Showing posts with label tokoh pendidikan. Show all posts
Showing posts with label tokoh pendidikan. Show all posts

Profil Juara : Tumbuhkan Minat Matematika Warga Belajar


Nur Hidayah, S.Pd.
Juara 1 Tutor Paket A Berprestasi Nasional 2014

Ibu muda ini sangat ulet dan teguh pada cita-citanya, yakni mengabdikan diri di dunia pendidikan. Tantangan yang lebih berat pun dilakoninya, yakni membimbing dan mengajar siswa-siswa dengan usia tidak terbatas. Nur Hidayah, S.Pd., Juara 1 Tutor Paket A Berprestasi Nasional merasa puas dan bangga dengan profesinya.

Lahir di Semarang, 2 Maret 1985 dari sepasang orang tua yang bekerja sebagai petani berpenghasilan terbatas, masa kecil Nur Hidayah, S.Pd.  tak sering merasakan kemanjaan seperti halnya anak-anak lainnya. Ia dituntut untuk senantiasa dapat mandiri dan bersikap dewasa. Selain itu, orangtuanya pun mengajarkannya memiliki jiwa wirausaha sehingga setidaknya ia dapat menambah uang saku sendiri. Misalnya dengan membantu menjualkan makanan buatan ibu di sekolah. Meski demikian, cita-cita yang tertanam dalam diri Nur Hidayah sejak kecil adalah ingin menjadi guru.
Di lingkungan masyarakat, anak kedua dari 2 bersaudara ini pun aktif bersosialisasi dengan mengikuti organisasi dan berbagai kegiatan lain. Saat duduk di bangku SMA, Nur Hidayah bahkan sudah dipercaya untuk mengajar Pramuka di SD.

Setamat dari SMUN 6 Semarang di tahun 2003, Nur Hidayah memperoleh kesempatan untuk menjadi guru di TK PGRI 112 Semarang (sekarang TK PGRI 115 Semarang). Ia mengajar sempoa sekaligus merangkap sebagai tenaga administrasi. Di luar waktu mengajar, ia juga mengikuti pendidikan kursus komputer administrasi selama 1 tahun demi menambah bekal kemampuannya.
Pada tahun 2005, barulah Nur Hidayah tertarik untuk bergabung dengan PKBM Tunas Bangsa. Awalnya, salah seorang kawan SMAnya yang kebetulan adalah anak pemilik PKBM Tunas Bangsa datang menawarinya untuk menjadi Tutor Keaksaraan Fungsional di PKBM Tunas Bangsa. Karena sejalan dengan minatnya, maka tanpa pikir panjang Nur Hidayah pun langsung menerima tawaran tersebut. Pendapatan pertamanya sebagai tutor hanya sebesar 100 -300 ribu per bulan. Meski demikian, Nur Hidayah tak mempermasalahkannya. Ia merasa senang dan bangga dengan pekerjaannya.
Sejak menjadi tutor, hari-hari Nur Hidayah menjadi semakin sibuk, karena pada pagi hari ia harus mengajar di TK, sedangkan malam harinya mengajar di PKBM hingga pukul 9 malam. Namun jadwalnya mengajar di PKBM hanya 3 kali dalam seminggu, yakni hari Senin, Rabu, dan Sabtu. Sesibuk apapun kegiatan yang dijalani Nur Hidayah, tak sekecappun keluh terucap darinya. Kemudaannya membuatnya senantiasa bersemangat dan optimis. Namun pada tahun 2009, Nur Hidayah tak lagi bekerja di TK PGRI 112 Semarang. Ia pindah mengajar di PAUD Nur Ilmi, sebuah PAUD yang diselenggarakan oleh PKBM Tunas Bangsa.
Saat pertama kali terjun sebagai tutor, Nur Hidayah tak langsung mendapat kemudahan dan kelancaran. Ia mengungkapkan bahwa perjuangannya benar-benar dimulai dari nol. “Istilah Jawanya babat alas. Jadi kita benar-benar mulai dari sosialisasi ke warga untuk mengikuti pendidikan kesetaraan paket A, sampai jemput bola dalam mengumpulkan syarat administrasi hingga pada saat pembelajaran,” ungkapnya. Kendati demikian, ia justru merasa sangat bersyukur dengan tantangan tersebut, karena sebagai guru pemula, ia merasa tertantang dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik di tengah keterbatasan yang ada.
Diakui Nur Hidayah bahwa kesadaran masyarakat sekitar terhadap pentingnya pendidikan masih rendah. “Mereka mau mengikuti kejar paket A setelah diperintah tokoh masyarakat atau pimpinan di tempat kerja. Partisipasi warga  belajar dalam  tutorial pun juga masih minim. Bagi mereka, pemenuhan kebutuhan ekonomi lebih dipentingkan daripada kebutuhan akan belajar,” katanya.

PKBM Tunas Bangsa
PKBM Tunas Bangsa Semarang yang terletak di Jalan Raya Mangkang Wetan Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang ini berdiri sejak tahun 2000, dan dikelola oleh Nur Safu’ati, S.Pd, yang juga adalah kepala TK PGRI 112 Semarang. Saat ini, jumlah tutor yang dimiliki sebanyak 15 orang, terdiri dari 3 tutor PNS dan 12 tutor nonPNS. Pada tahun ajaran 2014/2015 ini ada sebanyak 3 rombongan belajar yang belajar di PKBM Tunas Bangsa. Masing-masing rombongan belajar terdiri dari 10 warga belajar.

Dari sisi sarana dan prasarana, PKBM yang berdiri di lahan seluas 830m2 ini telah menyediakan 5 ruangan yang dipergunakan untuk pembelajaran. Fasilitas yang tersedia antara lain aula atau ruang pertemuan, 3 buah ruang belajar, taman bacaan masyarakat (TBM), maupun laboratorium komputer. Kendati demikian, sebelumnya, saat awal pertama kali berdiri, PKBM Tunas Bangsa masih harus meminjam tempat di sebuah sekolah dasar, sehingga kegiatan pembelajarannya hanya dapat dilakukan di malam hari. Baru pada tahun 2008 PKBM Tunas Bangsa memiliki gedung sendiri.

Saat awal mengajar warga belajar di kelas Paket A, Nur Hidayah sempat merasa pesimis karena usia warga belajar banyak yang di atas usianya. Tak mudah mengajari atau mentransfer ilmu pengetahuan pada warga belajar yang berusia dewasa. Juga tak mudah dalam menghadapi mereka, sangat berbeda dengan menghadapi anak-anak usia sekolah. Akan tetapi lama-kelamaan Nur Hidayah pun dapat menikmati profesinya sebagai tutor. “Warga belajar Paket A lebih menantang daripada mengajar anak di sekolah karena usia mereka yang beragam, mulai dari usia 13 tahun hingga usia 50 tahun. Latar belakang pekerjaan mereka pun beragam, ada yang seorang petani, peternak, perangkat desa, ibu rumah tangga, bahkan pengangguran. Mereka memiliki lebih banyak pengalaman hidup, dan ini dapat menjadi sarana belajar bagi saya untuk menambah kedewasaan,” kata Nur Hidayah. Kendati demikian, menurutnya, meskipun beberapa warga belajar usianya lebih tua darinya, namun mereka tetap menghormatinya karena mereka menganggap tutor sebagai guru yang membuka wawasan mereka.

Mayoritas para warga belajar adalah golongan masyarakat mampu kurang mampu, misalnya para petani atau peternak. Waktu mereka banyak digunakan untuk melakukan aktivitas di lahan pertanian dan kandang, sehingga hampir tidak ada waktu luang untuk belajar. Itulah sebabnya maka diputuskan waktu belajar di PKBM adalah pada malam hari, yakni pada pukul 18.30 sampai pukul 21.00. Bahkan acapkali pembelajaran dilakukan di musholla atau sekolahan terdekat dari tempat tinggal warga belajar.
PKBM Tunas Bangsa menarik iuran bulanan hanya sebesar 20 ribu rupiah setiap bulannya. Kendati demikian, bagi warga belajar yang benar-benar tidak mampu tidak diwajibkan untuk membayar iuran.
Tahun 2007 Nur Hidayah sempat mengikuti seleksi Rintisan Pendidikan Gelar (RPG) S1 yang diselenggarakan oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional. Betapa senang hatinya karena rupanya ia dinyatakan lulus dan diterima kuliah S-1 Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Semarang (UNNES). “Saya sangat bersyukur karena dapat meneruskan kuliah S-1 dengan beasiswa dari pemerintah,” katanya. Kesempatan itu benar-benar ia hargai dan tidak disia-siakan. Dengan penuh semangat dan kerja keras, Nur Hidayah bahkan meraih IPK di atas 3 saat kelulusan. “Saat itulah saya yakin bahwa menjadi guru adalah pilihan yang tepat,” ujarnya.
Kuliah sambil bekerja benar-benar membuat Nur Hidayah sibuk. Meski demikian, ia merasakan banyak manfaat dari kesibukan aktifitasnya. “Saya bisa belajar banyak hal dari materi yang diajarkan pada saat kuliah dan langsung bisa mengaplikasikannya di tempat bekerja. Pekerjaan ini saya jalani sampai saya lulus S-1, yaitu Agustus 2011,” kisahnya.
Kendati demikian, Nur Hidayah menyadari bahwa ia tak boleh lengah, sekadar puas dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia harus senantiasa mengasah dan mengembangkannya, dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, ia pun rajin melakukan pengembangan profesi, misalnya dengan mengikuti berbagai forum ilmiah, mengembangkan berbagai model pembelajaran, menulis makalah, menulis/menyusun diktat pelajaran, menulis buku pelajaran, menulis modul, menulis karya ilmiah, melakukan penelitian ilmiah, membuat alat peraga/media, mengikuti pelatihan akreditasi, mengikuti pendidikan kualifikasi, dan mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Aktif di Berbagai Kegiatan
Sejak PKBM Tunas Bangsa memiliki program Pendidikan Keaksaraan, Nur Hidayah terlibat secara penuh dalam program-program tersebut, antara lain Pendidikan Keaksaraan Fungsional, Keaksaraan Usaha Mandiri, dan Keaksaraan Lanjutan. “Hampir setiap tahun sejak tahun 2006 saya memiliki tugas tambahan untuk mengajar di pendidikan keaksaraan. Pelaksanaannya biasanya sekitar 3 bulan dan dilanjutkan dengan laporan kegiatan ke dinas terkait,” katanya.

Di samping itu, ia pun kerap menjadi narasumber atau pengajar di berbagai program kewirausahaan masyarakat (PKM) yang diselenggarakan PKBM Tunas Bangsa, antara lain dalam kelas membatik dan membuat souvenir dari kain flannel. “Saya bertugas menjadi salah satu instruktur/narasumber untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat di bidang kewirausahaan masyarakat. Selama ini PKBM Tunas Bangsa telah menerima 40 orang peserta untuk program kewirausahaan masyarakat. Setiap program terdiri dari 20 peserta,” terangnya.

