Showing posts with label PAUD. Show all posts
Showing posts with label PAUD. Show all posts

TK Negeri Pembina Jorong : Tetap Terbaik Meski Habis Terbakar


Saat itu bulan Ramadhan, tepatnya hari Minggu, 29 Juli 2012 pukul 15.00 wita. Asap hitam membumbung tinggi lantaran api besar berkobar-kobar dari sebuah bangunan kokoh, melalap apa saja di dalamnya. Suasana semakin mencekam karena angin bertiup kencang, sementara petugas pemadam kebakaran tak juga tiba. Tak ada yang bisa diselamatkan. Taman Kanak-kanak (TK) Negeri Pembina Jorong yang sempat menjadi sekolah kebanggaan hanya menyisakan puing-puing. Isak tangis dan ratap pilu para guru dan murid yang sempat melihat peristiwa naas hanya mampu menjadi warna duka peristiwa yang takkan dilupakan itu.

Menurut identifikasi pihak kepolisian, sumber kebakaran tersebut adalah korsleting listrik. Untunglah pada saat adalah masa liburan bagi murid dan guru, sehingga tak ada korban jiwa. Di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, berlaku kebijakan bahwa pada bulan Ramadhan, PAUD maupun TK libur selama sebulan penuh. Meski demikian, diperkirakan jumlah kerugian hingga mencapai lebih dari 50 juta rupiah. Segala yang telah dibangun dan diperoleh sejak tahun 2006, tahun didirikannya TK Negeri Pembina Jorong, tak menyisakan apapun.

Persoalan berikutnya yang jauh lebih memusingkan adalah, kemana anak-anak akan belajar? Harus segera ditemukan solusi karena masa liburan akan segera usai. Tak mudah menemukan setidaknya enam ruang kelas sebagai pengganti sementara untuk menampung 100 murid-murid TK. Dan lebih tidak mudah lagi menguatkan semangat dan keyakinan para guru, orang tua siswa, maupun masyarakat, bahwa TK Negeri Pembina Jorong dapat terus bertahan dan tetap menjaga kualitasnya seperti sebelum peristiwa kebakaran terjadi. Maklum, TK Pembina Negeri Jorong boleh dikata saat itu adalah sebuah TK ‘favorit’ dengan nama yang sempat naik daun. Bahkan tak segan sejumlah besar murid berasal dari wilayah yang cukup jauh demi bersekolah di TK ini.

Banyak hal yang menjadi keistimewaan TK yang pertama kali menjadi TK Pembina di kecamatan Jorong, Tanah Laut ini. Yang paling menonjol adalah metode pengajarannya. Di saat TK-TK lainnya di Tanah Laut masih bertahan dengan metode pengajaran calistung (baca tulis hitung), TK Negeri Pembina Jorong telah berani membuat gebrakan baru dengan metode belajar sambil bermain, yakni menggunakan pendekatan BCCT atau sentra. TK Negeri Pembina Jorong telah berhasil membuktikan bahwa meskipun siswa-siswanya mendapat porsi lebih banyak dalam bermain sambil belajar – ketimbang pembelajaran klasikal macam calistung, tapi toh mampu menghasilkan jebolan yang berkualitas dan unggul dalam daya saing. Berkat keberhasilannya, tak heran jika TK Negeri Pembina Jorong pun seringkali menjadi acuan model dan rujukan bagi TK-TK lainnya. Kiprah TK Negeri Pembina Jorong di bidang pendidikan dan keorganisasian pun cukup aktif, sehingga TK ini didaulat menjadi sekretariat dan seringkali menjadi tempat pertemuan bagi berbagai organisasi profesi, antara lain IGTKI-PGRI, KKG TK, PKG/Gugus PAUD, MKKTK, dan juga pertemuan dengan komite sekolah. 

Untuk setingkat desa dan kecamatan, fasilitas yang tersedia di TK Negeri Pembina Jorong (sebelum insiden kebakaran) boleh dikata cukup lengkap dan layak. Sudah ada sembilan guru, enam kelas sentra, perpustakaan, fasilitas ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Bahkan sejak tahun 2007, TK Negeri Pembina Jorong pun telah membuka Kelompok Bermain dengan nama KB Puspa Bangsa, yang tempat belajarnya memanfaatkan ruang guru. Ini karena animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak semakin besar. Meski demikian, kelengkapan itu bukannya terpenuhi dengan cara instan dan mudah, melainkan berkat usaha, kerja keras, dan semangat semua yang terlibat di dalamnya; para guru, masyarakat, pemerintah, dan terutama kepala sekolahnya, Siswati, S.Pd., M.M, yang juga menjadi pionir dalam mendirikan TK Negeri Pembina Jorong. Bahkan banyak pula prestasi yang telah diraih dalam setiap ajang kompetisi, baik itu setingkat kecamatan hingga kabupaten.

Langkah awal Siswati dimulai di tahun 2006, saat pertama kali ia mendengar sebuah program pemerintah yang akan memberi kesempatan siapa saja untuk mendirikan TK Negeri pada tingkat kecamatan. Saat itu, TK Pembina hanya berada di kabupaten saja. Siswati yang saat itu menjabat sebagai Kepala TK Kenari kecamatan Jorong yang berada di wilayah binaaan Tim Penggerak PKK tertarik untuk mengajukan proposal pendirian TK Pembina di Kecamatan Jorong.

Siswati banyak bersyukur, karena bak mengemban misi mulia, tak banyak kendala yang dihadapi saat membidani proses pendirian TK Pembina Negeri Jorong. Ia bahkan mendapat ijin penggunaan tanah seluas sekitar seperempat hektar – yang semula hendak diperuntukkan untuk pendirian madrasah, tapi mengalami kemacetan -- dari Kepala Desa Jorong dan tokoh masyarakat setempat, juga dukungan penuh dari semua pihak. “Waktu awal berdiri, hanya ada 5 guru termasuk saya. Muridnya kira-kira berjumlah 30 anak,” kenang ibu dua anak yang telah menjadi PNS sejak usia 19 tahun ini.

Hanya semangat dan antusiasme tinggi yang menggerakkan Siswati dan lain-lain untuk terus berjuang membangun dan mengembangkan TK Negeri Pembina Jorong. Berkaca dari pengalamannya terjun dalam Taman Kanak-kanak sejak tahun 1992, Siswati bertekad untuk membuat sebuah metode program pembelajaran baru yang lain dari yang lain. Untuk itu, ia tak segan belajar hingga ke PAUD Ibu di Purworejo, Jawa Tengah untuk menggali ilmu tentang metode BCCT/Sentra, yang kemudian ia terapkan di TK Negeri Pembina Jorong.

