian dari upaya untuk meningkatkan akses secara inklusif dan berkeadilan. Menurut Nuh, sejauh ini program-program yang telah digulirkan Kemdikbud tersebut telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hasil itu ditandai antara lain dengan kenaikan Angka Partisipasi Kasar (APK) yang cukup tinggi dan lebih inklusif, terutama pada tingkat SMP/MTs, SMA/SMK dan perguruan tinggi.

Yang kedua, menurut Mendikbud, yaitu yang terkait dengan kualitas yang dalam hal ini dipengaruhi oleh tiga hal yaitu ketersediaan dan kualitas guru, kurikulum, dan sarana prasarana. Beberapa kebijakan dan program yang telah ditetapkan antara lain pendidikan dan pelatihan guru berkelanjutan, penerapan Kurikulum 2013, dan rehabilitasi sekolah yang rusak, baik rusat berat, rusak sedang, maupun rusak ringan. Melalui penerapan Kurikulum 2013 secara bertahap dan menyeluruh, tahun ajaran 2014/2015 merupakan momentum untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas guru, kepala sekolah, dan pengawas, selain juga merupakan momentum untuk melakukan penataan sistem perbukuan pelajaran.

Dalam sambutannya, Nuh menuangkan ajakan kepada para guru dan pemangku kepentingan lainnya untuk bersama-sama menyukseskan implementasi Kurikulum 2013. “Insya Allah melalui Kurikulum 2013, anak-anak kita akan memiliki kompetensi secara utuh yang mencakup sikap, pengetahuan, dan ketrampilan,” katanya. “Itu semua kita lakukan dalam rangka mempersiapkan generasi emas, yaitu generasi yang kreatif, inovatif, produktif, mampu berpikir lebih tinggi, berkarakter, serta cinta dan bangga menjadi Bangsa Indonesia. Dengan generasi emas itulah kita bangun peradaban Indonesia yang unggul menuju kejayaan Indonesia 2045,” tambahnya.

Mendikbud menyatakan rasa syukurnya atas segala keberhasilan, capaian, dan kinerja dalam memberikan layanan pendidikan. Kendati demikian, ia pun sangat memahami dan menyadari bahwa masih banyak pekerjaan, agenda, dan persoalan yang harus kita selesaikan di tahun-tahun mendatang. “Kita semua berkeinginan agar program-program yang baik dapat dipertahankan, diteruskan, dan ditingkatkan. Namun program yang kurang baik harus ditinjau ulang keberlanjutannya untuk disempurnakan agar menjadi program yang jauh lebih bermanfaat,” tutur Nuh. ***

Ditulis tahun : 2014