Showing posts with label Kalimantan Selatan. Show all posts
Showing posts with label Kalimantan Selatan. Show all posts

TK Negeri Pembina Jorong : Tetap Terbaik Meski Habis Terbakar


Saat itu bulan Ramadhan, tepatnya hari Minggu, 29 Juli 2012 pukul 15.00 wita. Asap hitam membumbung tinggi lantaran api besar berkobar-kobar dari sebuah bangunan kokoh, melalap apa saja di dalamnya. Suasana semakin mencekam karena angin bertiup kencang, sementara petugas pemadam kebakaran tak juga tiba. Tak ada yang bisa diselamatkan. Taman Kanak-kanak (TK) Negeri Pembina Jorong yang sempat menjadi sekolah kebanggaan hanya menyisakan puing-puing. Isak tangis dan ratap pilu para guru dan murid yang sempat melihat peristiwa naas hanya mampu menjadi warna duka peristiwa yang takkan dilupakan itu.

Menurut identifikasi pihak kepolisian, sumber kebakaran tersebut adalah korsleting listrik. Untunglah pada saat adalah masa liburan bagi murid dan guru, sehingga tak ada korban jiwa. Di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, berlaku kebijakan bahwa pada bulan Ramadhan, PAUD maupun TK libur selama sebulan penuh. Meski demikian, diperkirakan jumlah kerugian hingga mencapai lebih dari 50 juta rupiah. Segala yang telah dibangun dan diperoleh sejak tahun 2006, tahun didirikannya TK Negeri Pembina Jorong, tak menyisakan apapun.

Persoalan berikutnya yang jauh lebih memusingkan adalah, kemana anak-anak akan belajar? Harus segera ditemukan solusi karena masa liburan akan segera usai. Tak mudah menemukan setidaknya enam ruang kelas sebagai pengganti sementara untuk menampung 100 murid-murid TK. Dan lebih tidak mudah lagi menguatkan semangat dan keyakinan para guru, orang tua siswa, maupun masyarakat, bahwa TK Negeri Pembina Jorong dapat terus bertahan dan tetap menjaga kualitasnya seperti sebelum peristiwa kebakaran terjadi. Maklum, TK Pembina Negeri Jorong boleh dikata saat itu adalah sebuah TK ‘favorit’ dengan nama yang sempat naik daun. Bahkan tak segan sejumlah besar murid berasal dari wilayah yang cukup jauh demi bersekolah di TK ini.

Banyak hal yang menjadi keistimewaan TK yang pertama kali menjadi TK Pembina di kecamatan Jorong, Tanah Laut ini. Yang paling menonjol adalah metode pengajarannya. Di saat TK-TK lainnya di Tanah Laut masih bertahan dengan metode pengajaran calistung (baca tulis hitung), TK Negeri Pembina Jorong telah berani membuat gebrakan baru dengan metode belajar sambil bermain, yakni menggunakan pendekatan BCCT atau sentra. TK Negeri Pembina Jorong telah berhasil membuktikan bahwa meskipun siswa-siswanya mendapat porsi lebih banyak dalam bermain sambil belajar – ketimbang pembelajaran klasikal macam calistung, tapi toh mampu menghasilkan jebolan yang berkualitas dan unggul dalam daya saing. Berkat keberhasilannya, tak heran jika TK Negeri Pembina Jorong pun seringkali menjadi acuan model dan rujukan bagi TK-TK lainnya. Kiprah TK Negeri Pembina Jorong di bidang pendidikan dan keorganisasian pun cukup aktif, sehingga TK ini didaulat menjadi sekretariat dan seringkali menjadi tempat pertemuan bagi berbagai organisasi profesi, antara lain IGTKI-PGRI, KKG TK, PKG/Gugus PAUD, MKKTK, dan juga pertemuan dengan komite sekolah. 