Kendati demikian, beragamnya latar belakang para guru yang mengajar pun menjadi persoalan tersendiri. Menerapkan sebuah metode pembelajaran baru tak semudah membalik telapak tangan, apalagi di daerah. Selain itu, kemampuan dan kompetensi guru-guru pun masih belum memadai. Oleh karena itu, wanita yang mengawali karir sebagai kepala sekolah sejak pangkat golongan II ini tak segan untuk terus berdiskusi, berbagi ilmu, dan memberi kesempatan para guru untuk mencecap ilmu-ilmu baru dan mengembangkan diri melalui berbagai ajang pelatihan, seminar, workshop, dan lain-lain. Selain itu, seiring waktu dan perkembangan jaman, para guru pun mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualifikasinya melalui program S-1 di Universitas Terbuka yang membuka kelompok belajar (pokjar) di wilayah Jorong.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa seperti halnya TK-TK lain di daerah, masalah dana pun menjadi persoalan bagi TK Negeri Pembina Jorong. Semata-mata mengandalkan pemerintah pusat takkan menjadikan TK Negeri ini segera memperoleh segala kelengkapan dan fasilitas. Oleh karena itu, TK Negeri Pembina berupaya aktif dalam menyebar proposal dan menggandeng hingga ke sektor perusahaan-perusahaan swasta di sekitar, dan juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Terbukti, keuletan ini membawa hasil yang cukup gemilang. “Berkat dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, para tokoh masyarakat maupun berbagai organisasi, kami masih bertahan setelah terjadi musibah kebakaran besar. Sungguh tak diduga jika kami justru mendapat banyak bantuan pasca kebakaran. Sampai-sampai kami bisa kembali membeli seperangkat drumband untuk anak-anak,” kata peraih juara 1 kepala sekolah berprestasi tingkat nasional 2013 ini.

Meski pasca kebakaran TK Negeri Pembina terpaksa untuk sementara waktu harus menempati Gedung Serbaguna Kecamatan, namun TK ini berhasil menjaga komitmen yang tangguh dalam menjaga kualitas dan sistem pembelajarannya dengan tetap menjalankan sistem BCCT/sentra. Ini merupakan bukti bahwa untuk mengembangkan sebuah TK, tak melulu diperlukan biaya besar. Dengan kerjasama yang solid dari berbagai pihak, aktif dalam berbagai kegiatan, dan kreativitas para pendidiknya yang kompeten, TK Negeri Pembina Jorong berhasil menjadi TK percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. ***


Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Usia Emas (Kemendikbud)





Rakornas Bunda PAUD 2013 : Siapkan Generasi Bangsa Melalui Kinerja Bunda PAUD


Tahun 2015 nanti, diharapkan target satu desa satu PAUD dan pencapaian APK PAUD hingga hingga 75% akan tercapai. Oleh karena itu diperlukan percepatan peningkatan layanan dan mutu PAUD. Salah satunya adalah melalui kinerja Bunda PAUD. Kendati demikian, optimalisasi kinerja akan berjalan dengan baik, efisien, dan terarah dengan adanya koordinasi. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal PAUDNI menggelar Rapat Koordinasi Nasional Bunda PAUD pada 18 – 20 November 2013 lalu di Hotel Grand Sahid Jakarta. Rakornas ini dihadiri oleh para Bunda PAUD dari seluruh wilayah Indonesia.

Rakornas dibuka langsung oleh Bunda PAUD Indonesia, Ibu Negara Ani Yudhoyono di Istana Negara. Pada kesempatan itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pun memberikan penghargaan pada Bunda PAUD Provinsi dan Kabupaten/Kota Berprestasi. Untuk Bunda PAUD Provinsi, Peringkat I diraih oleh Bunda PAUD Provinsi Riau yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 55 juta rupiah. Peringkat II diraih oleh Bunda PAUD Provinsi Lampung yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 45 juta rupiah. Sedangkan Peringkat III diraih oleh Bunda PAUD Sumatera Barat, yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 35 juta rupiah.

Sedangkan untuk Bunda PAUD Kabupaten/Kota, peringkat I diraih oleh Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 35 juta rupiah. Peringkat II diraih oleh Kota Bontang, Kalimantan Timur, yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 25 juta rupiah, dan peringkat III diraih oleh Kota Yogyakarta, DIY, yang mendapat piagam dan uang pembinaan sebesar 20 juta rupiah. Bunda PAUD Indonesia berharap semoga penghargaan yang diberikan tersebut dapat memberikan motivasi dan semangat untuk terus bekerja dengan ikhlas demi kemajuan pendidikan anak usia dini.

Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog hadir dalam Rakornas ini dan memberikan paparannya di hari pertama. Disusul oleh Deputi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang menyosialisasikan Peraturan Presiden No 60 thn 2013 tentang pengembangan anak usia dini holistik integratif.

Pada hari kedua para Bunda PAUD berkesempatan mengunjungi istana negara untuk bertemu dengan Bunda PAUD Indonesia, Ibu Ani Yudhoyono, yang meresmikan pembukaan Rakornas Bunda PAUD. Selanjutnya disusul oleh penyerahan penghargaan Bunda PAUD Berprestasi oleh Mendikbud. Sore harinya, acara diisi oleh paparan dari Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN),  Prof. Dr. dr. Fasli Jalal Ph.D, Sp.GK. yang banyak mengungkap tentang pembentukan dan pertumbuhan otak anak yang berkaitan dengan perkembangan anak usia dini. Selanjutnya adalah paparan dari Direktur Pemberdayaan Adat dan Sosial Budaya Masyarakat, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Indonesia, Kementerian Dalam Negeri, Ir. Diah Indrajati, M.Sc, yang membeberkan program-program Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang bersinergi dengan program-program PAUD. Dan yang terakhir adalah paparan dari Direktur Bina Kesehatan Anak, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc. yang memaparkan seputar pelayanan terpadu untuk meningkatkan kualitas anak.

Usai pemaparan dari para ahli dan narasumber, diadakan diskusi kelompok untuk merumuskan rekomendasi yang nantinya akan dijadikan pedoman dalam program PAUD bagi Bunda PAUD. Seluruh peserta dibagi menjadi empat kelompok, antara lain Kelompok I adalah para Bunda PAUD Provinsi. Kelompok II adalah para Bunda PAUD wilayah Jawa, Sumatera, dan Bali. Kelompok III adalah para Bunda PAUD wilayah Kalimantan dan Sulawesi, dan Kelompok IV adalah para Bunda PAUD wilayah NTB, NTT, Maluku, dan Papua Barat. Jika dilihat dari sisi kuantitas tampak tidak seimbang karena peserta Kelompok II sangat banyak, sedangkan peserta Kelompok IV sangatlah sedikit. Namun Dr. Erman Syamsuddin, Direktur Pembinaan PAUD menegaskan bahwa esensi pembagian kelompok yang berdasarkan wilayah kerja tersebut adalah untuk mengetahui dan memperoleh gambaran jelas mengenai keadaan wilayah Bunda PAUD bertugas, sekaligus supaya misi-misi yang telah dihimpun melalui rekomendasi sesuai dengan kondisi yang ada.

Pada hari ketiga atau hari terakhir diisi oleh pemaparan hasil diskusi kelompok, pemberian penghargaan secara simbolis pada Bunda PAUD Berprestasi oleh Direktur Pembinaan PAUD, Dr. Erman Syamsuddin, mendengarkan kesan-kesan Bunda PAUD yang diwakili oleh Bunda PAUD Sumatera Utara dan Maluku Tenggara Barat, mendengarkan laporan dari Kasubdit Kelembagaan dan Kemitraan, Drs. Mansur Simamora, MM selaku ketua panitia, dan beberapa arahan dari Dr. Erman Syamsuddin yang juga sekaligus menutup acara.

Dalam kesempatan itu, para Bunda PAUD pun diperkenalkan pada lagu-lagu Bunda PAUD, antara lain Mars Bunda PAUD, Hymne Bunda PAUD, lagu Satu Desa Satu PAUD, dsb. Diharapkan lagu-lagu tersebut nantinya akan disosialisasikan oleh para Bunda PAUD di daerahnya masing-masing dan menjadi lagu wajib yang dinyanyikan anak-anak PAUD di setiap PAUD di Indonesia.