Tak hanya di PKBM Tunas Bangsa saja, Nur Hidayah pun menjadi tim narasumber ketrampilan yang bekerja sama dengan DIKSOSPORA Kota Semarang. “Ada banyak pelatihan ketrampilan yang telah saya ikuti dengan bekerjasama dengan Diksospora Kota Semarang, di antaranya pelatihan merangkai kain perca menjadi barang-barang bernilai jual yang berupa dompet hp, tas, taplak meja, dan lain-lain. Pelatihan ini dilaksanakan di Panti Asuhan Darul Hadlonah di Mangkang, Semarang, untuk melatih ketrampilan anak-anak di panti asuhan tersebut. Selain itu juga ada pelatihan tata boga untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial, serta pelatihan membuat hantaran dan di bidang kecantikan rambut. Saya sangat senang karena dapat berbagi ilmu dengan masyarakat dan sesama,” tutur Nur Hidayah.

Ia juga sempat menjadi  instruktur kursus menjahit tata busana di LKP setelah sebelumnya mengikuti kursus menjahit dan tes menjahit level I untuk asisten pembuat busana. Setelah mendapat ilmunya, Nur Hidayah bersemangat untuk menyalurkan kemampuannya. “Setelah lulus, saya bergabung dengan LKP Novita sebagai salah satu instruktur tata busana. Kebetulan LKP Novita telah menjalin mitra dengan PKBM sejak tahun 2005,” katanya.

Selain sibuk dengan kegiatan menjadi tutor ataupun instruktur, Nur Hidayah masih meluangkan tenaganya untuk mendirikan dan menjadi pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kelurahan Mangkang Wetan dan Mangkang Kulon, Semarang.

Menjadi tutor selama 9 tahun membuat Nur Hidayah beroleh banyak ilmu dan pengalaman. Suka dan duka pun telah dicicipinya dengan lapang dada. Bahkan tak jarang ia mendapatkan pengalaman yang penuh kesan. Misalnya ketika ia mendapat kejutan kado ulang tahun dari para warga belajarnya. “Pada saat saya berulang tahun, tanpa saya sadari peserta didik saya membuat kejutan kado ulang tahun untuk saya, saya sangat terharu atas perhatian mereka kepada saya,” kenangnya.

Ia pun tak jarang menghadapi warga belajar yang unik dan menarik. Contohnya antara lain salah seorang warga belajarnya yang punya minat belajar sangat tinggi hingga hampir setiap hari ia datang ke rumah Nur Hidayah supaya diajari mata pelajaran matematika. “Semangat belajarnya sangat tinggi, hingga orang tuanya pun memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar ke rumah saya,” kata Nur Hidayah, yang sama sekali merasa tak keberatan dengan ‘ulah’ warga belajar tersebut.

Sehari-harinya, Nur Hidayah cukup rajin dalam menjalankan profesinya. Menjalani rutinitas saban hari ia hayati dengan penuh sukacita. Bekerja sedari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore, di hari Senin, Rabu dan Sabtu dari 6 sore sampai pukul 9 malam. Tak terasa terlalu capek, karena jarak rumahnya menuju PKBM hanya kurang lebih 5km saja, yang biasa ia tempuh dengan sepeda motor atau angkutan umum.

Saat ini, ia hidup berbahagia dengan suami yang seorang pegawai swasta, dan seorang anaknya. Menikah pada tahun 2012 dengan Vicky Regananto membuat Nur Hidayah semakin bersemangat dan optimis menghadapi setiap tantangan hidup  yang terbentang di depan. Ia juga sangat bersyukur karena sang suami pun menaruh menaruh minat dan perhatian pada dunia pendidikan sehingga ia selalu mendukung penuh setiap langkah Nur Hidayah.  

Di waktu luang, jika tak sedang mengajar, ibunda dari Vinda Khalifa Alfahra ini masih menyempatkan diri untuk kadangkala memberi les pada anak-anak tetangga dan mengurus pekerjaan rumah tangga. Selain itu, ia pun masih sempat menjalankan wirausaha dengan menerima pesanan makanan atau nasi kotak.

Menang Berkat Media Pembelajaran
Pertama kali Nur Hidayah mendengar adanya Lomba PTK Berprestasi 2014 adalah melalui Dinas Pendidikan Kota Semarang. Dengan penuh semangat dan motivasi dari orang-orang terdekat, Nur Hidayah pun mempersiapkan diri dengan mengumpulkan dokumen-dokumen, dan mengikuti seleksi di Kota Semarang. Ia merasa sangat senang dan bangga berhasil lulus dari tahapan-tahapan seleksi, bahkan hingga sampai ke tingkat nasional. Manfaat nyata yang ia rasakan adalah ia dapat bertemu dengan tutor-tutor terbaik dari seluruh Indonesia. Baginya, menjadi tutor berprestasi adalah sebuah pengakuan yang luar biasa. Ia semakin termotivasi untuk selalu menggunakan ilmu yang diperoleh demi kepentingan masyarakat dan lingkungan.

Dalam lomba tingkat nasional, karya tulis dan presentasi yang dibawakan olehnya, yang membuatnya hingga memenangi lomba sebagai juara 1 adalah tentang media pembelajaran yang menarik dan inovatif, Poster Matik. Poster Matik adalah strategi alternatif untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar matematika. Nur Hidayah menciptakan inovasi ini setelah ia mengamati dan melakukan penelitian pada kegiatan warga belajar di PKBM Tunas Bangsa.

Menurutnya, proses pembelajaran matematika di PKBM Tunas Bangsa masih berpusat pada guru. Dalam pembelajaran di kelas, guru belum menerapkan model maupun metode yang sesuai dengan pembelajaran yang akan diajarkan. Warga belajar pun kurang diberi kesempatan untuk mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika, sehingga kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal-soal matematika masih rendah. Terbukti, dari hasil tes untuk mata pelajaran matematika pada dua tahun terakhir, yaitu tahun 2012/2013, nilai rata-rata warga belajar PKBM Tunas Bangsa adalah 6,4. Dan pada tahun 2013/2014, nilai rata-ratanya adalah 6,6. Ini berarti nilai rata-rata tes akhir warga belajar belum mencapai hasil yang maksimal, yaitu 7,0. Meskipun ada beberapa warga belajar yang memiliki prestasi menonjol, hal itu belum mampu menumbuhkan persaingan dalam memperoleh nilai.

Hal ini dikarenakan antara lain proses pembelajaran secara tatap muka yang dilakukan di PKBM Tunas Bangsa selama ini hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu dan masih berpusat pada tutor. Pembelajaran matematika hanya satu minggu dua kali pertemuan, serta belum menggunakan lembar kerja serta alat peraga/media pembelajaran. Tutor pun belum terbiasa menggunakan media pembelajaran, karena pembelajaran yang dilakukan masih bersifat ekspositori. Warga belajar sendiri masih terlihat rendah motivasinya. Tingkat kehadiran mereka kurang dari 75% dalam setiap bulannya. Selain itu aktivitas warga belajar juga masih rendah pada saat pembelajaran, terlihat dari sikap yang pasif dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, khususnya matematika.

Sebab lain yang diidentifikasi Nur Hidayah melalui surveynya antara lain tidak tersedianya tempat praktek pembelajaran matematika (laboratorium matematika), tidak tersedianya alat peraga matematika, perpustakaan tidak dimanfatkan secara optimal yaitu selama satu semester hanya 30% warga belajar yang memanfaatkan perpustakaan, warga belajar tidak mempunyai buku penunjang lain selain buku yang disediakan di perpustakaan, dan sebagian besar warga belajar memiliki motivasi belajar yang rendah, kemungkinan dikarenakan sudah keletihan setelah seharian bekerja.

Poster Matik
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka Nur Hidayah pun menciptakan Poster Matik, sebuah strategi alternatif untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar matematika bagi para warga belajar. Poster Matik merupakan akronim dari Poster Matematika Realistik dapat diartikan sebagai salah satu media pembelajaran yang berbentuk gambar atau tulisan yang dapat digunakan sebagai bahan ajar matematika. Dengan adanya Poster Matik akan dapat membantu  meningkatan motivasi  dan  aktivitas warga belajar untuk belajar matematika dengan lebih menyenangkan. Poster Matik dapat didesain sendiri oleh warga belajar, namun akan lebih baik  bila tutor juga membuat  Poster Matik terlebih dahulu sebagai rangsangan kepada warga belajar agar dapat meningkatkan ketrampilan dan kreativitasnya terhadap pembelajaran matematika yang realistik.

Poster Matik berisi tentang gambar atau tulisan tentang matematika, bisa berupa rumus matematika atau pertanyaan kognitif tentang matematika yang dapat merangsang pembacanya agar mau berfikir dan melakukan aktivitas matematika. Poster Matik digunakan dengan cara langsung untuk proses pembelajaran maupun dengan cara ditempel di majalah dinding (mading) terlebih dahulu. Diharapkan dengan ditempel di mading akan lebih meningkatkan motivasi belajar matematika terhadap warga belajar.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Nur Hidayah, disarankan kepada para tutor  di Kejar Paket A Tunas Bangsa Semarang pada saat mengajarkan materi bangun datar dan volum bangun ruang kubus dan balok, hendaknya menggunakan media poster matik berbantuan lembar kerja warga belajar. ***


 Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Majalah Dikdas dan Guru (Kemendikbud)



Profil Juara : Gigih Menjadi Guru Berprestasi


Fety Marhayuni, S.Pd.
Juara 1 Guru SD Berprestasi Nasional 2014

Pengabdiannya selama lebih dari 25 tahun menjadi guru berbuah manis. Sejak awal mula menjadi guru, Fety Marhayuni, S.Pd  telah berkomitmen untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan dan senantiasa berusaha menjadi guru terbaik supaya menjadi tauladan. Impiannya kini tercapai. Tahun 2014, Fety dinobatkan sebagai Juara 1 Guru Berprestasi Nasional 2014.

Sejak duduk di bangku SD, Fety sudah bercita-cita menjadi guru. Ia berkeyakinan bahwa orang  yang mengajarkan ilmu keabaikan kepada orang lain akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Tuhan. Namun untuk mewujudkan cita –citanya, ia harus benar-benar berusaha keras. Terlebih ia dibesarkan  oleh orang tua yang hidup dalam kesederhanaan. “Ayah saya seorang pegawai negeri golongan rendah yang harus menghidupi 4 orang anaknya,” Fety mengisahkan.