Untuk setingkat desa dan kecamatan, fasilitas yang tersedia di TK Negeri Pembina Jorong (sebelum insiden kebakaran) boleh dikata cukup lengkap dan layak. Sudah ada sembilan guru, enam kelas sentra, perpustakaan, fasilitas ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Bahkan sejak tahun 2007, TK Negeri Pembina Jorong pun telah membuka Kelompok Bermain dengan nama KB Puspa Bangsa, yang tempat belajarnya memanfaatkan ruang guru. Ini karena animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak semakin besar. Meski demikian, kelengkapan itu bukannya terpenuhi dengan cara instan dan mudah, melainkan berkat usaha, kerja keras, dan semangat semua yang terlibat di dalamnya; para guru, masyarakat, pemerintah, dan terutama kepala sekolahnya, Siswati, S.Pd., M.M, yang juga menjadi pionir dalam mendirikan TK Negeri Pembina Jorong. Bahkan banyak pula prestasi yang telah diraih dalam setiap ajang kompetisi, baik itu setingkat kecamatan hingga kabupaten.

Langkah awal Siswati dimulai di tahun 2006, saat pertama kali ia mendengar sebuah program pemerintah yang akan memberi kesempatan siapa saja untuk mendirikan TK Negeri pada tingkat kecamatan. Saat itu, TK Pembina hanya berada di kabupaten saja. Siswati yang saat itu menjabat sebagai Kepala TK Kenari kecamatan Jorong yang berada di wilayah binaaan Tim Penggerak PKK tertarik untuk mengajukan proposal pendirian TK Pembina di Kecamatan Jorong.

Siswati banyak bersyukur, karena bak mengemban misi mulia, tak banyak kendala yang dihadapi saat membidani proses pendirian TK Pembina Negeri Jorong. Ia bahkan mendapat ijin penggunaan tanah seluas sekitar seperempat hektar – yang semula hendak diperuntukkan untuk pendirian madrasah, tapi mengalami kemacetan -- dari Kepala Desa Jorong dan tokoh masyarakat setempat, juga dukungan penuh dari semua pihak. “Waktu awal berdiri, hanya ada 5 guru termasuk saya. Muridnya kira-kira berjumlah 30 anak,” kenang ibu dua anak yang telah menjadi PNS sejak usia 19 tahun ini.

Hanya semangat dan antusiasme tinggi yang menggerakkan Siswati dan lain-lain untuk terus berjuang membangun dan mengembangkan TK Negeri Pembina Jorong. Berkaca dari pengalamannya terjun dalam Taman Kanak-kanak sejak tahun 1992, Siswati bertekad untuk membuat sebuah metode program pembelajaran baru yang lain dari yang lain. Untuk itu, ia tak segan belajar hingga ke PAUD Ibu di Purworejo, Jawa Tengah untuk menggali ilmu tentang metode BCCT/Sentra, yang kemudian ia terapkan di TK Negeri Pembina Jorong.

Kendati demikian, beragamnya latar belakang para guru yang mengajar pun menjadi persoalan tersendiri. Menerapkan sebuah metode pembelajaran baru tak semudah membalik telapak tangan, apalagi di daerah. Selain itu, kemampuan dan kompetensi guru-guru pun masih belum memadai. Oleh karena itu, wanita yang mengawali karir sebagai kepala sekolah sejak pangkat golongan II ini tak segan untuk terus berdiskusi, berbagi ilmu, dan memberi kesempatan para guru untuk mencecap ilmu-ilmu baru dan mengembangkan diri melalui berbagai ajang pelatihan, seminar, workshop, dan lain-lain. Selain itu, seiring waktu dan perkembangan jaman, para guru pun mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualifikasinya melalui program S-1 di Universitas Terbuka yang membuka kelompok belajar (pokjar) di wilayah Jorong.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa seperti halnya TK-TK lain di daerah, masalah dana pun menjadi persoalan bagi TK Negeri Pembina Jorong. Semata-mata mengandalkan pemerintah pusat takkan menjadikan TK Negeri ini segera memperoleh segala kelengkapan dan fasilitas. Oleh karena itu, TK Negeri Pembina berupaya aktif dalam menyebar proposal dan menggandeng hingga ke sektor perusahaan-perusahaan swasta di sekitar, dan juga aktif dalam berbagai organisasi profesi. Terbukti, keuletan ini membawa hasil yang cukup gemilang. “Berkat dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, para tokoh masyarakat maupun berbagai organisasi, kami masih bertahan setelah terjadi musibah kebakaran besar. Sungguh tak diduga jika kami justru mendapat banyak bantuan pasca kebakaran. Sampai-sampai kami bisa kembali membeli seperangkat drumband untuk anak-anak,” kata peraih juara 1 kepala sekolah berprestasi tingkat nasional 2013 ini.