Tingkatkan APK PAUD
Di sela-sela paparannya, Dirjen PAUDNI menyampaikan harapannya bahwa APK PAUD akan segera naik, karena target tahun 2015 mendatang adalah mencapai angka 75%. Dirjen pun mengakui bahwa capaian angka tersebut terasa cukup berat, mengingat sejauh ini peningkatan APK PAUD masih terasa lambat. Oleh karena itu, diharapkan pada daerah-daerah yang APK PAUDnya masih rendah untuk segera mengejar ketertinggalan, setidaknya sama dengan APK Nasional.

Beberapa cara dalam meningkatkan APK PAUD antara lain dengan optimalisasi kinerja Bunda PAUD. Menurut laporan dari Mendikbud, hingga saat ini, tercatat ada 31 Bunda PAUD Provinsi dan 309 Bunda PAUD Kabupaten/Kota. Masih ada 3 provinsi yang belum memiliki Bunda PAUD, yakni Provinsi Banten, Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Provinsi Kalimantan Utara. Salah satu faktor kekosongan Bunda PAUD kemungkinan karena tidak semua kepala daerah itu laki-laki. Sementara itu, Ibu Ani Yudhoyono justru mengusulkan adanya  Ayahanda PAUD untuk daerah yang kepala daerahnya perempuan.

Melalui Kinerja Bunda PAUD, diharapkan pula target satu desa satu PAUD benar-benar tuntas terpenuhi pada tahun 2015 nanti. Jika dilihat dari jumlah desa yang ada di Indonesia, yakni sekitar 70.000 desa, maka diperlukan 70.000 PAUD. Pada tahun 2012, tercatat baru ada 40.000 desa yang memiliki PAUD. Sisanya adalah pekerjaan rumah untuk tahun 2013 dan 2014. Meski demikian, Menurut, Prof. Reni Akbar – demikian Ibu Dirjen biasa disapa, jika pengadaan PAUD dan peningkatan kualitas layanan PAUD hanya ditanggung oleh pemerintah pusat, hal ini tentu akan sangat berat. Terlebih lagi, anggaran Ditjen PAUDNI masih hanya 5% dari total anggaran Kemdikbud. Oleh karena itu, ia menghimbau supaya anggaran PAUD pun dipikul bersama pemerintah daerah.  “Kasi PAUD harus berani bersuara pada pimpinannya supaya PAUD mendapat jatah dan perhatian. Kepala Dinas harus berani bersuara pada walikota atau bupatinya, dst. Karena jika tidak begitu, yang akan diurus hanya SD, SMP, SMA, atau SMK. Sedangkan PAUD dilupakan,” kata Dirjen. Karena anggaran yang sedikit tersebut, Dirjen mengatakan bahwa itu pun harus didorong oleh peraturan daerah (perda), meski membuat perda itu tidak gampang, butuh waktu sekitar 3 tahunan. Karena jika PAUD benar-benar ingin maju, maka harus berani menganggarkan dalam jumlah yang lebih besar.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keseragaman nama dari lembaga yang memayungi PAUD di daerah. Sejak Direktorat Jenderal PAUDNI dibentuk pada 2011, masih banyak yang belum menyesuaikan. “Kepala bidangnya masih bermaca-macam namanya. Ada yang namanya PNFI, Pendidikan Luar Sekolah, dsb. Bahkan ada yang TK masih tersplit TK-SD. Karena kepala bidangnya bukan PAUDNI, koordinasinya jadi sulit. Kita berharap agar direktorat namanya sama, yakni kepala bidang PAUDNI,” kata Dirjen.

Dalam paparannya, Dirjen PAUDNI memperkenalkan struktur organisasi di Kemdikbud di hadapan pada Bunda PAUD. Ada lima Direktorat Jenderal, salah satu diantaranya adalah Direktorat Jenderal PAUDNI yang baru dibentuk pada 2011 lalu. Direktorat Jenderal PAUDNI membawahi Direktorat Pembinaan PAUD, Direktorat Pendidikan Kursus dan Pelatihan, Direktorat Pendidikan Masyarakat, dan Direktorat PPTK PAUDNI. PAUD merupakan primadona dari Direktorat Jenderal PAUDNI.

Diharapkan para Bunda PAUD mengetahui alur dan struktur organisasi Ditjen PAUDNI untuk mempermudah akses dan pelayanan berkaitan dengan PAUD. “Jadi bunda sekalian, tolong memiliki daftar kontak Direktorat Jenderal PAUD, dan harus tahu kira-kira bantuan sosial apa yang bisa diakses. Kita memiliki banyak sekali. Meski sudah ada alokasi untuk masing-masing Kab/Kota, Tapi masih ada kemungkinan untuk bisa ambil yang lainnya lagi,” kata Dirjen. Meski demikian, menurut Dirjen, hanya lembaga-lembaga PAUD yang memiliki ijin operasional yang akan diberikan bantuan sosial.

Dirjen pun menerangkan bahwa PAUD adalah salah satu program prioritas dari Kemdikbud, semenjak terikat oleh komitmen kesepakatan internasional, yaitu Kesepakatan Dakkar tahun 1990. Visi Kemdikbud tahun 2025 adalah mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan sehat. “Maksudnya bukan hanya mencetak anak-anak yang tinggi dan pintar, tapi juga anak-anak yang memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan juga memiliki jiwa kompetitif, sehingga mereka siap saat terjun ke masyarakat,” tuturnya. Menurut Dirjen, pendidikan anak usia dini ini berada pada strata paling bawah, tapi sangat penting untuk keberhasilan anak sampai perguruan tinggi.

PAUD adalah pendidikan anak usia 0 – 6 tahun. Meski masih banyak masyarakat yang tidak memasukkan anaknya di PAUD pada usia 2 tahun pertama, tapi Dirjen mengharapkan setidaknya anak-anak harus didorong untuk masuk TK. “Ke depan, kita berusaha supaya TK menjadi satu pendidikan yang formal. Bahkan saat ini sudah disebut sebagai PAUD Formal,” ujarnya.

Sejak digalakkannya PAUD hingga tahun 2013 ini, Dirjen mengatakan bahwa terdapat kenaikan angka partisipasi PAUD. Yang tertinggi adalah APK PAUD Daerah Istimewa Yogyakarta. Kendati demikian, ternyata masih ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin. “Kalau kita lihat pada tahun 2004 – 2010, anak  usia 3 tahun kelompok miskin dan kayanya tidak terlalu banyak perbedaannya. Tapi menginjak usia 4 – 6 tahun, mencolok sekali perbedaannya. Tahun 2010, hanya sebesar 35% anak-anak dari kelompok miskin yang bersekolah di PAUD. Sedangkan anak-anak dari kelompok kaya jumlahnya hingga 68%,” terang Dirjen. Oleh karena itu, Dirjen menghimbau untuk menggalakkan pelayanan yang menjangkau semua lapisan masyarakat.  “Para Bunda PAUD harus rajin untuk berkoordinasi dngan para Bunda PAUD di wilayah masing-masing, supaya lekas terselesaikan kesenjangan ini,” tukas guru besar UI ini.

Dalam hal peningkatan mutu PAUD, salah satu yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualifikasi para pendidik PAUD. Menurut Dirjen, guru PAUD Formal atau TK harus memiliki kualifikasi S-1. “Sayangnya, kemampuan kita memenuhi itu baru 21% saja. Target tahun 2020, semua guru TK harus S-1,” katanya. Berdasarkan data Dit. PPTK PAUDNI, jumlah pendidik PAUD sebanyak 84.888 orang. Sebanyak 87,26% diantaranya belum berkualifikasi S-1/D-4. Dirjen berharap para Bunda PAUD atau pemerintah daerah pun memikirkan persoalan ini dan mencari solusi untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru TK, misalnya dengan pemberian bantuan beasiswa, mengikuti diklat, dsb.