Fety terjun ke dunia pendidikan sejak tahun 1986, dengan menjadi guru wiyata bakti di SDN III Selorejo, Wonogiri. Baru pada tahun 1993 ia diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di SDN III Gemawang, Wonogiri. Pada tahun 1999, ia dipindah ke SDN IV Girimarto, Wonogiri, hingga sekarang. Di SDN IV Girimarto, Fety menjadi wali kelas V dengan 25 jam mengajar per minggu.

Bagi Fety, kiatnya menjadi guru adalah dengan berusaha mengabdikan diri secara maksimal untuk mengantarkan peserta didik meraih prestasi dan bekerja tulus ikhlas tanpa pamrih. Oleh karena itu, ia banyak belajar dari tokoh idola, Ki Hajar Dewantara.

Tahun 1990, Fety menikah dengan Saryono, salah seorang staf di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri. Dikaruniai 2 anak, ia merasa bersyukur karena kehidupan keluarganya sangat harmonis. Bagaimanapun, harapannya adalah dapat menjadi suri tauladan yang baik bagi anak-anaknya. “Dalam kehidupan sehari-hari, kami berusaha menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keagamaan, mengutamakan musyawarah dalam pemecahan masalah, menanamkan sikap saling menghormati, jujur, terbuka, disiplin, tanggungjawab, ikhlas, saling membantu  serta berbuat sesuai norma, baik norma agama, hukum dan masyarakat yang berlaku,” tuturnya.

Selama sibuk dengan aktivitas mengajar, Fety juga selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan, ketrampilan, dan bakat-bakatnya. Dambaannya adalah ingin menjadi guru berprestasi yang menjadi teladan di sekolah maupun masyarakat. Oleh karena itu, ia kerap mengikuti lomba Guru Berprestasi, mulai dari tingkat sekolah, kecamatan, hingga nasional. Berbagai prestasi dan penghargaan telah diraihnya.

Fety pun berusaha untuk selalu menjadi guru kaya, yakni dengan cara membangun mental penuh percaya diri, bangga dan senantiasa bergairah dalam menjalani tugas, mensyukuri nikmat Tuhan, mau mengubah nasibnya sendiri, menjaga ketenangan jiwa dan berorientasi untuk beribadah kepada Allah, optimis dalam mengembangkan profesi melalui mengajar yang baik, serta berusaha menempatkan profesi guru menjadi profesi terhormat diantara profesi lainnya.

Di samping itu, ia pun giat untuk menumbuhkan memotivasi murid-muridnya dalam belajar supaya minat baca meningkat. Antara lain dengan cara mewajibkan peserta didik membaca buku, baik buku tentang ilmu pengetahuan, maupun buku-buku pengayaan dengan membuat ringkasan materi yang dibaca peserta didik, sering mengadakan lomba-lomba di sekolah, memberikan bimbingan untuk mencari informasi penting, misalnya melalui internet, buku kamus, buku perpustakaan,dan lain-lain, serta menugaskan murid untuk membuat majalah dinding kelas secara kontinyu.

Sebagai guru, Fety juga berusaha untuk selalu menanamkan atau membiasakan perilaku yang baik dengan memberi contoh dan tindakan nyata. “Dahulu, ketika saya mengajar di kelas I dan II , murid saya banyak yang tidak mandi dan terlihat kotor. Agar mereka membiasakan  diri mandi setiap pagi , salah satu  cara yang saya lakukan adalah mengajak dan mengajari anak-anak mandi, gosok gigi, dan keramas  bersama- sama setiap hari Jumat. Selanjutnya, untuk menanamkan pendidikan karakter, pada waktu Sholat Zuhur anak-anak sholat berjamaah ke masjid dekat sekolahan. Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, anak-anak pun dibiasakan menyanyikan lagu Indonesia Raya,” tutur Fety.
 
Selama menjadi guru, Fety pun giat mengajak rekan guru-guru lainnya untuk bekerja sama memantau keberhasilan murid-murid dan mencari murid yang memiliki kelebihan-kelebihan, baik itu di bidang akademik maupun seni/ketrampilan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Harapannya, anak-anak dapat dibimbing sejak dini supaya bakat mereka menjadi lebih berkembang nantinya. “Misalnya, untuk kegiatan seni tari satu minggu sekali, sejak kelas satu para peserta didik saya latih dasar-dasar tari dan bentuk tari yang sederhana, sehingga di kelas atas para peserta didik sudah siap pentas. Sedangkan dalam kegiatan bercerita, saya bersama dengan guru yang lain juga membiasakan mereka dengan memberi tugas membaca buku perpustakaan kemudian merangkum dan menceritakan isinya sesuai dengan kemampuan mereka agar tumbuh keberaniannya dan percaya diri,” terang Fety.

Fety pun tak segan membuat buku catatan pribadi murid-muridnya. Yakni sebuah buku yang berisi tentang catatan kelemahan dan keunggulan yang dimiliki siswa. “Dengan buku ini, kegiatan pembimbingan bakat peserta didik lebih mudah. Bakat anak dari awal dapat saya ketahui, selanjutnya saya mengarahkan dan membimbing mereka,” jelasnya.

Tak pelak, siswa-siswa SDN IV Girimarto pun kerap mendapat prestasi dan penghargaan di berbagai bidang. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, Fety maupun guru-guru SDN IV Girimarto, sering mengantarkan siswa-siswanya meraih kejuaraan lomba, baik di bidang akademik, seni, dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi. “Bukti kejuaraan yang saya dokumentasikan yaitu prestasi tingkat  kecamatan sebanyak 109 piagam, prestasi tingkat kabupaten sebanyak 21 buah, dan prestasi di tingkat provinsi sebanyak 3 buah.

Untuk menunjang kinerjanya, pengembangan diri yang pernah Fety lakukan adalah dengan mengikuti pelatihan di bidang seni tari, ICT/computer, orientasi program video atau TV KKG Bermutu. Fety berharap, di era globalisasi ini ia mampu menjadi guru profesional yang mempunyai kemampuan teknis edukatif, mempunyai kepribadian yang dapat diandalkan sebagai panutan bagi siswa-siswanya, keluarga, maupun masyarakat dan mampu mempersiapkan SDM yang berkualitas dalam menghadapi era global serta tetap semangat dan tulus ikhlas menjalankan tugas/kewajiban.

Ke depan, ia berencana untuk terus meningkatkan kinerja, belajar ICT lebih mendalam, memperbaiki kegiatan pembelajaran agar maksimal, meningkatkan kemampuan dengan menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mengembangkan potensi peserta didik sesuai minat dan bakat, dan membuat karya inovatif untuk meningkatkan pembelajaran. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Majalah Dikdas dan Guru (Kemendikbud)


Profil Juara : Sang Jawara dari Kalimantan Timur


Perma Bakti, M.Pd.
Juara 1 Guru SMP Berprestasi Nasional 2014

Perma Bakti, M.Pd., sangat meyakini bahwa setiap jalan hidup manusia yang telah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Ia telah banyak membuktikannya selama 36 tahun perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, pria kelahiran Ulundanau, 19 Februari 1978 ini banyak bersyukur dengan apa yang telah dijalani dan diperolehnya. Termasuk menjadi Juara 1 Guru SMP Berprestasi Nasional 2014.

Perma Bakti besar di sebuah desa kecil yang tenang dan damai di Baturaja, Kabupaten Oku Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Ia hidup di tengah-tengah keluarga sederhana yang bersahaja dan religius. Ayahnya yang seorang guru memiliki sebuah pesantren di rumahnya, khusus untuk anak-anak supaya mereka dapat belajar agama dengan baik. Oleh karena itu, Perma dididik menjadi seorang pribadi yang mandiri, tidak manja, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Apalagi ia adalah anak kedua, yang juga anak kembar, dari tujuh bersaudara. Maka Perma pun dituntut untuk senantiasa memberikan contoh yang baik bagi adik-adiknya. “Sekilas terlihat keras. Tapi sebenarnya cara mendidik orangtua kami itu sangat baik, karena manfaatnya benar-benar kami rasakan ketika kami dewasa. Misalnya, Bapak saya benar-benar melarang anaknya merokok. Jika sampai ketahuan merokok, maka ia tak segan untuk memukul kami dengan rotan. Manfaatnya, hingga kini saya tidak merokok. Bahkan dengan baunya saja saya tidak suka,” kenang Perma.

“Demikian pula ketika orangtua kami sibuk bekerja di kebun, maka kami dituntut untuk setidaknya membantu menjaga adik dan merawat rumah. Saya mereka pulang dari kebun, rumah harus benar-benar bersih, nasi sudah harus tersedia, meski kami tak diharuskan memasak lauk-pauk,” tambahnya lagi.

Kini Perma merasa bahwa hasil didikan orangtuanya juga turut mengantarkan kesuksesan baginya. Termasuk sukses menjadi pemenang di ajang bergengsi penghargaan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2014. Dulu, ayahnya lah yang menyarankannya untuk menjadi guru dan kuliah di IKIP. Awalnya, setelah lulus dari MAN 2 Palembang (menginjak bangku SMA, Perma pindah ke Palembang, meninggalkan desa dan orangtuanya karena di desanya belum ada SMA), Perma ingin melanjutkan kuliah di jurusan Teknik Pertanian. Namun demi mengindahkan saran ayahnya, maka ia pun juga memilih IKIP Malang Jurusan Fisika sebagai pilihan kedua. Pilihan pertamanya adalah Jurusan Matematika UNSRI, sama seperti saudara kembarnya. Namun rupanya takdir mengatakan bahwa Perma diterima di IKIP Malang jurusan Fisika.

Pertama Kali Merantau
Waktu itu, Perma sama sekali tidak tahu dimanakah letak Kota Malang berada. Bahkan keluar dari Pulau Sumatera pun ia belum pernah. Maka dengan diantar kakaknya – yang juga belum pernah ke Malang, Perma pun berangkat menuju kampus barunya. Saat itu ia sempat terlambat untuk registrasi dikarenakan ia terlambat melihat pengumuman kelulusan. Namun untunglah pihak universitas, dengan kebijakannya, memaklumi keterlambatan Perma dikarenakan ia berasal dari luar Jawa. “Waktu saya masuk, saya sudah terlambat ospek selama 1 hari...” kisahnya.

Dan beruntung pula ia, karena pada hari itu juga Perma segera mendapatkan kos-kosan. Salah satu pegawai universitas menawarinya. Ternyata Perma sangat menyukai kos-kosan tersebut sehingga ia bertahan di sana bahkan sampai lulus kuliah. Tak heran jika hubungannya dengan bapak kos begitu baik, seperti layaknya bapak dan anak. Perma seringkali diajak jalan-jalan, makan bersama, bahkan acapkali diminta untuk memijat bapak kos. 