Meski pasca kebakaran TK Negeri Pembina terpaksa untuk sementara waktu harus menempati Gedung Serbaguna Kecamatan, namun TK ini berhasil menjaga komitmen yang tangguh dalam menjaga kualitas dan sistem pembelajarannya dengan tetap menjalankan sistem BCCT/sentra. Ini merupakan bukti bahwa untuk mengembangkan sebuah TK, tak melulu diperlukan biaya besar. Dengan kerjasama yang solid dari berbagai pihak, aktif dalam berbagai kegiatan, dan kreativitas para pendidiknya yang kompeten, TK Negeri Pembina Jorong berhasil menjadi TK percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. ***


Ditulis tahun : 2015
Diterbitkan di Majalah Usia Emas (Kemendikbud)





Profil Gurdasus : Tersentuh Melihat Anak-anak Daerah Khusus


Taufik Hakim Al Amini, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Kalimantan Selatan



Taufik Hakim Al Amini, S.Pd. sampai tak bisa menggambarkan kebahagiaannya saat mendengar ia diundang untuk menghadiri ajang Pemilihan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2014 di Jakarta. Seumur hidupnya, ia sama sekali tak pernah membayangkan akan mendapat kesempatan bertemu dan melihat langsung Presiden dan Ibu Presiden serta Mendikbud. Bagi Taufik, ini adalah sebuah berkah paling besar yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Ia semakin mensyukuri profesinya yang sebagai guru daerah khusus. Kini ia merasakan bahwa pengabdiannya benar-benar tak sia-sia.

Pria kelahiran Tabihi, 09 Juni 1980 ini memulai karirnya sebagai guru sejak tahun 2003. Saat itu ia adalah seorang guru bantu yang ditempatkan di daerah terpencil, yakni di SDN Haratai 3. “Ketika melihat anak-anak di sana, saya sedih sekali karena terlihat sekali perbedaannya dengan anak sekolah di kampung saya, terutama dari sikap, pakaian, dan seragam yang mereka kenakan. Pengetahuan mereka juga masih terbelakang. Dari latar belakang itu tumbuh motivasi dan kecintaan saya terhadap motivasi guru,” katanya.

SDN Haratai 3 terletak di Desa Haratai, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Wilayah yang masuk dalam kategori terpencil ini berada di kawasan pegunungan Meratus. Masih belum ada listrik maupun sinyal telekomunikasi. Sebagian besar masyarakat adalah suku Dayak Meratus. Penghasilan utama mereka adalah petani karet dan juga peladang yang sering berpindah-pindah. Jalan untuk menuju sekolah dalam keadaan rusak berat karena berupa aspal yang sudah hancur bercampur dengan tanah pegunungan. “Kalau musim hujan banyak daerah yang rawan longsor,” ujar Taufik.

Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa di SDN Haratai 3 sebanyak 33 siswa dengan jumlah guru sebanyak 7 orang. Fasilitas sarana dan prasarana yang ada di SDN Haratai 3 antara lain ruang belajar, lemari kelas, kursi meja guru dan murid dalam keadaan baik. Kantor dan kamar kecil hampir rusak berat sehingga perlu segera direhabilitasi. Buku-buku paket sudah mencukupi, tetapi media pembelajaran masih kurang.

Banyak suka duka yang telah Taufik rasakan selama menjadi guru di SDN Haratai 3. Antara lain, ia merasa sangat gembira jika melihat murid-muridnya berpakaian rapi dan mendapat nilai yang tinggi di sekolah. Namun ia juga akan merasa sangat sedih jika ada muridnya yang terpaksa harus tinggal kelas. “Ini merupakan kekurangan bagi saya yang kedepannya harus saya perbaiki,” kata ayah dari satu anak ini.