Pentingnya Parenting Education
Di samping itu, Dirjen pun mengemukakan bahwa seharusnya PAUD juga dapat memberdayakan para orang tua anak-anak usia dini. “Namun di Indonesia, capaian ini hanya 5% saja. Padahal jumlah lembaga PAUD di Indonesia ada 162 ribu lembaga. Berarti cuma 8.000 lembaga PAUD yang menyelenggarakan pendidikan keorangtuaan,” katanya. Oleh karena itu, ia berharap pada para Bunda PAUD untuk mendorong peningkatan program dan pelayanan PAUD menjadi lebih lengkap. 

Dengan adanya pendidikan keorangtuaan, diharapkan para orang tua pun memiliki kesiapan, pengetahuan, dan pemahaman bagaimana mengembangkan potensi anak saat di rumah dan memiliki antisipasi bagaimana mendidik dan mengarahkan anak-anaknya supaya jauh dari efek-efek negatif pesatnya pergaulan dan kemajuan jaman, misalnya akses video porno yang akhir-akhir ini kerap mencemaskan.

Untuk meningkatkan kualitas perkembangan anak usia dini, saat ini pemerintah pun memperkenalkan dan menggalakkan program PAUD Holistik-Integratif (PAUDHI), yakni pengembangan anak usia dini yang mencakup lebih banyak aspek, tak hanya soal pendidikan saja. Mulai dari kesehatan, agama, perlindungan anak, gizi, dsb. PAUDHI ini telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No 60 Tahun 2013. “Tahun 2014 nanti harus sudah ada peraturan gubernurnya mengenai PAUDHI. Demikian pula bupati dan walikota, diharapkan untuk mengeluarkan peraturan tersebut,” himbau Dirjen.  Pelayanan PAUD dapat diubah menjadi PAUDHI meski memiliki pelayanan yang tak terlalu lengkap. Kendati demikian, PAUD pun dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk mewujudkan PAUDHI.

Program layanan Posyandu pun dapat berintegrasi dengan PAUDHI. Dalam hal ini, Dirjen mengharapkan para penggerak PKK pun turut aktif menggiatkan aktivitas Posyandu. Melalui Posyandu, masyarakat dapat diberi pemahaman tentang pentingnya ASI eksklusif hingga 6 bulan.

Sedangkan untuk perlindungan anak, Dirjen mengimbau supaya anak-anak Indonesia harus memiliki akte kelahiran supaya mendapat akses fasilitas dari pemerintah. Melalui PAUD atau PAUDHI, diharapkan masyarakat memperoleh informasi dan kemudahan bagaimana cara memperoleh akte kelahiran.

Tentang pelayanan anak usia dini, Dirjen mengatakan bahwa sebenarnya banyak program pemerintah dari berbagai kementerian yang bertujuan memberikan pelayanan pada anak usia dini, misalnya dari kementerian agama, kementerian sosial, kemenkosesra, kementerian dalam negeri, BKKBN, dsb. PAUD dapat berjalan selaras dan bersinergi dengan program-program lainnya. “Dengan kerjasama yang baik, akan tercapai pelayanan priba bagi anak-anak generasi Indonesia,” pungkasnya. ***

Ditulis tahun : 2013

  


dr Elizabeth Jane Supardi : Posyandu Perlu Nebeng pada PAUD


Segala urusan yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan anak adalah hal yang cukup pelik, mengingat anak adalah generasi bangsa yang akan melanjutkan tonggak pembangunan dan kemajuan negeri. Oleh karena itu, ketika mendapat kesempatan bertemu dengan dengan bunda PAUD dari seluruh wilayah Indonesia dalam kegiatan Rakornas Bunda Paud 2013, dr Elizabeth Jane Supardi, MPH, Dsc., Direktur Bina Kesehatan Anak, merasa sangat beruntung dan antusias. “Artinya, saya akan mendapat bala bantuan yang memungkinkan untuk mengatasi masalah-masalah anak di Indonesia,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, dokter yang sejak 30 tahun lalu sudah menjabat sebagai kepala puskesmas Indonesia ini memberi paparan seputar kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak di hadapan para Bunda PAUD. Ia berharap Bunda PAUD memiliki pengetahuan yang memadai seputar masalah anak, sehingga memahami bagaimana cara memperlakukan atau memberi dukungan, motivasi, dan turut memikirkan solusi bagaimana memecahkan berbagai masalah anak usia dini di daerahnya masing-masing.

Jane menegaskan bahwa masa pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai dari usia 0 – 18 tahun, sehingga pada masa itu diperlukan pengawalan yang cermat dan penuh perhatian. “Tumbuh kembang sangat penting karena ini kualitas. Yang tumbuh adalah ukuran tubuh dan struktur tubuhnya. Sedangkan yang berkembang adalah fungsi dan kemampuannya. Jika anak-anak kita dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka mereka akan menjadi generasi yang kuat dan cerdas,” katanya. Oleh karena itu, pembinaan terhadap masalah anak pada fase itu sangatlah penting, karena jumlah penduduk Indonesia pada range usia tersebut mencapai hingga 40%.

Di samping itu, Jane juga menyinggung tentang pentingnya Keluarga Berencana (KB) supaya keluarga di Indonesia memiliki perencanaan yang baik terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan. Bagaimanapun, jumlah penduduk di suatu negara pun berpengaruh pada kualitas penduduknya. Ia sempat memberikan contoh-contoh negara yang berhasil menerapkan KB. Di negara Cina, pemerintah menghimbau pada setiap keluarga untuk hanya memiliki satu anak. Jika lebih dari satu, maka anak-anak lainnya tidak akan mendapat fasilitas apapun dari negara. Sedangkan di Jepang, menyusutnya jumlah penduduk justru lebih dikarenakan pada pemahaman warga negaranya yang sudah cukup tinggi.

Menurut Jane, bahkan jarak interval kelahiran antara anak pertama dengan anak selanjutnya pun aad baiknya direncanakan secara seksama, tidak terlalu rapat. “Idealnya, ibu mengalami kehamilan anak yang berikutnya setelah selang 4 – 5 tahun dari kehamilan sebelumnya,” katanya. Ini berkaitan dengan pemulihan kalsium dalam tubuh ibu ketika melahirkan anak sebelumnya, dan umumnya memerlukan waktu antara 4x9 bulan. Selain itu, ia pun mengungkapkan bahwa usia ideal seorang wanita memiliki anak adalah di atas 23 tahun.

Integrasi Posyandu dan PAUD
Dalam hal pengasuhan anak, Jane pun menegaskan tentang pentingnya peranan Posyandu dalam masyarakat, karena posyandu dapat bersentuhan langsung dengan anak-anak yang benar-benar berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. “Hampir 80% proses pembentukan sel-sel otak yang menyangkut kecerdasan dan perkembangan anak berada pada 3 tahun pertama. Kalau kita rajin memberikan stimulasi, maka dia akan maksimal. Antara lain dengan memenuhi kebutuhan akan gizi, pendidikan, perlindungan, kasih sayang, dan lain-lain,” tuturnya. “Oleh karena itu, kita pun harus memberikan pelayanan yang kontinue. Posyandu dapat membantu para orang tua untuk mengontrol pertumbuhan dan perkembangan anak,” tambahnya. Bagaimanapun, upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak menjadi tanggung jawab bersama, yakni orang tua, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah.