Di IKIP Malang yang kemudian pada tahun 1996  berubah menjadi Universitas Negeri Malang, Perma pun aktif di organisasi. Sejak duduk di bangku sekolah, ia memang senang mengikuti organisasi. “Di MAN 2 Palembang, saya adalah pengurus OSIS. Di SMP juga menjadi bendahara OSIS. Hingga di Universitas, selain aktif di HMJ, saya juga aktif di Pramuka. Namun karena jadwal HMJ dan Pramuka seringkali bentrok, akhirnya saya hanya aktif selama satu tahun di Pramuka. Saya juga aktif di Dewan Mahasiswa Fakultas, dan juga aktif di organisasi PMII. Sekarang saya baru merasakan bahwa organisasi sangat berguna untuk kehidupan,” katanya. 

Kuliah di Universitas Negeri Malang pun ternyata menuntunnya untuk menemukan jodohnya, yang ternyata adalah teman sekelasnya. “Mulanya dia di jurusan Biologi, tapi ketika semester 3 pindah ke jurusan Fisika. Akhirnya ketemu dengan saya. Saya nikah bulan Juni 2003. Waktu itu saya sudah bertugas di Bontang. Sekarang istri saya adalah guru PNS di SMA Negeri 2 Bontang,” Perma memberitahu.

Selama 4,5 tahun belajar di Universitas Negeri Malang, tahun 2001, akhirnya Perma dinyatakan lulus. Di saat yang sama, Perma mendapati adanya lowongan di Yayasan Pupuk Kaltim Bontang untuk menjadi guru. Maka tanpa ragu-ragu, Perma dan kawan-kawannya pun membuat surat lamaran. Tak lama berselang, ia pun mengikuti tes penerimaan; mulai dari tes potensi akademik, praktek mengajar, hingga psikotes yang dilaksanakan di UNAIR Surabaya, yang kemudian hanya menyisakan 3 orang, termasuk Perma. Setelah melalui serangkaian tes hingga tes akhir, Perma harus menunggu beberapa hari untuk mengetahui pengumumannya.

Pada masa menunggu hasil tes dari Yayasan Pupuk Kaltim itulah tiba-tiba Perma mendapat tawaran lowongan dari Ketua Jurusannya untuk mengajar di MTs 1 Malang. Dengan penuh antusias ia pun langsung  menerima tawaran tersebut dan mendatangi sekolah tersebut untuk berjumpa dengan kepala sekolahnya. Rupanya Perma langsung diterima saat itu juga, dan diminta untuk mengajar pada keesokan harinya. Perma masih ingat, gaji pertamanya mengajar di MTs 1 Malang itu adalah sebesar 180 ribu rupiah, yang langsung habis dalam sehari untuk mentraktir teman-temannya menonton bioskop.

Gagal Berangkat
Selang beberapa hari kemudian, keluarlah pengumuman dari Yayasan Pupuk Kaltim. Perma dinyatakan diterima menjadi guru di Yayasan Pupuk Kaltim Bontang. Senang tiada terkira yang dirasakannya. Sesegera, Perma pulang ke Sumatera untuk memberi tahu kabar bahagia sekaligus berpamitan. Namun sesampai di Sumatera, rupanya pada saat itu pesantren di rumahnya sedang mengadakan kegiatan pengajian. Maka tak pelak Perma pun turut serta dalam kesibukan itu. Namun rupanya kegiatan tersebut membuatnya amat lelah, sehingga Perma pun menunda kepulangannya ke Jawa.
Sesampai di Jawa, ia menyadari bahwa ternyata ia telah terlambat. Rombongan yang diterima di Yayasan Pupuk Kaltim dari Jawa telah diberangkatkan ke Bontang. Namun karena kondisinya yang waktu itu masih tak memungkinkan untuk menyusul ke Bontang, maka akhirnya Perma pun mengirimkan kabar ke Yayasan bahwa untuk saat itu ia tak bisa berangkat ke Bontang, dan berharap Yayasan segera menemukan penggantinya, rekannya yang lain. “Akhirnya salah satu teman saya satu kelas yang asli Kaltim dipanggil dan tes disana. Jadilah dia yang diterima,” katanya. Sementara itu, Perma pun kembali mengajar di MTs 1 Malang.

Setahun kemudian, pada tahun 2002, tiba-tiba Perma kembali menjumpai adanya lowongan pendidik di Yayasan Pupuk Kaltim. Perma menjadi begitu bersemangat karena sejak lama ia berharap mendapat kesempatan itu. Namun karena merasa dulu sudah pernah diterima, maka Perma pun langsung menghadap Kepala Bagian Personalia Yayasan Pupuk Kaltim. Ia menceritakan bahwa dulu ia sempat dinyatakan diterima, namun tak bisa langsung berangkat dengan alasan kondisi fisiknya yang saat itu tak memungkinkan. Kepala Bagian Personalia itu kemudian menyarankannya untuk bertemu dengan Kepala Sekolah Yayasan Pupuk Kaltim yang kebetulan pada saat itu juga berada disitu. “Ya sudah, kalau begitu mari kita lihat hasil tes para pelamar yang sekarang ini. Kalau hasil mereka di atas Anda, maka Anda gagal berangkat,” kata Kepala Sekolah itu. Beruntunglah Perma waktu itu, karena ternyata hasil tes para pelamar tersebut masih di bawah hasil tesnya pada tahun lalu. Maka berangkatlah ia ke Bontang, menjadi guru di Yayasan Pupuk Kaltim.

Setelah pamit dengan tempat mengajarnya, Mts 1 Malang, Perma bersama 9 orang lainnya berangkat menuju Bontang. “Sesampai di Balikpapan, kami naik pesawat lagi ke Bontang. Sampai di Bontang, kami dijemput dan ditempatkan di mess yang sudah disediakan. Ternyata sudah ada 4 orang disana yang berasal dari penerimaan lokal. Jadinya, kami menjadi ber-13 orang,” kata Perma.

Selama seminggu pertama, Perma dan kedua belas guru baru lainnya mengikuti orientasi dan outbond yang diadakan oleh Yayasan Pupuk Kaltim. “Kami diajak melihat-lihat pabrik, sekolah-sekolah, dan lain sebagainya. Baru minggu berikutnya kami mengajar,” kata Perma. Waktu itu, Perma ditugaskan untuk mengajar SMA, menggantikan kawannya yang diterima tahun sebelumnya namun kemudian mengundurkan diri karena memutuskan untuk mengikuti suaminya.

Namun karena pada waktu itu adalah bulan Mei, yakni bulan yang mendekati tahun ajaran baru, para guru baru tersebut hanya mengalami masa mengajar yang singkat. Perma sendiri pun dipindah untuk mengajar SMP Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) pada tahun ajaran baru, yang bertahan hingga saat ini.
Pada tahun September 2011, Perma mengikuti PLPG dan kemudian  dinyatakan lulus. Pada bulan Oktober, ia mendapati pengumuman dari Dinas Pendidikan Provinsi bahwa guru-guru RSBI  (saat itu SMP YPK adalah sekolah RSBI) diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Malang. “Kami pun senang. Maka banyak teman-teman kami, termasuk saya, mendaftar. Setelah kami tes di Dinas Pendidikan Samarinda, Kami lulus dan dinyatakan dapat melanjutkan sekolah lagi. Tapi ternyata bukan di UM, melainkan di Unesa. Kami kaget, kok sekarang jadi Unesa. Tapi mungkin semua ini sudah diatur oleh Allah SWT. Karena sebenarnya dengan kami ke Unesa, kami justru mendapat lebih banyak kemudahan,” kata Perma.

Pada saat itu, ia dan istrinya yang juga seorang guru mengikuti program tersebut, dan istrinya pun juga dinyatakan lulus. Maka Perma dan istri pun harus pindah sementara ke Jawa untuk menyelesaikan studi bersama. Otomatis, mereka pun harus membawa anak-anak mereka. “Saya pikir, kalau saya di Malang, maka saya harus mencari kontrakan dan pengasuh anak. Tapi kalau di Unesa, ada kakak istri saya yang tinggal di Surabaya sehingga kami bisa menumpang sementara di rumahnya. Selain itu, setiap minggu, istri saya yang asli Gresik pun bisa pulang ke rumah,” kata Perma. Hal lain yang ia syukuri adalah bahwa ia dan istrinya dapat menyelesaikan S-2 Pendidikan Sains hanya 20 bulan.

SMP Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang
SMP Yayasan Pupuk Kaltim (YPK) berada di Jalan Cipto Mangunkusumo No. 1 Bontang, Kalimantan Timur. SMP yang berdiri sejak tahun 1983 ini awalnya terkonsep sebagai tempat untuk menyekolahkan anak para karyawan PT Pupuk Kaltim, supaya mereka mendapat pendidikan yang layak seperti halnya di tanah Jawa. Pasalnya, banyak orang Jawa merasa tidak tertarik untuk bekerja di PT Pupuk Kaltim karena sebagian dari mereka khawatir dengan kualitas pendidikan anak-anaknya. “Sebelum saya masuk, hampir sebagian besar guru-guru disini berasal dari Jawa. Makanya, meski saya berada di Bontang, rasanya tidak seperti di Bontang, karena sebagian besar orang di sekeliling saya adalah orang Jawa. Tapi sekarang Yayasan Pupuk Kaltim pun memprioritaskan orang lokal untuk direkrut terlebih dahulu,” ungkap Perma.

Sejak dulu, SMP YPK selalu menjadi sekolah favorit di Bontang. Ada pula sekolah milik Yayasan PT Badak, yang kerap menjadi saingan SMP YPK. Hal ini dikarenakan pada periode lalu, sekolah negeri masih belum mampu untuk bersaing dengan sekolah swasta. Namun seiring waktu, saat otonomi daerah mulai diberlakukan atau saat pemerintah mulai memperhatikan sekolah-sekolah negeri, maka sekolah-sekolah negeri di Bontang pun mulai bermunculan, sehingga persaingan kualitas pun semakin ketat. Kendati demikian, menurut Perma, kualitas SMP YPK dan kepercayaan yang diberikan masyarakat masih dipertahankan dengan baik. Bahkan pada Ujian Nasional tahun ini, peroleh nilai tertinggi se-kabupaten masih diraih oleh SMP YPK.

Sekolah yang saat ini dipimpin oleh sekolah Suroto, S.Pd. ini pada tahun ajaran 2014/2015 menerima siswa baru sebanyak kurang lebih 200 siswa, yang tentunya hasil dari penyaringan yang sangat ketat. Itupun masih diklasifikasikan antara kelas cepat dan kelas agak cepat. Total kesemuanya ada 23 rombongan belajar. Dengan jumlah tenaga pendidik dan kependidikan sebanyak 53 orang, pembelajaran cukup berjalan efektif dan efisien. Apalagi fasilitas, sarana, dan prasarananya sangat memadai. Setiap kelas sudah dilengkapi LCD, sound system, hingga air conditioner. Pembelajaran pun berbasis TIK, dimana penggunaan internet sudah tak asing lagi. Setiap rombongan belajar terdiri dari 26 – 30 siswa.