Harapannya kepada masyarakat adalah supaya masyarakat semakin menyadari bahwa pendidikan untuk anak itu penting. Ia pun berharap kepada pemerintah daerah, provinsi, dan pemerintah pusat supaya lebih memperhatikan sistem penyaluran segala tunjangan yang saat ini sering mengalami keterlambatan.***



Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus TIngkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Gurdasus : Mengabdi pada Kampung Halaman


Juhriah, S.Pd.
Guru Daerah Khusus Provinsi Kalimantan Selatan



Sejak tahun 2003, Juhriah, S.Pd. telah mengajar di SDN Haratai 3 yang terletak di Jalan Kali Paminggir RT01 nomor 046, Desa Sapala, kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Sebuah sekolah yang terletak di wilayah terpencil, berjarak 30 km dari pusat kecamatan, atau sekitar 75 km dari pusat kabupaten. Diperlukan kapal motor atau speed boat untuk menuju ke lokasi tersebut karena Desa Sapala merupakan daerah perairan yang dikitari oleh banyak sungai. Mata pencaharian penduduk setempat sebagian besar adalah nelayan ataupun peternak.

Awalnya, wanita kelahiran Sapala, 14 oktober 1984 ini mengabdikan diri sebagai guru honorer di sebuah Taman Kanak-kanak. Kemudian ia pindah mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Karena jam mengajar di MI dilakukan di sore hari, maka pada pagi harinya pun Juhriah mengajar di SDN Haratai 3, Sapala. Kebetulan pada waktu itu SDN Haratai 3 sangat kekurangan guru.

Sekitar tahun 2006, Juhriah mengikuti tes seleksi CPNS. Ternyata ia diterima, sehingga langsung diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di SDN SDN Haratai 3. “Dari sinilah saya mencintai profesi saya sebagai seorang guru dan membuat saya lebih sabar menghadapi anak-anak,” ujarnya.

Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah total murid di SDN Haratai 3 sebanyak 128 anak, sedangkan jumlah guru sebanyak 10 orang. Menurut Juhriah, kondisi sarana dan prasarana di SDN Haratai 3 hingga saat ini masih kurang lengkap. Ruang kelasnya masih kurang memadai, media pembelajarannya masih belum lengkap , perpustakaannya pun belum ada bukunya. Di samping itu juga belum memiliki lapangan untuk anak-anak bermain.

Sekitar tahun 2008, Juhriah meningkatkan kualifikasinya dengan melanjutkan pendidikannya ke program S-1 di perguruan tinggi di Sungai Pandan, hingga lulus pada tahun 2013. Sebagai guru daerah khusus, penghasilan Juhriah sebesar 2.658.000 rupiah. Ia merasa bersyukur karena berkecukupan. Meski mengajar di daerah terpencil, ia tak pernah mengeluh. Terlebih karena Juhriah adalah putra daerah di Desa Sapala yang mengabdi untuk kampung halamannya tercinta.

Selama 11 tahun menjadi guru, begitu banyak suka dan duka yang Juhriah rasakan. Ia merasa sangat bahagia ketika melihat anak anak didiknya menjadi lebih pintar dan sukses di masyarakat. “Dukanya, kalau ada keperluan mendadak ke Kabupaten agak susah, karena transportasi tidak selalu ada. Apabila lewat pagi hari, maka taksinya sudah tidak ada,” ceritanya.


Harapan Juhriah pada tokoh masyarakat, supaya senantiasa mendukung setiap program sekolah yang memajukan anak-anak didik. Kepada pemerintah daerah, provinsi, dan pemerintah pusat, Juhriah berharap supaya sarana dan prasarana di daerah khusus lebih diperhatikansehingga menjadi lebih maju dan bisa bersaing dengan daerah perkotaan. “Selain itu, saya juga berharap kalau bisa tunjangan guru di daerah khusus bisa ditambah lagi supaya kesejahteraan para guru bisa meningkat,” imbuhnya.***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Gurdasus Tingkat Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Juara : Perempuan Harus Berpendidikan


Ita Yuliana, M.Pd.
Juara III Tutor Paket C Berprestasi Tingkat Nasional 2013

Kiprahnya menjadi pamong belajar sudah lima belas tahun lamanya. Oleh karena itu, Ita Yuliana, M.Pd memiliki banyak pengalaman dan kesan menarik selama membimbing warga belajar yang memiliki latar belakang beraneka ragam. Ia bahkan pernah mengajar para narapidana di penjara anak-anak.
---

Ita Yuliana, M.Pd tak pernah menduga akan menjadi tutor/pamong belajar pendidikan kesetaraan. Saat awal mendaftar ujian CPNS, ia berharap dapat menjadi guru Matematika di sekolah formal. Tapi ketika hasil ujian diumumkan, ternyata wanita kelahiran 25 maret 1973 ini justru mendapat SK sebagai pamong belajar, yang kemudian ditempatkan di SKB Banjar, Kalimantan Selatan. “Rejekinya jadi pamong, ya Alhamdulillah diterima di sana, dengan tupoksi mengajar paket A B C,” katanya.