Jane pun memberikan penjelasan tentang pentingnya buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sehingga setiap detil pertumbuhan dan perkembangan anak, sekaligus kesehatan ibu, dapat terpantau dengan baik. “Buku KIA sudah ada peraturan menteri kesehatannya, dan ibu pun memiliki hak untuk mengetahui atau membaca buku itu. Oleh karena itu, petugas kesehatan harus melayani dengan baik,” katanya. 

Menurut Jane, buku KIA seharusnya wajib dimiliki oleh ibu hamil dan anak-anak usia 0 – 5 tahun. Setiap kali bumil atau anak datang ke fasilitas kesehatan, baik itu bidan, puskesmas, dokter praktek, klinik atau rumah sakit untuk penimbangan, berobat, kontrol atau imunisasi, buku KIA harus dibawa  agar semua keterangan tentang kesehatan ibu atau anak yang tercatat pada buku KIA diketahui tenaga kesehatan, dan mereka dapat mengisi catatan tambahan penting lainnya pada buku KIA, mengisi KMS, dll. Buku KIA merupakan instrumen pencatatan dan penyuluhan (edukasi) bagi ibu dan keluarganya, juga alat komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga. Isi buku KIA antara lain memuat tentang identitas keluarga. KIA untuk ibu terbagi dalam ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, KB, serta catatan pelayanan kesehatan ibu. Sedangkan pada bagian anak terdiri dari identitas anak, bayi baru lahir dan anak, balita, catatan pelayanan kesehatan anak, serta catatan penyakit dan masalah perkembangan.

Di samping itu, Jane juga mengatakan tentang perlu dan pentingnya rapor kesehatan bagi anak-anak dari usia SD hingga SMA. “Mereka pun berhak mendapat pelayanan kesehatan seperti yang tertulis dalam rapor tersebut,” katanya. Ia pun menyarankan untuk lebih menggalakkan sosialisasi hidup sehat,karena dengan menjaga hidup sehat, maka ini pun dapat menghemat anggaran kesehatan. Misalnya, dengan menyosialisasikan cara mencuci tangan yang baik dan benar. “Ini harus dikuasai oleh semuanya. Nanti akan kita sosialisasikan pada masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah, sekaligus kita tempel langkah-langkah cuci tangan yang benar di semua toilet-toilet,” kata Jane.

Di samping itu, keberadaan PAUD pun menjadi solusi dalam mengembangkan anak usia dini. Bagaimanapun, program PAUD tidak cukup dengan pemberian stimulasi pendidikan, tetapi juga harus memberikan layanan pendidikan kesehatan dan gizi. “Kalau PAUD itu bagus dan semua desa ada PAUD, kita berharap posyandu bisa ikut ke PAUD, supaya pelayanannya bisa nebeng ke sana. Melalui PAUD, anak yang usia di bawah 3 tahun itu pun lebih mudah didapatkan. Jadi ada integrasinya,” tuturnya.

Kendati demikian,diperlukan kerjasama yang baik dan berkesinambungan untuk mewujudkan pelayanan prima yang terintegrasi. “Yang kerap menjadi masalah, di hampir semua kementerian yang memiliki berbagai program, acapkali satu program itu satu kantor. Kantor yang mengurus ini dengan kantor yang mengurus itu berbeda. Akibatnya, yang di bawah itu jadi terpecah-pecah. Misalnya, seorang ibu hamil terpaksa hanya mendapat imunisasinya saja, sedangkan paket vitaminnya tidak didapatkan karena programnya ada masalah. Padahal seharusnya itu kan satu paket...” ungkapnya.

Perlunya Parenting Education
Selain itu, Jane pun mengungkapkan bahwa seharusnya juga terdapat program parenting education, sehingga pembelajaran di sekolah selaras dengan di rumah. Misalnya, orang tua pun perlu diberikan pendidikan seks yang baik, sehingga mereka pun dapat memberikan pendidikan tersebut pada anak-anaknya, tak hanya sekadar soal pengenalan anatomi dan fungsi tubuh, tapi juga pemahamannya mengenai seks. Hal ini didasari atas maraknya anak-anak usia belia yang sudah kecanduan video porno semenjak akses ke arah sana menjadi sangat mudah. “Di kota-kota besar, anak sudah melihat video porno sejak usia 8 tahun. Karena pendidikan seks yang tidak sampai pada pemahaman, maka ketika mereka diserang video porno, mereka pun mendapat stimulasi negatif. Jika terlalu banyak menonton video porno, bagian dari fungsi otaknya akan rusak. Yang paling parah, lama-lama bisa menjadi gila.Tapi kalau anak-anak memahami dan mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak akan menonton video porno karena mereka memahami konsekuensinya,” ungkap Jane.

Jane berharap, masalah-masalah demikian akan segera teratasi dengan baik melalui kerjasama dan kinerja yang baik dari semua sektor. Bagaimanapun, anak Indonesia adalah harapan bangsa. ***

Ditulis tahun : 2013 


Fasli Jalal : Memaksimalkan Perkembangan Otak Anak


Karena menjadi salah satu penggagas pertama program perkembangan PAUD di Indonesia, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI,  Prof. Dr. dr. Fasli Jalal Ph.D, Sp.GK. didaulat menjadi salah satu narasumber dalam sesi kegiatan rakornas Bunda PAUD yang diadakan di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, beliau memberikan paparan mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak, mulai dari sejak berada dalam kandungan. Bagaimanapun, menurut Fasli, tumbuh kembang anak masih menjadi tantangan bagi semua masyarakat Indonesia.

Ahli gizi yang sempat berada di Kemdikbud selama hampir 13 tahun ini  mengungkapkan bahwa esensi anak usia dini adalah interaksi antara anak yang tumbuh dan berkembang dengan lingkungannya, yang kemudian didukung oleh gizi, sarana dan prasarana, dsb. “Yang menjadi jembatan untuk membangun kecerdasan anak secara holistik adalah perkembangan otaknya,” tuturnya. Oleh karena itu, Fasli menekankan untuk lebih memperhatikan masa ketika otak anak sedang tumbuh dan berkembang dengan pesatnya, yakni pada usia kehamilan hingga kurang lebih 2 tahun, yang kerap disebut sebagai masa golden age.

Menurut Fasli, perkembangan otak anak dimulai dalam usia 19 hari dalam kandungan. Otak tersusun dari banyak sel syaraf.  Kecukupan gizi akan berpengaruh terhadap proses pembelahan sel syaraf, sehingga sel syaraf dapat bertambah banyak dan lengkap. Terdapat tiga tahapan tumbuh kembang sel syaraf, yakni tahap lahir hingga 3 tahun, dimana sel syaraf akan tumbuh secara cepat dan banyak, tahap 3 - 8 tahun, dimana kepadatan sel syaraf otak mencapai 2 x lipat orang dewasa, dan tahap 8-18 tahun, dimana sel syaraf yang tidak terpakai akan teregradasi. Dalam tiap tahapan tersebut, zat gizi dan stimulus (rangsangan) memegang peranan penting -termasuk dalam meminimalkan sel syaraf otak yang terdegradasi.