Para guru yang mengajar di SMP YPK pun adalah guru-guru yang sangat berkualitas. Dalam proses pembelajaran, mereka telah disediakan laptop. Guru-guru di SMP YPK juga dituntut untuk rajin dan termotivasi untuk melahirkan inovasi-inovasi menarik dalam pembelajaran. Ditambah dengan adanya kewajiban sertifikasi, tak ada satupun guru di SMP YPK yang memiliki jam mengajar sedikit. Untuk kualifikasi, sudah ada 6 guru yang telah melanjutkan pendidikan hingga S-2. Demikian pula banyak para guru yang telah meraih prestasi.

Di samping itu, Yayasan Pupuk Kaltim pun memiliki program rutin demi meningkatkan kualitas dan kompetensi para guru berupa pelatihan atau training, yang diselenggarakan setiap tahun. “Kami pun juga sering ikut program dari Dinas Pendidikan, baik itu di tingkat kabupaten maupun provinsi. Kami cukup sering mewakili kota/daerah. Jadi kami sering kemana-mana. Saat ini kami bahkan berencana hendak mengadakan seminar nasional tentang kurikulum 2013 dengan mendatangkan narasumber yang langsung terlibat dalam penyusunan kurikulum 2013,” terang Perma.

Kurikulum 2013 Lebih Menyenangkan
SMP YPK saat ini telah menerapkan Kurikulum 2013, terutama kelas 7 dan kelas 8. Perma Bakti sendiri saat ini mengajar di kelas 8 dan kelas 9. Menurut Perma, Kurikulum 2013 ini cukup bagus asalkan para pelaksananya benar-benar diberikan pemahaman. “Banyak guru yang sudah dilatih dan memahaminya merasa sangat nyaman dan tertarik dengan Kurikulum 2013. Saya sendiri masih belum mengikuti pelatihan 2013. Jadi untuk sementara, saya banyak browsingi internet. Tapi teman-teman saya juga banyak yang mengikuti pelatihan Kurikulum 2013, sehingga saya bisa banyak bertanya pada mereka. Semestinya sekarang ini waktunya saya ikut pelatihan, tapi karena saya ikut ajang guru berprestasi ini, jadi waktunya bertabrakan,” kata Perma.

Ia pun menceritakan bahwa dengan menggunakan Kurikulum 2013, asalkan gurunya benar-benar memahami bagaimana mengelola kelas dan mampu menciptakan suasana, anak-anak pun juga merasa antusias. “Kami lebih banyak praktek di lapangan dan langsung mengamati, sehingga kelas kami benar-benar hidup. Misalnya saat mengamati tumbuhan putri malu,” Perma memberikan contoh.

Di mata siswa-siswanya, pria yang telah 13 tahun menjadi guru ini mengatakan bahwa sekilas ia kelihatan galak. “Tapi kalau mereka sudah kenal saya, saya marah pun anak-anak tertawa. Itulah yang kadang juga tidak saya sukai. Waktunya saya serius marah, anak-anak tidak percaya. ‘Pak Perma itu marah atau bercanda sih...’” katanya. “Tapi saya selalu berusaha membuat anak-anak itu menikmati. Artinya tidak terpaksa, dan juga tidak meremehkan. Jadi kalau mereka belum siap untuk mulai belajar, maka saya pun tidak memulai. Contohnya, ketika memulai tahun ajaran baru, kebetulan buku pelajaran masih belum ada. Saya pun berpikir bagaimana caranya supaya anak-anak bisa tetap belajar. Maka saya pun ngeprint soft copynya satu bab saja. Kemudian saya buatkan tampilan sehingga anak-anak bisa melihat di layar. Kadang saya bagikan filenya, dan meminta mereka mencari buku Kurikulum 2013 di internet. Akhirnya mereka mencari sendiri dan belajar juga,” tambahnya.
 
Kendati demikian, SMP YPK mengklasifikasikan siswa ke dalam golongan kelas cepat dan kelas agak cepat. Menurut Perma, pengklasifikasian tersebut justru lebih memudahkan guru dalam mengimplementasikan metode pembelajaran. “Kita harus mengenal karakter siswa. Kalau anaknya cepat, maka gurunya pun nyantai, karena apapun yang diperintahkan langsung jalan. Tapi bukan berarti kelas yang agak cepat jadi susah dan berat, lho. Justru pada tahun kemarin saya menjadi wali kelas yang agak cepat. Nyatanya, saya justru lebih menikmati. Tapi semester sekarang saya diberi kelas yang cepat. Maka saya bilang bahwa saya telah terlanjur menikmati kelas yang dulu. Ada kelebihan dan kekurangan masing-masing di kelas tersebut. Di satu sisi, jika anak itu kognitifnya bagus, maka daya tangkapnya pada pelajaran pun cepat. Tapi di sisi lain, anak yang pintar itu juga kadangkala tata krama dan kesopannannnya kurang, sehingga kami pun harus ekstra dalam memberikan pemahaman pada mereka. Mungkin karena mereka merasa bisa atau superior. Tapi kalau di kelas yang agak cepat justru anak-anaknya lebih nurut dan santun,” Perma mengungkapkan.

Mengintegrasikan TIK
Salah satu inovasi Perma dalam pembelajaran adalah dengan mengintegrasikan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) ke dalam mata pelajaran. Inovasi ini pula lah yang diangkat Perma menjadi karya tulis yang diajukannya pada lomba Guru Berprestasi Nasional 2014. Menurut Perma, metode ini pun dapat meningkatkan ketrampilan berpikir siswa. “Dengan model kooperatif dan bantuan TIK, saya ingin kemampuan berpikir kritis siswa meningkat. Model pembelajaran kooperatif dengan bantuan TIK yang saya buat ini rupanya cukup berhasil. Jadi, di samping mereka saya berikan tampilan berupa gambar, video dan tulisan-tulisan, saya juga menugasi mereka mencari bahan-bahan di internet. Jadinya, siswa menjadi berpikir lebih kritis,” terangnya.

Dalam mempersiapkan karya tulis, obyek penelitian Perma adalah kelas 7 yang diajarnya. “Kebetulan pada penelitian saya, saya mengambil topik tentang pemuaian. Tapi ternyata alatnya sempat kurang. Akhirnya saya cari botol obat sebagai pengganti alat yang kurang. Saya membelinya di toko laboratorium,” cerita Perma. “Jadi setelah saya berikan informasi dengan video, gambar, dan sebagainya, kemudian saya bawa anak-anak ke laboratorium untuk praktek. Kemudian mereka mengisi pertanyaan-pertanyaan yang itu tidak bisa ditebak-tebak jika mereka tidak melakukan praktek dengan benar,” tambahnya lagi. Rupanya, metode demikian cukup berhasil, karena Perma melihat bahwa hasil tes anak-anak cukup baik.

Perma sendiri telah seringkali mengikuti berbagai lomba dan telah pula mendulang banyak prestasi. Mulai dari tahun 2006, ia pernah menjadi juara 2 Lomba Inovasi Pembelajaran SMP Tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Pada tahun 2007, menjadi juara 3 Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran Tingkat Yayasan. Tahun 2008 pernah mendapat Juara 3 dan Juara 2 dalam Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran Tingkat Yayasan di waktu yang berbeda.  Tahun 2009 juga menjadi Juara 3 Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran Tingkat Yayasan. Pada tahun 2009 menjadi Juara 2 dan Juara 3 Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran Tingkat Yayasan di waktu yang berbeda. Pernah pula mendapat The Fourth Runner-up pada ajang ETC spelling Bee pada tahun 2009. Tahun 2010 masuk sebagai semi finalis dalam Lomba Pengembangan Media Pembelajaran Tingkat Regional Kalimantan Timur, pernah menjadi Juara 1 Lomba Penulisan Artikel Pendidikan Tingkat yayasan, dan pada tahun 2011 pernah masuk sebagai semi finalis dalam Lomba Multimedia Tingkat Nasional, yaitu National Competition of Technology Integration.

Anggap Sebagai Try Out
Saat ditawari kepala sekolahnya untuk mengikuti Lomba Guru Berprestasi 2014, Perma sempat merasa sangsi, karena menurutnya waktu itu sangat mepet, sekitar akhir Februari 2014. Pasalnya, ia merasa belum siap, terlebih dalam menyiapkan portofolionya. Ia katakan bahwa ia baru siap untuk mengikuti lomba pada periode tahun 2015 nanti. “Namun ternyata Kepala Sekolah telah mendaftarkan saya. Saya setengah dipaksa untuk ikut, akhirnya saya pun terpaksa ikut. Tapi saya bilang pada Kepala Sekolah, saya bersedia ikut asal jangan dibebani dengan target. Kepala Sekolah saya mengatakan, aggap saja saya sedang mengikuti try out,” kata Perma. “Setelah mendaftar, saya segera menyusun portofolio dan sebagainya. Dan tidak lama langsung tes di kabupaten kota,” tambahnya.

Di tingkat Kabupaten Bontang, rupanya saingan Perma tidaklah banyak, kurang dari 10 orang. Tak mengalami kesulitan berarti, Perma pun dinyatakan sebagai juara di tingkat kabupaten, sehingga ia berhak melaju ke tingkat provinsi. Sebelum melaju ke tingkat Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten Bontang sempat memiliki inisiatif untuk membimbing para perwakilan Bontang sebagai persiapan untuk bertempur di tingkat provinsi. “Kami, yang terdiri dari 8 orang ini berlatih presentasi KTI dan sebagainya. Kalau saya pikir-pikir, sebenarnya lebih kejam disitu tesnya ketimbang di tingkat nasional ini,” kata Perma. Dan rupanya usaha tersebut tidak sia-sia, karena di tingkat Provinsi, juara 1 dan juara 3 diperoleh Kabupaten Bontang. 

Di tingkat Provinsi, Perma harus menghadapi 12 pesaingnya yang lain, perwakilan dari berbagai kabupaten. “Kami dilatih lebih keras lagi. Kami dikarantina di hotel dan diberi pelatihan intensif. Kami memberi presentasi dan dikomentari semuanya, baik juri maupun kawan sendiri. Yang melatih kami adalah dosen dari Universitas Mulawarman (Unmul). Di samping itu, semua alumni juara dari Kalimantan Timur juga diundang untuk melatih kami, memberikan materi, memberikan testimoni juara, serta memompa semangat kami.  Beberapa narasumber pun juga didatangkan dari Jawa,” kata Perma. Menurutnya, Kalimantan Timur sudah beberapa kali menjadi juara, sehingga semakin lama persiapannya semakin matang. Meski bagi Perma ini adalah pengalaman pertama, namun ia pun merasa optimis untuk melaju ke tingkat nasional. Meski demikian, saat disebut ia menjadi juara 1 Provinsi, ia sempat tidak percaya. Perma merasa bahwa saingan-saingannya luar biasa.