Sejak masih kuliah di FKIP Matematika Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ita sudah menjadi guru honorer di SMA PGRI 1 Banjarbaru, sehingga ia cukup mengetahui dengan baik karakter siswa-siswa di sekolah pendidikan formal. Namun ketika mengajar di pendidikan kesetaraan, wanita asli suku Banjar ini mendapatkan pengalaman baru yang justru menjadikan baginya sebuah tantangan. “Kalau di SMA, kita sebagai guru ditunggu sama murid. Pas saya mengajar di Paket B, kita yang menunggu mereka untuk belajar. Pakaian mereka pun tidak seragam. Ada yang pakai sarung, ada yang pakai bedak belepotan, dan sebagainya. Tapi Alhamdulillah mereka memiliki motivasi belajar,” ungkap Ita.


Saat pertama kali mengajar di SKB Banjar, wanita asli suku Banjar ini mengajar program paket C. Ia mengatakan bahwa sebagian besar warga belajar di SKB Banjar adalah masyarakat dari golongan menengah ke bawah yang tinggal di wilayah perkotaan Banjar, Kalimantan Selatan.  “Ada yang putus sekolah karena mungkin ekonomi orang tua, atau kalau perempuan biasanya karena menikah dulu, sehingga sempat putus sekolah. Kalau yang tua-tua, kebanyakan adalah pekerja. Ada yang bekerja di jadi tukang sapu, tukang potong, dan lain-lain,” katanya. 

Menurut Ita, mengajar Paket C sama sekali berbeda dengan mengajar di Paket A atau B yang masih memiliki kemiripan dengan mengajar anak-anak di sekolah formal. Hal itu dikarenakan Ita kadangkala harus menghadapi warga belajar dengan usia dewasa, bahkan adakalanya lebih tua darinya. Kendati demikian, Ita merasa sangat menikmati mengajar Paket C.  “Kalau di SMA, antara murid dengan guru sepertinya ada jarak. Tapi kalau di Paket C, antara tutor dan warga belajar justru memiliki keterikatan yang lebih kuat. Mereka bahkan menganggap saya adalah guru gaul. Tak jarang siswa saya senang curhat masalah rumah tangga. Bagaimanapun, kita mau tak mau harus melayani mereka, misalnya dengan mendengarkan mereka, karena pada dasarnya kita adalah pelayan masyarakat,” tuturnya. 

Menurut Ita, sebenarnya berinteraksi dengan warga belajar di Paket C itu gampang asalkan senantiasa bersikap lembut. “Mereka kalau tersinggung sedikit saja, besoknya sudah tidak masuk lagi. Sepertinya  kalau kita keras pada mereka, justru mereka dendam pada kita. Jadi harus dengan sikap lemah lembut,” jelasnya.

Saat ini hanya ada 5 tutor di SKB Banjar. Kendati demikian, jika SKB memerlukan guru untuk suatu bidang keahlian, SKB Banjar tak segan untuk memanggil guru dari sekolah lain yang berkompeten untuk diperbantukan. SKB Banjar sendiri memiliki dua kantor, yakni yang terletak di Banjar Baru dan di Banjar.

Hal yang paling membahagiakan Ita adalah ketika mengetahui siswa-siswanya lulus dan mendapat ijazah kesetaraan. Terlebih jika pada akhirnya mereka sukses di masyarakat. “Ada murid saya yang putus sekolah SMA karena tidak lulus ujian, kemudian saya tawari untuk masuk ke Paket C.  Awalnya dia merasa enggan karena ia malu nantinya ijasahnya pakai ijazah paket C. Tapi saya yakinkan dia bahwa ijazah Paket C pun sudah dapat mendaftar di perguruan tinggi manapun. Beberapa tahun kemudian, saya ketemu bertemu dia, dan ternyata sudah mendapat gelar SE,” kenang Ita.  