Di samping itu, Fasli pun mengungkapkan bahwa perkembangan tinggi anak pun dapat menjadi indikator kemampuan anak. Semakin tinggi anak, maka otaknya pun dapat berkembang dengan baik. Namun jika tingginya sudah tertinggal, meski kemudian diberikan makanan berlimpah, tetap tidak akan terkejar, karena ini adalah refleksi dari kurang gizi yang kronik. Kendati demikian, Fasli mengatakan bahwa hal tersebut takkan menjadi kendala besar sepanjang semua pihak dapat mengoptimalkan usaha untuk mengembangkan anak. “Tidak apa-apa kalau tingginya tidak terkejar. Berapapun sel otak yang tinggal, mari kita pastikan agar sel otak tsb kita fungsikan semaksimal mungkin,” tuturnya.

Selain itu, berat badan pun menjadi salah satu indikasi kesuksesan perkembangan otak anak. Setidaknya, menurut Fasli, berat badan bayi lahir yang baik adalah tidak kurang dari 2,5 kg. “Jika dibawah 2,5 kg, kita perlu memberi dorongan yang lebih kuat. Saat ini, 1 dari 9 anak di Indonesia lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kg. Ini satu hal yang cukup mencemaskan. WHO sudah meminta jangan ada anak yang tidak mendapat haknya utk Asi eksklusif selama 6 bulan pertama,” kata Fasli. Sayangnya, menurut Fasli, saat ini jumlah ibu menyusui ASI eksklusif menurun dengan cepat, tinggal 30 % saja. Padahal ASI eksklusif sangat bermanfaat membentuk jaringan yang akan melindungi syaraf dari berbagai korsleting akibat menyalurkan impuls elektrik.

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan otak anak, pendidikan adalah salah satu sarana penting yang harus dipenuhi oleh anak. Kendati demikian, pendidikan yang dimaksud tak hanya sekedar proses pembelajaran formal di sekolah, namun juga melibatkan unsur-unsur potensi dalam diri. “Dulu kita beranggapan bahwa sekolah itu dimulai dari SD. Tapi ternyata itu terlambat. Sebenarnya, kualitas terpenting itu harus dibangun pada 1000 hari pertama kehidupan anak,” kata Fasli Jalal.

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, Fasli pun menegaskan peran PAUD holistik terintegratif yang berdasar pada lima pilar, antara lain ada jaminan kesehatan, ada praktek gizi, ada stimulasi psikososial atau pendidikan anak usia dini, ada pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dan orang-orang lain yang berhubungan dengan anak tadi, dan ada jaminan perlindungan. Dalam hal ini, Fasli menekankan bahwa peran orang tua dan keluarga adalah yang pertama dan utama. Selain itu juga faktor ekologi lingkungan sekitar. “Jika hal-hal tersebut tidak terpenuhi, maka kita harus mencari kompensasi untuk memenuhi hal tersebut,” tuturnya.

Pengaruh Jumlah Penduduk
Selain itu, hal yang mempengaruhi kesuksesan program pertumbuhan dan perkembangan anak adalah jumlah penduduk. Semakin besar penduduk, semakin kecil kesempatan yang didapat oleh anak untuk lebih mengembangkan dirinya. Negara dengan jumlah penduduk yang teramat besar akan rentan mengalami krisis perkembangan sumber daya manusianya.

Menurut sebuah Penelitian yang diungkapkan oleh Fasli, jika seluruh individu mengikuti gaya hidup negara Amerika --  antara lain tergantung dengan AC, heater, makanan berlebih, dsb, maka bumi hanya bisa menanggung 2 milyar penduduk. Diperkirakan pada tahun 2050 penduduk bumi berjumlah 9,2 milyar. Dalam sejarah Indonesia pada abad 17, jumlah penduduk masih berjumlah 10 juta. Kemudian pada tahun 1970, menurut sensus penduduk, jumlah penduduk Indonesia menjadi sekitar 125 juta. Dan pada saat itu, proyeksi dengan trend fertility rate mengatakan bahwa pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 340 juta. Namun ternyata hanya berjumlah 237,6 juta.  Artinya, program-program pada era Orde Baru semisal Keluarga Berencana (KB) berhasil menekan jumlah penduduk dan berhemat hingga 1 juta orang. Hal ini pun berdampak pada penghematan pembangunan sekolah, pembangunan fasilitas kesehatan, income perkapita dan sebagainya, sehingga perhatian terhadap sumber daya manusianya menjadi lebih besar. Dengan dapat ditekannya laju pertumbuhan penduduk, maka potensi sumber daya manusia dapat dikembangkan menjadi lebih optimal. Bagaimanapun, modal utama bangsa adalah sumber daya manusia.

Peran BKKBN
Dalam hal menyukseskan program pengembangan anak usia dini holistik integratif, BKKBN pun turut berperan melalui kelompok kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Pengembangan anak usia dini holistik integratif dilakukan di kelompok BKB, Pos PAUD, dan Posyandu. Kelompok BKB meningkatkan pengetahuan orang tua dan keluarga yang memiliki anak balita mengenai pengasuhan;Pos PAUD memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak usia dini; sedangkan Posyandu memberikan layanan kesehatan bagi anak-anak usia dini tersebut.

Selain itu, BKKBN juga turut menyiapkan kader dalam bidang pengasuhan. “Kita melatih kader secara khusus untuk menjadi pengganti keluarga yang sedang mengandung atau punya anak balita, memberi pengetahuan dan pemahaman tentang prinsip tumbuh kembang anak dan mendampingi proses itu dengan baik, sehingga sebelum anak masuk sekolah, semua kecakapan anak sudah terpenuhi,” kata Fasli. Program ini dimulai dari basis para kader posyandu, anggota majlis taklim, guru-guru di kelompok bermain, kader dari panti asuhan, dsb.

Ada pula program Generasi Berencana, yakni sebuah program yang mendidik, membimbing, dan mendampingi generasi muda bangsa dengan cara memberikan pendidikan produktivitas, misalnya dengan pemberian pemahaman seputar seksualitas, HIV-AIDS, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan usia kawin.

Fasli berharap semua pihak dapat bersama-sama untuk meningkatkan komitmen para pengambil kebijakan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama untuk memberikan hak-hak anak melalui pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang yang baik sejak dini.  Melalui kemitraan dan peran serta semua pemangku kepentingan, ini dapat mendorong terciptanya anak-anak berkualitas. ***

Ditulis Tahun : 2013



Persatukan Misi Melalui Silaturahim

Silaturahim Halal bi Halal IGTKI Pusat 2013



Letaknya agak masuk ke dalam, di Jalan Subur nomor 25, di kawasan Pasar Rebo. Dalam sebuah bangunan dua lantai, tenda besar dipasang. Sedang ada gelaran acara silaturahim bertajuk halal bi halal yang rupanya diadakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI). Sebuah organisasi yang merangkul para guru taman kanak-kanak di seluruh Indonesia. Namun pada gelaran acara yang diadakan awal September 2013 ini hanya dihadiri oleh 59 orang, dari jumlah undangan sebanyak 90 orang, yang terdiri dari beberapa cabang IGTKI maupun para mitra organisasi.

Turut hadir sebagai undangan Prof. Dr. Erman Syamsuddin, Direktur Pembinaan PAUDNI, yang kemudian memberikan sambutan dan apresiasinya terhadap organisasi ini. Gelaran ini juga dimeriahkan oleh kehadiran Hadad Alwi, yang memberikan motivasi semangat dan apresiasi, terutama untuk para guru TK. Juga terdapat sajian kesenian marawis yang dibawakan oleh guru-guru TK di wilayah Jakarta Timur.