Di tingkat provinsi, Perma juga bertemu dengan para alumni juara dari Bontang. “Umumnya mereka mendapat juara 2. Sampai ada sebutan bahwa Bontang itu adalah spesialis juara 2,” kata Perma sambil tertawa.

“Di tingkat nasional, saya merasa tidak punya beban karena saya tidak memasang target. Saya anggap ini sebagai try out saja. Lagipula, ternyata disini lebih santai. Makanya saya heran karena banyak yang bilang katanya akan dibantai duluan... Ternyata nggak begitu... Bahkan ketika kami masuk ruang tes sudah diberi selamat duluan,” ujar Perma.

“Saya benar-benar tidak menyangka kalau saya jadi juara. Karena biasanya kan pemenangnya dari Jawa Tengah, atau Jawa Timur. Ketika saya lihat Jawa Tengah saat tes, portofolionya sampai 3 kontainer. Aceh bahkan lebih besar lagi. Saya lihat ada juga teman yang gelarnya sudah doktor. Maka saya merasa tahu diri lah, cukup memahami andai saya tidak dapat juara.  Itulah yang membesarkan hati saya,” tambahnya lagi.


Oleh karena itu, ayah dua anak ini merasa sangat bersyukur, karena akhirnya ia memecahkan rekor dengan menjadi Juara  1 dari Bontang, yang sebelumnya sempat disebut spesialis juara 2. “Saya segera SMS Kepala Sekolah saya, Kepala Bidang, Pengawas, dan juga Pembimbing yang dari Unmul,” ceritanya. Perma pun semakin bangga karena dari Kalimantan Timur, terdapat 1 lagi PTK Berprestasi Nasional, yakni Kepala TK. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Majalah Dikdas dan Guru (Kemendikbud)

Profil Juara : Sahabat Pemantik Belajar Siswa


Siti Sa’ariah Kamila, M.Pd.
Juara 3 Guru SMP Berprestasi Nasional 2014

Sebagai seorang yang lahir di tengah lingkungan keluarga yang sebagian besar menjadi guru, wanita kelahiran Bandung, 9 Desember 1970 ini pun juga termotivasi untuk menanamkan cita-citanya, hendak menjadi seorang guru. “Kakek saya berjuang di jaman Belanda dengan menjadi guru. Ibu saya juga seorang pendidik. Dengan demikian, menjadi guru bagi saya merupakan pilihan luar biasa. Saya meyakini belajar dan mengajar dalam hal keilmuan merupakan amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir sampai kita masuk liang lahat,” kata Mila, demikian ia akrab dipanggil. Tak heran jika ibu adalah sosok figur paling berpengaruh bagi Mila dalam merintis karirnya sebagai guru.
Meneruskan kuliah di IKIP Bandung Jurusan FMIPA Biologi tahun 1994 dan lulus tahun 1997. Mila langsung melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 FMIPA Bio SL pada tahun 1997 hingga 1999.
Mila mengawali karirnya pada tahun 1993 menjadi CPNS melalui ikatan dinas dari D-3 FMIPA ITB. Ia ditugaskan untuk mengajar di SMP Negeri 1 Paseh, di daerah Majalaya, Bandung. Saat itu, gaji pertama yang diperolehnya hanya sebesar 83 ribu rupiah. Namun setelah Mila menikah, ia memutuskan untuk mengikuti suami dan pindah mengajar untuk mendekati lokasi tempat tinggalnya. “Tapi kenangan indah selama saya mengajar di SMP Negeri 1 Paseh tidak akan hilang selamanya. Siswa yang pernah saya ajar dulu masih banyak yang suka menelepon saya, demikian pula dengan rekan-rekan guru lainnya, masih saling bersilaturahmi,” cerita Mila. Maka sejak tahun 1997, Mila pun mengajar di SMP Negeri 1 Margahayu, Bandung, Jawa Barat.

Sebagai seorang guru IPA, Mila selalu berusaha untuk menyesuaikan metode mengajarnya dengan kemampuan siswa. Kendati demikian, ia pun senantiasa mencari inovasi-inovasi pembelajaran yang menarik supaya minat siswa untuk belajar meningkat. Tak segan ia pun mengajak siswa-siswanya untuk melakukan outdoor activity selama pembelajaran. Dan menurut Mila, kegiatan ini justru lebih mengasyikkan dan membuat siswa semakin antusias dalam belajar, karena mereka langsung mengamati dan terlibat dengan alam. Namun Mila pun menyadari bahwa ia tak boleh sekadar berpuas diri dengan kemampuan yangtelah dimilikinya. Oleh karena itu, demi meningkatkan kualitas dan kompetensinya, guru yang terkenal gesit ini pun rajin mengikuti berbagai pelatihan dan pengembangan guru.
Selama 17 tahun menjadi guru di SMP Negeri 1 Margahayu, Mila pun selalu berusaha menanamkan sikap kooperatif, sinergis, dan saling menghargai dan menghormati dengan rekan-rekan guru lainnya, termasuk kepala sekolah. Bahkan dengan para orang tua siswa pun Mila senantiasa berusaha terbuka dalam komunikasi ataupun berdiskusi tentang hasil belajar yang telah dicapai siswa. Bagi Mila, hal yang paling membuatnya bahagia adalah ketika mengetahui siswa telah berhasil menjadi orang sukses dalam masyarakat. “Bagaimanapun, salah satu fungsi guru dalam adalah memanusiakan manusia,” tutur Mila.

SMPN 1 Margahayu
SMPN 1 Margahayu pertama kali didirikan pada tahun 1987 atas prakarsa masyarakat bersama Keluarga Besar Pangkalan TNI AU Lanud Sulaiman Bandung dengan nama awal SMP YKM (Yayasan Kebahagiaan Murid), cabang Kotamadya Bandung. Tahun 1957 berubah status menjadi Sekolah Negeri dengan nama SMP Negeri 8 Bandung. Baru pada 1 April 1998 mengalami perubahan nama menjadi SLTPN 1 Margahayu, dan sejak Januari 2004 berganti nama menjadi SMP Negeri 1 Margahayu.
SMP Negeri 1 Margahayu berdiri di atas tanah seluas 14.375 M2, terletak di Jalan Terusan Kopo Nomor 397 Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung. Sekolah ini berdampingan dengan perumahan Angkatan Udara dan termasuk berada di daerah industri yang masih dikelilingi oleh persawahan.

Saat ini, SMPN 1 Margahayu dikepalai oleh Drs. H. Tono Sumartono, M.Si. Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah total siswa di SMPN 1 Margahayu adalah sebanyak 930 orang. Sedangkan jumlah guru sebanyak 68 orang. Sarana dan prasarana sekolah yang sempat menjadi RSBI ini pun sudah cukup lengkap dan memadai antara lain memiliki 31 ruang kelas dengan kondisi yang cukup baik, perpustakaan, 2 laboratorium IPA, ruang ketrampilan, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, ruang PTD, ruang multimedia, ruang kesenian, serta ruang aula serbaguna. Terdapat pula lapangan olahraga untuk voli, basket, tenis lapangan, badminton, dan futsal.

SMPN 1 Margahayu merupakan sekolah yang menerapkan pendidikan karakter sebelum Kurikulum 2013 digulirkan.Dengan adanya Kurikulum 2013 yang menjadi standar acuan saat ini, SMPN 1 Margahayu sangat menyambut baik sistem Kurikulum 2013 dalam pembelajaran. “Kurikulum ini banyak menempa kami pada guru untuk lebih membimbing peserta didik ke arah yang lebih komprehensif,” kata Mila.

Dari sisi kualitas, SMPN 1 Margahayu telah berhasil membuktikan keberhasilannya hingga tak lagi diragukan. Berbagai prestasi telah didulang, antara lain pernah menyabet juara 1 dalam lomba siswa berprestasi hingga tingkat provinsi pada tahun 2005/2006, juara 1 guru berprestasi tingkat kabupaten pada tahun 2005/2006, juara 1 lomba siswa berprestasi tingkat kabupaten pada tahun 2006/2007, juara 1 lomba mengarang tingkat provinsi pada tahun 2006/2007, juara 1 lomba karya tulis guru tingkat provinsi tahun 2006/2007, juara 2 lomba pidato bahasa Inggris tingkat provinsi tahun 2006/2007, juara 1 lomba inovasi pembelajaran tingkat nasional paa tahun 2006/2007, juara 1 tingkat kabupaten dalam lomba Rampak Sekar, melukis, vocal group, dan bulutangkis pada tahun 2005/2006, juara 1 lomba PMR tingkat provinsi tahun 2006/2007, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Langganan Prestasi
Selama berkiprah menjadi guru, berbagai prestasi telah Mila raih. Antara lain menjadi Juara 2 dalam ajang internasional Teacher Contest yang diselenggarakan JICA JAPAN IMSTEP pada tahun 2002, menjadi Juara 1 Lomba Inovasi Pembelajaran tingkat nasional tahun 2006, menjadi Juara 2 Lomba KTI Tahun Internasional Planet Bumi yang diselenggarakan oleh LAPAN tahun 2008, menjadi Juara 1 Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran tingkat nasional tahun 2009, Juara 1 Lomba  KORPRI tingkat provinsi tahun 2012, Peringkat I PNS Berprestasi tingkat kabupaten tahun 2014, dan menjadi Juara 3 Guru Berprestasi tingkat nasional tahun 2014.
Ia pun menerima beragam penghargaan, antara lain penghargaan Polisi Kehormatan tahun 2008 yang diberikan oleh Polisi Parahyangan, penghargaan Inovasi dan kreativitas thun 2009 yang diberikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, penghargaan Inovator Pembelajaran tahun 2008 yang diberikan oleh Bupati Bandung, penghargaan sebagai penggerak Program RSBI sehingga Sekolah meraih Peringkat Sekolah Bertaraf Internasional terbaik se Indonesia pada Monev 2011 oleh Kepala SMPN 1 Margahayu Bandung, penghargaan sebagai penggerak Program Adiwiyata Provinsi sehingga Sekolah meraih Penghargaan dari Gubernur Jawa Barat tahun 2011 oleh Kepala SMPN 1 Margahayu Bandung, penghargaan sebagai Penggerak Program Adiwiyata Nasional sehingga Sekolah meraih Penghargaan dari Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2012 oleh Kepala SMPN 1 Margahayu Bandung, penghargaan sebagai Guru Model International Lesson Study tahun 2012 oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Jawa Barat, dan penghargaan sebagai penggerak Pembangunan (Sabilulungan Award) pada tahun 2013 oleh Bupati Bandung.
Berbagai organisasi yang diikutinya pun menempa pribadi Mila menjadi sosok dengan kualitas dan pengalaman. Antara lain menjadi sekretaris dalam organisasi Adiwiyata Nasional tahun 2010, menjadi Ketua Delegasi SMPN 1 Margahayu dalam organisasi International Student Service Centre (ISSC) tahun 2011, menjadi Perwakilan IPA dalam TPK Jawa Barat tahun 2012, menjadi Ketua Mapel IPA dalam TPK Kabupaten Bandung tahun 2012, menjadi ketua dalam MGMP IPA Kab. Bandung tahun 2013, menjadi sekretaris dalam Leader’s Reading Challenge Kabupaten Bandung(LRCKB) tahun 2014, dan lain sebagainya.
Kini Mila kian menyadari bahwa menjadi guru adalah takdir hidupnya yang paling indah. Menjalani rutinitas sebagai guru sekaligus sebagai ibu rumah tangga membuatnya merasa benar-benar menikmati indahnya hidup. Wanita yang menikah dengan Gunawan Pramono yang seorang konsultan, dan telah dikaruniai seorang putra ini setiap harinya berangkat ke sekolah setiap pukul 7 pagi hingga 2 siang dengan menggunakan sepeda motornya. Jarak sekolah dari rumahnya tak terlalu jauh, hanya sekitar 7 km. Mila pun aktif mengembangkan potensi diri di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Optimis Menang
Awal mula Mila mengikuti seleksi guru berprestasi adalah melalui kepala sekolahnya, yang kemudian memintanya untuk mendaftarkan diri. Ia pun mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental, untuk mengikuti tahapan-tahapan seleksi yang cukup panjang. Di tingkat Kabupaten Bandung Mila lulus dan melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat. Kembali lulus, akhirnya Mila pun sampai ke tingkat Nasional. Meski demikian, ia tak menyangka akan dapat masuk dalam jajaran juara nasional, yakni menyandang gelar juara 3 Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Sebuah pencapaian yang sangat membanggakan dan mengharumkan nama sekolah, Kabupaten Bandung, maupun Provinsi Jawa Barat.
Salah satu yang menjadikan wanita penggemar lalapan dan sambal ini meraih gelar juara adalah karya tulis dan presentasi yang dibawakannya, yakni mengenai implementasi problem based learning berbasih Ecoschool untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Biologi di SMP. Usai mengikuti ajang pemilihan PTK Berprestasi 2014, Mila berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama keluarganya.