Di SKB Banjar, Ita menjadi tutor yang mengajar Matematika. Sebuah pekerjaan yang sangat menantang, karena mengajarkan ilmu hitung pada warga belajar yang sudah berusia dewasa jauh lebih sulit daripada mengajar anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah formal. “Kadang kita harus bisa mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Pada saat pengajaran mereka antusias, tapi nggak tahu apakah ilmunya masuk atau enggak,” ujarnya.

Belum lagi dengan masalah kehadiran, yang menurut Ita menjadi salah satu penyebab terhambatnya proses belajar mengajar dan transfer ilmu pada warga belajar. “Kalau ngajar di paket C, hari ini dia masuk, minggu depan absen. Meski begitu,  dia sms saya untuk minta ijin,” katanya. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencoba memahami dan memaklumi mereka, karena mereka pun memiliki banyak kesibukan dalam kehidupan sehari-harinya. Namun tak terelakkan bahwa hal ini berpengaruh terhadap penyampaian materi pelajaran matematika. Seringkali Ita tidak dapat melanjutkan ke materi berikutnya disebabkan ada warga belajar yang tidak mengikuti materi sebelumnya. Kadangkala hal ini menjadikannya harus mengulang penyampaian materi untuk bisa masuk ke materi selanjutnya. Padahal di sisi lain, penyampaian materi pelajaran yang terulang-ulang akan dapat melemahkan motivasi belajar bagi peserta didik yang rajin, yang hadir secara kontinu di kelompok belajarnya.

Hal lain yang menjadi kendala yaitu kelompok belajar mempunyai keterbatasan modul atau buku penunjang sehingga cukup menyulitkannya  untuk mencapai kriteria ketuntasan yang diinginkan. Bahkan ada kelompok belajar yang warga belajaryna tak ada yang memiliki buku teks dan modul. Hal ini tentu saja akan menggangu kelancaran proses pembelajaran, terlebih karena buku/modul khusus untuk pendidikan kesetaraan tidak banyak dijual di toko buku baik di Banjarbaru maupun di Martapura. Maka itu, Ita mencoba metode pemecahan masalah dalam proses pembelajaran supaya dapat terus berjalan tanpa harus melalui tatap muka dan tanpa harus bergantung pada buku/modul pelajaran. Antara lain dengan menggunakan media yang tepat, untuk mengefektifkan proses pembelajaran.

Media LAWB
Salah satu media yang dapat dipergunakan dalam pembelajaran matematika adalah media LAWB (Lembar Aktivitas Warga Belajar). Lembar Aktivitas Warga Belajar (LAWB) ini merupakan salah satu alternatif pembelajaran bagi peserta didik karena LAWB membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar yang dilakukan secara sistematis. Peserta didik yang telah menguasai materi pelajaran dapat menjadi tutor sebaya dalam kelompok kecil untuk saling membelajarkan kepada teman lainnya. Dari sini diharapkan terjalin kerja sama dan rasa sosial untuk saling membantu dalam mengejar ketertinggalan. Warga belajar yang ada dalam kelompok belajar pun akan termotivasi untuk selalu mengikuti kegiatan pembelajaran.

Lembar Aktivitas Warga Belajar (LAWB) disusun berdasarkan standar isi pendidikan kesetaraan. Pada prinsipnya, LAWB sama dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada pendidikan formal. Namun bedanya, untuk LKS sudah banyak penerbit yang memfasilitasi keberadaannya sehingga gampang dibeli di toko buku.

Penggunaan LAWB merupakan sesuatu yang memberikan motivasi untuk dilaksanakannya proyek individual maupun kerja sama kelompok di kelas. LAWB tidak hanya membantu peserta didik dalam memahami konsep mengenai matematika, akan tetapi juga banyak membantu tutor dalam penyampaian materi dalam rangka memberikan pemahaman konsep. Selain itu, LAWB juga dapat membantu tutor dalam melaksanakan pembelajaran berkolaborasi, sehingga peserta didik dapat menggali potensi-potensi yang ada pada dirinya. Tutor juga dapat terangsang untuk mengajarkan matematika  lebih baik.