Sementara itu, Hj. Farida Yusuf, M.Pd, ketua IGTKI Pusat yang saat itu mengenakan gaun putih, tampak antusias dan bersuka cita menyambut para tamu dan undangan yang hadir. Senyumnya terkembang tiap kali mempersilakan para tamu dan undangan mencicipi hidangan kue-kue kecil beserta the atau kopi yang telah disediakan. Suasana halal bi halal idul fitri tampak kental terasa, meski telah terlewat beberapa minggu yang lalu.

IGTKI Sebagai Pemersatu
Dalam sambutan awalnya, Bu Ida, panggilan akrab Farida Yusuf, mengungkapkan bahwa IGTKI Pusat sengaja mengadakan ajang silaturahim ini supaya ke depan nanti dapat menyamakan persepsi dan menyatukan langkah agar terdapat sinergitas dalam menghadapi segala hal yang berkaitan dengan perkembangan dan inovasi Pendidikan Anak Usia Dini. Ia juga menyampaikan bahwa Halal Bihalal IGTKI ini juga bermakna khusus bagi karena pada hari itu juga, pengurus pusat IGTKI ingin meresmikan ruangan kursus pendidik PAUD yang terdapat di lantai dua.

Saat giliran Direktur Pembinaan PAUD, Dr. Erman Syamsuddin memberikan sambutan, beliau menyatakan apresiasi positifnya pada eksisnya IGTKI di ranah pendidikan di Indonesia. “Ini mimpi-mimpi saya yang baru terwujud hari ini,” kata Beliau, memaksudkannya pada IGTKI. “Saya ditugaskan menjadi direktur pembinaan PAUD sejak September 2010. Tugas pertama yang diberikan adalah, bagaimana PAUD menjadi satu payung. Anak usia 0 – 6 berada dalam satu kebijakan yang disederhanakan dengan reformasi birokrasi. Maka tantangan pertama tugas saya adalah bagaimana mendekati IGTKI, karena simpul pertama adalah IGTKI. Apakah IGTKI ini adalah tembok cina, atau dapat menjadi sahabat yang baik. Manakala kami bisa menyatukan HIMPAUDI, IGTKI, maka kawan-kawan lain akan bergabung. Inilah yang menjadi obsesi dan tugas dari pak menteri,” tutur Erman.

Erman pun menceritakan tentang kiprah bu Ida, yang saat itu menjabat sebagai ketua IGTKI, dan bahu-membahu tak kenal lelah mewujudkan mimpi-mimpi tersebut, hingga IGTKI menjadi organisasi profesi yang solid, dengan tujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas di lingkungan Taman Kanak-kanak maupun PAUD.

Usia TK Masuk Wajib Belajar
Di samping itu, Erman pun mengungkapkan harapan bahwa pada jangka menengah berikutnya, yakni periode 2014 – 2019, TK, PAUD Formal, Non – Formal, maupun Informal akan bergabung. Harapan terbesar, semoga segera terwujud adanya wajib belajar untuk usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD. Oleh karena itu, Erman berharap bahwa IGTKI dapat senantiasa member semangat pada seluruh anggotanya. “Kemarin Ibu Dirjen sudah sangat kuat memperjuangkan ini. Wacana ini kita kembangkan pada pembangunan jangka menengah tahap selanjutnya, setidaknya dimulai dulu dari usia TK, yakni usia 4 – 6 tahun.

Menurut Erman, sebanyak 31,6 juta penduduk Indonesia berada dalam rentang usia 0-6 tahun. Namun 40 - 50% dari anak yang berusia 4 – 6 tahun, banyak yang sudah ada di SD. Jadi semestinya tidak ada lagi alasan untuk menunda wajib belajar bagi TK. “Kira-kira sebanyak 50 – 60% mereka yang ada di usia 5 – 6 tahun sudah ada di SD. Jadi tinggal 40% lagi yang diangkat. Mungkin yang berat adalah anak usia 4 tahun ke bawah. Untuk itu nanti kita dorong organisasi profesi melalui PKK, PKG, HIMPAUDI, yakni dengan mencanangkan program Satu Desa Satu PAUD,” ujarnya. “Saya (pemerintah) ingin mensupport. Entah itu melalui dana, kebijakan, atau fasilitas lainnya. Sedangkan sistem pembelajaran untuk gurunya, dsb, datang dari IGTKI,” tambah Erman. Di sela-sela sambutannya, Erman berterima kasih pada IGTKI yang telah member semangat dan dukungan penuh PAUD Terpadu maupun Gugus PAUD.

Mengenai impian bahwa TK nantinya akan masuk dalam Wajib Belajar, hal ini pun diamini oleh Farida Yusuf. “Mudah-mudahan TK benar-benar menjadi wajib belajar, sehingga TK benar-benar diperhatikan. Kami sangat mendukung program itu, dan berharap semoga Pak Menteri meresponnya. Dengan program ini, kami berharap adanya pemahaman pada masyarakat bahwa TK adalah dasar sebelum masuk SD, karena ada perbedaan antara anak yang langsung ke SD atau yang dari TK,” tuturnya.

Tuntas acara, para tamu dan undangan digiring menuju lantai dua bersama Erman Syamsuddin, yang akan meresmikan pembukaan ruang kursus. Tidak mewah, namun cukup representatif dan menyenangkan. Terdapat ruang belajar mengajar, juga beberapa kamar. Diharapkan ruang kursus baru ini akan benar-benar dimanfaatkan untuk memberikan pelatihan pada guru-guru TK demi meningkatkan kualitas dan kompetensi. ***

Ditulis tahun : 2013




Menguatkan Pembelajaran PAUD

Penguatan Pembelajaran PAUD Penerima UGB/RKB

Untuk meningkatkan kualitas pendidik PAUD, diperlukan adanya penguatan pembelajaran PAUD bagi tenaga pendidik maupun pengelola. Ini untuk menambah wawasan dan informasi terbaru, serta sebagai ajang berbagi pengalaman dalam penyelenggaraan maupun pengelolaan pembelajaran PAUD. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini menyelenggarakan kegiatan Penguatan Pembelajaran bagi Penerima UGB (Unit Gedung Baru) / RKB (Ruang Kelas Baru) PAUD Terpadu Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai keberlanjutan dari program sebelumnya, dengan fokus materi pada pengembangan kurikulum sesuai perkembangan anak.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan pemahaman bagi pendidik pengelola dalam lembaga penerima bantuan UGB (Unit Gedung Baru) / RKB (Ruang Kelas Baru) PAUD Terpadu Provinsi/Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini maupun pengelolaan pembelajaran di lembaganya. Antara lain dengan menyamakan persepsi tentang pembelajaran yang tepat bagi anak usia dini, meningkatkan pengetahuan keterampilan sikap Pendidik dan Pengelola lembaga penerima UGB TK Pedesaan dalam hal tumbuh kembang anak usia dini, meningkatkan kemampuan pendidik dan pengelola lembaga PAUD dalam menata lingkungan main anak usia dini, meningkatkan kemampuan pendidik dan pengelola lembaga PAUD dalam memberi pijakan-pijakan (Scaffolding) pada anak didiknya, meningkatkan kemampuan pendidik dan pengelola lembaga PAUD dalam mengembangkan kurikulum pembelajaran PAUD, serta meningkatkan kemampuan pendidik dan pengelola lembaga PAUD dalam melakukan evaluasi perkembangan anak.

Oleh karena jumlah sasaran kegiatan ini cukup banyak, maka pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dalam 2 angkatan, yakni angkatan I dan II. Peserta Penguatan Pembelajaran PAUD Penerima UGB/RKB Angkatan I adalah kepala sekolah dan pendidik PAUD Terpadu penerima UGB/RKB tahun 2012 dengan jumlah 80 orang. Untuk angkatan I dilaksanakan pada 17 - 21 Juni 2013 di Hotel Sunan, Solo, Jawa Tengah.