Rencana mendatang yang ingin segera diwujudkannya antara lain meneruskan studinya ke jenjang S-3, mengembangkan strategi dan metode pembelajaran yang berbasis lingkungan untuk memulihkan keseimbangan alam, dan membentuk komunitas pendidik yang berwawasan lingkungan global. “Harapan saya adalah menjadi insan kamil dalam hal mendidik secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik ke arah yang lebih baik seiring perjalanan waktu,” tuturnya. ***

Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Majalah Dikdas dan Guru (Kemendikbud)

Profil Juara : Sempat Menjadi Penerjemah TVRI

Artina Nanguri Ginto, S.Pd.
Guru Pendidikan Khusus Provinsi Sulawesi Utara


Berkat menjadi guru pendidikan khusus, Artina Nanguri Ginto, S.Pd. memperoleh berkah yang akan senantiasa menjadi kenangan indah dalam hidupnya. Ia berkesempatan mewakili guru pendidikan khusus Provinsi Sulawesi Utara untuk menghadiri dan berkompetisi dalam ajang Pemilihan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2014 yang diselenggarakan di Jakarta. Artina merasa senang sekali, terlebih karena ia dapat bertemu dengan para guru pendidikan khusus berprestasi dari seluruh Indonesia, melihat langsung menteri pendidikan dan kebudayaan, serta mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Negara. Yang membuat Artina lebih girang, sewaktu mengikuti Pidato Kenegaraan Presiden, ia beruntung mendapatkan tempat duduk di balkon sehingga dapat melihat jelas suasana.

Awalnya wanita kelahiran Akas, 12 April 1978 ini bahkan tak pernah punya angan-angan untuk menjadi guru SLB. Setelah lulus dari SMAN 1 Kabaruan tahun 1997, ia berminat untuk mendaftar di jurusan matematika di Universitas Negeri Manado (UNIMA). Bahkan saat itu Artina sudah diterima UMPTN di jurusan yang dikehendakinya. Namun tiba-tiba ia bertemu dengan seorang kawannya yang mengajaknya untuk mendaftar jurusan PLB karena waktu itu jurusan PLB memiliki peminat yang sangat sedikit. Maka Artina pun tertarik dengan ajakan tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk masuk di Jurusan PLB.

Saat pertama kali mengikuti perkuliahan di jurusan PLB, Artina sempat merasa bingung dan bahkan kurang menikmatinya. Terlebih hanya terdapat 7 mahasiswa dalam seangkatannya. Ia sempat menyesal karena mengikuti ajakan temannya tersebut. Namun lambat laun, setelah ia memperoleh banyak ilmu dan pengertian, ia pun mulai dapat menikmati dan menyenanginya. Saat itu, ia mengambil spesialisasi di tuna netra dan kesulitan anak dalam belajar.  Hingga tahun 2003 Artina lulus dan menyandang gelar sarjana.

Akhir tahun 2004, Artina mengikuti seleksi CPNS yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi untuk guru PLB. Saat itu dibutuhkan 35 tenaga guru PLB. Artina langsung lulus tes, dan tahun 2005 mendapat surat keputusan penempatan di SLB/B GMIM Damai, Tomohon, sebuah sekolah pendidikan khusus tuna rungu milik yayasan GMIM.

Artina ditugaskan untuk mengajar di tingkat SDLB. Saat pertama kali mengajar, ia sempat merasa panik dan kelimpungan karena harus menghadapi anak-anak tuna rungu, padahal spesialisasinya adalah tuna netra. Bagi Artina, saat itu adalah masa-masa yang berat baginya karena ia sering mengalami miskomunikasi dengan murid-muridnya yang menggunakan bahasa isyarat, sementara ia sendiri saat itu belum menguasai bahasa isyarat. Sehingga ia seringkali tidak mengerti dan memahami maksud ucapan dari murid-muridnya. Terlebih lagi, saat itu ia harus mengajar 6  orang murid dalam satu kelasnya, padahal idealnya dalam kelas SLB, satu kelas maksimal diisi oleh 5 murid.

Namun setelah 9 tahun menjadi guru di SLB/B GMIM Damai, Artina sudah benar-benar menguasai cara pembelajaran tuna rungu, termasuk bahasa isyarat. Ia bahkan pernah berkesempatan menjadi penerjemah dengan menggunakan bahasa isyarat di TVRI Manado, Sulawesi Utara selama 2 tahun, hingga tahun 2013.

SLB/B GMIM Damai, yang terletak di Jalan Raya Tomohon, adalah sebuah sekolah pendidikan khusus milik yayasan GMIM, menerima anak-anak khusus tuna rungu. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1973 ini memiliki jenjang sekolah SDLB, SMPLB, dan SMALB. Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah seluruh siswa mencapai 72 siswa, dengan jumlah guru sebanyak 15 orang, yang terdiri dari 13 guru PNS dan 2 guru honorer. Saat pertama kali Artina masuk di  SLB/B GMIM Damai, hanya terdapat 7 orang guru pada waktu itu. Hampir 80 persen murid-murid di SLB/B GMIM Damai diasramakan di sekolah. Salah satu alasannya, karena rumah mereka sangat jauh dari sekolah, sehingga pembelajaran akan lebih efektif jika mereka tinggal di asrama sekolah. Rata-rata siswa-siswa di SLB/B GMIM Damai berasal dari golongan kelas menengah. Meski demikian, sekolah tidak memaksakan biaya rutin sekolah pada orang tua murid. “Jika mereka memang tidak mampu, kami tidak memaksakan mereka untuk membayar sekolah,” kata Artina.

Selain mengajar di tingkat SDLB, Artina pun mengajar matematika di SMPLB maupun SMALB. Sekolah yang terletak di Jalan Raya Tomohon, yang merupakan daerah pusat kota, ini pun sering mencetak prestasi-prestasi yang membanggakan. Antara lain pernah menjadi juara 1 OSN SLB tingkat Provinsi, bahkan pernah pula menyabet juara 3 dalam OSN Matematika SLB tingkat Nasional.

Artina berharap tokoh masyarakat, pemerintah kota maupun pemerintah provinsi lebih memperhatikan pendidikan khusus, karena menurut Artina, sejauh ini keterlibatan mereka masih kurang. “Keterlibatan yang sangat dirasakan baru dari pemerintah pusat,” ujar ibu satu anak ini. ***


Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Guru Pendidikan Khusus Berprestasi Nasional 2014 (Kemendikbud)


Profil Juara : Bertahan Karena Panggilan Jiwa


Besse, S.Pd.
Guru Pendidikan Khusus Provinsi Sulawesi Tengah

Saat pertama kali masuk di Sekolah Guru PLB (SGPLB) tahun 1987, Besse, S.Pd. bahkan tidak tahu bahwa nantinya ia akan berhadapan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Namun seiring waktu, lama-kelamaan ia dapat memahami dan menjiwai profesionalisme pekerjaannya. “Timbul rasa dalam hati bahwa saya berkeinginan untuk membantu, mendidik, dan mencerdaskan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut supaya mereka tak jauh tertinggal dan selalu merasa optimis dengan kehidupan,” tuturnya.

Lahir dari orangtua dengan kesibukan sebagai petani, wanita kelahiran Sinjai, 31 Desember 1969 ini terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, sejak kecil ia bercita-cita ingin menjadi guru. Setelah lulus dari SGPLB tahun 1990, Besse mendaftar menjadi guru honorer di SLB Negeri 1 Palu, Sulawesi Tengah. Namun istri dari Marsudin ini baru diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 1992, dan ditempatkan di sekolah ia mengajar, di SLB Negeri 1 Palu. Hingga saat ini, Besse masih bertahan di sekolah yang sama dan sangat menikmati pekerjaan dan pengabdiannya. “Andai saya ditawari untuk pindah ke tempat lain, atau bahkan pindah mengajar di sekolah umum, saya masih lebih memilih untuk tetap mengajar di sini dengan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya. 

Sebenarnya Besse spesialis dalam mengajar tuna netra. Namun karena tuntutan keadaan di sekolah yang masih kekurangan guru, maka Besse pun mengembangkan kemampuannya mengajar tuna grahita. Saat ini, Besse mengajar di SDLB untuk tuna netra dan tuna grahita. Biasanya, dua jenis ketunaan tersebut digabung dalam satu kelas karena jumlah siswanya yang tak banyak. Namun kini Besse hanya mengajar satu anak tuna netra, karena anak-anak tuna grahita yang diajarnya telah naik ke tingkat SMPLB.