Dalam proses pembelajaran menggunakan LAWB tersusun berbagai kombinasi dari berbagai model dan strategi seperti metode pembelajaran berbasis portofolio, di mana tutor memberi tugas di luar jam pelajaran untuk mempelajari konsep dan subkonsep seperti yang dijelaskan dalam lembar aktivitas yang telah tersedia, metode pembelajaran kooperatif,  di mana untuk penyelesaian tugas yang diberikan oleh tutor, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menjawab pertanyaan yang sudah tersedia pada LAWB, strategi diskusi, di mana diskusi kecil yang terjadi dalam proses pembelajaran memungkinkan terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih dari setiap peserta didik yang terlibat dalam pengerjaan tugas yang diberikan tutor pada media LAWB, dan strategi kerja kelompok, di mana dalam pembelajaran, warga belajar dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk menyelesaikan tugas yang diberikan tutor.

Pemilihan strategi dengan menggunakan LAWB dalam proses belajar mengajar di kelompok belajar Paket C bertujuan untuk mengaktifkan warga belajar dalam proses pembelajaran yang dapat berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan, membantu warga belajar dalam mengembangkan konsep, melatih warga belajar dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses, sebagai pedoman tutor dan warga belajar dalam melaksanakan proses pembelajaran, membantu warga belajar memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar, serta membantu warga belajar untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Hasil yang dicapai dari penggunaan LAWB dalam proses belajar mengajar antara lain, membantu mengatasi ketergantungan terhadap buku atau modul kesetaraan, meningkatkan efektivitas pembelajaran karena warga belajar dapat mempelajari materi tanpa harus melalui tatap muka, mengetahui pencapaian kompetensi warga belajar secara bertahap melalui lembar aktivitas belajar, mengetahui kelemahan yang belum dapat dicapai oleh warga belajar, dan terjalinnya keakraban, kerja sama, dan saling bantu antar sesama warga belajar.

Meski demikian, ada beberapa kendala yang Ita hadapi dalam penggunaan media LAWB, antara lain, tutor harus rajin membuat lembar demi lembar LAWB untuk dibagikan kepada warga belajar pada setiap pertemuan dengan menggunakan dana pribadi. Selain itu, karena media berupa lembaran-lembaran yang dibagikan kepada warga belajar, maka kondisinya setelah berada di tangan warga belajar menjadi terserak. Bagaimanapun, Ita merasa bahwa diperlukan waktu yang lebih memadai untuk mengembangkan dan menyelesaikan penyusunan LAWB karena standar isi untuk pendidikan non formal tentu berbeda dengan pendidikan formal.

Menjadi Tutor di Penjara
Sejauh ini, tutor yang gemar membaca novel ini mengaku cukup menikmati mengajar Paket C. Kendati demikian, ia berharap seluruh masyarakat di Kecamatan Bincau sadar dengan arti penting pendidikan, dan seoptimal mungkin memanfaatkan program pendidikan yang ada di SKB Banjar. Menurut Ita, salah satu masalah sosial di masyarakat sekitar yang kerap terjadi adalah tingginya angka pernikahan dini. “Di Kecamatan Bincau ini banyak sekali anak yang setelah lulus SMP kemudian langsung nikah,” katanya. Ia sangat menyayangkan hal ini, karena menurutnya seharusnya perempuan memiliki ijasah minimal SMA. “Saya tekankan terutama pada yang perempuan, minimal harus dapat ijasah SMA. Kalau orang tua mampu, harus kuliah. Jangan sampai hanya puas dengan ijazah SMP. Kalau dia memiliki pendidikan lebih tinggi, setidaknya dia memiliki peluang untuk punya pengahasilan sendiri,” tuturnya.

Selain disibukkan dengan aktivitas sebagai tutor di SKB Banjar, pegawai negeri golongan 4A ini pun sibuk mengajar di PKBM semenjak SKB Banjar bekerja sama dengan PKBM untuk pembelajaran Kejar Paket A dan Paket B. Di samping itu, Ita pun menjadi pengelola PAUD. Ia juga kerap dilibatkan dalam kegiatan keaksaraan di Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar. “Kalau ada pelatihan tutor paket A B C, saya selalu dilibatkan sebagai narasumber,” katanya.