Dalam pembukaan acara, Etty Retnowati, SH, MH, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Surakarta turut memberikan sambutannya. Beliau menyampaikan bahwa PAUD menjadi suatu hal  yg sangat penting, semenjak dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena  itu, dalam memberikan pembelajaran untuk anak-anak, salah satunya adalah dengan belajar sambil bermain. Beliau menilai bahwa kegiatan pembelajaran PAUD ini tepat sekali karena dapat meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah, yang akan berdampak baik bagi sekolah.

Sementara itu, sambutan dari Direktorat Pembinaan PAUDNI disampaikan oleh Dwinita Yunus, M.Pd, Kepala Seksi Pembelajaran Direktorat Pembinaan PAUDNI, yang kemudian membuka dan meresmikan kegiatan acara. Dalam sambutannya, Beliau berharap bahwa hasil dari kegiatan ini nantinya akan segera dimanfaatkan dengan baik dan tidak perlu menunggu diresmikan dari pusat. “Bisa langsung dari pejabat daerah, dengan catatan, laporan dikirim ke pusat,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa kebijakan pemerintah pada tahun 2013 ini sudah tidak ada lagi bantuan berupa bangunan fisik. “Bantuan tahun ini bukan untuk pembangunan lagi, tetapi penguatan, antara lain BOP, gugus, dan APE. Jadi, jangan sampai bangunan yang sudah dibangun rusak kembali. Oleh karena itu, perlu adanya perawatan dan peningkatan kualitas gurunya.

Beberapa pengarah dan narasumber dalam kegiatan ini terdiri dari stake holders, akademisi, praktisi praktisi perguruan tinggi, serta para ahli PAUD dari lembaga-lembaga yang profesional. Antara lain Dr. Erman Syamsuddin (Direktur Pembinaan PAUD), Dra. Enah Suminah, M.Pd (Kasubdit Pembelajaran dan Peserta didik), Dwinita Yunus, SE., M.Pd (Kasi Pembelajaran), Mareta Wahyuni, M.Pd, Dra. Nurmiati, Yohana Rumanda, M.Pd, Yulie Siantayani, M.Pd (Sekolah Bukit Aksara Semarang), Aries Susanti (Madrasah Istiqlal), Woro Kusmandar, Wahyuni Ratna Lingga (High Scope), Ali Nugraha (UPI), dan dr. Anne Gracia (Smart Brain Energy).

Metode kegiatan ini adalah menggunakan metode partisipatif. Peserta diberi kesempatan untuk berperan aktif seperti tanya-jawab, diskusi kelompok, berbagai pengalaman dan pemecahan masalah (problem solving). Materi-materi menarik yang diusung dalam kegiatan ini antara lain pembelajaran yang menyenangkan bagi anak usia dini, menata, memanfaatkan dan memelihara ruang bermain di dalam maupun di halaman, pengetahuan yang dipelajari saat anak Bermain, menata lingkungan bermain di sentra/area dengan memanfaatkan bahan limbah dan SDA sebagai sumber belajar, memberikan dukungan saat anak bermain, menciptakan waktu transisi yang menyenangkan, menyusun kegiatan bermain, mendokumentasikan perkembangan dan pembelajaran anak pada saat bermain, serta membangun karakter guru anak usia dini.

Dwinita Yunus, M.Pd, Kepala Seksi Pembelajaran Direktorat Pembinaan PAUDNI yang juga menjadi salah satu narasumber memberikan paparannya pada hari pertama. Ia menyampaikan bahwa yang dibutuhkan untuk mendidik anak usia dini adalah ikhlas, sabar, murah senyum ramah, dan yg terpenting adalah cinta dan kasih sayang meski dengan waktu dua setengah jam belajar. Selain itu, orang tua pun tidak boleh mencontohkan atau mempraktekan hal hal yg bersifat negatif pada peserta didik PAUD. Jika ada pertanyaan kepada guru tentang permasalahan anak yang berperilaku atau berbicara negative, maka solusinya adalah dengan mempraktekkannya, menggunakan pendekatan berbagai macam cara.

Dari paparannya, banyak tanggapan, pertanyaan, serta komentar dari para peserta. Antara lain mengupas tentang pembelajaran dan proses interaksi pengajar dengan peserta didik serta sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yg meliputi guru dan siswa dengan tujuan saling bertukar informasi. Hal ini dapat membantu peserta didik untuk belajar dengan baik. Dwinita juga menegaskan bahwa dengan permainan, kita dapat mengetahui kecerdasan fisik, motorik, bahasa dan sosial emosional anak. Bermain sangat penting untuk anak untuk memperoleh sesuatu dengan cara bereksperimen tentang dunia di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagai pendidik maupun orang tua, seyogyanya menyediakan bahan-bahan permainan yang tepat.

Sementara itu, Direktur Pembinaan PAUD, Dr. Erman Syamsuddin, juga berkesempatan memberikan paparannya di hadapan peserta. Ia menekankan bahwa inti dari lembaga PAUD adalah pengembangan karakter, dan penataan lingkungan. Erman juga mengemukakan tentang pentingnya transisi, supaya anak tidak cepat menjadi jenuh. “Transisi yang baik adalah transisi memperhatikan mood dari anak tersebut, dan menggunakan games games yg edukatif. Kegiatan transisi atau prosedur sebaiknya kita tulis dan dilakukan secara berturut turut, maka anak itu dengan sendirinya akan mengikuti SOP (standart oprasional prosedur),” terangnya.

Menurutnya, cara tersebut dapat membuat anak mengetahui aturan bermain dan belajar, selalu mengulang langkah langkah yg sudah menjadi kebiasaan, dan ketika lembaga merekrut tenaga pengajar baru pun dapat mengikuti prosedur transisi itu dengan cepat.

Mengenai alat permainan edukatif, Erman mengemukakan bahwa hal ini sangat bagus dan dibutuhkan dalam perkembangan anak. Dengan didukung sumber daya lingkungan yang bagus, anak dapat menambah ilmu tentang ruang lingkup di sekitarnya, sehingga tidak perlu gengsi untuk memakai alat permainan yg sederhana. Dalam bermain anak juga tidak perlu diberikan arahan yang diktator, sehingga anak akan dapat mengembangkan sel sel motorik dan imajinasinya.

Dalam salah satu paparannya, Erman juga mengemukakan bahwa baik dan buruknya suatu lembaga itu tergantung dari pengelolanya. “PAUD yg baik adalah PAUD yang menjadi percontohan. Jika sudah menjadi percontohan, maka secara langsung akan datang lembaga-lembaga lain untuk studi banding. Dan dari pusat pun tidak akan ragu mengundang lembaga tersebut untuk memberikan materi yg lebih baik,” katanya. Erman mengungkapkan bahwa jika Indonesia lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi, untuk pendidikan anak usia dini jauh tertinggal dari negara barat.

Diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, para kepala sekolah dan pendidik PAUD yang akan terus belajar dan mengembangkan diri meningkatkan potensi untuk melayani anak usia dini dengan lebih baik di lembaganya masing-masing. Selain itu, para kepala sekolah dan pendidik yang telah dilatih tersebut pun diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pelatihan di lembaganya masing-masing dan dapat menjadi contoh dan rujukan bagi lembaga-lambaga lain di sekitarnya. ***

Ditulis tahun : 2013