SLB Negeri 1 Palu terletak 2 km dari pusat kota Palu, Sulawesi Tengah. SLB ini mengajar anak-anak tuna grahita, tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, maupun anak-anak autis. Tahun ajaran 2014/2015, jumlah total siswa mencapai 127 orang dari SD hingga SMA. Sedangkan jumlah guru PNS sebanyak 16 orang, sedangkan staff lainnya sebanyak 28 orang termasuk guru honorer. SLB Negeri 1 Palu juga menyediakan asrama bagi siswa-siswanya, sehingga mereka dapat fokus belajar di sekolah tanpa harus pulang pergi ke rumah. Kendati demikian, orangtua mereka tetap dapat mengunjungi setiap saat.

Sejauh ini, sarana dan prasarana yang ada di SLB Negeri 1 Palu menurut Besse masih kurang memadai, terutama sarana untuk ketrampilan siswa. “Belum ada ruang ketrampilan, sehingga semuanya harus dilakukan di ruang kelas,” kata Besse. Meski demikian, SLB Negeri 1 telah memiliki 10 mesin jahit sebagai sarana belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka juga diajari ketrampilan salon dan kecantikan, serta banyak ketrampilan lainnya, dengan harapan nantinya sebagai bekal ketika mereka benar-benar terjun ke masyarakat. “Salah satu anak didik saya bahkan ada yang sudah berhasil membuka salon setelah ia lulus dari sini,” ujar Besse dengan bangga.

Salah satu pengalaman menarik Besse antara lain ketika ia menghadapi seorang anak autis. “Anak autis itu sulit berkonsentrasi dan tak mau menatap mata gurunya. Setiap kali jam makan, ia selalu memberikan sebagian makanannya pada temannya yang itu-itu saja sampai temannya itu mengeluh karena bosan,” cerita Besse sembari tertawa karena mengingatnya.

Sejauh ini, telah banyak siswa-siswa SLB Negeri 1 Palu yang berhasil setelah mereka lulus. Artinya, mereka dapat hidup mandiri di tengah masyarakat. Bahkan tak jarang ada pula yang meraih prestasi. Kendati demikian, menurut Besse, tingkat kesadaran masyarakat di sekitar tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus masih rendah meski sekolah telah berupaya sebanyak mungkin mensosialisasikannya dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya.


Untuk meningkatkan kinerjanya, Besse tak segan untuk meningkatkan kualifikasinya. Tahun 2005 Besse melanjutkan pendidikan S-1 nya di Universitas Muhammadiyah Palu, lulus tahun 2010. Ia pun kerap mengikuti bimbingan teknis guru-guru PLB, mulai dari Bimtek di Batam, Bandung, Bali, dan sebagainya. Ibu dari Ichlasul Amal dan Mohammad Rifkan Mubaraq ini berharap dapat senantiasa memberikan yang terbaik bagi generasi bangsa yang berkebutuhan khusus, sehingga mereka pun dapat menjadi insan yang berguna bagi nusa dan bangsa. ***

Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Guru Pendidikan Khusus Berprestasi Nasional 2014 (Kemendikbud)

Profil Juara : Sempat Nyaris Menjadi Tuna Netra


Hartati R. Buhungo, S.Pd.
Guru Pendidikan Khusus Berprestasi Nasional 2014


Hartati R. Buhungo, S.Pd adalah salah satu guru pendidikan khusus di Indonesia yang beruntung mendapat kesempatan mengikuti ajang Pemilihan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2014 dan bertemu dengan Presiden. Sudah 27 tahun lamanya ia mengabdi di sekolah berkebutuhan khusus. Tak heran jika ia menjadi guru andalan di Provinsi Gorontalo.

Lahir dari keluarga sederhana dengan ayah yang seorang pedagang kaki lima dan ibu yang seorang ibu rumah tangga, sejak kecil Hartati ingin menjadi guru. Maka demi memuluskan cita-citanya, ia pun mengenyam pendidikan di SPG Gorontalo. Setamat dari SPG di Gorontalo pada tahun 1982, Hartati mengabdikan diri menjadi guru wiyata bakti di SD Negeri 2 Tunggulo, Kabupaten Gorontalo. Ia mengajar tanpa dibayar.
Hingga pada tahun 1986, wanita kelahiran Gorontalo, 16 Juli 1963 ini mendengar bahwa pemerintah membuka program Pendidikan Guru Sekolah Luar Biasa (PGSLB) yang akan diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat. Hartati pun tertarik untuk mengikuti program tersebut. Terlebih, saat itu ia sedang mengalami keadaan dimana matanya mulai terganggu. Ia bahkan nyaris hampir buta total. Hartati ingin mempersiapkan diri dengan belajar banyak mengenai tuna netra.

Kendati demikian, orang tuanya sempat tak setuju jika Hartati hendak mengikuti program PGSLB di Bandung. Anak perempuan seharusnya tak perlu pergi jauh-jauh dari keluarga. Kesempatan bekerja di Gorontalo pun toh masih banyak. Namun Hartati bersikeras. Maka bersama enam orang lainnya di Kabupaten Gorontalo, ia pun berangkat ke Bandung untuk mengikuti program PGSLB untuk tuna netra selama 3 bulan. Selama mengikuti program PGSLB, Hartati diberi kesempatan untuk langsung praktek mengajar di SLB Pembina Lebak Bulus, Jakarta, selama 2 bulan. Saat melihat dan berinteraksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus di SLB tersebut, ia menjadi tersentuh. Hatinya trenyuh, jiwanya merasa semakin terpanggil untuk mengabdikan diri mendidik dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus. Setelah menyelesaikan program PGSLB di Bandung, Hartati pun kembali ke Gorontalo. Ia juga diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di SLB Negeri Kabupaten Gorontalo.

SLB Negeri Gorontalo
SLB Negeri Gorontalo terletak di Jalan Kusnodanupoyo, Limboto, Gorontalo. Terletak sekitar 10 km dari pusat kota, sekolah ini mengakomodasi tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, dan tuna grahita.  SLB Negeri Gorontalo memiliki tingkat SD, SMP, dan SMA. Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa di tingkat SD sebanyak 112 orang, di tingkat SMP sebanyak 49 orang, dan di tingkat SMA sebanyak 37 orang. Sedangkan jumlah guru sebanyak 16 orang guru PNS dan 18 orang guru honorer. Tidak sebanding dengan jumlah murid yang sebegitu banyak. Tak heran jika satu guru acapkali mengajar beberapa mata pelajaran, termasuk pelajaran olahraga. Ditambah lagi dengan fasilitas sarana dan prasarana yang tak sepenuhnya layak dan memadai.

Di SLB Negeri Gorontalo, Hartati termasuk guru andalan yang paling menguasai huruf braille. Kendati demikian, ia mengaku memiliki trik dan tips tersendiri dalam mengajar anak-anak tuna netra. “Saat pertama kali mengajar mereka, saya perkenalkan mereka dengan lingkungan terlebih dahulu, kemudian mengajari mereka norma-norma kehidupan, karena umumnya mereka memiliki kepribadian yang sangat sensitif. Setelah itu baru masuk ke pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, saya juga sering memakai teknik melagukan, misalnya abjad, angka, dan sebagainya. Karena dengan dilagukan, mereka menjadi lebih tertarik dan lebih mengerti,” terangnya. Namun pengalaman paling menarik yang pernah ia alami selama mengajar ialah ketika ia mengajar seorang anak tuna netra yang sekaligus tuna rungu. Dulu, kelas anak-anak berkebutuhan khusus pun sempat dicampur, misalnya dalam satu kelas terdapat anak tuna rungu, tuna netra, atau tuna grahita, karena masalah kekurangan guru. Namun lambat laun kian disadari bahwa mencampur anak-anak berkebutuhan khusus berbeda-beda dalam satu kelas bukanlah solusi yang tepat, maka kemudian kelas pun dipisah-pisah berdasarkan jenis ketunaan. Saat ini, hartati mengajar di kelas  4 dan 6 tingkat SDLB.

Menurut hartati, kesadaran masyarakat sekitar tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus mulanya sangat rendah. “Kami bahkan sempat menjadi bahan cemoohan dan tak dihiraukan. Tapi dengan adanya sosialisasi yangkontinue dan lomba-lomba yang diadakan sehingga anak-anak bisa berkreasi dan berprestasi dan bahkan mendapat kesempatan naik pesawat saat mengikuti berbagai lomba dan kejuaraan, maka lambat laun eksistensi kami diakui oleh masyarakat dan orang tua murid,” katanya. SLB Negeri Gorontalo memang telah menelorkan banyak prestasi membanggakan, bahkan hingga ke tingkat internasional. Salah satunya antara lain pernah menjadi juara 2 dalam kejuaraan lari di Shanghai, Cina pada tahun 2005, juga berpartisipasi dalam kejuaraan lari di Myanmar tahun 2013, pernah meraih juara 1 membaca puisi tingkat nasional, maupun juara 6 grup band tingkat nasional. Yang paling membuat Hartati merasa bangga adalah sebagian besar murid-murid berprestasi tersebut berasal dari tuna netra.

Untuk meningkatkan kualifikasinya, Hartati melanjutkan pendidikan S-1 nya di Universitas Negeri Gorontalo. Ia terpaksa memilih jurusan Bimbingan Konseling karena belum ada jurusan PLB. Bagaimanapun, jurusan Bimbingan Konseling lebih dekat dengan kebutuhan dan jenis keahlian yang diampunya. Ia lulus pada tahun 2009.


Hartati adalah satu-satunya perwakilan Kabupaten Gorontalo yang maju ke tingkat Provinsi Gorontalo saat mengikuti ajang pemilihan PTK Berprestasi dan Berdedikasi Nasional 2014. “Harus menggunakan surat rekomendasi dari Bupati untuk bisa maju ke tingkat Provinsi. Salah satu syarat mendapatkan rekomendasi adalah masa kerja yang harus di atas 5 tahun,” kata Hartati. Di tingkat provinsi, ia pun dipercaya mewakili Provinsi Gorontalo sebagai guru pendidikan khusus untuk maju ke tingkat nasional. Hartati tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapat kesempatan tersebut, bertemu dengan para PTK berprestasi dan berdedikasi dari seluruh Indonesia. Yang paling mengesankan baginya adalah ketika ia berkesempatan masuk ke Istana Negara. Ia semakin merasa bangga dengan profesinya, yakni mendidik dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus. ***

Ditulis tahun : 2014
Diterbitkan di Buku Profil Juara Guru Berprestasi 2014 (Kemendikbud)