Showing posts with label Papua Barat. Show all posts
Showing posts with label Papua Barat. Show all posts

Kabupaten Tambrauw, Papua Barat : Bangun SD dengan Helikopter


Kabupaten Tambrauw adalah sebuah kabupaten pemekaran dari Kabupaten Sorong di Papua Barat. Oleh karena itu, salah satu prioritas bupati adalah infrastruktur dasar. Untuk pendidikan, yang terpenting adalah penyediaan sarana prasarana pendidikan di berbagai pelosok. “Waktu dimekarkan, ada 6 SD. Dalam waktu kurun waktu 5 tahun ini, sekarang menjadi 49 SD. Semua kita bangun berdasarkan kebutuhan,”  kata Drs. Thomas Gewab, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

Seiring dengan pemekaran kabupaten, terjadi pula pemekaran distrik dan pemekaran kampung. Oleh karena itu daaerah-daerah yang baru dimekarkan tersebut membutuhkan perhatian pemerintah dalam hal pelayanan pendidikan. “Dari 106 kampung sebelumnya, kini menjadi 216 kampung. Tidak semua kampung ada SD nya. Kita perhatikan jumlah penduduknya. Kita bangun sekolah di tempat-tempat yang agak strategis. Kita mulai dengan SD kecil yang terdiri dari 3 kelas. Kalau berkembang, akan kita kembangkan sekolahnya,” terang Thomas.

Di Kabupaten Tambrauw, pembangunan infrastruktur adalah prioritas yang sangat penting, terutama pembangunan jalan. Jika pembangunan jalan merata, maka pendidikan pun dapat terakses dengan baik di pelosok-pelosok wilayah, biaya mobilisasi pun lebih murah.

“Baru-baru ini, kami membangun dua SD, yakni SD Inpres 70 Nekore dan SD swasta di Kwesefo. mobilisasinya menggunakan helikopter, karena termasuk daerah yang sangat terpencil. Untuk pembangunan satu sekolah dengan 3 ruang kelas saja telah menghabiskan dana sebanyak 4 miliar lebih. Rencananya, Januari nanti sekolah akan bisa dipakai,” kata Thomas.

Meski Kabupaten Tambrauw adalah kabupaten pemekaran yang tak semaju wilayah-wilayah lainnya, namun Thomas sangat optimis Kabupaten Tambrauw akan dapat segera menyusul ketertinggalannya. Terlebih menurutnya banyak aset dan potensi yang ada di Tambrauw, yang akan dapat menangkat daerah. “Selain tambang, kami juga memiliki potensi wisata dengan spesies langka, yakni penyu belimbing, penyu yang setinggi manusia. Penyu ini hanya ada di 3 wilayah di dunia, yakni di Afrika, california, dan Tambrauw. Penyu ini makan di California dan bertelur di Tambrau. Nantinya,Tambrauw pasti akan semakin ramai karena kami memiliki aset yang cukup bagus,” katanya. ***



Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

Kabupaten Sorong, Papua Barat : Sediakan Fasilitator Dari Unicef


Program andalan Kabupaten Sorong di sektor pendidikan adalah memberikan pendidikan dasar yang maksimal bagi anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, Pemerintah daerah pun telah menyiapkan dana BOS Daerah sejak tahun 2013 demi menyukseskan akses maupun peningkatan mutu pendidikan di wilayah Kabupaten Sorong. “Kebutuhan siswa di sekolah akan dihitung, kemudian dipenuhi oleh BOS dari pemerintah pusat. Sisa kekurangannya akan ditanggung oleh dana BOSDA dari pemerintah daerah,” kata Sonny V., S.Sos., M.Si., Kepala Bidang Dikdas Dinas Pendidikan Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Menurut Sonny, di Kabupaten Sorong, ada sekitar 130 SD dan 12 Madrasah Ibtidaiyah, sehingga total ada 142 sekolah dasar, yang tersebar dalam 21 distrik atau kecamatan. Dari sisi sarana prasarana, kondisi SD di Kabupaten Sorong menurut Sonny 80% cukup baik. “Tahun 2012, kami mendapat dana rehabilitasi nasional dari Direktorat PSD untuk 30 sekolah, dan bantuan ini sangat membantu,” katanya.