Tahun 2010, Ita sempat diminta untuk menjadi tutor di Lembaga Permasyarakatan (LP) anak untuk mengajar program paket B. “Pertama masuk takut, karena kesan penjara kan ngeri. Tapi ternyata semuanya berjalan dengan baik dan lancar.  Kendalanya, mereka kan ikut program pembelajaran 3 tahun, tapi paswaktu ujian, mereka keluar sebelum waktunya. Pas ujian, mereka nggak mau dipanggil. Mereka malah bilang, ‘Pamali bu, kita pantang melihat ke belakang’.Tapi kemudian saya minta mereka untuk menghubungi saya, supaya nantinya dapat saya carikan kelompok belajar yang lain. Tapi mereka tidak mau menghubungi,” keluhnya.

Meski demikian, Ita tetap semangat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai tutor, apalagi setelah meraih penghargaan sebagai juara III Tutor Paket C Berprestasi tingkat Nasional. Kebahagiaannya adalah melihat peserta didik yang dibimbingnya meraih kehidupan yang sukses.

Mengutamakan Pendidikan
Di lingkungan keluarga Ita sangat mengedepankan pendidikan untuk kedua anaknya yang masih duduk  di bangku SMA dan SD. “Saya dan suami sudah S-2, tapi anak masih belum. Oleh karena itu, saya harus benar-benar mempersiapkan mereka. Sekolah adalah hal yang utama. Saya berpegang pada prinsip bapak saya, bahwa ilmu itu tidak ada habisnya. Jadi sebaiknya yang diwariskan pada anak adalah ilmu,” tuturnya.

Bagi Ita, almarhum kedua orang tuanya adalah sosok yang menjadi figur inspirasinya. Dulu, ayahnya adalah seorang pegawai di kantor gubernur, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Dengan gaji ayahnya yang tak banyak, Ita, anak keenam dari delapan bersaudara, terbiasa belajar berbagi dan hidup sederhana. “Kami harus lulus cepat supaya adik-adik punya kesempatan untuk sekolah juga,” ia bercerita tentang keluarganya. Oleh karena itu, berdasarkan pengalamannya, Ita sangat mengharapkan bahwa sebaiknya perempuan pun memiliki uang sendiri supaya dapat membantu suaminya atau keuangan keluarga. Oleh karena itu, pendidikan bagi perempuan sangatlah penting untuk bekalnya di kemudian hari. “Sampai saya bilang ke anak saya yang laki-laki, ‘nanti kalau cari istri jangan cari yang ibu rumah tangga,’” katanya diiringi derai tawa.

Suami Ita sendiri adalah seorang guru matematika di sebuah SMP Negeri di Martapura, Kalimantan Selatan. Mereka bertemu ketika masih sama-sama menjadi mahasiswa. “Dia kakak angkatan saya, tapi sebenarnya dia adalah teman kecil saya. Ketemu lagi pas kuliah. Saya menikah usia 25, setelah lulus kuliah S-1 tahun 1997,” kisah Ita.  


Saat menceritakan pengalamannya mengikuti ajang Lomba PTK Berprestasi Nasional, Ita mengatakan bahwa ia memang ditunjuk untuk mewakili Banjar oleh Dinas Pendidikan kota Banjar, sehingga Ita langsung melenggang, mengawali kompetisinya di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. “Saat seleksi, saya melihat pesertanya muda-muda, ada lima orang. Saya sempat keder juga. Tapi saya berusaha semampunya dan tetap optimis dengan menyiapkan portofolio sebaik-baiknya. Apalagi ajang kompetisi tutor berprestasi nasional  baru ada tahun ini,” katanya. Saat pengumuman pemenang dikumandangkan, Ita sungguh tak menyangka bahwa ia masuk menjadi juara III. Haru dan bahagia melingkupinya. Rencananya, hadiah dari prestasinya sebagai juara III Tutor Paket C Terbaik Tingkat Nasional itu hendak ia pergunakan untuk pendidikan anak-anaknya dan berangkat haji. ***

Ditulis tahun : 2013
Diterbitkan di Majalah Dikmen (Kemendikbud)