Salah satu sekolah model atau sekolah percontohan di Kabupaten Sorong adalah SD Negeri Inpres 48, terutama untuk pendidikan karakternya. Sekolah ini juga kerap mengadakan sosialisasi kepada sekolah-sekolah lainnya mengenai pendidikan karakter dan literasi sekolah.


Salah satu kendala pendidikan yang hingga saat ini masih dialami di Kabupaten Sorong adalah kurangnya tenaga guru, terutama untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil. Untuk mengatasi persoalan ini, dinas pendidikan pun kami bekerja sama dengan lembaga Unicef. “Mereka mengangkat fasilitator yang ditempatkan di sekolah yang kurang guru ini, dan gaji mereka dibayar oleh Unicef. Para fasilitator ini umumnya adalah pensiunan guru tapi masih dianggap bagus atau mahasiswa lokal lulusan keguruan tetapi belum diangkat. Sebelum terjun mengajar, mereka didiklat selama 1 bulan, baru diterjunkan ke sekolah. Sejauh ini hasilnya cukup baik,” jelas Sonny. Kerjasama ini berlangsung sejak tahun 2015/2016 hingga tahun 2018. “Sekarang ada 30 sekolah yang mendapatkan fasilitator dari Unicef. Tahun depan mau ditambah 20 sekolah lagi,” tambahnya. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)

Kabupaten Kaimana, Papua Barat : Bangun Sekolah Dua Tingkat


Menurut Luther Rumpumbo, S.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kaimana, Papua barat, ada sekitar 84 sekolah dasar yang tersebar di wilayah Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Namun demikian, salah satu kendala pendidikan yang masih kerap dihadapi di wilayah Kabupaten Kaimana adalah kurangnya tenaga guru, terutama di wilayah-wilayah terpencil atau susah dijangkau. Oleh karena itu, salah satu misi Bupati Kaimana adalah meningkatkan sumber daya manusia.

Demi mencetak sumber daya manusia, terutama guru yang diharapkan mengajar di sekolah-sekolah yang masih membutuhkan banyak tenaga guru, Pemerintah Kabupaten Kaimana tak segan untuk menyekolahkan para putera daerah di sekolah-sekolah keguruan. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Kaimana pun menjalin kerjasama dengan beberapa universitas, antara lain Universitas Hassanudin Makassar, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendididikan Indonesia di Bandung, dan Universitas Cenderawasih di Jayapura. “Biasanya dalam satu tahun kami menyekolahkan sekitar 40 orang. Tahun ini kami menyekolahkan 45 orang. Mereka adalah para putera daerah tamatan SMA. Setelah lulus, mereka kembali ke daerah dan mengabdi di Kaimana,” jelas Luther.

Menurut Luther, pendidikan di Kaimana pun gratis, mulai dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Untuk itu, pemerintah kabupaten pun mengucurkan dana BOS Daerah untuk sekolah-sekolah dan juga dana dari otonomi khusus untuk menyukseskan program-program pendidikan. Bahkan kini Pemerintah daerah pun membangun sebuah sekolah unggulan untuk anak-anak Kaimana. “Sekolahnya cukup megah, terdiri dari dua lantai. Kami diberi bantuan oleh Pemerintah Pusat sebesar 2,5 milyar, tapi dari Pemerintah Daerah juga membantu hingga sekitar 20 milyar,” kata Luther.


Luther juga mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Kaimana sangat memperhatikan kondisi fisik sekolah. Oleh karena itu, pembangunan/rehabilitasi sekolah di Kaimana menjadi prioritas utama. “Sekolah-sekolah yang kami bangun cukup megah, terutama di dalam kota. Rata-rata dua lantai. Saya pikir,sarana prasarana sekolah itu harus baik dan menyenangkan bagi siswa karena itu dapat menjadi motivasi sekaligus kebanggaan bagi siswa. Jadi, meski lahannya luas, tetap kita bangun dua lantai,” kata Luther. Ia berharap pendidikan di Kaimana semakin baik dan maju. ***


Ditulis tahun 2016
Diterbitkan di Majalah SD (Kemendikbud)